Mas Awang,
Wah luar biasa analisanya. Trus, kapan mulai pindah ? Tahun berapa menurut peta
migrasi manusia purba, manusia modern sebagai migrasi "out of Africa " ?
Seberapa dalam muka laut relatif dengan sekarang pada saat itu ? 100 m, 200 m,
300 m ?
Setelah 3421 BC, Mesir Amat Tua, muka laut lebih tinggi dari sekarang, dan
menurun sejak 100 BC, hingga kini jadi "mean sea level" sekarang, di siklus 7
Ka.
Mestinya bukan Homo Habilis, atau homo erectus. Neanderthal ? Atau sesudahnya,
di tandai dengan nama holocene, 12,521 BC ? Atau Mesir Amat Tua, 3,421 BC ?
Berikut pelacakan umur:
Silus 700 Ka
zcu 700 Ka.
Neanderthal 0,194,521 BC
Homo Erectus2 0,894,521 BS
Homo Erectus1 1,594,521 BC
Homo Habilis 2,294,521 BC
A.Africanus 2,994,521 BC
A.Afarensis2 3,694,521 BC
A.Afarensis1 4,394,521 BC
Siklus 70 Ka.
zcu 70 Ka
Holocene 12,521 Bc
Magdalenan 19,521 BC
Solutran 26,521 BC
AurignGravetian 33,521 Bc
Chatelperonian 40,521 BC
Siklus 7 Ka
zcu 700 a
Globalisasi 2,179 AD
Renaisance 1,479 AD
Arab 0,779 AD
Rome 0,079 AD
Persia 621 BC
New Agypt 1,321 BC
Mid Agypt 2,021 BC
Old Agypt 2,721 BC
Very Old Agypt 3,421 BC
Colcolitic 4,121 BC
MidLate Ubaid 4,821 BC
Early Ubaid 5,521 BC
Neolitic3 6,221 BC
Neolitic2b 6,921 BC
Neolitic2a 7,621 BC
Neolitic1 8,321 BC
Salam,
Maryanto.
________________________________
From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, July 13, 2007 11:23 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] Ribuan Gunung Ribuan Artefak : Prasejarah Gunung
Seribu (Sewu)
Abah,
Migrasi adalah salah satu faktor dari empat penyusun bangunan bernama evolusi.
Tiga faktor yang lain adalah seleksi alam, aliran genetika, dan mutasi. Mengapa
mereka bermigrasi ? Dalam evolusi, penyebabnya bisa dibagi menjadi "push and
pull factors". Faktor pendorong (push) menyebabkan manusia tak betah di
wilayahnya karena banyak hal, maka ia akan pergi ke tempat lain. Faktor penarik
(pull), manusia melihat di wilayah lain mungkin kehidupan lebih baik, maka ia
akan bermigrasi ke wilayah tersebut.
Dengan berkembangnya zaman, faktor2 ini akan semakin kompleks. Untuk early
human population, jelas faktor2 ini sederhana saja. Barangkali, push factors
untuk mereka adalah : persaingan dengan sesama, bencana alam, kondisi
primitive. Pull factors di tempat lain bisa : enjoyment, family link, security.
Genographic project - suatu proyek raksasa untuk memetakan gen manusia di
seluruh dunia yang telah dimulai pada akhir 1990-an - sangat membantu kita
melacak rute migrasi manusia purba. Ketika manusia purba pertama meninggalkan
Afrika puluhan ribu tahun yang lalu, bermigrasi ke tempat2 lain, mereka
meninggalkan jejak genetic yang masih bisa dilihat sampai sekarang. Dengan
memetakan kenampakan dan frekuensi marker genetic pada manusia-manusia masa
kini di seluruh dunia, para ahli molecular paleo-anthropologists dapat
memperoleh gambaran kapan dan ke mana manusia-manusia purba ini keluar dari
Afrika dan mengembara ke mana.
Dari peta migrasi manusia purba yang terbaru (2006), diketahui bahwa tak ada
lautan luas yang dilintasi oleh para nenek moyang manusia ini. Dari Afrika
mereka keluar terutama ke wilayah Eropa melalui pinggiran Laut Tengah. Yang
menuju Asia, mereka melalui wilayah Mesopotamia-India-Malaya-Indonesia. Dan
saat itu, migrasi besar2-an terutama terjadi pada zaman glasiasi, saat jembatan
darat banyak terbentuk di wilayah laut yang kita kenal sekarang. Perahu pasti
diperlukan, tetapi bukan perahu untuk melewati lautan luas, hanya perahu untuk
melewati celah laut yang sempit.
Seperti migrasi orang Cina ke Siberia (jadi orang Eskimo) di sana, lalu
menyeberangi land-bridge di Bering Sea sekarang, masuk ke Alaska, dan terus
menyusuri pantai menuju Amerika Utara dan akhirnya Amerika Selatan - menjadi
orang Indian di sana. Tak ada perahu yang diperlukan melintasi samudera.
Hipotesis Thor Heyerdhal tentang orang2 Amerika Selatan yang menyeberangi
Pasifik untuk menduduki gugusan kepulauan mikronesia di barat Pasifik (yang
lalu dicobai sendiri oleh Thor dan rekan2nya dengan menggunakan rakit dari kayu
balsa Kon Tiki) telah gugur oleh penelitian biomolekuler mitokondria beberapa
tahun yang lalu - bahwa penduduk mikronesia berasal dari Asia - bukan dari
Amerika Selatan. Implikasinya : mereka tak perlu kapal besar melintasi Pasifik
dari Amerika Selatan.
Dengan kata lain, bisa dibilang bahwa migrasi manusia purba hampir seluruhnya
lewat daratan atau celah laut sempit saja. Tak ada teknologi maju pada zamannya
yang diperlukan. Kecepatan migrasi mereka pun lambat, hanya 2-5 km sehari.
Salam,
awang
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, July 13, 2007 10:39 C++
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] Ribuan Gunung Ribuan Artefak : Prasejarah Gunung
Seribu (Sewu)
>
Awang
Pertanyaan bodoh , degan kemapuan teknik seperti dua juta tahun ang lalu
,"Bagaimanakah mereka bisa menyebrangi lautan". (1).Untuk alasan aa mereka cape
cape jalan jalan (walau mungkin secara bertahap) sejauh itu ? (2)
si Abah
(yang masih bingung apa benar Adam da Hawa itu manusia pertama ?)
_____________________________________________________________________
Abah,
>
>
>
> Salah satu perdebatan yang paling sengit dalam paleo-antropologi (studi
> tentang asal manusia) adalah tentang asal-usul manusia modern, Homo
> sapiens. Untuk hal ini terdapat dua mazhab besar pemikiran : (1) penganut
> "out of Africa theory", dan (2) penganut "multiregional origin". Kira2 100
> ribu tahun yang lalu, dunia kita diduduki oleh berbagai hominid : di
> Africa dan Middle East ada Homo sapiens; di Asia, Homo erectus; di Eropa,
> Homo neanderthalensis.
>
>
>
> Tetapi, 30,000 tahun yang lalu taxonomic diversity ini "tiba-tiba" hilang
> dan manusia atau hominid di seluruh dunia berevolusi menjadi bentuk2 yang
> secara anatomic dan tingkah lakunya sudah seperti manusia modern sekarang.
> Bagaimana mekanisme transformasi ini melahirkan dua mazhab pemikiran di
> atas ?
>
>
>
> (1) Out of Africa theory: homo sapiens muncul di Africa dan bermigrasi ke
> seluruh dunia menggantikan semua spesies hominid sebelumnya, termasuk Homo
> erectus. (2) Multiregional theory: Homo erectus meninggalkan Africa 2 Ma
> untuk menjadi Homo sapiens di berbagai tempat di dunia.
>
>
>
> Aspek2 kritis teori out of Afrika :
>
> - Setelah Homo erectus bermigrasi keluar dari Afrika, berbagai
> populasi secara reproduksi menjadi terisolasi, dan berevolusi saling tidak
> bergantung sehingga akan menjadi spesies2 yang macam-macam seperti manusia
> Neanderthal (ini serangan buat multiregional),
>
> - Homo sapiens hanya terjadi di Afrika, lalu menyebar keluar,
>
> - Homo sapiens tersebar keluar dari Afrika dan menggantikan semua
> populasi manusia yang ada di wilayah yang didatangi tanpa mengadakan
> interbreeding (perkawinan campur antar spesies)
>
> - Variasi manusia modern terjadi belum lama ini (recent)
>
>
>
> Aspek2 kritis teori multiregional :
>
> - Aliran gen antara wilayah2 yang secara geografik terpisah akan
> mencegah spesiasi (pembentukan spesies baru) (ini serangan untuk out of
> Africa),
>
> - Semua manusia berasal dari spesies Homo erectus yang
> meninggalkan Afrika dua juta tahun yang lalu,
>
> - Seleksi alam dalam populasi regional, yang terjadi sejak
> migrasi pertama, bertanggung jawab bagi timbulnya variasi regional (ras)
> seperti yang kita lihat sekarang,
>
> - pembentukan Homo sapiens tak mesti terbatas ke satu tempat,
> tetapi bisa di mana saja di mana manusia pernah hidup.
>
>
>
> Manakah yang benar di antara dua kontroversi ini ? Bukti2 anatomik,
> arkeologi, dan gen akan menjawabnya. Dalam pengamatan saya, secara kasar
> bisa dibilang bahwa 80 % ahli paleoantropologi mendukung "out of Africa"
> theory. Lebih2 kemajuan pemetaan gen manusia (genome project) 2-4 tahun
> belakangan ini sangat mendukung "out of Africa". Bukti2 anatomik,
> arkeologi, dan gen menunjukkan bahwa manusia modern adalah produk evolusi
> yang sangat resen berasal dari model Out of Africa. Jarang saya menemukan
> buku paleoantropologi popular yang tidak menganut out of Africa.
>
>
>
> Ini berimplikasi kepada hominid2 di Indonesia : bahwa semua Homo erectus
> di Trinil dan semua turunannya di Solo dan Wajak punah pada suatu zaman di
> sekitar 30.000 tahun yang lalu dan digantikan oleh manusia modern yang
> datang dari Afrika. Homo floresiansis yang umurnya 50.000-20.000 tahun
> menjadi menarik statusnya, kapan2 kita bisa bahas lagi si hobbit ini..
>
>
>
> Salam,
>
> awang
>
>
>
>
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Wednesday, July 11, 2007 3:08 C++
> To: [email protected]
> Subject: Re: [iagi-net-l] Ribuan Gunung Ribuan Artefak : Prasejarah Gunung
> Seribu (Sewu)
>
>
>
>>
>
> Awang
>
> Sangat menarik mengikuti ceritera arkeologi ini , dan tentunya kita tidak
> perlu berkecil hati bahwa buku geologi "kalah" bersaing di Toko Buku.
> Hal ini tentunya karena arekologi masih "dekat" degan manusia sekarang ,
> walaupun gempa dan tsunami malahan masih berlangsung dan menghantam kita
> sampai saat ini.
> "Out of Afrika Theory ", apakah itu ? Apakah theory yang menyatakan bahwa
> homo erectus "lahir " di Afrika ? dan bukan hasil evolusi regional dari
> manusia kera ?
>
> si Abah
>
> _________________________________________________________________________
>
>
>
>
> Sebuah buku baru (2007) tentang geologi dan arkeologi bisa dilihat di
>> toko-toko buku besar. Buku ini berjudul, "Ribuan Gunung, Ribuan Alat
>> Batu
>> : Prasejarah Song Keplek, Gunung Sewu, Jawa Timur", diterbitkan oleh KPG
>> (Kepustakaan Populer Gramedia) yang bekerja sama dengan banyak lembaga :
>> Ecole Francaise de'Extreme-Orient, Institut de Recherche pour le
>> Developpement, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional
>> (Puslitbang Arkenas), dan Forum Jakarta-Paris. Buat rekan-rekan yang
>> kemarin ini (mid-Juni 2007) sempat ke pameran buku selama seminggu di
>> Istora Senayan, beruntunglah karena buku ini dijual dengan harga
>> discount
>> yang lumayan. Buku ini semula adalah disertasi doktor Hubert Forestier
>> dari Museum National d'Histoire Naturelle, Paris yang mengajukan
>> disertasinya pada tahun 1998 di Paris. Buku diterjemahkan oleh tiga
>> orang
>> dan disunting oleh Prof. Dr. Truman Simanjuntak, ahli arkeologi terkenal
>> dari Puslitbang Arkenas.
>>
>>
>>
>> Dalam pengamatan saya, tahun-tahun belakangan ini buku-buku populer
>> maupun
>> teknis tentang kepurbakalaan Indonesia masuk ke toko-toko buku umum.
>> Sebelum ini, ada Prasejarah Asia Tenggara (Belwood, 2004), buku bagus
>> dan
>> sangat lengkap - patut menjadi referensi-tentang kepurbakalaan Indonesia
>> dan sekitarnya, lalu ada "Prasejarah Gunung Sewu" (Ikatan Ahli Arkeologi
>> Indonesia, 2004) yang memuat puluhan artikel hasil penelitian arkeologi
>> di
>> Gunung Sewu, disunting oleh Prof. Truman Simanjuntak dkk. Lalu, tahun
>> lalu
>> pun ada "Arcahaeology, Indonesian Perspective : R.P. Soejono
>> Festschrift"
>> (LIPI dan International Center for Prehistoric and Austronesian Studies,
>> 2006) yang memuat 45 paper penelitian arkeologi di Indonesia (ada tiga
>> artikel geologi di dalamnya). Buku ini pun disunting oleh Prof. Truman
>> Simanjuntak dkk. "Festschrift" (jerman) adalah mélange dalam bahasa
>> Prancis, atau bancuh dalam bahasa Indonesia alias bunga rampai atau
>> anthology - kumpulan tulisan macam-macam.
>>
>>
>>
>> Buku-buku tentang prasejarah Cekungan Bandung hasil penelitian KRCB
>> (Kelompok Riset Cekungan Bandung -Budi Brahmantyo, T. Bachtiar dkk.)
>> juga
>> bisa ditemukan di Gramedia Bandung (kalau masih ada). Menggembirakan,
>> buku-buku kebumian sudah masuk ke toko-toko buku umum. Hanya, bidang
>> arkeologi kelihatannya lebih agresif dibandingkan bidang geologi.
>>
>>
>>
>> Kembali ke buku Prasejarah Song (Gua) Keplek, Gunung Sewu (Forestier,
>> 1998, 2007), ini adalah buku yang bagus dan komprehensif walaupun
>> teknis.
>> Meskipun wilayah penelitiannya lebih kepada industri litik Song Keplek
>> termasuk analisis detail tipologis ribuan alat batu yang ditemukan di
>> gua
>> ini, cukup banyak keterangan tentang tatanan geologi dan arkeologi
>> Gunung
>> Sewu secara umum. Gunung Sewu adalah salah satu "taman firdaus"
>> prasejarah
>> Indonesia.
>>
>>
>>
>> "Bahan alat-alat serpih ini semestinya berasal dari Pegunungan Selatan",
>> demikian kurang lebih kata-kata salah seorang perintis penelitian
>> arkeologi Indonesia G.H.R. von Koenigswald ketika dia menemukan artefak
>> serpih di Bukit Ngebung, Sangiran pada tahun 1934. Setahun kemudian,
>> Koenigswald bersama M.W.F. Tweedie dari museum Raffles di Singapura
>> mengunjungi wilayah Punung, Pegunungan Selatan, dan di situlah taman
>> firdaus situs arkeologi paleolitik yang sangat kaya baru terbuka : Kali
>> Baksoko. Betapa senangnya Koenigswald kala itu, konon kabarnya sampai ia
>> menggelar pertunjukan wayang tujuh hari tujuh malam untuk masyarakat
>> Punung. Kala itu, 3000 artefak telah berhasil ditemukan dari wilayah
>> Punung. Dan lebih dari 70 tahun kemudian sampai sekarang melalui
>> berbagai
>> penelitian arkeologi yang intensif kita menjadi tahu bahwa wilayah
>> Gunung
>> Sewu adalah suatu wilayah kompleks hunian prasejarah yang sangat luas,
>> intensif, dan berkesinambungan dalam rentang Plistosen-Holosen.
>>
>>
>>
>> Proses adaptasi terhadap lingkungan dan pengaruh luar telah menciptakan
>> dinamika budaya yang berkembang, mulai dari yang bercorak paleolitik,
>> mesolitik-preneolitik, neolitik, sampai paleometalik pada masa
>> prasejarah.
>> Manusia datang ke wilayah ini dan mendiami lembah-lembah sempit di
>> antara
>> perbukitan karst yang membentuk gua-gua dan daerah aliran sungai seperti
>> Lembah Sungai Baksoko. Ketersediaan berbagai sumberdaya, seperti batuan
>> yang baik untuk perkakas, air, fauna, dan flora di lingkungan sekitarnya
>> menjadi penopang kehidupan berkelanjutan dalam rentang ratusan
>> ribu-jutaan
>> tahun.
>>
>>
>>
>> Gunung Sewu dikenal sebagai tempat yang secara geologi dan geografi
>> terpisah dari bagian Pulau Jawa lainnya. Daerah ini terjal dan memanjang
>> antara Parangtritis dan Pacitan. Di tengah-tengah iklim yang cukup
>> kering
>> sepanjang tahun, relief bukit-bukit kapur yang bentuknya tidak seragam
>> dan
>> menghadap ke Lautan Hindia menyediakan banyak gua, aliran sungai serta
>> rijang. Rijang berkualitas baik ini dipakai manusia prasejarah untuk
>> membuat berbagai perkakas yang diperlukan. Gunung Sewu adalah tempat
>> ideal
>> bagi hunian masa lalu, bukit-bukitnya sangat sering didatangi oleh
>> manusia
>> prasejarah dari periode manapun. Alat-alat bifasial, kapak, dan aneka
>> ragam alat padat merupakan karya dan jejak-jejak yang ditinggalkan oleh
>> Homo erectus, sebagai pembawa ketrampilan teknis dan kebudayaan
>> Acheulean
>> (Acheulean = sekuen kebudayaan Paleolitik Bawah yang dicirikan oleh
>> perkakas kapak genggam dan kapak pembelah).
>>
>>
>>
>> Benda-benda padat Acheulean yang juga ditemukan orang di Eropa, Afrika,
>> negara-negara Iran-Irak, India, Nepal dan Cina lalu Indonesia
>> menunjukkan
>> bukti kedatangan Homo erectus setelah perjalanan jauh yang dimulai
>> sedikit
>> kurang dari dua juta tahun yang lalu dari daratan Afrika ("out of
>> Africa"
>> theory). Dan, justru di alur Sungai Baksoko, yang terletak tidak jauh
>> dari
>> kota Pacitan inilah perkakas Acheulean ini ditemukan. Situs ini kemudian
>> menjadi sangat terkenal di dunia arkeologi dan memberikan nama pada
>> salah
>> satu kebudayaan Paleolitik Bawah yang termasyur : kebudayaan Pacitanian.
>>
>>
>>
>> Dan itu ada di Pacitan, Jawa, tak jauh dari kita. Semoga kita mengenal
>> dan
>> menghargai situs-situs penting buat dunia ini. Buku-buku arkeologi yang
>> belakangan banyak diterbitkan sangat membantu pengenalan akan hal itu.
>>
>>
>>
>> Salam,
>>
>> awang
>>
>>
>>
>>
>
>