Apa kabar Pak Awang?, salut dgn konsisten dgn ide-ide!
Kelemahan dari ahli geologi kita adalah keberanian untuk merekonstruksinya
'puzzle' geologi nusantara secara keseluruhan, kebanyakan kita hanya mampu
menghasilkan data paleomag dan age dating, trus merekonstruksi dalam daerah
sangat terbatas. Memang kendala utama geologi yang komplek, Robert Hall,
Hamilton, Eli Silver dll mampu melakukannya.
Pak Katili sudah mencobanya sejak awal 70an, (tectonophysic, 1975), dan
sekarang Pak Awang yang akan melanjutkannya, bukan begitu ya Pak?
Saya sendiri sudah mencobanya dalam geologi Sulawesi (tectonophysic 2004),
masih terbatas hanya daerah Sulawesi dan sekarang menyerah untuik
melanjutkannya saat ini, mungkin dgn pengetahuan Pak Awang di Geologi Indonesia
barat dan timur bisa merekonstruksi secara keseluruhan
Kind regards,
Ade Kadarusman
Sorowako
Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sebagai wilayah yang pernah disebut sebuah buku where two
worlds collide Indonesia harus mempunyai data paleo-magnetisme dan umur
radiometri yang banyak. Dua dunia bertemu di Indonesia, asiatic vs
australian. Satu dari Asia, satu dari Australia pecah dari tempat asalnya
berjalan ke wilayah tropika saling berbenturan - dan kini membentuk
Indonesia. Semua yang diwarisi dari Asia maupun Australia kini terekam di
Indonesia baik untuk flora, fauna, maupun geologi. Wilayah primitive atau
asli Indonesia pun ada, yaitu daerah2 yang kini punya flora dan fauna endemic
wilayah Wallacea yang saya maksud, yang meliputi sebagian Sulawesi dan pulau2
di Nusa Tenggara.
Apa bukti geologi bahwa Nusantara dibentuk dari pertemuan sebagian kerak Asia
dan Australia ? Satu-satunya hanyalah paleo-magnetisme yang didukung data umur
radiometri. Ambil sampel batuan umur pra-Tersier di Sumatra atau Kalimantan
atau Jawa atau Papua, dan ukur radiometri serta kemagnetan purbanya, bila ia
menunjukkan posisi lintang di luar 6 degLU 11 degLS, maka batuan itu bukan
asli batuan yang terjadi di Indonesia, tetapi ia dibawa dari tempat lain dan
dialihtempatkan ke wilayah Nusantara oleh proses tektonik yang sangat kompleks.
Teori tektonik lempeng mendapatkan sokongan yang sangat kuat dari
paleo-magnetisme dan radiometri. Kita di Indonesia, menyadari bahwa Indonesia
adalah laboratorium alam untuk lahirnya dan pengujian teori tektonik lempeng,
telah melakukan pengukuran paleomagnetism dan radiometry sejak tahun 1970-an.
Lebih dari dua puluh tahun dihimpun sampai sekarang dan kini bisa ditampilkan
dalam bentuk peta regional skala 1 : 10.000.000 terbitan Pusat Survai Geologi,
Bandung. Karya ahli2 geologi dari lembaga ini (dulu P3G) patut diacungi jempol
(antara lain : Mubroto, Permanadewi, Hardjono, Wahyono, Rab Sukamto).
Berikut ini adalah beberapa pengamatan yang keseluruhannya menunjukkan bahwa
Indonesia is a mosaic of terranes .
Paleozoic terranes. Batuan Karbon Akhir di Kepala Burung, Papua berasal dari
47 degLS, sementara yang berumur Perem Awal dari 46deg LS, yang berumur Perem
Akhir berasal dari 35 degLS. Kini batuan-batuan ini di tempatnya sekarang telah
terputar melawan arah jarum jam sebanyak 60 deg. Batuan Perem di Timor berasal
dari lokasi 20-30 deg LS dan telah terputar CCW 20-40 deg dari arah semula.
Kita bisa cek atlas dan akan tahu di mana saat ini posisi 47 deg LS itu
misalnya.
Mesozoic terranes. Batuan Trias-Yura di Kepala Burung pun berasal dari tempat
di 42 deg LS dan telah terputar CCW (counter clockwise) 60 deg. Batuan Trias di
Seram berasal dari 9 deg LS (wilayah Timor sekarang) dan telah terputar 90 deg
CCW (kita tahu bahwa ia terlibat dalam proses bending of Banda Arc). Batuan
Trias di Sumatra berasal dari 15-20 degLS dan di kedudukannya kini telah
terputar 40 deg CW (clock wise) ini membuktikan bahwa Sumatra memang telah
terputar searah jarum jam. Batuan Trias di Kalimantan, menariknya, posisinya
dari dulu memang di situ, bisa dipahami sebab Kalimantan termasuk core of
Sundaland, hanya telah terputar > 60 deg CCW membuktikan bahwa Kalimantan
memang terotasi CCW. Batuan Kapur di Kalimantan Barat pun sudah sejak Kapur
memang di situ, hanya telah terputar 50 deg CCW. Tetapi, batuan Kapur di
Sulawesi dan Misool berasal dari 16-20 degLS. Sedangkan, batuan Kapur di
Halmahera berasal dari utaranya, 5 deg LU.
Tertiary events. Data kemagnetan purba pada zaman Tersier bisa menunjukkan
dinamika geologi Indonesia. Data paleo-magnetisme batuan Tersier menunjukkan
bahwa rotasi CCW masih terjadi di Kalimantan Tengah selama Eosen, dan tidak
terjadi lagi sejak Oligosen. Hanya sedikit rotasi CW masih teramati selama
Oligosen dan Miosen di Sumatra. Data paleomagnetik di bagian timur Pulau Jawa
menunjukkan bahwa bagian ini berasal dari posisi lebih selatan dari posisinya
sekarang dan telah mengalami rotasi CCW ke posisinya sekarang. Data
paleomagnetik Sumbawa-Flores menunjukkan posisi purba yang hampir sama dengan
sekarang.
Pergerakan mendatar dan perputaran yang lebih nyata selama Tersier teramati
pada data kemagnetan purba di pulau-pulau Sulawesi, Timor, Seram, Halmahera,
Waigeo dan Kepala Burung. Batuan Paleogen di Sulawesi Selatan masih menunjukkan
pergerakan, sedangkan setelah itu atau lebih muda dari Miosen Akhir tak
menunjukkan pergerakan rotasi atau mendatar (kita memahaminya sebab wilayah ini
telah terjepit oleh benturan Buton di sebelah timurnya sejak Miosen Akhir).
Lengan Utara Sulawesi pernah terputar 90 deg CW ke posisinya sekarang sejak
Eosen-Pliosen. Batuan Eosen Faumai di Kepala Burung berasal dari 28 deg LS dan
Miosen Klasafet berasal dari 19 deg LS. Beberapa pergerakan terranes ini dan
bukti paleomagnetiknya telah saya pakai dalam merekonstruksi beberapa
pergerakan tektonik wilayah2 di Indonesia (Satyana, 2003 : PIT IAGI-HAGI
accretion and dispersion of SE Sundaland; Satyana, 2006 : SEG Jakarta
geosciences docking and post-docking tectonic escape of eastern Sulawesi;
dan Satyana, 2006 : PIT IAGI Pekanbaru tectonic escapes of Indonesia, dan
Satyana, 2007 collisional orogens of Indonesia in progress).
Penelitian paleo-magnetisme dan rediometri masih terus dilakukan kawan-kawan
kita di PSG (Pusat Survai Geologi). Beberapa penelitian terbarunya untuk
Sumatra menunjukkan bahwa batuan Permo-Karbon Kelompok Pegunungan Tigapuluh
berasal dari 40 degLS; sedangkan batuan Formasi Mengkarang dan Palepat berumur
Karbon berasal dari 30 deg LU. Benturan dua dunia ini terjadi di Sumatra
sejak Trias bagian atas.
Adalah menjadi tugas dan tantangan para ahli geologi Indonesia yang mencintai
Nusantara untuk terus-menerus mengumpulkan data ini dan merekonstruksinya. Data
sudah banyak dan tersedia dan terus dikumpulkan jangan terlalu bergantung
kepada rekonstruksi para ahli dari luar. Kita mestinya sudah lebih daripada
mampu melakukannya sendiri sebab kita sudah melakukannya lebih daripada 30
tahun !
Salam,
awang
---------------------------------
Building a website is a piece of cake.
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.