Sebagai wilayah yang pernah disebut sebuah buku "where two worlds
collide" Indonesia harus mempunyai data paleo-magnetisme dan umur
radiometri yang banyak. "Dua dunia" bertemu di Indonesia, asiatic vs
australian. Satu dari Asia, satu dari Australia - pecah dari tempat
asalnya - berjalan ke wilayah tropika - saling berbenturan - dan kini
membentuk Indonesia. Semua yang diwarisi dari Asia maupun Australia kini
terekam di Indonesia baik untuk flora, fauna, maupun geologi. Wilayah
"primitive" atau "asli Indonesia" pun ada, yaitu daerah2 yang kini punya
flora dan fauna endemic - wilayah Wallacea yang saya maksud, yang
meliputi sebagian Sulawesi dan pulau2 di Nusa Tenggara.

 

Apa bukti geologi bahwa Nusantara dibentuk dari pertemuan sebagian kerak
Asia dan Australia ? Satu-satunya hanyalah paleo-magnetisme yang
didukung data umur radiometri. Ambil sampel batuan umur pra-Tersier di
Sumatra atau Kalimantan atau Jawa atau Papua, dan ukur radiometri serta
kemagnetan purbanya, bila ia menunjukkan posisi lintang di luar 6 degLU
- 11 degLS, maka batuan itu bukan asli batuan yang terjadi di Indonesia,
tetapi ia dibawa dari tempat lain dan dialihtempatkan ke wilayah
Nusantara oleh proses tektonik yang sangat kompleks.

 

Teori tektonik lempeng mendapatkan sokongan yang sangat kuat dari
paleo-magnetisme dan radiometri. Kita di Indonesia, menyadari bahwa
Indonesia adalah laboratorium alam untuk lahirnya dan pengujian teori
tektonik lempeng, telah melakukan pengukuran paleomagnetism dan
radiometry sejak tahun 1970-an.  Lebih dari dua puluh  tahun dihimpun
sampai sekarang dan kini bisa ditampilkan dalam bentuk peta regional
skala 1 : 10.000.000 terbitan Pusat Survai Geologi, Bandung. Karya ahli2
geologi dari lembaga ini (dulu P3G) patut diacungi jempol (antara lain :
Mubroto, Permanadewi, Hardjono, Wahyono, Rab Sukamto).

 

Berikut ini adalah beberapa pengamatan yang keseluruhannya menunjukkan
bahwa Indonesia "is a mosaic of terranes" .

 

Paleozoic terranes. Batuan Karbon Akhir di Kepala Burung, Papua berasal
dari 47 degLS, sementara yang berumur Perem Awal dari 46deg LS, yang
berumur Perem Akhir berasal dari 35 degLS. Kini batuan-batuan ini di
tempatnya sekarang telah terputar melawan arah jarum jam sebanyak 60
deg. Batuan Perem di Timor berasal dari lokasi 20-30 deg LS dan telah
terputar CCW 20-40 deg dari arah semula. Kita bisa cek atlas dan akan
tahu di mana saat ini posisi 47 deg LS itu misalnya.

 

Mesozoic terranes. Batuan Trias-Yura di Kepala Burung pun berasal dari
tempat di 42 deg LS dan telah terputar CCW (counter clockwise) 60 deg.
Batuan Trias di Seram berasal dari 9 deg LS (wilayah Timor sekarang) dan
telah terputar 90 deg CCW (kita tahu bahwa ia terlibat dalam proses
bending of Banda Arc). Batuan Trias di Sumatra berasal dari 15-20 degLS
dan di kedudukannya kini telah terputar 40 deg CW (clock wise) - ini
membuktikan bahwa Sumatra memang telah terputar searah jarum jam. Batuan
Trias di Kalimantan, menariknya, posisinya dari dulu memang di situ,
bisa dipahami sebab Kalimantan termasuk core of Sundaland, hanya telah
terputar > 60 deg CCW - membuktikan bahwa Kalimantan memang terotasi
CCW. Batuan Kapur di Kalimantan Barat pun sudah sejak Kapur memang di
situ, hanya telah terputar 50 deg CCW. Tetapi, batuan Kapur di Sulawesi
dan Misool berasal dari 16-20 degLS. Sedangkan, batuan Kapur di
Halmahera berasal dari utaranya, 5 deg LU.

 

Tertiary events. Data kemagnetan purba pada zaman Tersier bisa
menunjukkan dinamika geologi Indonesia. Data paleo-magnetisme batuan
Tersier menunjukkan bahwa rotasi CCW masih terjadi di Kalimantan Tengah
selama Eosen, dan tidak terjadi lagi sejak Oligosen. Hanya sedikit
rotasi CW masih teramati selama Oligosen dan Miosen di Sumatra. Data
paleomagnetik di bagian timur Pulau Jawa menunjukkan bahwa bagian ini
berasal dari posisi lebih selatan dari posisinya sekarang dan telah
mengalami rotasi CCW ke posisinya sekarang. Data paleomagnetik
Sumbawa-Flores menunjukkan posisi purba yang hampir sama dengan
sekarang.

 

Pergerakan mendatar dan perputaran yang lebih nyata selama Tersier
teramati pada data kemagnetan purba di pulau-pulau Sulawesi, Timor,
Seram, Halmahera, Waigeo dan Kepala Burung. Batuan Paleogen di Sulawesi
Selatan masih menunjukkan pergerakan, sedangkan setelah itu atau lebih
muda dari Miosen Akhir tak menunjukkan pergerakan rotasi atau mendatar
(kita memahaminya sebab wilayah ini telah terjepit oleh benturan Buton
di sebelah timurnya sejak Miosen Akhir). Lengan Utara Sulawesi pernah
terputar 90 deg CW ke posisinya sekarang sejak Eosen-Pliosen.  Batuan
Eosen Faumai di Kepala Burung berasal dari 28 deg LS dan Miosen Klasafet
berasal dari 19 deg LS. Beberapa pergerakan terranes ini dan bukti
paleomagnetiknya telah saya pakai dalam merekonstruksi beberapa
pergerakan tektonik wilayah2 di Indonesia (Satyana, 2003 : PIT IAGI-HAGI
- accretion and dispersion of SE Sundaland; Satyana, 2006 : SEG Jakarta
geosciences - docking and post-docking tectonic escape of eastern
Sulawesi; dan Satyana, 2006 : PIT IAGI Pekanbaru - tectonic escapes of
Indonesia, dan Satyana, 2007 - collisional orogens of Indonesia - in
progress).

 

Penelitian paleo-magnetisme dan rediometri masih terus dilakukan
kawan-kawan kita di PSG (Pusat Survai Geologi). Beberapa penelitian
terbarunya untuk Sumatra menunjukkan bahwa batuan Permo-Karbon Kelompok
Pegunungan Tigapuluh berasal dari 40 degLS; sedangkan batuan Formasi
Mengkarang dan Palepat berumur Karbon berasal dari 30 deg LU. Benturan
"dua dunia" ini terjadi di Sumatra sejak Trias bagian atas.

 

Adalah menjadi tugas dan tantangan para ahli geologi Indonesia yang
mencintai Nusantara untuk terus-menerus mengumpulkan data ini dan
merekonstruksinya. Data sudah banyak dan tersedia dan terus dikumpulkan
- jangan terlalu bergantung kepada rekonstruksi para ahli dari luar.
Kita mestinya sudah lebih daripada mampu melakukannya sendiri sebab kita
sudah melakukannya lebih daripada 30 tahun !

 

Salam,

awang

Kirim email ke