Jadi ikutan nimbrung : katanya " Tangan Diatas Lebih Baik daripada Tangan yg di Bawah" Nah , mungkin kita perlu mengusahakan untuk mempunyai tangan yang diatas. shg tdk nyadong terus.. ISM
> Maaf pak/bu, saya jadi geli juga baca uneg2 yg dirilis > dibawah, dan berikut sedikit komen saya; > > Mungkin Orang Cina di Beijing juga nggerundel kepada saya, > kok enak banget ya Rendra yang juga orang Indonesia (Asia), > disamakan dg > predikat expatriate, diberi gaji sama dengan western(bule) > dapat > fasilitas apartement, sport club, kemana mana diantar > supir....uenak'e rek....(Data kasar: ada hampir 600 org > geologi Indonesia bekerja di Seluruh Dunia, dari Malaysia > sampai ke Ethiopia dan dari Kazaktan > hingga ke New Zealand sana). > > Menurut saya pak, kalo kita mau senikmat bule2 itu, kita > harus berani meniru cara bule2 itu....Kita tdk perlu merasa > jadi apriori dan > sensitif tak beralasan seperti ini (celetuk anak muda > sekarang " > resek"); mengatakan diri seperti budak lah, bukan tuan > dinegeri > sendiri dll, itu sia2, mubazir, malu ah...bayangkan apa > komentar > bule2 yg pandai berbahasa Indonesia. Zaman sdh berubah pak, > bisnis dan politik selalu seiring sejalan. > > Tengok saja "Sumatera" aja udah digadaikan ke Singapura oleh > empat petinggi negeri ini demi uang/bisnis dan politik.... > > > Koreksi: > Seorang foreign engineer di Jakarta misalnya, menurut > standar >> Bappenas, mendapatkan gaji sekitar US $5.000,00 per tahun. >> (PERBULAN 'KALI) Sebaliknya orang Indonesia, dengan >> kualifikasi sama hanya menerima sebesar $500,00 saja ( >> KAYAKNYA UNTUK FRESH GRADUATE DECH....) > > dan kalo si Bule itu digaji 5.000/bln, ya...masih lebih baik > Geologist Indonesia bekerja di Malaysia dg gaji > 6000-8000/bln...(tanya pak > sesepuh di Negeri Melayu itu) > Udah segitu aja dulu ach... > > Wassalam, > Rendra.A > > > > On 7/16/07, Ery Arifullah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> Saya juga prihatin dengan cerita dari mas Minarwan. Intinya >> disini adalah masalah bayaran/gaji/uang. Saya yakin >> seberapapun bayaran/gaji kita tidak akan menyelesaikan >> masalah. Masalah yang jauh lebih penting adalah HARGA DIRI. >> Kasarnya: kita jadi "budak" di negeri sendiri bukan "tuan" >> di negeri sendiri kan? >> >> Saya berpendapat kalau memang kita merasa bangsa yang >> "merdeka" kenapa kita tidak bertindak merdeka sesuai fungsi >> kita masing-masing. Kalau kita memang "merdeka" kenapa kita >> tidak melakukan bargaining2 politik dengan pemerintah? >> kalau kita juga kalah bargainning kenapa tidak kita rubah >> saja dulu "mindset" kita menjadi orang yang memang >> benar-benar "merdeka". >> >> Sejak jaman Belanda pendidikan kita memang disetting >> sebagai pemasok tenaga kerja/serdadu? murah dan bisa >> diper"budak". Sebenarnya tujuan pendidikan menurut Ki Hajar >> Dewantara adalah MEMERDEKAKAN fisik, mental, emosional >> kita. Artinya kita memang harus benar-benar MERDEKA tidak >> diperbudak oleh rasa takut, pekerjaan apalagi diperbudak >> oleh uang. Coba lihat sekililing kita terlalu banyak >> orang-orang kita adalah "budak-budak" berpendidikan. >> Daripada minta bayaran tinggi lebih baik dibayar dibawah >> standar expatriat daripada dipecat dari perusahaan >> "mereka", iya nggak?. Mereka punya bargainning tinggi >> karena perusahaan asing itu memang "punya" para kapitalis >> itu. Mereka tahu benar kelemahan kita. >> >> Sebagai ikut sumbang pikiran: lebih baik terlebih dahulu >> jadikan fisik, mental dan emosional kita MERDEKA secara >> utuh. Jadilah pekerja-pekerja berpendidikan bukan >> "budak-budak" berpendidikan. Saya kira perbedaannya jelas >> sekali tanpa bisa kita sadari dan lihat langsung. Tapi >> itulah kenyataannya. >> >> Salam, >> Ery >> >> >> >> Nataniel Mangiwa <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> Salam prihatin.. >> NM >> >> Sumber: >> http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&dn=20070710204429>> >> Oleh : Vima Tista Putriana >> >> 10-Jul-2007, 22:13:03 WIB - [www.kabarindonesia.com] >> >> KabarIndonesia Tiga setengah abad berada di bawah >> penjajahan Belanda yang sangat tidak beradab telah membuat >> bangsa Indonesia tumbuh >> menjadi bangsa yang "rendah diri". Meskipun sudah lebih >> dari 60 >> tahun merdeka, tetapi sindrom "mental bangsa terjajah" ini >> tetap belum hilang. Masih saja merasa diri belum sejajar >> dengan bangsa lain. >> >> Satu contoh sederhana keminderan ini terlihat dari >> diskriminasi >> tingkat gaji yang sangat tinggi antara expatriate dan anak >> negeri sendiri. Para expatriate di Indonesia digaji 10 kali >> lipat dari >> orang Indonesia meskipun dengan tingkat pendidikan, >> kemampuan, >> tanggung jawab dan kinerja yang sama. >> >> Seorang foreign engineer di Jakarta misalnya, menurut >> standar >> Bappenas, mendapatkan gaji sekitar US $5.000,00 per tahun. >> Sebaliknya orang Indonesia, dengan kualifikasi sama hanya >> menerima sebesar $500,00 saja. Tidak jarang dalam suatu >> proyek, meskipun >> dengan kualifikasi pendidikan lebih tinggi semisal MSc atau >> PHd, orang Indonesia digaji tetap lebih rendah dari >> expatriate yang cuma BSc (Rahardjo,2006). >> >> Di samping gaji tinggi, biasanya expatrite juga mendapat >> berbagai fasilitas berlimpah seperti berkantor di kawasan >> segitiga mas >> (Sudirman, Thamrin dan Kuningan), tempat tinggal di >> apartemen mewah, keanggotan di club-club olah raga dan >> hiburan elite dan lain-lain. >> >> Intinya mereka sangat dimanjakan, sehingga tidak salah >> kalau >> dikatakan Indonesia adalah syurga bagi para expatriate. >> Sebenarnya tidak masalah jika expatriate digaji sedemikian >> tinggi jika memang memiliki kemampuan unik yang tidak >> dimiliki oleh orang Indonesia dan betul-betul dibutuhkan. >> Tetapi jika kemampuan dan >> kinerja sama, lalu digaji lebih tinggi hanya karena >> statusnya bule, sungguh tidak logis menurut cara fakir >> orang yang berjiwa "merdeka". >> >> Jika pemerintah atau perusahaan harus membayar mahal hanya >> untuk status ke-bule-an saja, bukankah ini standar yang >> sangat stupid. Ketika jasa seseorang dihargai cuma 1/10 >> dari koleganya, hanya >> karena dia orang INDONESIA, berarti sungguh malang menjadi >> orang Indonesia. >> >> Mirisnya lagi, yang mengeluarkan standar gaji yang sangat >> diskriminatif ini adalah Bappenas-Pemerintah Indonesia >> sendiri. >> Berarti pemerintah Indonsia melecehkan rakyatnya sendiri, >> menganggap bodoh bangsanya sendiri. Ini sungguh bertolak >> belakang dari peran yang seharusnya dimainkan oleh >> pemerintah. >> >> Bukankah pemerintah suatu negara seharusnya menyokong >> rakyatnya, mendorong mereka supaya bisa maju, jika belum >> mampu difasilitasi supaya mencapai kualifikasi sama dengan >> expatriate. Singkatnya >> memberi kesempatan seluas-luasnya kepada anak bangsa untuk >> bisa >> berkembang dan mengekspolasi potensinya. >> >> Kenyataan di lapangan menunjukkan tidak selalu yang bernama >> bule lebih pintar dari orang Indonesia. Banyak diantara >> mereka memiliki kemampuan biasa-biasa saja. Malah mungkin >> di negaranya berada pada lapis ke-3 atau 4, tapi di >> Indonesia mereka disanjung sedemikian rupa, mendapatkan >> posisi yang sangat bagus dan hidup mewah. >> >> Keadaan ini tidak hanya berlaku di dunia bisnis, tetapi >> juga pada proyek-proyek pemerintah. Suatu kali tim peneliti >> dari UGM mendapat tugas membuat perencanaan daerah wisata >> pulau Jemur, di Kabupaten Rokan Hulu Riau. Sebagai arsitek >> dan perencana local, tim ini hanya mendapat dana sebesar >> 500 juta rupiah untuk jangka waktu 6 (enam) bulan. >> Sementara ada satu kabupaten lain yang lebih percaya pada >> konsultan dari Singapura harus mengeluarkan anggaran >> sebesar 3 >> milyar rupiah. >> >> Saat hasil penelitian dan perencanaan sama sama >> dipresentasikan, ternyata perencanaan yang dibuat tim >> peneliti UGM tidak kalah bagus dari konsultan Singapura >> yang dibayar enam kali lipat lebih tinggi. Malahan >> perencaanan UGM terlihat lebih menyentuh apa yang >> dibutuhkan masyarakat karena mereka memadukan dengan metode >> Partisipatory >> Planning sehinga mereka tahu betul apa keinginan >> masyarakat. >> >> Sebenarnya kita sendiri yang menempatkan para expatriate >> pada posisi yang sangat tinggi, menyanjung mereka >> sedemikian rupa, begitu >> percaya dan yakin mereka lebih baik, dan lebih berkualitas. >> Sebaliknya tidak memberi perlakuan sama kepada bangsa >> sendiri. >> Secara umum di seluruh dunia, expatriate memang digaji >> lebih tinggi dari pekerja lokal, namun perbedaannya tidak >> separah di Indonesia. Di Silicon Valley misalnya, gaji >> seorang software engineer >> (expatriate) dua kali pekerja lokal, termasuk jika >> expatriate-nya orang Indonesia (Patriawan, 2006). >> >> Pemerintah Indonesia sepertinya tidak yakin dengan >> kemampuan >> sendiri. Inilah warisan mental Inlander (sindrom minder, >> rasa rendah diri, dan inferior) dari Belanda (Yulianto, >> 2007). Padahal fakta membuktikan banyak anak-anak Indonesia >> yang brilliant malah >> dimanfaatkan oleh orang luar negeri. Bukankah banyak >> jebolan ITB yang menjadi enginer-nya perusahan-perusahan >> minyak dunia di Houston misalnya, yang dikenal sebagai kota >> minyak dunia. Itu membuktikan kalau kualifikasi anak >> Indonesia, sama sekali tidak kalah dengan yang bernama >> bule. >> >> Mereka adalah aset bangsa yang sangat berharga, dimana >> potensi >> mereka seharusnya dimaksimalkan untuk membangun bangsa. >> Yang >> terjadi malah mereka "disia-siakan", dan dimanfaatkan >> negara lain. Bukankah lebih baik memanggil mereka pulang >> dan memberi penghargaan yang sama sebagaimana layaknya >> expatriate, ketimbang menggaji orang asing. Ibarat >> memberikan sumbangan, lebih baik kepada saudara >> sendiri dahulu baru kepada yang lebih jauh. >> >> Disamping perlunya memberikan kesempatan yang sama kepada >> putra- putri dalan negeri sendiri, seharusnya pemerintah >> sangat berhati- hati dalam pemakaian expatriate , terutama >> untuk bidang perencanaan. Persoalannya bukan hanya sekedar >> pembayaran yang jauh lebih tinggi, tetapi menyangkut aspek >> lain yang lebih luas. Perlu digarisbawahi, pada >> proyek-proyek pemerintah, masuknya para expatriate ke >> Indonesia bukan karena sebuah rekruitment terbuka. >> >> Mereka adalah "AGEN-AGEN" yang dipekerjakan oleh pemerintah >> dari negara mereka, lalu ditempatkan pada lembaga lembaga >> strategis di Indonesia, khususnya dalam bidang-bidang >> perencanaan. >> >> Sebagaimana diketahui, fondasi dari sebuah pembangunan baik >> fisik maupun mental adalah pada aspek perencanaan. Ketika >> para expatriate berada pada posisi perencanaan, maka dengn >> mudah mereka menyuntikkan virus virus kapitalis didalamnya. >> Mereka memang sengaja dihadirkan melalui proyek- proyek >> besar yang didanai oleh negara-negara asing. Ini adalah >> dampak negatif bagi bangsa Indonesia yang perlu >> diwaspadai oleh pemerintah. >> >> Karena itu, perlu adanya perubahan paradigma yang >> menganggap bangsa asing (bangsa berkulit putih) lebih baik >> dari orang Indonesia. >> Pemerintah juga sebaiknya segera melakukan pemetaan SDM >> yang >> dimiliki Indonesia, baik menyangkut kuantitas maupun >> kualitas. >> Dengan adanya statistik lengkap dan peta yang jelas tentang >> penyebaran SDM Indonesia di berbagai disiplin ilmu, maka >> akan >> didapatkan gambaran jelas tentang kekuatan SDM Indonesia. >> >> Dengan kedua hal ini, diharapkan Bappenas-pemerintah- dapat >> merevisi standarnya yang tidak rasional tersebut. dan >> menggantinya dengan standar yang lebih mencerminkan jiwa >> merdeka sebuah bangsa. Lebih jauh, pemerintah bisa >> mendapatkan keyakinan bahwa sebenarnya >> tersedia cukup SDM dengan jumlah dan kualifikasi yang >> memadai, >> sehingga tidak selalu harus bergantung pada expatriate. >> Pada >> akhirnya diharapkan ibu pertiwi dapat menjadi syurga bagi >> anak >> negeri sendiri. >> >> ---------------------------------------------------------------------------->> >> Hot News!!! >> CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to >> [EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 - The 32nd >> HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention >> and Exhibition, >> Bali Convention Center, 13-16 November 2007 >> ---------------------------------------------------------------------------->> >> To unsubscribe, send email to: >> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id >> To subscribe, send email to: >> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id >> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id >> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta >> No. Rek: 123 0085005314 >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) >> Bank BCA KCP. Manara Mulia >> No. Rekening: 255-1088580 >> A/n: Shinta Damayanti >> IAGI-net Archive 1: >> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ >> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >> --------------------------------------------------------------------->> >> >> >> >> ________________________________ >> Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and >> always stay connected to friends. >> >> > > > -- > Rendra Amirin > mobile: +62 811 806595 > > ----------------------------------------------------------------------------> > Hot News!!! > CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to > [EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 - The 32nd > HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention > and Exhibition, > Bali Convention Center, 13-16 November 2007 > ----------------------------------------------------------------------------> > To unsubscribe, send email to: > iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: > iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: > http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net > Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- ___________________________________________________________ indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id ---------------------------------------------------------------------------- Hot News!!! CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, Bali Convention Center, 13-16 November 2007 ---------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

