Masalah gaji Expat ini sebenarnya sangat relatif sekali, darimana dan
bagaimananya mereka berasal.
Sebagai contoh, seorang warga Amerika sebagai kepala keluarga dikatakan
miskin atau dibawah garis kemiskinan bila berpenghasilan dibawah 2000 ( dua
ribu ) US$ per bulan. Apabila si bule ( kulit putih itu ) atau
apapun warna kulitnya sebagai warga negara USA, penghasilan segitu wajib
disubsidi atau disokong kehidupannya oleh Departemen Sosial AS atau
ditanggung negara. Mereka, apabila telah berkeluarga, akan diberi susu,
terigu ( roti ) dan segepok daging tiap bulannya, juga bantuan asuransi
medis.
Di Indonesia, susu dan daging masih sangat mewah,..disana sudah standar
pokok gizi sebagai threshold kemiskinan....
Angka garis kemiskinan di Indonesia bukan money income standarnya tapi masih
standar asupan Gizi dan Kalori...ya Gizi..artinya sudah miskin nggak punya
duwit
itu pasti, tapi apakah gizinya memadai ? Artinya gizi masih menjadi
perhatian prioritas utama agar bisa HIDUP BERNAFAS NORMAL...agar BISA MELEK
matanya...nggak sayu..dan gak busung lapar agar bisa berjalan tegak layaknya
makhluk Vertebrata...bukan hidup normal kaya lho..
Bila penghasilan di Indonesia sebesar 2000 USD itu sudah sekelas Gol IV-E
PNS
termasuk semua tunjangan jabatan lainnya, sudah melebihi gaji Rektor PTN
yang profesor sekalipun, sudah melebihi gaji seorang Jendral Bintang Empat
!! bahkan anggota DPR pun berebut kursi karena penghasilan gaji pokok yang
segitu...dengan susah payah kampanye dan money politic segala.
Saat saya sekolah di Amerika tahun 80an akhir ( 1 US$=Rp1600 saat itu ),
uang saku saya sudah lebih dari 2000 USD perbulan termasuk transport,
accomodation dan meal allowance, bahkan saya hanya sendiri, tapi ternyata
uang segitu ya pas..pas sekali untuk sebulan seorang sendirian di Colorado
sana. Tapi begitu pulang kampung lagi, kembali bergaji 1 digit - dalam juta
rupiah, tapi bisa hidup bersama dengan keluarga sebanyak 6 orang dengan
cicilan rumah. ( teman-teman di KPS yang pernah job assignment di AS bisa
bercerita )
Lulusan fresh graduate bachelor degree - Petroleum Engineer dari Universitas
Austin TX, di AS ( green experience ) sudah langsung digaji 4000 USD - 5000
USD/bulan, tapi di Indonesia segitu itu buat gaji seorang menteri !! atau
CEO BUMN Top di Indonesia atau mungkin GGE yang berpengalaman > 20 tahun.
Saat saya mewawancarai calon pegawai, rata-rata pelamar lulusan dari Geologi
dan Perminyakan baik dari ITB, UPN,. Trisakti jika ditanya permintaan gaji
pasti agak malu-malu...kalaupun menjawab pasti begini :
"terserah perusahaan bagaiman menilai saya" ; " bagaimana menurut bapak
saja" , saya cukup untuk hidup saja" dan bila dipaksa menulis angkanya
rata-rata adalah 1,5 juta - 3 juta rupiah/bulan....jika di dollarkan menjadi
150 - 300 US$ !!...Minder ? atau Inlander ?
Lha kalau expat di Indonesia digaji standar segitu apa nanti pulang kampung
ke Texas sana nggak semaput ??
Tapi sebaliknya orang Indonesia digaji standar Expat, apa nggak
jingkrak-jingkrak dan karena di KPS semua akan di 'cost recovery' kan ke
negara, apa negara nggak "bangkrut dan semaput"..sementara BBM saja kita
masih import untuk negeri yang berpenduduk 230 juta ini ??? Wong gaji
Menteri ESDM nya saja nggak nyampe sebesar expat juga...
Makanya Expat ini mesti dibatasi jumlahnya dan dikontrol kualitasnya, hanya
yang benar-benar expert dan ahli saja yang boleh mentransfer teknologinya
dan sementara numpang hidup di Indonesia.
Masalahnya bukan soal diskrimasi atau inlander atau mental terjajah
segala..tapi ya...pola hidup, standar hidup, gaya hidup dan kelayakan hidup
serta lingkungan yang menentukan standar gaji nasional ini yang akhirnya
menjadi acuan Bappenas, MenKeu, PAN-PNS, BPmigas, BUMN, TNI, Perusahaan
Swasta.
Akhirnya KPS Asing yang notabene juga diatur oleh BPMigas pun harus
mengikuti standar kelayakan hidup nasional itu.
Jadi yang menjadikan terasa kecil itu emang NILAI MATA UANG Rupiah sudah
amat merosot dan ..maaf, Jeblok ! Coba misal 1 USD = 100 rupiah atau 1000
rupiah saja...apakah kita masih menuntut sama dengan expat ? Berapa kali
negeri ini menDEVALUASI mata uang rupiah ??
Kecepatan devaluasi dan kenaikan harga-harga( inflasi ) tidak sebanding
dengan
kecepatan pertumbuhan gaji atau income. Inflasi bergerak Exponential,
sementara gaji bergerak Linear hampir datar.
Makanya , kita para GGE juga harus pintar sebagai expat di negeri jiran,
Afrika, Eropa dan Jazirah Arab sana...baru kitapun dihargai sebagai Expat
Standar International...
Jangan kalah sama TKW dan TKI yang jeli melihat peluang. Ingat, mereka
adalah penyumbang devisa yang besar, jadi merekapun masih cinta tanah air
dan nasionalis juga.
Dibawah ini petikan Standar Gaji Expat di Indonesia 2002: Dalam
US$$$$/bulan
Ternyata, orang Indonesia juga masih jauuuuh dibawah orang India dan
Filipina !!!!
LAMPIRAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP-173/PJ/2002
TENTANG PEDOMAN STANDAR GAJI KARYAWAN ASING
PEDOMAN STANDAR GAJI KARYAWAN ASING
MULAI TAHUN PAJAK 2002
(perbulan)
No.
JENIS USAHA
JABATAN
AMERIKA
INGGRIS
JERMAN
BELANDA
AUSTRALIA
EROPA
LAINNYA
JEPANG
KOREA
HONGKONG
PHILIPINA
INDIA
ASIA
LAINNYA
1
Dagang
Manager
Lainnya
13.958
11,012
10.884
6,018
10.180
6,018
9.988
5,506
10.756
5,506
9.988
5,506
12.869
6,210
6.979
4,418
6.403
3,585
6.403
3,585
6.403
3,906
6.403
3,970
2
Industri Tekstil
GM
Manager
Teknisi
10.372
8,003
7,107
8.900
6,403
5,314
10.372
8.,003
7,104
8.900
7,811
5,314
8.964
7,811
5,314
8.900
7,811
4,866
7.811
5,506
3,970
6.403
5,122
3,970
6.403
5,122
3,970
6.403
3,970
3,777
6.403
3,970
3,777
6.403
3,970
3,713
3
Industri Lainnya
GM
Manager
Teknisi
12.165
9,284
7,363
10.692
8,900
5,762
12.165
9,284
7,619
18.375
16,390
5,762
10.564
8,900
5,762
10.692
8,900
5,762
9.668
9,092
6,403
7.619
5,762
4,226
7.683
5,762
4,226
7.619
4,226
3,970
6.403
3,521
3,521
6.979
4,226
4,226
4
Pertambangan Umum/ Non Oil Drilling Company
GM
Superintendent
Tool Pusher
Crew
22,153
11,461
9,988
6,595
17.095
13,894
11,076
6,403
16,771
12,997
11,076
8,964
16.583
13,894
11,076
6,403
25.354
13,894
11,076
6,467
16.583
13,894
11,076
6,403
26.378
20,552
18,247
9,988
12.357
10,372
7,875
4,610
12.357
10,372
7,875
4,610
12.357
10,372
6,787
4,610
12.357
10,372
7,875
4,610
12.357
10,372
7,875
4,610
5
Pertanian
GM
Manager
Teknisi
10.372
8,067
7,107
8.900
7,811
5,314
8.900
8,067
7,299
10.372
7,811
6,403
8.900
7,811
5,314
8.900
7,811
4,994
7.811
5,122
3,970
6,403
5,122
3,970
6,403
5,122
3,970
6,403
3,970
3,970
6,403
3,970
3,970
6,403
3,970
3,970
6
Perikanan
GM
Manager
Teknisi
11.589
8,964
7,619
9,988
8,579
5,762
11,461
8,964
7,619
9, 988
8,515
5,890
9, 988
8,579
5,762
9, 988
8,515
5,890
8,579
6,210
4,994
7,171
5,574
4,290
7,811
5,570
4,290
7,171
4,610
4,418
6,403
3,521
3,521
7,171
3,906
3,073
7
Kehutanan
GM
Manager
Teknisi
12,357
9,284
7,363
10,564
8,900
5,762
12,293
9,284
7.363
12,293
9,284
7.363
12,293
9,284
7.363
12,293
9,284
7.363
12,293
9,284
7.363
12,293
9,284
7.363
12,293
9,284
7.363
,293
3,521
3.521
7,683
4,226
4.226
12,293
9,284
7.363
8
Jasa Bangunan/Kontraktor/ Kantor
GM
Manager
Teknisi
Staff
18,375
11,461
9,988
6,595
12,869
11,973
9,284
4,994
13,353
12,165
9,284
4,994
11,973
8,900
8,067
4,994
11,973
8,900
8,067
3,970
11,973
8,900
8,067
3,970
9,988
8,387
8,067
7,171
8,259
6,787
9,284
4,994
8,259
5,762
4,226
-
7,683
5,122
4,226
-
7,107
4,994
4,610
2,817
13,353
12,165
9,284
4,994
9
Jasa Angkutan/Real Estate/Leasing
GM
Manager
Teknisi
Staff
13,765
11,268
8,387
2,689
13,253
11,268
8.387
6,595
13,253
11,268
8.387
7,299
13,253
11,268
8.387
6,595
13,253
9,412
8.259
6,595
13,253
11,268
8.387
4,994
13,253
11,268
6.595
5,314
8,900
7,811
6,210
3,265
-
4,994
3,265
-
-
-
3,009
2,625
-
-
2,689
3,393
-
3,265
1,985
2,625
10
Bank/Asuransi
Manager
Staff
16,006
12,165
17,991
6,082
18,247
14,662
18,247
11,012
6,082
5,314
16,006
7,299
14,854
8,259
4,994
3,970
-
-
-
-
-
-
3,521
12,165
11
Jasa Lain
Manager
Staff
12,165
9,988
8,900
4,802
8,900
6,016
8,900
4,994
8,900
4,802
8,900
4,866
13,958
4,994
2,4970
1,729
-
-
-
-
-
-
3,906
2,817
12
Konsultan asing yang mengerjakan proyek Pemerintah dengan biaya dana
bantuan luar negeri
Manager
Staff
24,010
13,958
19,976
17,991
19,976
17,991
-
-
37,967
27,979
33,933
23,945
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Wallahu alam,
KA
----- Original Message -----
From: "Nataniel Mangiwa" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[email protected]>
Sent: Monday, July 16, 2007 6:17 PM
Subject: [iagi-net-l] Fwd: [OOT] Kenapa Negeriku Malah Dijadikan Syurga Bagi
Expatriate?
Salam prihatin..
NM
Sumber:
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&dn=20070710204429
Oleh : Vima Tista Putriana
10-Jul-2007, 22:13:03 WIB - [www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia Tiga setengah abad berada di bawah penjajahan Belanda
yang sangat tidak beradab telah membuat bangsa Indonesia tumbuh
menjadi bangsa yang "rendah diri". Meskipun sudah lebih dari 60
tahun merdeka, tetapi sindrom "mental bangsa terjajah" ini tetap
belum hilang. Masih saja merasa diri belum sejajar dengan bangsa
lain.
Satu contoh sederhana keminderan ini terlihat dari diskriminasi
tingkat gaji yang sangat tinggi antara expatriate dan anak negeri
sendiri. Para expatriate di Indonesia digaji 10 kali lipat dari
orang Indonesia meskipun dengan tingkat pendidikan, kemampuan,
tanggung jawab dan kinerja yang sama.
Seorang foreign engineer di Jakarta misalnya, menurut standar
Bappenas, mendapatkan gaji sekitar US $5.000,00 per tahun.
Sebaliknya orang Indonesia, dengan kualifikasi sama hanya menerima
sebesar $500,00 saja. Tidak jarang dalam suatu proyek, meskipun
dengan kualifikasi pendidikan lebih tinggi semisal MSc atau PHd,
orang Indonesia digaji tetap lebih rendah dari expatriate yang cuma
BSc (Rahardjo,2006).
Di samping gaji tinggi, biasanya expatrite juga mendapat berbagai
fasilitas berlimpah seperti berkantor di kawasan segitiga mas
(Sudirman, Thamrin dan Kuningan), tempat tinggal di apartemen mewah,
keanggotan di club-club olah raga dan hiburan elite dan lain-lain.
Intinya mereka sangat dimanjakan, sehingga tidak salah kalau
dikatakan Indonesia adalah syurga bagi para expatriate.
Sebenarnya tidak masalah jika expatriate digaji sedemikian tinggi
jika memang memiliki kemampuan unik yang tidak dimiliki oleh orang
Indonesia dan betul-betul dibutuhkan. Tetapi jika kemampuan dan
kinerja sama, lalu digaji lebih tinggi hanya karena statusnya bule,
sungguh tidak logis menurut cara fakir orang yang berjiwa "merdeka".
Jika pemerintah atau perusahaan harus membayar mahal hanya untuk
status ke-bule-an saja, bukankah ini standar yang sangat stupid.
Ketika jasa seseorang dihargai cuma 1/10 dari koleganya, hanya
karena dia orang INDONESIA, berarti sungguh malang menjadi orang
Indonesia.
Mirisnya lagi, yang mengeluarkan standar gaji yang sangat
diskriminatif ini adalah Bappenas-Pemerintah Indonesia sendiri.
Berarti pemerintah Indonsia melecehkan rakyatnya sendiri, menganggap
bodoh bangsanya sendiri. Ini sungguh bertolak belakang dari peran
yang seharusnya dimainkan oleh pemerintah.
Bukankah pemerintah suatu negara seharusnya menyokong rakyatnya,
mendorong mereka supaya bisa maju, jika belum mampu difasilitasi
supaya mencapai kualifikasi sama dengan expatriate. Singkatnya
memberi kesempatan seluas-luasnya kepada anak bangsa untuk bisa
berkembang dan mengekspolasi potensinya.
Kenyataan di lapangan menunjukkan tidak selalu yang bernama bule
lebih pintar dari orang Indonesia. Banyak diantara mereka memiliki
kemampuan biasa-biasa saja. Malah mungkin di negaranya berada pada
lapis ke-3 atau 4, tapi di Indonesia mereka disanjung sedemikian
rupa, mendapatkan posisi yang sangat bagus dan hidup mewah.
Keadaan ini tidak hanya berlaku di dunia bisnis, tetapi juga pada
proyek-proyek pemerintah. Suatu kali tim peneliti dari UGM mendapat
tugas membuat perencanaan daerah wisata pulau Jemur, di Kabupaten
Rokan Hulu Riau. Sebagai arsitek dan perencana local, tim ini hanya
mendapat dana sebesar 500 juta rupiah untuk jangka waktu 6 (enam)
bulan. Sementara ada satu kabupaten lain yang lebih percaya pada
konsultan dari Singapura harus mengeluarkan anggaran sebesar 3
milyar rupiah.
Saat hasil penelitian dan perencanaan sama sama dipresentasikan,
ternyata perencanaan yang dibuat tim peneliti UGM tidak kalah bagus
dari konsultan Singapura yang dibayar enam kali lipat lebih tinggi.
Malahan perencaanan UGM terlihat lebih menyentuh apa yang dibutuhkan
masyarakat karena mereka memadukan dengan metode Partisipatory
Planning sehinga mereka tahu betul apa keinginan masyarakat.
Sebenarnya kita sendiri yang menempatkan para expatriate pada posisi
yang sangat tinggi, menyanjung mereka sedemikian rupa, begitu
percaya dan yakin mereka lebih baik, dan lebih berkualitas.
Sebaliknya tidak memberi perlakuan sama kepada bangsa sendiri.
Secara umum di seluruh dunia, expatriate memang digaji lebih tinggi
dari pekerja lokal, namun perbedaannya tidak separah di Indonesia.
Di Silicon Valley misalnya, gaji seorang software engineer
(expatriate) dua kali pekerja lokal, termasuk jika expatriate-nya
orang Indonesia (Patriawan, 2006).
Pemerintah Indonesia sepertinya tidak yakin dengan kemampuan
sendiri. Inilah warisan mental Inlander (sindrom minder, rasa rendah
diri, dan inferior) dari Belanda (Yulianto, 2007). Padahal fakta
membuktikan banyak anak-anak Indonesia yang brilliant malah
dimanfaatkan oleh orang luar negeri. Bukankah banyak jebolan ITB
yang menjadi enginer-nya perusahan-perusahan minyak dunia di Houston
misalnya, yang dikenal sebagai kota minyak dunia. Itu membuktikan
kalau kualifikasi anak Indonesia, sama sekali tidak kalah dengan
yang bernama bule.
Mereka adalah aset bangsa yang sangat berharga, dimana potensi
mereka seharusnya dimaksimalkan untuk membangun bangsa. Yang
terjadi malah mereka "disia-siakan", dan dimanfaatkan negara lain.
Bukankah lebih baik memanggil mereka pulang dan memberi penghargaan
yang sama sebagaimana layaknya expatriate, ketimbang menggaji orang
asing. Ibarat memberikan sumbangan, lebih baik kepada saudara
sendiri dahulu baru kepada yang lebih jauh.
Disamping perlunya memberikan kesempatan yang sama kepada putra-
putri dalan negeri sendiri, seharusnya pemerintah sangat berhati-
hati dalam pemakaian expatriate , terutama untuk bidang perencanaan.
Persoalannya bukan hanya sekedar pembayaran yang jauh lebih tinggi,
tetapi menyangkut aspek lain yang lebih luas. Perlu digarisbawahi,
pada proyek-proyek pemerintah, masuknya para expatriate ke Indonesia
bukan karena sebuah rekruitment terbuka.
Mereka adalah "AGEN-AGEN" yang dipekerjakan oleh pemerintah dari
negara mereka, lalu ditempatkan pada lembaga lembaga strategis di
Indonesia, khususnya dalam bidang-bidang perencanaan.
Sebagaimana diketahui, fondasi dari sebuah pembangunan baik fisik
maupun mental adalah pada aspek perencanaan. Ketika para expatriate
berada pada posisi perencanaan, maka dengn mudah mereka menyuntikkan
virus virus kapitalis didalamnya. Mereka memang sengaja dihadirkan
melalui proyek- proyek besar yang didanai oleh negara-negara asing.
Ini adalah dampak negatif bagi bangsa Indonesia yang perlu
diwaspadai oleh pemerintah.
Karena itu, perlu adanya perubahan paradigma yang menganggap bangsa
asing (bangsa berkulit putih) lebih baik dari orang Indonesia.
Pemerintah juga sebaiknya segera melakukan pemetaan SDM yang
dimiliki Indonesia, baik menyangkut kuantitas maupun kualitas.
Dengan adanya statistik lengkap dan peta yang jelas tentang
penyebaran SDM Indonesia di berbagai disiplin ilmu, maka akan
didapatkan gambaran jelas tentang kekuatan SDM Indonesia.
Dengan kedua hal ini, diharapkan Bappenas-pemerintah- dapat merevisi
standarnya yang tidak rasional tersebut. dan menggantinya dengan
standar yang lebih mencerminkan jiwa merdeka sebuah bangsa. Lebih
jauh, pemerintah bisa mendapatkan keyakinan bahwa sebenarnya
tersedia cukup SDM dengan jumlah dan kualifikasi yang memadai,
sehingga tidak selalu harus bergantung pada expatriate. Pada
akhirnya diharapkan ibu pertiwi dapat menjadi syurga bagi anak
negeri sendiri.
----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
[EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------