Berikut adalah kutipan artikel pendek yang muncul di majalah National Geographic Indonesia (NGI) edisi terbaru Agustus 2007.
"Memantau Terumbu di Perairan 0 KM" Berada di ujung barat Nusantara, perairan Pulau Weh menjadi lokasi pemeriksaan kondisi terumbu karang berikutnya dalam Indonesia Reef 2007. Sebanyak 12 relawan penyelam - Widianto, Cecilia Yuda, Hendri Salim, Jerry Aurum, Parvita Siregar, Adrijani Lim, Kunthi Isnarti, Teguh Tirtapura, Darwin Wibowo, Tan Fatcin Fakta Cen Hendra, S. Dewi Wardjojo, dan Sisesasari - bertolak dari Jakarta pada tanggal 27 Juni menuju salah satu wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam itu. Selama lima hari mereka tidak hanya melakukan pemeriksaan kondisi terumbu karang tetapi juga membawa misi promosi wisata bahari wilayah yang pernah tertimpa musibah gelombang tsunami tersebut. Usai mendapatkan pelatihan mereka bergabung dengan sukarelawan lokal untuk melakukan pemantauan di empat lokasi berbeda : Pantai Gapang, Pulau Rubiah, Rubiah Barat, dan Teupin Layeu. Dengan menggunakan metode line transect dalam Protokol Reef Check, pemantauan di Pulau Rubiah dan Pantai Gapang menunjukkan komposisi substrat yang tidak beragam dengan penutupan karang hidup (hard coral) antara 15-35 %. Kondisi tersebut bukan karena banyaknya kerusakan yang terjadi, melainkan secara alamiah kondisi terumbu Pulau Rubiah tidak memiliki tutupan karang hidup dengan persentase yang tinggi. Demikian kutipan artikel. Parvita Siregar, rekan IAGI-netter kita menjadi salah seorang relawan Indonesia Reef 2007. Barangkali Vita bisa bercerita lebih banyak dibandingkan artikel pendek tersebut ? Silakan. Sebelum penelitian di kawasan perairan Pulau Weh ini, tim Indonesia Reef 2007 NGI - yang disponsori 22 lembaga nasional dan internasional termasuk WWF - melakukan penelitian yang sama di kawasan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Ini adalah bentuk kepedulian terhadap terumbu karang Nusantara. Kita tahu bahwa terumbu karang Indonesia termasuk yang terpenting di dunia. Menurut buku "Diving Indonesia : A Guide to the World's Greatest Diving" (Kal Muller dan David Pickell - Periplus, 1999), 20 % dari seluruh terumbu di dunia ada di Indonesia. Dengan panjang garis pantai sekitar 80.000 km, bahkan ada yang menaksir sampai sepanjang 200.000 km, yang mengelilingi 17.508 pulau, dan laut tropis seluas 3,1 juta km2, bisa dibayangkan betapa kayanya keanekaragaman hayati bahari Indonesia. Ini adalah perairan dengan habitat marin paling kaya di Bumi. Indonesia juga terletak di episentrum keragaman spesies seluruh wilayah tropis Indo-Pasifik, yang membentang hampir sepanjang 20.000 km (setengah keliling Bumi) dari Madagaskar di sebelah barat sampai ke gugusan kepulauan di ujung paling timur Samudera Pasifik. Ribuan spesies ikan dan ratusan spesies koral hidup di kawasan terumbu karang Indonesia. Keanekaragaman hayati koral Indonesia dan sejarah geologinya dapat dibaca di dua volume buku sangat lengkap (total 1388 halaman) dan "hebat" tulisan Tomas Tomascik dkk. (1997) "The Ecology of the Indonesian Seas" (Periplus). Para ahli biologi, oseanografi, dan geologi yang menekuni terumbu akan mendapat banyak sekali manfaat bila mempelajari dua buku ini. Terumbu kita memang tengah mendapatkan ancaman yang serius karena penangkapan ikan melalui pengeboman dan peracunan. Efek pemanasan global yang menghangatkan air laut juga akan mengganggu kelestarian spesies koral ini. Maka, sebuah usaha nirlaba kepedulian terhadap keselamatan terumbu Indonesia seperti yang digagas NGI melalui "Indonesia Reef 2007" patut diacungi jempol, juga semua relawannya - termasuk Vita, yang gemar menyelam itu. Salut. Indonesia sangat kaya akan terumbu moderen di hampir semua lautnya, Tanah Air kita pun sangat kaya akan terumbu Miosen yang telah puluhan tahun mengalirkan minyak dan gas. Luar biasa. Dan, tak sampai dua tahun lagi kita akan melihat bagaimana terumbu Miosen yang terpendam dalam di kedalaman ribuan meter di laut dalam Selat Makassar akan disentuh mata bor sumur eksplorasi untuk yang pertama kalinya. Mari selalu kita syukuri, jaga, dan manfaatkan dengan bijaksana seluruh anugerah-Nya. "Situated upon the equator, and bathed by the tepid water of the great tropical oceans, this region enjoys a climate more uniformly hot and moist than almost any other part of the globe, and teams with natural productions which are elsewhere unknown" (Alfred Russel Wallace, 1869) salam, awang

