Tahun kemaren saya ke kepulauan Sikuai di perairan depannya Padang.
Tempat seindah itu cuma ada kami berenam .... kasian sekali pengelola
tempat ini.... katanya semenjak tsunami orang nggak berani datang lagi .
Yang paling menyedihkan tempat ini sebenarnya cocok buat diving, tapi
terumbu karanngnya hancur luluh lantak bertebaran di pulau pulau sekitar
akibat pengeboman ikan.
Apa yang bisa dilakukan untuk mereboisasi (wah bukan reboisasi mungkin
tepatnya rereefasi) terumbu karang ini ya ....
"Parvita Siregar"
<parvita.siregar@
salamander-energy To
.com> <[email protected]>
cc
07/25/2007 03:55
PM Subject
RE: [iagi-net-l] Indonesia Reef
2007 : Peduli Terumbu Karang
Please respond to Indonesia
<[EMAIL PROTECTED]
.id>
Terimakasih, Mas Awang,
Kalau cerita tentang Indonesia Reef 2007, bisa dilihat di
http://www.indonesiareef.com/. Ada lebih jelas mengenai kegiatan2 dalam
rangka reef check di seluruh perairan Indonesia. Untuk sementara ini sudah
dilakukan di beberapa point, seperti di Derawan (East Kalimantan), Sabang
dan Komodo.
Akhir bulan Juni kemarin, saya termasuk dalam rombongan National Geographic
Indonesia menjadi relawan untuk reef check di Sabang, Pulau Weh. Kegiatan
ini bekerja sama dengan Yayasan Reef Check Indonesia dan Yayasan Flora &
Fauna Indonesia, yang istilahnya Sabang ini teritorinya mereka. Semua
relawan melalui training yang singkat padat mengenai data-data apa saja
yang harus diambil ketika melakukan penyelaman. Lokasi-lokasinya sudah
ditentukan dan kita tinggal mengambil data saja. Setelah selesai crash
course, kita simulasi, terus ujian dan diberi ijaza Eco Diver.
Lumayan juga, sebagai geoscientist, selalu menarik bagi saya kalau bicara
mengenai lingkungan terumbu karang. Dalam satu group terdiri dari 4 orang,
dan kami bagi lagi menjadi 3. Di group saya, 2 orang mencatat data ikan
(fish ID), data invertebrata dan substrat. Ikan2 yang kami catat adalah
ikan2 terumbu karang seperti anglefish, kakap yang tengahnya bergaris
kuning, kerapu, bumphead parrotfish, napoleon, dan morray eel (moa). Kami
juga mencatan bila ada hal2 yang jarang muncul, misalnya penyu, hiu dan
sebagainya. Yang mencatat invertebrata termasuk mencatat jumlah beberapa
species timun laut (Holothuroidaea), crown of thorn (Acanthaster, semacam
bintang laut yang memakan karang), Charonia tritonis (biasanya divers
bilang siput triton, ini predatornya crown of thorn) dan beberapa jenis
yang lain (saya agak lupa). Sedangkan substrat mencatat setiap 50 cm apa
substrat di daerah lintasan (hard coral, soft coral, sand, silt, dll).
Kondisi coral pun kita lihat, apakah mereka terkena bleaching (memutih,
mati), atau dimakan oleh crown of thorn, kalau ada karang apakah rusak
secara global atau local (kena bomb, kena anchor, dll). Setelah data ini
dikumpulkan, maka akan diketahui bagaimana kondisi terumbu karang di
wilayah itu dan dimonitor terus (mudah-mudahan). Karena kebetulan saya
juga diving instructure, jadi kegiatan ini banyak gunanya untuk diturunkan
kepada murid2 saya supaya mereka juga aware dengan lingkungan.
Sebagai geologist, tentunya setiap penyelaman sangat menarik. Dan setiap
membaca mengenai karbonat, paling tidak bisa terbayang seperti apa
lingkungannya, hewannya seperti apa. Selain itu, sering juga terlihat
singkapan2 yang sangat menarik. Misalnya, columnar joint di bawah laut
(Banda Neira) yang ditumbuhi dengan ratusan table corals.
Tetapi yang lebih penting lagi setiap penyelaman ada rasa semakin kecil.
Semakin kecil saya ini di dunia dan semakin besar kekuasaan Tuhan terasa.
Mungkin itu saja komentar saya, Mas Awang. Paling tidak jadi lebih aware
dengan lingkungan terumbu.
Parvita H. Siregar
Salamander Energy
Jakarta-Indonesia
Disclaimer: This email (including any attachments to it) is confidential
and is sent for the personal attention of the intended recipient only and
may contain information that is privileded, confidential or exempt from
disclosure. If you have received this email in error, please advise us
immediately and delete it. You are notified that using, disclosing,
copying, distributing or taking any action in reliance on the contents of
this information is strictly prohibited.
From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, July 25, 2007 8:07 AM
To: [email protected]
Subject: [iagi-net-l] Indonesia Reef 2007 : Peduli Terumbu Karang Indonesia
Berikut adalah kutipan artikel pendek yang muncul di majalah National
Geographic Indonesia (NGI) edisi terbaru Agustus 2007.
“Memantau Terumbu di Perairan 0 KM”
Berada di ujung barat Nusantara, perairan Pulau Weh menjadi lokasi
pemeriksaan kondisi terumbu karang berikutnya dalam Indonesia Reef 2007.
Sebanyak 12 relawan penyelam – Widianto, Cecilia Yuda, Hendri Salim, Jerry
Aurum, Parvita Siregar, Adrijani Lim, Kunthi Isnarti, Teguh Tirtapura,
Darwin Wibowo, Tan Fatcin Fakta Cen Hendra, S. Dewi Wardjojo, dan
Sisesasari – bertolak dari Jakarta pada tanggal 27 Juni menuju salah satu
wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam itu. Selama lima hari mereka
tidak hanya melakukan pemeriksaan kondisi terumbu karang tetapi juga
membawa misi promosi wisata bahari wilayah yang pernah tertimpa musibah
gelombang tsunami tersebut. Usai mendapatkan pelatihan mereka bergabung
dengan sukarelawan lokal untuk melakukan pemantauan di empat lokasi berbeda
: Pantai Gapang, Pulau Rubiah, Rubiah Barat, dan Teupin Layeu.
Dengan menggunakan metode line transect dalam Protokol Reef Check,
pemantauan di Pulau Rubiah dan Pantai Gapang menunjukkan komposisi substrat
yang tidak beragam dengan penutupan karang hidup (hard coral) antara 15-35
%. Kondisi tersebut bukan karena banyaknya kerusakan yang terjadi,
melainkan secara alamiah kondisi terumbu Pulau Rubiah tidak memiliki
tutupan karang hidup dengan persentase yang tinggi.
Demikian kutipan artikel. Parvita Siregar, rekan IAGI-netter kita menjadi
salah seorang relawan Indonesia Reef 2007. Barangkali Vita bisa bercerita
lebih banyak dibandingkan artikel pendek tersebut ? Silakan.
Sebelum penelitian di kawasan perairan Pulau Weh ini, tim Indonesia Reef
2007 NGI – yang disponsori 22 lembaga nasional dan internasional termasuk
WWF – melakukan penelitian yang sama di kawasan Kepulauan Derawan,
Kalimantan Timur. Ini adalah bentuk kepedulian terhadap terumbu karang
Nusantara.
Kita tahu bahwa terumbu karang Indonesia termasuk yang terpenting di dunia.
Menurut buku “Diving Indonesia : A Guide to the World’s Greatest Diving”
(Kal Muller dan David Pickell – Periplus, 1999), 20 % dari seluruh terumbu
di dunia ada di Indonesia. Dengan panjang garis pantai sekitar 80.000 km,
bahkan ada yang menaksir sampai sepanjang 200.000 km, yang mengelilingi
17.508 pulau, dan laut tropis seluas 3,1 juta km2, bisa dibayangkan betapa
kayanya keanekaragaman hayati bahari Indonesia. Ini adalah perairan dengan
habitat marin paling kaya di Bumi. Indonesia juga terletak di episentrum
keragaman spesies seluruh wilayah tropis Indo-Pasifik, yang membentang
hampir sepanjang 20.000 km (setengah keliling Bumi) dari Madagaskar di
sebelah barat sampai ke gugusan kepulauan di ujung paling timur Samudera
Pasifik. Ribuan spesies ikan dan ratusan spesies koral hidup di kawasan
terumbu karang Indonesia. Keanekaragaman hayati koral Indonesia dan sejarah
geologinya dapat dibaca di dua volume buku sangat lengkap (total 1388
halaman) dan “hebat” tulisan Tomas Tomascik dkk. (1997) “The Ecology of the
Indonesian Seas” (Periplus). Para ahli biologi, oseanografi, dan geologi
yang menekuni terumbu akan mendapat banyak sekali manfaat bila mempelajari
dua buku ini.
Terumbu kita memang tengah mendapatkan ancaman yang serius karena
penangkapan ikan melalui pengeboman dan peracunan. Efek pemanasan global
yang menghangatkan air laut juga akan mengganggu kelestarian spesies koral
ini. Maka, sebuah usaha nirlaba kepedulian terhadap keselamatan terumbu
Indonesia seperti yang digagas NGI melalui “Indonesia Reef 2007” patut
diacungi jempol, juga semua relawannya – termasuk Vita, yang gemar menyelam
itu. Salut.
Indonesia sangat kaya akan terumbu moderen di hampir semua lautnya, Tanah
Air kita pun sangat kaya akan terumbu Miosen yang telah puluhan tahun
mengalirkan minyak dan gas. Luar biasa. Dan, tak sampai dua tahun lagi kita
akan melihat bagaimana terumbu Miosen yang terpendam dalam di kedalaman
ribuan meter di laut dalam Selat Makassar akan disentuh mata bor sumur
eksplorasi untuk yang pertama kalinya. Mari selalu kita syukuri, jaga, dan
manfaatkan dengan bijaksana seluruh anugerah-Nya.
“Situated upon the equator, and bathed by the tepid water of the great
tropical oceans, this region enjoys a climate more uniformly hot and moist
than almost any other part of the globe, and teams with natural productions
which are elsewhere unknown” (Alfred Russel Wallace, 1869)
salam,
awang
This e-mail (including any attached documents) is intended only for the
recipient(s) named above. It may contain confidential or legally
privileged information and should not be copied or disclosed to, or
otherwise used by, any other person. If you are not a named recipient,
please contact the sender and delete the e-mail from your system.