Pak Awang,
Terimakasih atas beberapa putir yng dikemukakan Pk Awang. Saya kira bagus
sekali. Sampai sekarang memang yang kita kenal adalah gempa dangkal. Jadi
dengan adanya gempa dalam di lepas pantai utara Jawa, kita kaget, walaupun ada
beberapa kasus gempa dalam. Waktu saya masih di S.D. klas 1 di Tuban ( pantai
utara Jawa Timur) ada juga gempa (lindu) yang merobohkan rumah bagian depan
nenek saya. Kelihatannya rumah bagian depan ini kurang kuat atau kurang kokoh
tidak seperti bagian belakangnya. Kejadian kira-kira 60 atau 65 tahun yang
lalu. Saya kira pusat gempa juga dalam seperti gempa Indramayu.
Sesar yang saya utarakan dalam e-mail terakhir (9/8) kedalamannya mencapai 26
km. Ini saya modelkan dari data gayaberat. Memang jauh dari pusat gempa
Indramayu. Yang menjadi masalah ialah mengapa banyak orang yang merasakan
getarannya sampai di Padang, Lampung dsb. Untuk meneliti ini, saya kira, akan
menghabiskan waktu (wasting time). Tetapi untuk kepentingan ilmiah, perlu di
pikirkan, propagasi getaran yang ditimbulkan suatu energi sebesar 7.5 S.R.
sampai berapa jauh? Kalau ada energi lepas, kita tahu bahwa getaran yang
ditimbulkannya merambat ke semua arah, antara lain ke atas. Sampai atau tidak
getaran tersebut ke sesar yang Pak Awang sebut sebagai sesar geser Lematang -
Pemanukan atau sesar saya? Kalau sampai, dapat menggetarkan sesar tersebut
akan merupakan titik sumber energi baru (pelajaran dasar sismik).
Ini yang menyebabkan gempa yang kita semua merasakan tempo hari itu. Dapat
dimengerti kalau intensitasnya (MMI) kecil, tidak merusak. Teman2 dari fisika
saya kira bisa merenungkan masalah ini. Maaf ini hanya pikiran, moga-moga saya
salah "I may be wrong"
M. Untung
----- Original Message -----
From: Awang Harun Satyana
To: [email protected]
Sent: Thursday, August 09, 2007 4:21 PM
Subject: RE: [iagi-net-l] gempa lepas-pantai utara Jawa Barat
Pak Untung,
Episentrum sesar tersebut memang persis duduk di sesar yang saya sebut
Lematang-Pamanukan-Cilacap pada publikasi2 saya tentang tectonic indentation
Jawa Tengah dalam beberapa tahun terakhir ini (publikasi terbaru tentang ini
ada di Satyana, 2007, Proceedings IPA Mei lalu, "). Sesar ini saya bangun dari
publikasi2 Pak Untung dkk pada tahun 1970-an, khususnya buku kuning Untung dan
Sato (1978). Ketika saya kaitkan dengan sesar besar lainnya di Jawa yaitu
Meratus-Muria-Kebumen, maka sesar Cilacap-Pamanukan-Lematang ini menjadi
antitetik dextral terhadap Meratus-Muria-Kebumen.
Kalau episentrum gempa semalam 30 km atau kurang, saya percaya kalau gempa
tersebut sangat erat berkaitan dengan Sesar Pamanukan-Cilacap; tetapi ini
hampir 10 kali lipat lebih dalam, yaitu 290 km. Saya pikir tak ada sesar
strike-slip yang sangat besar sekalipun sampai kedalaman ratusan km menembus
kontinen dan masuk ke astenosfer. Tetapi, kalau kita punya data mantle
tomography di sekitar Laut Jawa, sangat bagus untuk menguji pendapat ini.
Saya setuju, ini kesempatan yang sangat baik untuk mempelajari gempa,
terutama propagasinya dalam dua minggu ini yang menunjukkan migrasi sistematik
dari selatan ke utara.
Salam,
awang
------------------------------------------------------------------------------
From: Untung M [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, August 09, 2007 3:13 C++
To: Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia; [email protected]
Subject: [iagi-net-l] gempa lepas-pantai utara Jawa Barat
Saudara para pakar gempa yang budiman,
Saya coba ngeplot posisi gempa tgl. 9/8/07 berdasarkan atas laporan BMG dan
USGS. Keduanya hampir sama. Untuk itu saya merujuk buku kuning "Gravity and
Geological Studies in Jawa, Indonesia", 1978 terbitan Direktorat Geologi.
Editor ialah M. Untung dan Y. Sato. Dari penafsiran data gayaberat hasil
pengamatan langsung di lapangan ditemukan sesar dari selatan Cirebon membentang
kearah barat-barat laut ( west-west north). Saya duga sesar tersebut melanjut
ke laut. Gempa tgl. 9/8 di laut berada di sesar tersebut kira-kira 100 km timur
dari Jakarta dan juga 100 km barat dari Cirebon dan hanya beberapa puluh km
dari pantai pada kedalaman, menurut laporan, 286 km yaitu di astenosfer.
Benarkah laporan ini? Kalau buku tersebut ada pada anda, tolong di lihat. Di
perustakaan PSG mudah-mudahan masih ada. Kita masih besyukur gempa tidak sangat
besar (9 SR). Peristiwa ini sangat baik untuk penelitian yang mendalam.
Sekian. Terimakasih.
M. Untung