Mas Maryanto,

Di bawah ada kutipan abstrak paper tentang escape tectonics Indonesia yang saya 
presentasikan di PIT IAGI Pekanbaru tahun lalu. Saya kok tak melihat Mas 
Maryanto ya saat itu, padahal di PIT IAGI di Bandung, Jakarta, Surabaya atau 
PIT IPA di Jakarta saya selalu melihat Mas Maryanto hadir. Padahal kan di Riau 
lho, masih di "daerah kekuasaan" Mas Maryanto..kemana Mas, atau saya saja yang 
kebetulan tak melihat ?

Dalam pandangan saya, escape tectonics banyak berperan dalam mengubah dan 
mengkonfigurasi tataan tektonik Kenozoik Indonesia. Jelas, escape tectonics ini 
tak pernah lepas dari pendahulunya, yaitu benturan (collison). Maka, saya sebut 
saja post-collisional tectonic escapes. 

Escape tectonics juga adalah manifestasi permukaan dari gerakan sirkulasi 
mantel di astenosfer. Apakah ini berhubungan dengan Gelombang ARIF yang digagas 
oleh Mas Maryanto ?  Saya harus mempelajari dulu gelombang ARIF-nya. Rasanya 
Mas Maryanto belum memberikan saya arsip lengkap turunan-turunan konsep dari 
SALAM (ARIF, LAIR, dll.). Data lengkap yang diberikan kepada saya adalah SALAM 
versi 2004 (saat PIT IAGI di Hotel Horison Bandung 2004). Kalau bisa diberikan, 
barangkali nanti bisa saya copy SALAM terbaru dan semua turunannya saat JCB 
2007 ?

>Maryanto wrote :
>Atau, apakah ada penunjang data bahwa sejak bertumbuknya IndoAsia keutara 
>>dengan Asia di 50 Ma itu, menjadikan kecepatan gerak Lempang IndoAsia ke 
>>utara makin lambat ?

Ya, ada data dan buktinya. Laju konvergensi antara India dan Eurasia menurun 
secara tajam di antara anomali A22 dan A21 (anomali geomarin), atau ekivalen 
dengan saat 50.3 - 47.8 Ma. Turunnya laju konvergensi ini telah 
me-re-organisasi Indian Ocean spreading ridge di antara 43.9-41.1 Ma (Packham, 
1996). Semua perlambatan konvergensi, apalagi benturan di ujung lempeng, akan 
mengatur ulang semua gerak pemekaran dan punggung samudra aktif di ujung 
lempeng yang lain. Turunny laju konvergensi dan spreading reorganization 
menunjukkan bahwa peristiwa benturan antara India dan Eurasia ini terjadi pada 
50.3 - 41.1 Ma.

Segera setelah benturan terjadi, dimulailah sejarah escape/ekstruksi Sundaland 
ke arah tenggara, yaitu sesuai dengan teori release benturan, akan ke arah free 
oceanic edge/face. Saat itu, satu2nya free-oceanic edge adalah ke arah tenggara 
sebab Australia belum menutpnya. Saat ini memang Sundaland seperti terkunci 
oleh Indian-Australian ke utara dan Pacific-Phillipine plates yang bergerak ke 
timur. Rate escape Sundaland sudah sangat kecil, bahkan banyak bukti geraknya 
sekarang membalik ke baratlaut, meskipun benturan India terus terjadi ke 
Eurasia.

Demikian Mas, pendapat saya.

Salam,
awang

POST-COLLISIONAL TECTONIC ESCAPES IN INDONESIA  : 
FASHIONING THE CENOZOIC HISTORY

Awang Harun Satyana 
(BPMIGAS)

ABSTRACT

Post-collisional tectonic escape refers to the lateral escape or extrusion of 
fault-bounded geological blocks as a result of collision or compression away 
from the collision zone and towards free edge of oceanic margin. While the 
collision zone is represented by fold-thrust belts, the tectonic escape is 
accommodated by large strike-slip faults and rifting and spreading of basement. 

There are five significant collisional events fashioning the Cenozoic tectonics 
of Indonesia. The first was collision of India to Eurasia started at 50 or 45 
Ma (early-middle Eocene). The collision resulted in the Himalayan Fold-Thrust 
Belt and was followed by the escape of the Sundaland southeastwards  through 
major strike-slip faults  and the formation of sedimentary basins in the 
Sundaland as well as the opening of  marginal seas of the South China Sea and 
Andaman Sea. The faults occupied and reactivated Mesozoic sutures within the 
Sundaland. The faults are Red River Fault-Sabah Shear, Tonle-Sap-Mekong (Mae 
Ping) Fault,  Three Pagoda Fault-Malay-Natuna-Lupar Line-Adang Fault, and the 
Sumatran Faults.

The second collision occurred at about 25 Ma (late Oligocene) when an oceanic 
island arcs constructed on the southern margin of the Philippine Sea Plate 
collided with the northern margin of Australia Continent. The collision 
resulted in fold-thrust belt of the Papua Central Ranges and was followed by 
tectonic escapes of strike-slip faults and basin formation. The faults are 
Sorong-Yapen Fault, Waipoga Fault, Gauttier Offset, and Apauwar-Nawa Fault. 
Opening of the North Irian Basin in northern Papua also shows the 
post-collision tectonic escapes. 

The third collision was the collision of the Bird's Head microcontinent with 
Papua at 10 Ma (late Miocene). The Lengguru Fold-Thrust Belt marks the 
collision zone. Strike-slip faults away from the collision zone like the 
Tarera-Aiduna, Sorong, Waipoga, and Ransiki Faults may demonstrate the 
post-collision tectonic escape. The Bintuni Basin located just to the west of 
the Lengguru Fold-Thrust Belt is a foreland basin developing as a response to 
post-collision extensional structure.  

The fourth collision occurred from 11 to 5 Ma (late Miocene to earliest 
Pliocene) when the Buton-Tukang Besi and the Banggai-Sula microcontinents 
collided East Sulawesi ophiolite. The microcontinents were detached from the 
Bird's Head of Papua and escaped westwards by the Sorong Fault. The collision 
has formed Batui Fold-Thrust Belt and was followed by post-collision tectonic 
escapes in forms of  rotation of arms of Sulawesi, formation of major 
strike-slip faults of Palu-Koro, Kolaka, Lawanopo, Hamilton, Matano, and 
Balantak Faults, and the opening of the Gulf of Bone. More recent 
transtensional movement is responsible for the opening of pull-apart basins of 
Poso, Matano and Towuti Lakes, as well as the Palu Depression. 

The last collision commenced at about 3 Ma (mid-Pliocene) when northern margin 
of  Australia Continent collided Banda Island Arc. The collision resulted in 
foreland fold-thrust belt from Timor, Tanimbar to Seram. Lateral extension is 
observed to follow the arc-continent collision indicating a tectonic escape. 
Major strike-slip faults were formed sub-paralleling the Timor Island and may 
relate to the escape of the Sumba Island westwards. Extensional crustal 
collapse followed the arc-continent collision and has resulted in the formation 
of  the Weber Deep, Savu Basin, and opening of the Banda Sea .  

The cases in Indonesia show that tectonic escape is a widespread process and 
may have been very important in the evolution of convergent region like 
Indonesia. The concept of tectonic escape can contribute to the understanding 
of the process by which continents are assembled and slivered.***

-----Original Message-----
From: Maryanto (Maryant) [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, August 21, 2007 8:14 C++
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [iagi-net-l] Gunung Karangetang- escape Sunda.


Mas Awang,

Bagus infonya. Kecepatan lempeng pasifik ke barat lebih besar dari kecepatan 
lempeng IndoAustralia ke utara-timur. Bisa dua kali lipat (10 cm/th, di banding 
5 cm/th). Lalu saya anjurkan adanya pusaran, siklun tektonik pusat Laut Banda 
itu, lawan arah jarumjam (di liat dari atas bumi ke pusat), atau searah jarum 
jam bila dari pusat bumike udara. Ini jadikan sebelah barat L. Banda hingga 
misal Sumatra, akan bergerak ke selatan, relatif L. Banda. 

Makanya, saya lebih suka menghindari kata "escape"-nya Lempeng Sunda atas gerak 
ke utaranya IndoAustralia, instead, ya memang hanya satu-satunya jalan ke situ, 
ke selatan itu, tak ada jalan lain, atas dorongannya ke-satuan gerak lempeng, 
seluruh, ya semua, lempeng di permukaan bumi, tak hanya lempeng di belahan 
tumur itu. Lempeng Sunda tak ke situ seandianya misal lempeng Asia bergerak ke 
utara, atau lempeng Pasifik bergerak ke timur (tak ke barat seperti sekarang), 
atau lempeng IndoAsia takbergerak ke utara (misal ke timur). 

Kata "escape" di situ, menjadikan saya pikirkan sebagai bahwa semua gerak tadi, 
gerak masing-masing lempeng, ya atas "escape". Escape dari dorongan 
penyebabnya, ya yang saya sebut sebagai Gelombang ARIF pusat bumi. Gelombang 
ARIF pusat bumi, yang di sebabkan oleh 4 prime energies " Gravity, Unified 
electromagnetic, Nuclear strong And weak", menggerakkan semua 7 lapisan bumi, 
jadikan 3 pasang planetary cyclones, termasuk cyclone tectonic, salah satunya 
berpusat di L. Banda. 

Lithosfer, yang keras, hanya 1 % ari jari-jari bum lapisan liat-cair, ya tak 
bisa apa-apa, tak bisa mendorong, kecuali lempeng hanya di gerakkan oleh 
asthenosphere, yang juga bergerak atas Gelombang ARIF lateral dan waktu.

Bagaimana Mas Awang? Salah ya ?

Paper, termasuk yang pernah saya kasihkan ke Mas Awang, saya tafsirkan sebagai 
Lempeng India juga extension sejak Early Eocene 50 Ma,  awal Sunda Plate 
extension, synrift, hingga compresion sejak Mid Miocene hingga kini.

Atau, apakah ada penunjang data bahwa sejak bertumbuknya IndoAsia keutara 
dengan Asia di 50 Ma itu, menjadikan kecepatan gerak Lempang IndoAsia ke utara 
makin lambat ?

Kalendarku sebutkan, sinusoidal order-2 70 Ma, bumi yang kembang-kempis dengan 
jari-jari ikuti "SALAM Earth radius", perlihatkan extension lempeng order 2 ya 
selalu pada 50 Ma + n x 70 Ma, di mana n integer positif. Atau extension mulai 
misal yangsaya sebut LAIR "Low Atmospherec temperature as Initiation of 
Regeneration rapidly". 

Gimana hayo Mas Awang, juga yang lain ?

Salam,
Maryanto. 
Yah, biar pergerakan teori makin cepat, semua jadi lebih tahu untuk orang yang 
pinter-pinter ini.

-----Original Message-----
From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, August 21, 2007 12:29 AM
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [iagi-net-l] Gunung Karangetang,Sangihe Meletus (was [iagi-net-l] 
Karangetang-Soputan-Gamkonora Triangle)

Gunung Karangetang, Sangihe,Sulawesi Utara  meletus hebat bak pesta kembang api 
tepat tanggal 17 Agustus 2007 setelah diawali letusan pertama Kamis malam 16 
Agustus 2007. Berikut berita terkini tentang letusan itu dari yahoo dan 
Volcanological Survey Indonesia. Saat ini segitiga gunungapi di Sulawesi 
Utara-Halmahera, Karangetang-Soputan-Gamkonora menempati tiga posisi paling 
atas dari 13 gunungapi di Indonesia yang aktivitasnya sedang meningkat. Mengapa 
ketiga gunungapi ini aktif, di paling bawah ada ulasan saya tentang hal 
tersebut.
   
  salam,
  awang
   
    Volcano erupts in east Indonesia
  news.yahoo.com/s/ap/20070820/ap_on_re_as/indonesia_volcano - 8 hours ago - 

  Mon Aug 20, 3:34 AM ET
  JAKARTA, Indonesia - A volcano in eastern Indonesia spewed hot lava and 
clouds of ash high into the air early Monday, a volcanologist said, hours after 
hundreds of villagers living on its rumbling slopes were evacuated.  
  There were no reports of injuries or damage, said Yudi Satipang, a 
volcanologist who has been monitoring Mount Karangetang on Siau island since it 
was placed on high alert over the weekend.
  "It sounds like huge thunderclaps," he said of the booming gas blasts from 
the crater, adding that villages, farms and trees on the 5,577-foot-tall 
mountain were covered in thick gray ash.
  Karangetang is one of Indonesia's most active mountains, and it has been 
rumbling for days.
  Nearly 600 residents living within the danger zone have fled to safety, and 
many were seeking shelter in government buildings, schools and mosques.
  Indonesia, the world's largest archipelago, is prone to seismic upheaval due 
to its location on the so-called Pacific "Ring of Fire," an arc of volcanos and 
fault lines encircling the Pacific Basin.
  Siau, a popular diving island, is part of the Sulawesi island chain. It lies 
some 1,444 miles northeast of the country's capital, Jakarta.
  Berikut kemajuan perkembangan status Karangetang berdasarkan 
http://portal.vsi.esdm.go.id/joomla/index.php?option=com_content&task=view&id=266&Itemid=1
            Based on visual observation and seismic activity, started from 18 
August 2007 at 01.00 localtime, we upgrade the Karangetang to alert level IV, 
the highest level. 

  Berdasarkan data visual dan kegempaan,  maka terhitung 18 Agustus 2007 pukul 
01:00 WITA status G. Karangetang dinaikkan dari  SIAGA (Level III) menjadi AWAS 
(Level IV) 
  

  Peningkatan  kegiatan G. Karangetang sebagai berikut :  
   
  1. Kegempaan 
    
   Tanggal  16 Agustus 2007  jam 00:00 - 24:00 WITA terekam gempa tektonik jauh 
sebanyak 2 kali, gempa vulkanik dangkal sebanyak  1 kali, gempa hembusan  
sebanyak 4 kali, gempa guguran sebanyak 13 kali, gempa tremor harmonik  
sebanyak 10 kali dengan amplituda 6 - 16 mm, gempa letusan sebanyak 1 kali dan 
gempa tremor  menerus dengan amplituda 10 -.47 mm    
   Tanggal 17 Agustus 2007; 
  o       Pukul 06:00 - 12:00 WITA terekam gempa tremor menerus dengan 
amplituda 10 - 46 mm 
  o       Pukul 12:00  - 18:00 WITA terekam gempa tremor menerus dengan 
amplituda 10 - 46 mm, 2 kali tremor harmonik dengan amplituda 46 mm dan lama 
gempa 53-60 detik, 1 kali gempa letusan pada pukul 16:12 WITA dengan amplituda 
maksimum 45 mm dan lama gempa 45 detik 
  o       Pukul 18:00 - 22:00 WITA terekam gempa tremor menerus dengan 
amplituda 10 - 46 mm, 10 kali gempa tremor harmonik dengan  amplituda maksimum 
46 mm 
   
  2. Visual. 
    
   Tanggal 16 Agustus 2007, pukul 00:00 - 24:00 WITA 
  o   Pukul 00:00 - 19:15 WITA  angin sedang dari selatan dan gunung tertutup 
kabut 
  o   Pukul 19:15 - 20:50 WITA teramati  sinar api dengan ketinggian ± 150 
meter dari puncak. Jarak luncuran leleran  lava ke kali Keting mengecil 
  o   Pukul 20:51 WITA terjadi letusan strombolian dengan tinggi ± 500 meter, 
bunyi letusan cukup kuat, material letusan jatuh disekitar kawah puncak utama 
dengan radius ± 300 meter dan meluncur ke kali Batuawang, kali Kahetang ± 2000 
meter sebagian ke kali Bangi, kali Nanitu ± 750 meter. Suara gemuruh lemah 
sampai sedang  sering terdengar 
    
   Tanggal 17 Agustus 2007, 
  o   Pukul 00:00 - 12:00 WITA  gunung tertutup kabut, angin sedang dari 
selatan, sinar api dengan ketinggian  ± 50 - 150 meter. Suara gemuruh lemah - 
sedang  terdengar menerus dan kadang-kadang disertai semburan pijar ± 25 - 50 
meter. Guguran lava pijar dari puncak kawah utama sesekali terjadi ke kali 
Bahembang dengan jarak luncur ± 1000 meter. 
  o   Pukul 12:00 - 22:00 WITA. Leleran lava pijar  mencapai jarak ± 1750 meter 
menuju kali Keting sedangkan dari ujung leleran  lava tersebut   terjadi  
guguran lava  yang mencapai  jarak ± 2000 meter dari puncak, dan guguran lava 
pijar  ke arah kali Bahembang sejauh ± 2000 meter. Penumpukan leleran lava di 
Lereng Selatan tersebut  berpotensi menimbulkan awan panas guguran.  
   
  3. Kesimpulan 
    
   Berdasarkan data visual dan kegempaan, maka terhitung 18 Agustus 2007 pukul 
01:00 WITA status G. Karangetang dinaikkan dari SIAGA (Level III) menjadi AWAS 
(Level IV)
  Sehubungan dengan peningkatan status tersebut, maka Pusat Vulkanologi dan 
Mitigasi Bencana Geologi akan meningkatkan pemantauan. Pemantauan secara 
intensif terus dilakukan guna mengevaluasi tingkat kegiatan G. Karangetang. 
Apabila aktivitas G. Karangetang kembali meningkat/menurun, maka status G. 
Karangetang dapat dinaikkan/diturunkan kembali. 
   
  4.     Rekomendasi 
  Sehubungan dengan terjadinya peningkatan status tersebut, maka kami 
rekomendasikan : 
  1.     Pemerintah Daerah dapat mengambil langkah - langkah sebagai berikut : 
  §  Penduduk di wilayah Kampung Dame I dan Hekang  yang termasuk dalam Kel. 
Tatahadeng, dilakukan tindakan pengungsian. 
  §  Penduduk wilayah Tompase yang berada dipinggiran Kali Batang (Kecamatan 
Siau Tengah), Kinali dan  Mini yang tinggal di dekat pinggiran kali (Kecamatan 
Siau Barat), Boro dan Kopi yang termasuk dalam Kelurahan Tarorane, Kampung Kola 
- Kola (Desa Bebali)  diharap lebih meningkatkan kewaspadaan dan  kesiapsiagaan 
untuk sewaktu - waktu dilakukan  pengungsian. 
  2.     Penduduk tidak mendaki G. Karangetang melebihi  ketinggian ± 300 m 
dari permukaan laut. 
  3.     Jika terjadi hujan abu cukup deras, direkomendasikan masyarakat 
menggunakan masker penutup hidung dan mulut, karena abu vulkanik yang terhirup 
dapat mengganggu saluran pernapasan. 
  4.     Pada musim hujan masyarakat yang tinggal disepanjang aliran Batuawang, 
Kali Kahetang, Kali Keting, Kali Batang, Kali Beha Timur dan Kali Nanitu agar 
mewaspadai bahaya sekunder berupa ancaman aliran lahar 
Masyarakat di sekitar G. Karangetang diharap tenang, tidak terpancing isyu-isyu 
tentang letusan G. Karangetang. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi 
selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Propinsi Sulawesi  Utara (selaku 
SATKORLAK PB) dan Pemerintah Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (selaku SATLAK 
PB) tentang aktivitas G. Karangetang. Masyarakat harap selalu mengikuti arahan 
dari SATLAK PB dan SATKORLAK PB     Last Updated ( Saturday, 18 August 2007 ) 
Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Karangetang, Soputan, dan Gamkonora adalah tiga gunungapi aktif di Minahasa 
(Karangetang, Soputan) dan Halmahera (Gamkonora). Sejak bulan April 2007 sampai 
sekarang, ketiga gunungapi ini secara bergantian "meradang dan marah" : 
menggetarkan Bumi, menguapkan gas beracun, menumpahkan lava, dan melemparkan 
abu menggelapkan sekitarnya. Ribuan penduduk di sekitar ketiga gunungapi ini 
bergantian dievakuasi. Apa gerangan yang sedang terjadi ?



Database katalog gempa USGS untuk wilayah ini kiranya bisa memberikan 
keterangan. Dari bulan April 2007 sampai hari ini telah tercatat sebanyak 174 
kali gempa tektonik rata-rata bermagnitude 4-5 Mw, beberapa di antaranya ada 
yang cukup kuat yaitu 6.1 Mw pada 29 Mei 2007 dan 6.9 Mw pada 26 Juli 2007. 
Kejadian gempa tektonik di wilayah ini dari bulan April-Juli 2007 adalah 
rata-rata 43 kali gempa per bulan.



Bandingkan dengan data kegempaan di Jawa-Bali, untuk wilayah yang lebih luas, 
sekitar tiga kali sampling area database Minahasa-Halmahera. Untuk periode yang 
sama (April 2007-hari ini), tercatat 47 kali gempa bermagnitude 4-5 Mw (satu 
gempa sekuat 7.5 Mw di Laut Jawa pada 9 Agustus yang lalu). Rata-rata kejadian 
gempa dalam periode ini di Jawa-Bali adalah 11 gempa per bulan. 



Berdasarkan data di atas, wilayah Minahasa-Halmahera sekitar empat kali lebih 
aktif kegempaannya dibandingkan Jawa-Bali. Ini belum memperhitungkan kerapatan 
gempa per area. Bila dihitung, maka area Minahasa-Halmahera akan jauh lebih 
rapat kejadian gempanya dibandingkan Jawa-Bali sebab area sampling database di 
atas untuk Minahasa-Halmahera adalah 1/3 area Jawa-Bali, tetapi gempa yang 
terjadi 174 kali berbanding
47 kali. Hitungan kasar dengan interpolasi data (luas area sampling
sama) adalah bahwa kerapatan gempa di Halmahera-Minahasa 11 x kerapatan gempa 
Jawa. Ini mengindikasi bahwa tektonik Minahasa-Halmahera jauh lebih aktif 
daripada Jawa-Bali. Bahkan, bisa kita pelajari lebih jauh bahwa ini adalah 
salah satu wilayah paling aktif di muka Bumi !



Apa konsekuensinya ? Kita sudah melihatnya : ratusan gempa yang terjadi telah 
menambah mobilitas magma di jalur gunungapi yang melilit Bumi Minahasa dan 
Halmahera (sederhananya, apa yang akan terjadi kalau kita mengocok-ngocok botol 
coca cola dan membuka tutupnya, maka isinya akan menyembur seperti jet). Apa 
yang terjadi dengan magma kalau berbulan-bulan digoncang terus dan kadang2 
diguncang kuat dengan gempa besar ? Prinsip sesama fluida akan mirip2, magma 
bertambah mobilitasnya dan ia akan punya likuiditas tinggi untuk naik ke 
permukaan, menggetarkan dinding gunungapi, dan menyembur ke permukaan bila 
tekanannya cukup kuat.



Mengapa wilayah Minahasa-Halmahera sangat aktif secara tektonik ? Peta terbaru 
(2006) yang memuat pengukuran GPS untuk gerak lempeng-lempeng di seluruh dunia 
menunjukkan bahwa di sini lah, di utara wilayah ini, terdapat lempeng yang 
paling cepat berkonvergensi dengan kecepatan minimal 10 cm per tahun. Pacific 
dan Philippine sea plates susul-menyusul dengan tak sabar merangsek busur2 
kepulauan Filipina-Minahasa-Halmahera di wilayah ini.



Wilayah Minahasa-Halmahera pun unik, dua sistem busur kepulauan ini sama-sama 
memunggungi Laut Maluku. Persis di tengah-tengah Laut Maluku terdapat jalur 
tinggian Talaud-Mayu, berupa tinggian prisma akresi melange yang terangkat 
akibat benturan dua sistem palung-busur Minahasa-Halmahera (collisional orogen 
of Talaud-Mayu Ridge, Satyana et al., 2007 - in prep., JCB 2007). Dari jalur 
tengah Laut Maluku ini, ada dua oceanic slab yang menunjam ke arah berlawanan, 
satu mennyusup di bawah Minahasa menghasilkan gunungapi Soputan dan 
Karangetang, satu oceanic slab menyusup di bawah Halmahera menghasilkan gunung 
Gamkonora.
Benturan kedua prisma akresi dari sistem palung-busur Minahasa-Halmahera ini 
telah terjadi sekitar 3 Ma, tetapi ia masih digoyang terus oleh konvergensi 
Philippine Sea Plate di tinggian Talaud-Mayu sektor utara, semua getaran akan 
diteruskan ke semua wilayah Minahasa-Halmahera, termasuk 
Karangetang-Soputan-Gamkonora Triangle.



Bila gempa bersatu tempat dengan gunungapi, yang satu akan mempengaruhi yang 
lain. Be alert !



salam Merah Putih,

awang















       
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting  gifts for grads at Yahoo! Search.

----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
EXTENDED ABSTRACT OR FULL PAPER SUBMISSION:
228 papers have been accepted to be presented;
send the extended-abstract or full paper
by 16 August 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007
The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and 
Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------


----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
EXTENDED ABSTRACT OR FULL PAPER SUBMISSION:
228 papers have been accepted to be presented;
send the extended-abstract or full paper
by 16 August 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007
The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and 
Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke