Mas Awang, Terimakasih. Saya menduga umur-umur tabrakan lempeng itu adalah di interpretasi dari data sequence boundary (SB). Tertulis ada umur misal (Maa): 50.3, 45, 25, 11, dan 5.
Yang saya lihat adalah adanya siklus SB adalah mengubungkan setengah pereode. Untuk sequence itu, SB dengan umur yang di hubungkan adalah 3.5 Ma. Dari data Geologic Time Scale (1983, 199, 2004), terlihat ada global SB di Cenozoic, dan keemudian saya hitungharga zero-cross-down(tengah-tengah umur SB) adalah: 67.394.521 BC, berkurang 7 Ma, menjadi (saya bulatkan dalam jutaan saja): 67, 60, 53, 46, 39, 32, 25, 18, 11, dan 4. Kondisi ini, adalah global, tak hanya di Sunda-Sohul plate. Sedang 50 Ma adalah umur LAIR siklus 70 Ma terakhir, di tengah-tengah Early Eocene, awal synrif Sunda. Sohul juga begitu, dan mempunyai sedimen lebih tua, hingga setidaknya umur Karbonafeous. Itu di sebut Stage. Dari semua Stage, nadanya bisa di katakan semua berumur 7 Ma, dengan deviasi rata-rata 1.2 Ma. Deviasi ini masih dalam deviasi error pengukuran 2-30 Ma pada GTS itu. Ini juga menandakan bisanyanya penentuan umur dengan kalender SALAM, yang nadanya malah memperbaiki akurasinya. Hem, memang asyik dengan Mas Awang. Semoga ketemu besuk Sore di JKT, dengan file-fileku lengkap. Salam, Maryanto. -----Original Message----- From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Wednesday, August 22, 2007 8:45 AM To: [email protected] Subject: RE: [iagi-net-l] Gunung Karangetang- escape Sunda. Mas Maryanto, Di bawah ada kutipan abstrak paper tentang escape tectonics Indonesia yang saya presentasikan di PIT IAGI Pekanbaru tahun lalu. Saya kok tak melihat Mas Maryanto ya saat itu, padahal di PIT IAGI di Bandung, Jakarta, Surabaya atau PIT IPA di Jakarta saya selalu melihat Mas Maryanto hadir. Padahal kan di Riau lho, masih di "daerah kekuasaan" Mas Maryanto..kemana Mas, atau saya saja yang kebetulan tak melihat ? Dalam pandangan saya, escape tectonics banyak berperan dalam mengubah dan mengkonfigurasi tataan tektonik Kenozoik Indonesia. Jelas, escape tectonics ini tak pernah lepas dari pendahulunya, yaitu benturan (collison). Maka, saya sebut saja post-collisional tectonic escapes. Escape tectonics juga adalah manifestasi permukaan dari gerakan sirkulasi mantel di astenosfer. Apakah ini berhubungan dengan Gelombang ARIF yang digagas oleh Mas Maryanto ? Saya harus mempelajari dulu gelombang ARIF-nya. Rasanya Mas Maryanto belum memberikan saya arsip lengkap turunan-turunan konsep dari SALAM (ARIF, LAIR, dll.). Data lengkap yang diberikan kepada saya adalah SALAM versi 2004 (saat PIT IAGI di Hotel Horison Bandung 2004). Kalau bisa diberikan, barangkali nanti bisa saya copy SALAM terbaru dan semua turunannya saat JCB 2007 ? >Maryanto wrote : >Atau, apakah ada penunjang data bahwa sejak bertumbuknya IndoAsia keutara >>dengan Asia di 50 Ma itu, menjadikan kecepatan gerak Lempang IndoAsia ke >>utara makin lambat ? Ya, ada data dan buktinya. Laju konvergensi antara India dan Eurasia menurun secara tajam di antara anomali A22 dan A21 (anomali geomarin), atau ekivalen dengan saat 50.3 - 47.8 Ma. Turunnya laju konvergensi ini telah me-re-organisasi Indian Ocean spreading ridge di antara 43.9-41.1 Ma (Packham, 1996). Semua perlambatan konvergensi, apalagi benturan di ujung lempeng, akan mengatur ulang semua gerak pemekaran dan punggung samudra aktif di ujung lempeng yang lain. Turunny laju konvergensi dan spreading reorganization menunjukkan bahwa peristiwa benturan antara India dan Eurasia ini terjadi pada 50.3 - 41.1 Ma. Segera setelah benturan terjadi, dimulailah sejarah escape/ekstruksi Sundaland ke arah tenggara, yaitu sesuai dengan teori release benturan, akan ke arah free oceanic edge/face. Saat itu, satu2nya free-oceanic edge adalah ke arah tenggara sebab Australia belum menutpnya. Saat ini memang Sundaland seperti terkunci oleh Indian-Australian ke utara dan Pacific-Phillipine plates yang bergerak ke timur. Rate escape Sundaland sudah sangat kecil, bahkan banyak bukti geraknya sekarang membalik ke baratlaut, meskipun benturan India terus terjadi ke Eurasia. Demikian Mas, pendapat saya. Salam, awang POST-COLLISIONAL TECTONIC ESCAPES IN INDONESIA : FASHIONING THE CENOZOIC HISTORY Awang Harun Satyana (BPMIGAS) ABSTRACT Post-collisional tectonic escape refers to the lateral escape or extrusion of fault-bounded geological blocks as a result of collision or compression away from the collision zone and towards free edge of oceanic margin. While the collision zone is represented by fold-thrust belts, the tectonic escape is accommodated by large strike-slip faults and rifting and spreading of basement. There are five significant collisional events fashioning the Cenozoic tectonics of Indonesia. The first was collision of India to Eurasia started at 50 or 45 Ma (early-middle Eocene). The collision resulted in the Himalayan Fold-Thrust Belt and was followed by the escape of the Sundaland southeastwards through major strike-slip faults and the formation of sedimentary basins in the Sundaland as well as the opening of marginal seas of the South China Sea and Andaman Sea. The faults occupied and reactivated Mesozoic sutures within the Sundaland. The faults are Red River Fault-Sabah Shear, Tonle-Sap-Mekong (Mae Ping) Fault, Three Pagoda Fault-Malay-Natuna-Lupar Line-Adang Fault, and the Sumatran Faults. The second collision occurred at about 25 Ma (late Oligocene) when an oceanic island arcs constructed on the southern margin of the Philippine Sea Plate collided with the northern margin of Australia Continent. The collision resulted in fold-thrust belt of the Papua Central Ranges and was followed by tectonic escapes of strike-slip faults and basin formation. The faults are Sorong-Yapen Fault, Waipoga Fault, Gauttier Offset, and Apauwar-Nawa Fault. Opening of the North Irian Basin in northern Papua also shows the post-collision tectonic escapes. The third collision was the collision of the Bird's Head microcontinent with Papua at 10 Ma (late Miocene). The Lengguru Fold-Thrust Belt marks the collision zone. Strike-slip faults away from the collision zone like the Tarera-Aiduna, Sorong, Waipoga, and Ransiki Faults may demonstrate the post-collision tectonic escape. The Bintuni Basin located just to the west of the Lengguru Fold-Thrust Belt is a foreland basin developing as a response to post-collision extensional structure. The fourth collision occurred from 11 to 5 Ma (late Miocene to earliest Pliocene) when the Buton-Tukang Besi and the Banggai-Sula microcontinents collided East Sulawesi ophiolite. The microcontinents were detached from the Bird's Head of Papua and escaped westwards by the Sorong Fault. The collision has formed Batui Fold-Thrust Belt and was followed by post-collision tectonic escapes in forms of rotation of arms of Sulawesi, formation of major strike-slip faults of Palu-Koro, Kolaka, Lawanopo, Hamilton, Matano, and Balantak Faults, and the opening of the Gulf of Bone. More recent transtensional movement is responsible for the opening of pull-apart basins of Poso, Matano and Towuti Lakes, as well as the Palu Depression. The last collision commenced at about 3 Ma (mid-Pliocene) when northern margin of Australia Continent collided Banda Island Arc. The collision resulted in foreland fold-thrust belt from Timor, Tanimbar to Seram. Lateral extension is observed to follow the arc-continent collision indicating a tectonic escape. Major strike-slip faults were formed sub-paralleling the Timor Island and may relate to the escape of the Sumba Island westwards. Extensional crustal collapse followed the arc-continent collision and has resulted in the formation of the Weber Deep, Savu Basin, and opening of the Banda Sea . The cases in Indonesia show that tectonic escape is a widespread process and may have been very important in the evolution of convergent region like Indonesia. The concept of tectonic escape can contribute to the understanding of the process by which continents are assembled and slivered.*** -----Original Message----- From: Maryanto (Maryant) [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, August 21, 2007 8:14 C++ To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED] Subject: RE: [iagi-net-l] Gunung Karangetang- escape Sunda. Mas Awang, Bagus infonya. Kecepatan lempeng pasifik ke barat lebih besar dari kecepatan lempeng IndoAustralia ke utara-timur. Bisa dua kali lipat (10 cm/th, di banding 5 cm/th). Lalu saya anjurkan adanya pusaran, siklun tektonik pusat Laut Banda itu, lawan arah jarumjam (di liat dari atas bumi ke pusat), atau searah jarum jam bila dari pusat bumike udara. Ini jadikan sebelah barat L. Banda hingga misal Sumatra, akan bergerak ke selatan, relatif L. Banda. Makanya, saya lebih suka menghindari kata "escape"-nya Lempeng Sunda atas gerak ke utaranya IndoAustralia, instead, ya memang hanya satu-satunya jalan ke situ, ke selatan itu, tak ada jalan lain, atas dorongannya ke-satuan gerak lempeng, seluruh, ya semua, lempeng di permukaan bumi, tak hanya lempeng di belahan tumur itu. Lempeng Sunda tak ke situ seandianya misal lempeng Asia bergerak ke utara, atau lempeng Pasifik bergerak ke timur (tak ke barat seperti sekarang), atau lempeng IndoAsia takbergerak ke utara (misal ke timur). Kata "escape" di situ, menjadikan saya pikirkan sebagai bahwa semua gerak tadi, gerak masing-masing lempeng, ya atas "escape". Escape dari dorongan penyebabnya, ya yang saya sebut sebagai Gelombang ARIF pusat bumi. Gelombang ARIF pusat bumi, yang di sebabkan oleh 4 prime energies " Gravity, Unified electromagnetic, Nuclear strong And weak", menggerakkan semua 7 lapisan bumi, jadikan 3 pasang planetary cyclones, termasuk cyclone tectonic, salah satunya berpusat di L. Banda. Lithosfer, yang keras, hanya 1 % ari jari-jari bum lapisan liat-cair, ya tak bisa apa-apa, tak bisa mendorong, kecuali lempeng hanya di gerakkan oleh asthenosphere, yang juga bergerak atas Gelombang ARIF lateral dan waktu. Bagaimana Mas Awang? Salah ya ? Paper, termasuk yang pernah saya kasihkan ke Mas Awang, saya tafsirkan sebagai Lempeng India juga extension sejak Early Eocene 50 Ma, awal Sunda Plate extension, synrift, hingga compresion sejak Mid Miocene hingga kini. Atau, apakah ada penunjang data bahwa sejak bertumbuknya IndoAsia keutara dengan Asia di 50 Ma itu, menjadikan kecepatan gerak Lempang IndoAsia ke utara makin lambat ? Kalendarku sebutkan, sinusoidal order-2 70 Ma, bumi yang kembang-kempis dengan jari-jari ikuti "SALAM Earth radius", perlihatkan extension lempeng order 2 ya selalu pada 50 Ma + n x 70 Ma, di mana n integer positif. Atau extension mulai misal yangsaya sebut LAIR "Low Atmospherec temperature as Initiation of Regeneration rapidly". Gimana hayo Mas Awang, juga yang lain ? Salam, Maryanto. Yah, biar pergerakan teori makin cepat, semua jadi lebih tahu untuk orang yang pinter-pinter ini. -----Original Message----- From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, August 21, 2007 12:29 AM To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED] Subject: [iagi-net-l] Gunung Karangetang,Sangihe Meletus (was [iagi-net-l] Karangetang-Soputan-Gamkonora Triangle) Gunung Karangetang, Sangihe,Sulawesi Utara meletus hebat bak pesta kembang api tepat tanggal 17 Agustus 2007 setelah diawali letusan pertama Kamis malam 16 Agustus 2007. Berikut berita terkini tentang letusan itu dari yahoo dan Volcanological Survey Indonesia. Saat ini segitiga gunungapi di Sulawesi Utara-Halmahera, Karangetang-Soputan-Gamkonora menempati tiga posisi paling atas dari 13 gunungapi di Indonesia yang aktivitasnya sedang meningkat. Mengapa ketiga gunungapi ini aktif, di paling bawah ada ulasan saya tentang hal tersebut. salam, awang Volcano erupts in east Indonesia news.yahoo.com/s/ap/20070820/ap_on_re_as/indonesia_volcano - 8 hours ago - Mon Aug 20, 3:34 AM ET JAKARTA, Indonesia - A volcano in eastern Indonesia spewed hot lava and clouds of ash high into the air early Monday, a volcanologist said, hours after hundreds of villagers living on its rumbling slopes were evacuated. There were no reports of injuries or damage, said Yudi Satipang, a volcanologist who has been monitoring Mount Karangetang on Siau island since it was placed on high alert over the weekend. "It sounds like huge thunderclaps," he said of the booming gas blasts from the crater, adding that villages, farms and trees on the 5,577-foot-tall mountain were covered in thick gray ash. Karangetang is one of Indonesia's most active mountains, and it has been rumbling for days. Nearly 600 residents living within the danger zone have fled to safety, and many were seeking shelter in government buildings, schools and mosques. Indonesia, the world's largest archipelago, is prone to seismic upheaval due to its location on the so-called Pacific "Ring of Fire," an arc of volcanos and fault lines encircling the Pacific Basin. Siau, a popular diving island, is part of the Sulawesi island chain. It lies some 1,444 miles northeast of the country's capital, Jakarta. Berikut kemajuan perkembangan status Karangetang berdasarkan http://portal.vsi.esdm.go.id/joomla/index.php?option=com_content&task=view&id=266&Itemid=1 Based on visual observation and seismic activity, started from 18 August 2007 at 01.00 localtime, we upgrade the Karangetang to alert level IV, the highest level. Berdasarkan data visual dan kegempaan, maka terhitung 18 Agustus 2007 pukul 01:00 WITA status G. Karangetang dinaikkan dari SIAGA (Level III) menjadi AWAS (Level IV) Peningkatan kegiatan G. Karangetang sebagai berikut : 1. Kegempaan Tanggal 16 Agustus 2007 jam 00:00 - 24:00 WITA terekam gempa tektonik jauh sebanyak 2 kali, gempa vulkanik dangkal sebanyak 1 kali, gempa hembusan sebanyak 4 kali, gempa guguran sebanyak 13 kali, gempa tremor harmonik sebanyak 10 kali dengan amplituda 6 - 16 mm, gempa letusan sebanyak 1 kali dan gempa tremor menerus dengan amplituda 10 -.47 mm Tanggal 17 Agustus 2007; o Pukul 06:00 - 12:00 WITA terekam gempa tremor menerus dengan amplituda 10 - 46 mm o Pukul 12:00 - 18:00 WITA terekam gempa tremor menerus dengan amplituda 10 - 46 mm, 2 kali tremor harmonik dengan amplituda 46 mm dan lama gempa 53-60 detik, 1 kali gempa letusan pada pukul 16:12 WITA dengan amplituda maksimum 45 mm dan lama gempa 45 detik o Pukul 18:00 - 22:00 WITA terekam gempa tremor menerus dengan amplituda 10 - 46 mm, 10 kali gempa tremor harmonik dengan amplituda maksimum 46 mm 2. Visual. Tanggal 16 Agustus 2007, pukul 00:00 - 24:00 WITA o Pukul 00:00 - 19:15 WITA angin sedang dari selatan dan gunung tertutup kabut o Pukul 19:15 - 20:50 WITA teramati sinar api dengan ketinggian ± 150 meter dari puncak. Jarak luncuran leleran lava ke kali Keting mengecil o Pukul 20:51 WITA terjadi letusan strombolian dengan tinggi ± 500 meter, bunyi letusan cukup kuat, material letusan jatuh disekitar kawah puncak utama dengan radius ± 300 meter dan meluncur ke kali Batuawang, kali Kahetang ± 2000 meter sebagian ke kali Bangi, kali Nanitu ± 750 meter. Suara gemuruh lemah sampai sedang sering terdengar Tanggal 17 Agustus 2007, o Pukul 00:00 - 12:00 WITA gunung tertutup kabut, angin sedang dari selatan, sinar api dengan ketinggian ± 50 - 150 meter. Suara gemuruh lemah - sedang terdengar menerus dan kadang-kadang disertai semburan pijar ± 25 - 50 meter. Guguran lava pijar dari puncak kawah utama sesekali terjadi ke kali Bahembang dengan jarak luncur ± 1000 meter. o Pukul 12:00 - 22:00 WITA. Leleran lava pijar mencapai jarak ± 1750 meter menuju kali Keting sedangkan dari ujung leleran lava tersebut terjadi guguran lava yang mencapai jarak ± 2000 meter dari puncak, dan guguran lava pijar ke arah kali Bahembang sejauh ± 2000 meter. Penumpukan leleran lava di Lereng Selatan tersebut berpotensi menimbulkan awan panas guguran. 3. Kesimpulan Berdasarkan data visual dan kegempaan, maka terhitung 18 Agustus 2007 pukul 01:00 WITA status G. Karangetang dinaikkan dari SIAGA (Level III) menjadi AWAS (Level IV) Sehubungan dengan peningkatan status tersebut, maka Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi akan meningkatkan pemantauan. Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi tingkat kegiatan G. Karangetang. Apabila aktivitas G. Karangetang kembali meningkat/menurun, maka status G. Karangetang dapat dinaikkan/diturunkan kembali. 4. Rekomendasi Sehubungan dengan terjadinya peningkatan status tersebut, maka kami rekomendasikan : 1. Pemerintah Daerah dapat mengambil langkah - langkah sebagai berikut : § Penduduk di wilayah Kampung Dame I dan Hekang yang termasuk dalam Kel. Tatahadeng, dilakukan tindakan pengungsian. § Penduduk wilayah Tompase yang berada dipinggiran Kali Batang (Kecamatan Siau Tengah), Kinali dan Mini yang tinggal di dekat pinggiran kali (Kecamatan Siau Barat), Boro dan Kopi yang termasuk dalam Kelurahan Tarorane, Kampung Kola - Kola (Desa Bebali) diharap lebih meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan untuk sewaktu - waktu dilakukan pengungsian. 2. Penduduk tidak mendaki G. Karangetang melebihi ketinggian ± 300 m dari permukaan laut. 3. Jika terjadi hujan abu cukup deras, direkomendasikan masyarakat menggunakan masker penutup hidung dan mulut, karena abu vulkanik yang terhirup dapat mengganggu saluran pernapasan. 4. Pada musim hujan masyarakat yang tinggal disepanjang aliran Batuawang, Kali Kahetang, Kali Keting, Kali Batang, Kali Beha Timur dan Kali Nanitu agar mewaspadai bahaya sekunder berupa ancaman aliran lahar Masyarakat di sekitar G. Karangetang diharap tenang, tidak terpancing isyu-isyu tentang letusan G. Karangetang. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Propinsi Sulawesi Utara (selaku SATKORLAK PB) dan Pemerintah Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (selaku SATLAK PB) tentang aktivitas G. Karangetang. Masyarakat harap selalu mengikuti arahan dari SATLAK PB dan SATKORLAK PB Last Updated ( Saturday, 18 August 2007 ) Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Karangetang, Soputan, dan Gamkonora adalah tiga gunungapi aktif di Minahasa (Karangetang, Soputan) dan Halmahera (Gamkonora). Sejak bulan April 2007 sampai sekarang, ketiga gunungapi ini secara bergantian "meradang dan marah" : menggetarkan Bumi, menguapkan gas beracun, menumpahkan lava, dan melemparkan abu menggelapkan sekitarnya. Ribuan penduduk di sekitar ketiga gunungapi ini bergantian dievakuasi. Apa gerangan yang sedang terjadi ? Database katalog gempa USGS untuk wilayah ini kiranya bisa memberikan keterangan. Dari bulan April 2007 sampai hari ini telah tercatat sebanyak 174 kali gempa tektonik rata-rata bermagnitude 4-5 Mw, beberapa di antaranya ada yang cukup kuat yaitu 6.1 Mw pada 29 Mei 2007 dan 6.9 Mw pada 26 Juli 2007. Kejadian gempa tektonik di wilayah ini dari bulan April-Juli 2007 adalah rata-rata 43 kali gempa per bulan. Bandingkan dengan data kegempaan di Jawa-Bali, untuk wilayah yang lebih luas, sekitar tiga kali sampling area database Minahasa-Halmahera. Untuk periode yang sama (April 2007-hari ini), tercatat 47 kali gempa bermagnitude 4-5 Mw (satu gempa sekuat 7.5 Mw di Laut Jawa pada 9 Agustus yang lalu). Rata-rata kejadian gempa dalam periode ini di Jawa-Bali adalah 11 gempa per bulan. Berdasarkan data di atas, wilayah Minahasa-Halmahera sekitar empat kali lebih aktif kegempaannya dibandingkan Jawa-Bali. Ini belum memperhitungkan kerapatan gempa per area. Bila dihitung, maka area Minahasa-Halmahera akan jauh lebih rapat kejadian gempanya dibandingkan Jawa-Bali sebab area sampling database di atas untuk Minahasa-Halmahera adalah 1/3 area Jawa-Bali, tetapi gempa yang terjadi 174 kali berbanding 47 kali. Hitungan kasar dengan interpolasi data (luas area sampling sama) adalah bahwa kerapatan gempa di Halmahera-Minahasa 11 x kerapatan gempa Jawa. Ini mengindikasi bahwa tektonik Minahasa-Halmahera jauh lebih aktif daripada Jawa-Bali. Bahkan, bisa kita pelajari lebih jauh bahwa ini adalah salah satu wilayah paling aktif di muka Bumi ! Apa konsekuensinya ? Kita sudah melihatnya : ratusan gempa yang terjadi telah menambah mobilitas magma di jalur gunungapi yang melilit Bumi Minahasa dan Halmahera (sederhananya, apa yang akan terjadi kalau kita mengocok-ngocok botol coca cola dan membuka tutupnya, maka isinya akan menyembur seperti jet). Apa yang terjadi dengan magma kalau berbulan-bulan digoncang terus dan kadang2 diguncang kuat dengan gempa besar ? Prinsip sesama fluida akan mirip2, magma bertambah mobilitasnya dan ia akan punya likuiditas tinggi untuk naik ke permukaan, menggetarkan dinding gunungapi, dan menyembur ke permukaan bila tekanannya cukup kuat. Mengapa wilayah Minahasa-Halmahera sangat aktif secara tektonik ? Peta terbaru (2006) yang memuat pengukuran GPS untuk gerak lempeng-lempeng di seluruh dunia menunjukkan bahwa di sini lah, di utara wilayah ini, terdapat lempeng yang paling cepat berkonvergensi dengan kecepatan minimal 10 cm per tahun. Pacific dan Philippine sea plates susul-menyusul dengan tak sabar merangsek busur2 kepulauan Filipina-Minahasa-Halmahera di wilayah ini. Wilayah Minahasa-Halmahera pun unik, dua sistem busur kepulauan ini sama-sama memunggungi Laut Maluku. Persis di tengah-tengah Laut Maluku terdapat jalur tinggian Talaud-Mayu, berupa tinggian prisma akresi melange yang terangkat akibat benturan dua sistem palung-busur Minahasa-Halmahera (collisional orogen of Talaud-Mayu Ridge, Satyana et al., 2007 - in prep., JCB 2007). Dari jalur tengah Laut Maluku ini, ada dua oceanic slab yang menunjam ke arah berlawanan, satu mennyusup di bawah Minahasa menghasilkan gunungapi Soputan dan Karangetang, satu oceanic slab menyusup di bawah Halmahera menghasilkan gunung Gamkonora. Benturan kedua prisma akresi dari sistem palung-busur Minahasa-Halmahera ini telah terjadi sekitar 3 Ma, tetapi ia masih digoyang terus oleh konvergensi Philippine Sea Plate di tinggian Talaud-Mayu sektor utara, semua getaran akan diteruskan ke semua wilayah Minahasa-Halmahera, termasuk Karangetang-Soputan-Gamkonora Triangle. Bila gempa bersatu tempat dengan gunungapi, yang satu akan mempengaruhi yang lain. Be alert ! salam Merah Putih, awang --------------------------------- Luggage? GPS? Comic books? Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search. ---------------------------------------------------------------------------- Hot News!!! EXTENDED ABSTRACT OR FULL PAPER SUBMISSION: 228 papers have been accepted to be presented; send the extended-abstract or full paper by 16 August 2007 to [EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, Bali Convention Center, 13-16 November 2007 ---------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- ---------------------------------------------------------------------------- Hot News!!! EXTENDED ABSTRACT OR FULL PAPER SUBMISSION: 228 papers have been accepted to be presented; send the extended-abstract or full paper by 16 August 2007 to [EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, Bali Convention Center, 13-16 November 2007 ---------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- ---------------------------------------------------------------------------- Hot News!!! EXTENDED ABSTRACT OR FULL PAPER SUBMISSION: 228 papers have been accepted to be presented; send the extended-abstract or full paper by 16 August 2007 to [EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, Bali Convention Center, 13-16 November 2007 ---------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

