Rekan-rekan IAGI yang budiman, Beberapa tahun yang lalu , mang Okim dan neng Ai sempat berkunjung ke komplek kuburan terbesar di Paris yaitu Pere Lachaise dan merekam beberapa pesan yang tertulis di beberapa batu nisan. Pesan-pesan tersebut begitu mengesankannya sehingga sampai saat ini masih melekat di ingatan mang Okim.
Pada hari kunjungan yang bertepatan dengan hari Fete de tous Les Saints ( Toussaint ) atau Perayaan bagi Orang-orang Suci, cuaca kota Paris tak seperti biasanya, matahari bersinar terang-benderang. Perayaan Toussaint ini disusul keesokan harinya dengan peringatan bagi orang-orang yang telah meninggal dunia atau Le Jour des Morts. Para penganut agama Katolik biasanya akan berbondong-bondong ziarah ke kuburan. Cuaca yang menyenangkan tersebut mendorong mang Okim dan neng Ai untuk keluar apartemen yang terletak di pusat kota Paris ( Distrik 16 ). Pada jam 15.30 kami berangkat menuju Pere Lachaise yang terletak di Distrik 20. Di komplek kuburan ini disemayamkan tokoh-tokoh terkenal seperti Frederic Chopin, La Fontaine, Victor Hugo, Murat, Oscar Wilde, dan lain-lain. Walaupun hari libur ( week-end panjang ), toko-toko kembang di sekitar komplek kuburan buka semua dan terkesan panen besar. Di pintu masuk, petugas kuburan menawarkan peta kuburan dengan imbalan sukarela. Rekan-rekan IAGI yang budiman, Komplek kuburan Pere Lachaise sangat luas dengan jalan-jalan yang seluruhnya diberi nama. Mang Okim dan neng Ai memulai kunjungan singkat ini dari Avenue des Peupliers. Di kuburan bernomer 66 yang telah berumur lebih dari 100 tahun dan dihuni oleh keluarga Gaillard, kami tertegun membaca inskripsi yang tertulis di batu nisannya : Ici reposent, en attendant la resurrection, la depouille mortelle de : Mlle. Marie Alexandrine Gaillard. Enlevee a ses parents a l'age de 21 ans, le 11 Decembre 1868. " Fille cherie, notre unique affection. Apres ta morte, il n'y a plus pour nous de bonheur en ce monde ". Di sini disemayamkan , sambil menantikan hari kebangkitan, jasad dari : Nona Marie Alexandrite Gaillard. Direnggut dari orang tuanya pada umur 21 tahun, 11 Desember 1868. " Ananda sayang, jantung hati kami. Setelah kematianmu, tak ada lagi bagi kami kebahagiaan di bumi ". Beberapa sentimeter di bawah inskripsi di atas, tertulis lagi : M'eur Guillaume Gaillard . Decede a l'age de 54 ans, le 17 Janvier 1869. Victime de son amour paternel, il n'a survecu a sa fille que 37 jours. " Chere fille, chere epoux, vous me laissez seule sur la terre. Je pleurerai jusqu'a que j'aille vous rejoindre ". Tuan Guillaueme Gaillard. Meninggal pada umur 54 tahun , 17 Januari 1869. Korban dari cintanya sebagai seorang ayah, ia hanya tahan hidup 37 hari setelah kematian anak perempuannya. " Anakku, isteriku, kamu meninggalkan daku sebatang kara di bumi. Aku akan terus menangis hingga tiba saatnya aku bergabung denganmu ". Kami membayangkan kehidupan kosong Bapak Gaillard sepeninggal isteri dan anak perempuannya, dan hanya mampu bertahan selama 37 hari sebelum akhirnya menyusul ke alam baka. Rekan-rekan IAGI yang budiman, Dipenuhi rasa haru dan sedih, mang Okim dan neng Ai meneruskan perjalanan dan singgah di kuburan tua keluarga Fleurey di nomer 68. Ruangannya gelap dan kotor, sepertinya tak ada yang ngurus. Di atas batu nisannya masih terbaca sebuah sajak yang ditatah di batu marmer putih berbingkai : Comme une fleur brisee, Au suffle de l'orage, La morte t'a ravi, Au printemps de ton age. Bagaikan sekuntum kembang patah, Dihentakkan halilintar, Kematian merenggutmu, Pada umurmu yang sedang menyemi. Kami kemudian menuju Avenue Feuillant. Seorang turis Spanyol tiba-tiba menghadang kami dan menyapa : Turis : Monsieur - Dame, vous cherchez un hotel ? Mang Okim : Mais non Monsieur, pourquoi ? Turis ( sambil tertawa ) : Si vous cherchez un hotel, le voila un hotel a quatre etoiles ! Turis : Bapak-ibu, anda mencari hotel ? Mang Okim : Tidak Pak, mengapa ? Turis ( sambil tertawa ) : ( Kalau anda mencari hotel, itu dia hotel berbintang empat - - - - sambil menunjuk sebuah bangunan kuburan yang besar dan indah ). Rekan-rekan IAGI yang budiman, Usai bersenda gurau dengan turis Spanyol, mang Okim dan neng Ai menuju ke sebuah kuburan yang penuh sesak dengan pengunjung. Karangan bunga yang indah-indah tampak menggunung. Kuburan tersebut ternyata dihuni oleh Allan Kardec, initiateur du spiritisme atau peletak dasar spirituel yang tampaknya dianggap keramat. Isterinya Amelie Gabrielle Boudet juga dikubur di situ ( 21 November 1795 ). Para pengunjung berkulit putih, hitam, dan coklat antre panjang untuk dapat menyentuh kuburannya dan mengelus patungnya. Di bangunan kuburannya tertulis : Naitre mourir Renaitre encore Et progresser sans cesse Telle est la loi Lahir mati Kembali lahir Dan berlangsung tanpa henti Begitulah hukum Jam sudah menunjukkan pukul 17.30. Tak banyak waktu lagi untuk mengunjungi kuburan terkenal lainnya seperti Oscar Wilde, Victor Hugo, dll. Kami masih menyempatkan diri singgah di komplek krematorium yang luas, bersih, dan bertingkat-tingkat ke bawah. Kemudian kami keluar dari pintu gerbang Pere Lachaise dengan jiwa yang diperbarui oleh kisah-kisah sedih, cinta, dan kematian yang diukir di atas batu-batu nisan. Semoga kisah pendek di atas yang di antaranya mengingatkan kita kepada kisah Almarhum Prof Rubini yang ditinggal oleh putri dan isteri tersayangnya sebelum akhirnya beliau menyusul mereka, bermanfaat dalam meningkatkan rasa cinta dan kasih kita khususnya terhadap keluarga kita. Amiin, Salam batumulia, mang Okim

