Tahun lalu dan beberapa bulan yang lalu, teman sebangsa kita dari Papua melakukan unjuk rasa di mana-mana menuntut penutupan Freeport. Tuntutan tentu tak bisa dipenuhi sebab Pemerintah Indonesia sudah terlanjur terikat kontrak dengan perusahaan besar asal Amerika ini. Bila ditutup, Pemerintah bisa diadukan ke Mahkamah Internasional dan bisa dipastikan Pemerintah kita bakalan kalah. Tahun2 lalu pun kita suka mendengar penyanderaan orang2 (asing) Freeport oleh suku2 setempat, atau ada beberapa anggota suku yang ditembak, dsb..dsb..pendeknya bisa dikatakan penuh konflik. Konfliknya memang ada, tetapi ada juga yang memanfaatkannya untuk dipolitisasi. Mengapa bisa begitu ? Barangkali cerita di bawah bisa sedikit menerangkan mengapa generasi muda Papua marah, cerita diramu dari berbagai publikasi. Walaupun peristiwa ini terjadi 40 tahun lalu, saya yakin kita masih bisa belajar daripadanya bagaimana mengatur investasi di Indonesia, di wilayah yang begitu beragam kemajuan masyarakat dan budayanya, agar kelak tak terjadi konflik.
Diceritakan kembali berdasarkan sebuah artikel dari Kompas 11 Juni 1969. "Eksplorasi Tembaga di Ertsberg, Irian Jaya" (oleh Adjat Sudradjat) Tahun 1967, 40 tahun lalu, Tim Freeport sedang berusaha mengebor bagian dari Gunung Bijih untuk mendapatkan sampel-sampel bijih guna penelitian kadar mineralisasinya. Konon, para pembor itu dipilih dari yang pernah berpengalaman di Kutub Utara dan Alaska sebab mereka mesti melawan suhu sedingin 0-4 Celsius, kabut, dan hujan. Mereka mendirikan kemah di pelataran Cartensz Weide. Mereka diterbangkan ke situ dari Timika menggunakan helikopter selama 40 menit. Sementara itu, tiga orang kepala suku berhiaskan bulu burung, kalung merjan, dan tusuk hidung merayap menuju Ertsberg tiga hari tiga malam bersama bala tentaranya tanpa selembar benangpun melekat di badannya, tak peduli hawa sedingin es pun. Akhirnya, mereka sampai di perkemahan para pembor tersebut. Suasana tidak menyenangkan terjadi sebab tidak ada saling pengertian di antara tim Freeport dan suku setempat, maklum tidak ada yang saling mengerti bahasa masing2. Orang2 Indonesia di tim Freeport pun tak mengerti bahasa mereka sebab sebagian besar datang dari luar Papua. Keesokan harinya, saat para pekerja bangun tidur, mereka menemukan perkemahan sudah dipagari tonggak seperti salib digantungi berbagai bunga dan daun. Di tengah kecemasan itu, untung terpikir untuk memberi suku-suku Papua itu makanan. Makanan diterima dan suku2 itu pulang. Keesokan harinya datang lagi, tetapi kali ini untuk membantu tim mengangkati batu-batu dari Ertsberg. Lalu mereka pulang. Kedatangan yang berikutnya, suku2 ini membawa seorang anak bernama Karel didikan misionaris. Anak ini bisa berbahasa Indonesia walaupun patah-patah. Akhirnya, terungkaplah bahwa keinginan suku2 ini yaitu mereka minta ganti rugi atas gunung mereka yang telah digali. Tentu saja suku2 ini tidak tahu bahwa di Jakarta kontrak pertambangan antara Pemerintah Indonesia dan Freeport telah ditandatangani setahun sebelumnya, 1966. Minta ganti rugi ? Dengan serentak, sang superintendent Freeport tanpa segan-segan memberikan berbilah-bilah parang sebagai ganti Ertsberg. Ternyata, belasan parang itu diterima dengan sangat sukacita oleh para anggota suku. Seorang kepala suku lalu menyerahkan sebilah pisau batu kepada si "pembeli gunung" sebagai hadiah tanda sukacita. Lalu, si kepala suku menari-nari di depan tim Freeport sambil mengeluarkan bunyi seperti ribuan burung. Tangannya mencabut bulu cenderawasih di kepalanya dan mengacungkannya ke depan. Upacara ini diikuti dengan khidmat oleh seluruh anggota suku. Ketika ditanyakan kepada Karel apa arti upacara itu, dijawabnya bahwa itu adalah upacara agar Sang Hyang merelakan gunungnya digali dan sekaligus memberikan berkat kepada para pembeli gunung itu. Tak lama kemudian para suku pulang. Dan, kita tahu Ertsberg yang menjulang pun digali habis tidak sampai 20 tahun (Adjat Sudradjat, 1996). ------------------------------------- Andre Vltchek, Rossie Indira mewawancarai Pramoedya Ananta Toer (2004) "Selama masa Soekarno, modal asing sulit masuk ke Indonesia. Setelah kudeta di tahun 1965, Soeharto membuka pintu lebar-lebar untuk modal asing....termasuk investasi Freeport di tambang emas di Papua....Pada awalnya Freeport mengatakan bahwa mereka akan melakukan eksplorasi tambang tembaga, ternyata kemudian seorang dokter dari Bandung yang bekerja di sana menemukan bahwa yang mereka tambang adalah emas. Dia membuat laporan mengenai hal ini agar pemerintah bisa menyelidikinya, tapi tak lama kemudian dia dipecat, rumahnya diobrak-abrik orang dan seluruh dokumennya dicuri. Dokter ini pada akhirnya harus lari ke luar negeri...Irian sekarang sudah hancur. Perusahaan tambang emas ini saja sudah menghancurkan tiga bukit di sana." (demikian jawaban Pram atas pertanyaan Andre Vltchek dan Rossie Indira dalam bukunya "Saya Terbakar Amarah Sendirian"). ------------------------------- Saya trenyuh membaca artikel di Kompas 38 tahun yang lalu itu yang ditulis oleh Pak Adjat Sudradjat (mantan Dirjen Geologi dan Sumberdaya Mineral, gurubesar Geologi Unpad). Pak Adjat kala itu adalah pegawai Direktorat Geologi dan merupakan salah satu anggota Indonesia dalam tim Freeport. Pak Adjat menulis apa yang disaksikannya. Selama pemerintahan ORBA memang Freeport termasuk pembayar pajak paling besar di Indonesia, tetapi adakah yang sampai ke generasi keturunan para suku yang dulu pemilik gunung2 di Jayawijaya ? Kucuran hasil pajak ini memang urusan pemerintah ORBA. Generasi penerus suku ini telah tahu bahwa gunungnya itu bernilai jutaan dolar atau lebih, tetapi hanya ditukar dengan belasan parang ! Bisa dipahami mengapa mereka marah. Semoga tidak pernah terjadi lagi hal seperti itu. Hak-hak suku harus dihormati. Kini sebaliknya terjadi, para suku memberikan dukungan eksplorasi migas di wilayahnya di beberapa blok di tanah Papua; apa daya wilayah2 itu masuk ke hutan yang secara nasional dan internasional harus dilindungi, dan Pemerintah pusat tak memberikan izin eksplorasi di wilayah2 seperti itu. Maka, kini investor2 asing itu terpaksa mencari wilayah2 pengganti. salam, awang

