Prof. Dr. Sartono Sastrohamidjojo kita tahu telah berpulang 12 tahun
yang lalu, meninggalkan dunia geologi dan paleo-antropologi pada saat
Almarhum masih produktif menyumbangkan karya ilmiah dalam dunia
paleo-antropologi dan paleontologi vertebrata yang dicintainya. Walaupun
purna bakti pada usia 65 tahun pada 26 Juni 1993, masih tercatat enam
makalah yang ditulis Pak Sartono setelah masa purna baktinya  yang
dipresentasikan di Belanda, Italia, Vietnam, dan Indonesia. Makalahnya
terakhir, "Diversity of Upper Pliocene-Pleistocene Hominids"  bahkan tak
sempat dipresentasikannya di Zurich, Swiss sebab Pak Sartono meninggal
di Leiden, Belanda saat akan melanjutkan perjalanan ke Zurich setelah
melakukan beberapa penelitian paleo-antropologi di Leiden University.
Ini suatu bukti konsistensi seorang ilmuwan yang mencintai bidangnya.

 

Dengan ke 168 makalah yang ditulisnya dan dipresentasikan baik di
Indonesia maupun luar negeri, dengan dua fosil vertebrata Stegodon yang
ditemui dan dinamakan menurut namanya, dan dengan konsistensi penelitian
dalam bidang paleontologi vertebrata, paleo-antropologi, dan geologi
Kuarter; membuat nama Sartono terkenal di Indonesia maupun dunia
internasional dalam bidangnya. Untuk membuktikannya, kita lihat saja
makalah2 tentang paleontologi vertebrata maupun paleo-antropologi yang
ditulis ahli2 dalam bidang ini baik dari Indonesia maupun asing; pasti
sedikit banyak mencantumkan makalah2 tulisan Pak Sartono di dalam
referensinya. Saya pribadi tidak mengenal Almarhum, tetapi suka
mendengar namanya saat saya masih kuliah dulu (1983-1989); tetapi dalam
sepuluh tahun belakangan ini, saya banyak membaca tulisan2 Almarhum dan
semua tulisan penerusnya (Pak Prof. Zaim dkk) dan makalah tentang
paleo-antropologi dan paleontologi vertebrata di Indonesia dari para
penulis lain.

 

Judul subyek di atas, "S. Sartono : dari Hominid ke delapsi dengan
Kontroversi" adalah judul sebuah buku yang dua hari lalu saya terima
dari Pak Prof. Dr. Yahdi Zaim (terima kasih banyak Pak Zaim). Buku ini
baru (2006) diterbitkan oleh Penerbit ITB, Bandung. Ini adalah buku
memoar tentang Pak Sartono sekaligus juga memuat beberapa makalah Pak
Sartono dan makalah2 lain tentang paleo-antropologi, paleontologi
vertebrata, dan geo-arkeologi yang ditulis oleh murid2 Pak Sartono
maupun sahabat2 Pak Sartono. Buku setebal 183 halaman ini dieditori oleh
Yahdi Zaim, Yan Rizal, Aswan, dan Bayu Sapta Fitriana. Setelah lima
artikel tentang profil Pak Sartono menurut keluarga Pak Sartono dan
murid serta sahabat Pak Sartono, terdapat dua belas makalah ilmiah,
kemudian diakhiri dengan foto2 kenangan Pak Sartono dan daftar publikasi
lengkap Pak Sartono dari makalah pertama (1961) dampai makalah terakhir
(1995). 

 

Buku ini enak dibaca, menarik, dengan cover yang unik, tataletak yang
apik, dan jelas memberikan pengetahuan. Kata Pengantar yang ditulis oleh
Pak Zaim sangat membantu untuk menelusuri kiprah keilmuan Pak Sartono,
perkembangan pemikirannya, dan kontroversi-kontroversi yang pernah
melingkunginya. 

 

Di bawah ini adalah daftar lengkap makalah ilmiah di dalam buku ini. 

 

1.      Java : Diversity of Upper Pleiocene-Pleistocene Hominids
(Sartono, 1995)
2.      Insularity by Plate Tectonics in Quaternary Indonesia (Sartono,
1993) 
3.      Betulkah Wilayah Asal Manusia di Afrika ? (Sartono)
4.      Homo erectus with Computers and Laser Guns : the Evolution
Dilemma (M.T. Zen)
5.      A New Mandibular Molar of Pongo from Sangiran, Central Java (F.
Aziz, Y. Kaifu, H. Baba)
6.      Hominids in Indonesia : from Homo erectus (paleojavanicus) to
Homo floresiensis (Yahdi Zaim)
7.      Studi Mineralogi Endapan Teras Bengawan Solo di Daerah Ngawi dan
Sekitanya (Yan Rizal)
8.      Menelusuri Jejak-Jejak Migrasi di Bagian Barat Pulau Jawa (T.
Djubiantono)
9.      Distribution of Quaternary Freshwater Molluscs Fossils in Jawa
(Aswan, Y. Zaim, Y. Rizal)
10.     Arkeologi Indonesia dalam Menghadapi Pengaruh Globalisasi (R.P.
Soejono)
11.     150 years of Indonesian-Dutch Paleo-Anthropological and
Paleontological Research in Indonesia (F. Aziz, J. de Vos, G.D. van den
Bergh)
12.     East Arm Sulawesi : Banggai Microplate-Sunda Arc Collision
(Sartono, K. Pontjomojono, B. Suprapto)

 

Makalah-makalah yang ditulis Pak Sartono di dalam buku ini tentu
makalah2 yang pernah diterbitkan di jurnal/forum lain; makalah2 selain
itu adalah makalah2 baru yang ditulis oleh para murid dan sahabat Pak
Sartono khusus untuk buku ini.

 

Mengapa pada judul buku ini ada kata "kontroversi" ? Karena, beberapa
publikasi Pak Sartono menyulut kontroversi. 

 

Sepengamatan saya (silakan Pak Zaim koreksi), dalam bidang
paleo-antropologi, Pak Sartono cenderung memihak pendapat
"multi-regional migration" dibandingkan "out-of-Africa migration". Kita
tahu pendapat migrasi hominid dan manusia keluar dari Afrika sangat
disokong oleh banyak ahli paleo-antropologi, dan belakangan banyak
mendapatkan bukti dari bidang molecular biology melalui proyek raksasa
pemetaan genome manusia. Ini memang sangat meyakinkan, khususnya buat
migrasi Homo sapiens (manusia moderen). Tetapi buat hominid (Homo
erectus dan sebelumnya) belum ada bukti yang kuat dari molecular biology
bahwa migrasi out of Africa yang benar, sebab proyek genom hanya
berdasarkan darah manusia moderen, dan untuk migrasi hominid tentu
analisis gen-nya harus dari fosil hominid. Meskipun dengan teknik
genetika, proyek genom manusia moderen bisa ditarik dan diproyeksikan ke
sekitar 3-5 juta tahun yang lalu melalui metode pengurutan gen (seperti
kemometrik dalam analisis oil grouping menggunakan statistik
multivariat); tetap saja yang akan lebih pas adalah menera langsung gen
dari fosil hominid-nya dan menyusun skenarion migrasinya.

 

Kontroversi lain dalam bidang paleo-antropologi yang dikemukakan oleh
Pak Sartono adalah dalam beberapa makalahnya Pak Sartono membandingkan
Meganthropus paleojavanicus sebagai sebanding dengan genus
Australopithecus di Afrika (antara Australopithecus africanus dengan A.
robustus, atau A. boisei). Di Afrika, genus Australopithecus mendahului
genus Homo, tetapi pada akhir genus Australopithecus sempat juga sezaman
dengan genus Homo pertama (Homo habilis). Begitu pun di Jawa kata Pak
Sartono di mana Meganthropus paleojavanicus yang dianggap mungkin
berbanding dengan Australopithecus ini sempat sezaman dengan Homo
(Pithecanthropus) robustus pada Pliosen bawah. Pendapat Pak Sartono ini
mengundang perdebatan sebab pengetahuan umum menyebutkan tak ada
Australopithecus di luar Afrika. Pendapat Pak Sartono ini jelas
berkonsekuensi bahwa bukan semuanya dari Afrika, sehingga Pak Sartono
lebih memilih multi-regional.

 

Kontroversi yang lebih hebat dan "keras" adalah ketika Pak Sartono dan
beberapa rekannya menulis makalah2 tektonik tentang endapan2 tektonik
hasil runtuhan dan longsoran yang disebut "delapsi". Beberapa makalah
yang membahas jenis endapan ini di Sumatera, Jawa, dan Indonesia Timur
menimbulkan perdebatan. Walaupun tak ada perdebatan sengit (karena
kultur orang Indonesia memang tak mau ribut2 dan tak mau saling
menyerang), saya pada saat masih mahasiswa pun bisa merasakan adanya
"perang dingin" ini. ("hati-hati lho kalau bicara delapsi, kamu bisa gak
lulus-lulus", begitu kira2 obrolan mahasiswa saat itu - sebenarnya tanpa
kita tahu pasti apa sih yang sedang terjadi di antara para ahli geologi
itu, apa sih delapsi itu sebenarnya, mengapa ia dicap salah, dan yang
benar memang bagaimana ?...). Di dalam buku ini ada satu makalah tentang
delapsi itu yaitu makalah terakhir no. 12. Di dalam buku ini juga ada
beberapa foto berwarna yang mengesankan inilah delapsi yang disebut Pak
Sartono itu, yaitu suatu chaotic mass dengan orientasi perlapisan yang
kacau membolak-balik. 

 

Pak Zaim dkk jelas mafhum dengan kontroversi ini sehingga memerlukan
menempatkan kata kontroversi dalam judul buku ini dan memuat foto2nya
yang berhubungan, juga telah memilih makalah2 Pak Sartono yang pas yang
pernah menyulut kontroversi2. Geologi penuh dengan interpretasi, setiap
orang berhak berbicara dan menulis apa yang diyakini. Silakan mengajukan
argumennya masing-masing. Tak ada yang berhak bahwa satu pihak yang
paling benar dan pihak lain paling salah sebab ilmu dan teori terus
berkembang, yang sekarang benar bisa menjadi salah pada masa yang akan
datang, yang sekarang salah bisa menjadi benar  pada masa yang akan
datang. Telah banyak kasus tentang itu bukan ? Dalam dunia ilmiah, yang
berbeda bukan pada tempatnya untuk dijauhi dan dianggap negatif.

 

Begitulah, semoga buku memoar dan ilmiah tentang Pak Sartono dan
kiprahnya ini serta tulisan2 ilmiah di dalamnya dari para ahlinya dapat
tersebar dengan baik. Minat paleo-antropologi dan geo-arkeologi
masyarakat Indonesia sudah meningkat cukup baik, terbukti banyak buku2
ilmiah atau populer tentang itu cukup cepat habis dari rak2 di toko buku
yang memajangnya. Barangkali buku Pak Sartono ini bisa juga disebar ke
toko-toko buku umum dan mengirimkan resensinya ke koran2 terkenal. 

 

Indonesia sangat penting posisinya dalam dunia paleo-antropologi dan
paleontologi vertebrata, terbukti bahwa Indonesia telah menjadi tempat
penelitian banyak sekali ahli asing dan nasional sejak lebih dari
seratus tahun yang lalu (dimulai oleh Dubois pada 1891). Masyarakat
Indonesia harus mengenal orang sekaliber seperti Prof. Dr. Sartono yang
sangat konsisten melakukan penelitian sampai akhir hayatnya. Buku ini
bisa memulainya, juga buku2 lain tentang paleo-antropologi dan
paleontologi vertebrata yang lebih populer. Suatu tantangan buat Pak
Zaim, Pak Yan Rizal, Pak Aswan dan bapak/ibu ahli geologi lain yang
memilih bidang ini sebagai keahliannya.

 

Sementara itu, karya-karya Pak Sartono akan tetap menjadi sumber
informasi untuk mengkaji lagi dan mengkaj lagi dunia ilmu yang terus
berkembang.

 

Sekali lagi, Pak Zaim, terima kasih banyak atas buku ini.

 

Salam,

awang 

 

 

 

 

 

 

 

Kirim email ke