Pak Awang Yth.,
Terima kasih atas ulasan dan komentarnya yang diberikan pada buku memoar
Almarhum Prof. s. Sartono. Memang benar Pak Sartono menganut aliran
"multi-regional migration" bukan "out-of-Africa migration". Saya dulu
sering mendiskusikan hal ini dengan Almarhum.Terlebih, beliau sangat yakin
akan "muli-regional migration" setelah beliau menemukan fosil tengkorak
manusia yang diberi nama Sangiran 31(S 31) (sekarang fosilnya ada di Lab.
Prof. T. Jacob - Yogyakarta)dari Formasi Pucangan di Sangiran, yang beliau
yakini seumur dan memiliki ciri yang sama dengan Australopithecus di
Afrika, yang sama pula ditemukan di Cina yang juga diyakini sebagai
Australopithecus, yang merupakan nenek moyang Homo erectus. Dengan adanya
Australopithecus di Jawa dan Cina sebagai nenek moyang Homo erectus yang
juga dijumpai di Jawa dan Cina, sementara itu terdapat pula
Australopithecus dan Homo erectus di Afrika, maka sebagian ahli termasuk
Pak Sartono percaya akan adanya "sumber lain" di luar Afrika (out-of
Africa) yang merupakan evolusi dan migrasi regional, yang hingga kini
masih kontroversi di dunia paleontologi manusia dan paleoantropologi.
Sekali lagi, terima kasih Pak Awang,
Wasalam,
Yahdi Zaim
> Prof. Dr. Sartono Sastrohamidjojo kita tahu telah berpulang 12 tahun
> yang lalu, meninggalkan dunia geologi dan paleo-antropologi pada saat
> Almarhum masih produktif menyumbangkan karya ilmiah dalam dunia
> paleo-antropologi dan paleontologi vertebrata yang dicintainya. Walaupun
> purna bakti pada usia 65 tahun pada 26 Juni 1993, masih tercatat enam
> makalah yang ditulis Pak Sartono setelah masa purna baktinya yang
> dipresentasikan di Belanda, Italia, Vietnam, dan Indonesia. Makalahnya
> terakhir, "Diversity of Upper Pliocene-Pleistocene Hominids" bahkan tak
> sempat dipresentasikannya di Zurich, Swiss sebab Pak Sartono meninggal
> di Leiden, Belanda saat akan melanjutkan perjalanan ke Zurich setelah
> melakukan beberapa penelitian paleo-antropologi di Leiden University.
> Ini suatu bukti konsistensi seorang ilmuwan yang mencintai bidangnya.
>
>
>
> Dengan ke 168 makalah yang ditulisnya dan dipresentasikan baik di
> Indonesia maupun luar negeri, dengan dua fosil vertebrata Stegodon yang
> ditemui dan dinamakan menurut namanya, dan dengan konsistensi penelitian
> dalam bidang paleontologi vertebrata, paleo-antropologi, dan geologi
> Kuarter; membuat nama Sartono terkenal di Indonesia maupun dunia
> internasional dalam bidangnya. Untuk membuktikannya, kita lihat saja
> makalah2 tentang paleontologi vertebrata maupun paleo-antropologi yang
> ditulis ahli2 dalam bidang ini baik dari Indonesia maupun asing; pasti
> sedikit banyak mencantumkan makalah2 tulisan Pak Sartono di dalam
> referensinya. Saya pribadi tidak mengenal Almarhum, tetapi suka
> mendengar namanya saat saya masih kuliah dulu (1983-1989); tetapi dalam
> sepuluh tahun belakangan ini, saya banyak membaca tulisan2 Almarhum dan
> semua tulisan penerusnya (Pak Prof. Zaim dkk) dan makalah tentang
> paleo-antropologi dan paleontologi vertebrata di Indonesia dari para
> penulis lain.
>
>
>
> Judul subyek di atas, "S. Sartono : dari Hominid ke delapsi dengan
> Kontroversi" adalah judul sebuah buku yang dua hari lalu saya terima
> dari Pak Prof. Dr. Yahdi Zaim (terima kasih banyak Pak Zaim). Buku ini
> baru (2006) diterbitkan oleh Penerbit ITB, Bandung. Ini adalah buku
> memoar tentang Pak Sartono sekaligus juga memuat beberapa makalah Pak
> Sartono dan makalah2 lain tentang paleo-antropologi, paleontologi
> vertebrata, dan geo-arkeologi yang ditulis oleh murid2 Pak Sartono
> maupun sahabat2 Pak Sartono. Buku setebal 183 halaman ini dieditori oleh
> Yahdi Zaim, Yan Rizal, Aswan, dan Bayu Sapta Fitriana. Setelah lima
> artikel tentang profil Pak Sartono menurut keluarga Pak Sartono dan
> murid serta sahabat Pak Sartono, terdapat dua belas makalah ilmiah,
> kemudian diakhiri dengan foto2 kenangan Pak Sartono dan daftar publikasi
> lengkap Pak Sartono dari makalah pertama (1961) dampai makalah terakhir
> (1995).
>
>
>
> Buku ini enak dibaca, menarik, dengan cover yang unik, tataletak yang
> apik, dan jelas memberikan pengetahuan. Kata Pengantar yang ditulis oleh
> Pak Zaim sangat membantu untuk menelusuri kiprah keilmuan Pak Sartono,
> perkembangan pemikirannya, dan kontroversi-kontroversi yang pernah
> melingkunginya.
>
>
>
> Di bawah ini adalah daftar lengkap makalah ilmiah di dalam buku ini.
>
>
>
> 1. Java : Diversity of Upper Pleiocene-Pleistocene Hominids
> (Sartono, 1995)
> 2. Insularity by Plate Tectonics in Quaternary Indonesia (Sartono, 1993)
>
> 3. Betulkah Wilayah Asal Manusia di Afrika ? (Sartono)
> 4. Homo erectus with Computers and Laser Guns : the Evolution
> Dilemma (M.T. Zen)
> 5. A New Mandibular Molar of Pongo from Sangiran, Central Java (F. Aziz,
> Y. Kaifu, H. Baba)
> 6. Hominids in Indonesia : from Homo erectus (paleojavanicus) to
> Homo floresiensis (Yahdi Zaim)
> 7. Studi Mineralogi Endapan Teras Bengawan Solo di Daerah Ngawi dan
> Sekitanya (Yan Rizal)
> 8. Menelusuri Jejak-Jejak Migrasi di Bagian Barat Pulau Jawa (T.
> Djubiantono)
> 9. Distribution of Quaternary Freshwater Molluscs Fossils in Jawa
> (Aswan, Y. Zaim, Y. Rizal)
> 10. Arkeologi Indonesia dalam Menghadapi Pengaruh Globalisasi (R.P.
> Soejono)
> 11. 150 years of Indonesian-Dutch Paleo-Anthropological and
> Paleontological Research in Indonesia (F. Aziz, J. de Vos, G.D. van den
> Bergh)
> 12. East Arm Sulawesi : Banggai Microplate-Sunda Arc Collision
> (Sartono, K. Pontjomojono, B. Suprapto)
>
>
>
> Makalah-makalah yang ditulis Pak Sartono di dalam buku ini tentu
> makalah2 yang pernah diterbitkan di jurnal/forum lain; makalah2 selain
> itu adalah makalah2 baru yang ditulis oleh para murid dan sahabat Pak
> Sartono khusus untuk buku ini.
>
>
>
> Mengapa pada judul buku ini ada kata "kontroversi" ? Karena, beberapa
> publikasi Pak Sartono menyulut kontroversi.
>
>
>
> Sepengamatan saya (silakan Pak Zaim koreksi), dalam bidang
> paleo-antropologi, Pak Sartono cenderung memihak pendapat
> "multi-regional migration" dibandingkan "out-of-Africa migration". Kita
> tahu pendapat migrasi hominid dan manusia keluar dari Afrika sangat
> disokong oleh banyak ahli paleo-antropologi, dan belakangan banyak
> mendapatkan bukti dari bidang molecular biology melalui proyek raksasa
> pemetaan genome manusia. Ini memang sangat meyakinkan, khususnya buat
> migrasi Homo sapiens (manusia moderen). Tetapi buat hominid (Homo
> erectus dan sebelumnya) belum ada bukti yang kuat dari molecular biology
> bahwa migrasi out of Africa yang benar, sebab proyek genom hanya
> berdasarkan darah manusia moderen, dan untuk migrasi hominid tentu
> analisis gen-nya harus dari fosil hominid. Meskipun dengan teknik
> genetika, proyek genom manusia moderen bisa ditarik dan diproyeksikan ke
> sekitar 3-5 juta tahun yang lalu melalui metode pengurutan gen (seperti
> kemometrik dalam analisis oil grouping menggunakan statistik
> multivariat); tetap saja yang akan lebih pas adalah menera langsung gen
> dari fosil hominid-nya dan menyusun skenarion migrasinya.
>
>
>
> Kontroversi lain dalam bidang paleo-antropologi yang dikemukakan oleh
> Pak Sartono adalah dalam beberapa makalahnya Pak Sartono membandingkan
> Meganthropus paleojavanicus sebagai sebanding dengan genus
> Australopithecus di Afrika (antara Australopithecus africanus dengan A.
> robustus, atau A. boisei). Di Afrika, genus Australopithecus mendahului
> genus Homo, tetapi pada akhir genus Australopithecus sempat juga sezaman
> dengan genus Homo pertama (Homo habilis). Begitu pun di Jawa kata Pak
> Sartono di mana Meganthropus paleojavanicus yang dianggap mungkin
> berbanding dengan Australopithecus ini sempat sezaman dengan Homo
> (Pithecanthropus) robustus pada Pliosen bawah. Pendapat Pak Sartono ini
> mengundang perdebatan sebab pengetahuan umum menyebutkan tak ada
> Australopithecus di luar Afrika. Pendapat Pak Sartono ini jelas
> berkonsekuensi bahwa bukan semuanya dari Afrika, sehingga Pak Sartono
> lebih memilih multi-regional.
>
>
>
> Kontroversi yang lebih hebat dan "keras" adalah ketika Pak Sartono dan
> beberapa rekannya menulis makalah2 tektonik tentang endapan2 tektonik
> hasil runtuhan dan longsoran yang disebut "delapsi". Beberapa makalah
> yang membahas jenis endapan ini di Sumatera, Jawa, dan Indonesia Timur
> menimbulkan perdebatan. Walaupun tak ada perdebatan sengit (karena
> kultur orang Indonesia memang tak mau ribut2 dan tak mau saling
> menyerang), saya pada saat masih mahasiswa pun bisa merasakan adanya
> "perang dingin" ini. ("hati-hati lho kalau bicara delapsi, kamu bisa gak
> lulus-lulus", begitu kira2 obrolan mahasiswa saat itu - sebenarnya tanpa
> kita tahu pasti apa sih yang sedang terjadi di antara para ahli geologi
> itu, apa sih delapsi itu sebenarnya, mengapa ia dicap salah, dan yang
> benar memang bagaimana ?...). Di dalam buku ini ada satu makalah tentang
> delapsi itu yaitu makalah terakhir no. 12. Di dalam buku ini juga ada
> beberapa foto berwarna yang mengesankan inilah delapsi yang disebut Pak
> Sartono itu, yaitu suatu chaotic mass dengan orientasi perlapisan yang
> kacau membolak-balik.
>
>
>
> Pak Zaim dkk jelas mafhum dengan kontroversi ini sehingga memerlukan
> menempatkan kata kontroversi dalam judul buku ini dan memuat foto2nya
> yang berhubungan, juga telah memilih makalah2 Pak Sartono yang pas yang
> pernah menyulut kontroversi2. Geologi penuh dengan interpretasi, setiap
> orang berhak berbicara dan menulis apa yang diyakini. Silakan mengajukan
> argumennya masing-masing. Tak ada yang berhak bahwa satu pihak yang
> paling benar dan pihak lain paling salah sebab ilmu dan teori terus
> berkembang, yang sekarang benar bisa menjadi salah pada masa yang akan
> datang, yang sekarang salah bisa menjadi benar pada masa yang akan
> datang. Telah banyak kasus tentang itu bukan ? Dalam dunia ilmiah, yang
> berbeda bukan pada tempatnya untuk dijauhi dan dianggap negatif.
>
>
>
> Begitulah, semoga buku memoar dan ilmiah tentang Pak Sartono dan
> kiprahnya ini serta tulisan2 ilmiah di dalamnya dari para ahlinya dapat
> tersebar dengan baik. Minat paleo-antropologi dan geo-arkeologi
> masyarakat Indonesia sudah meningkat cukup baik, terbukti banyak buku2
> ilmiah atau populer tentang itu cukup cepat habis dari rak2 di toko buku
> yang memajangnya. Barangkali buku Pak Sartono ini bisa juga disebar ke
> toko-toko buku umum dan mengirimkan resensinya ke koran2 terkenal.
>
>
>
> Indonesia sangat penting posisinya dalam dunia paleo-antropologi dan
> paleontologi vertebrata, terbukti bahwa Indonesia telah menjadi tempat
> penelitian banyak sekali ahli asing dan nasional sejak lebih dari
> seratus tahun yang lalu (dimulai oleh Dubois pada 1891). Masyarakat
> Indonesia harus mengenal orang sekaliber seperti Prof. Dr. Sartono yang
> sangat konsisten melakukan penelitian sampai akhir hayatnya. Buku ini
> bisa memulainya, juga buku2 lain tentang paleo-antropologi dan
> paleontologi vertebrata yang lebih populer. Suatu tantangan buat Pak
> Zaim, Pak Yan Rizal, Pak Aswan dan bapak/ibu ahli geologi lain yang
> memilih bidang ini sebagai keahliannya.
>
>
>
> Sementara itu, karya-karya Pak Sartono akan tetap menjadi sumber
> informasi untuk mengkaji lagi dan mengkaj lagi dunia ilmu yang terus
> berkembang.
>
>
>
> Sekali lagi, Pak Zaim, terima kasih banyak atas buku ini.
>
>
>
> Salam,
>
> awang
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
----------------------------------------------------------------------------
JOINT CONVENTION BALI 2007
The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and
Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI be
liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or
damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits,
arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI
mailing list.
---------------------------------------------------------------------