Mang Okim,
Terima kasih atas infonya yang berharga. Buku Data Dasar Gunungapi Indonesia
yang pengumpulan data dan evaluasinya dikepalai oleh Pak Kama Kusumadinata
(alm.) itu memang luar biasa.
Memang Gunung Kelud ini telah membuat Pak Dr. Surono dan tim-nya kelihatan
kurang tidur kalau melihatnya di berita2 TV akhir2 ini; ternyata memang begitu
ya ulahnya. Tantangan buat para ahli gunungapi. Saat ini Pak Surono punya teori
bahwa energi potensial letusan Kelud mungkin telah terbagi2 menjadi beberapa
gejala vulkanologi di luar letusannya sendiri, yaitu pemanasan air kawah,
frekuensi gempa volkanik, dsb. Gejalanya masih turun naik, air kawah kemarin
naik lagi menjadi 38 C atau 2 C lebih rendah dari saat letusan 1990 terjadi (40
C), tetapi frekuensi gempanya menurun.
Menaikkan status gunungapi dan memutuskan kapan mulai mengungsi memang selalu
menjadi pro-kontra di antara instansi yang berwenang dan masyarakat setempat.
Bila masyarakat telah diungsikan, tetapi ternyata Kelud tak jadi meletus maka
masyarakat akan sulit lagi mempercayai instansi terkait. Tetapi bila masyarakat
tak diungsikan, lalu tiba2 mereka dihujani bom rempah gunung api atau dilanda
lahar panas, mereka juga akan menyalahkan instansi terkait. Berat...apalagi
menghadapi Kelud yang ulahnya susah dipahami.
Andai Kelud meletus nanti dan perlu banyak bantuan kemanusiaan, semoga
Rotarian bisa membantu Pemerintah meringankan beban mengurusi pengungsi.
salam,
awang
miko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Rekan-rekan IAGI yang budiman,
Mang Okim teruskan di bawah ini sekedar informasi tentang G. Kelud yang mang
Okim tulis khusus untuk para anggota Rotary dalam rangka sosialisasi ilmu
kebumian. Datanya mang Okim petik dari buku : Data Dasar Gunungapi Indonesia ,
Direktorat Vulkanologi Bandung ( 1979 ). Semoga ada manfaatnya bagi anggota
muda IAGI khususnya yang belum mengenal tentang G. Kelud ( data lebih baru bisa
dilihat di tulisan-tulisan Pak Awal, Pak Doddy Suryanto, dll ).
Salam, mang Okim
----- Original Message -----
From: miko
To: Salkomdop07-08 ; rotaryd3400
Sent: Friday, October 19, 2007 4:22 AM
Subject: G.KELUD : MENGAPA BIKIN PUSING ?
Rekan-rekan Rotarian yang budiman,
Sejak beberapa hari terakhir ini, Dr. Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan
Mitigasi Bencana Gunungapi ( PVMBG ) di Bandung dan staff nya pastilah dibikin
pusing tujuh keliling oleh ulah G. Kelud. Dari data-data ilmiah yang berhasil
dicatat olef stafnya di lapangan seperti perkembangan frekwensi dan kedalaman
titik pusat gempa vulkanik, demikian juga warna dan temperatur air di danau
kawah, letusan diperkirakan bisa terjadi dalam hitungan jam atau hari. Maka
pada 16 Oktober pukul 17.24, diputuskanlah untuk merubah status G. Kelud dari
SIAGA menjadi AWAS dengan konsekwensi harus diungsikannya lebih dari 100.000
orang yang menghuni daerah terlarang dan daerah bahaya I .
Sampai 18 Oktober, ramalan ilmiah tentang akan terjadinya letusan G.Kelud dalam
hitungan jam/ hari ternyata tidak atau belum terjadi. Sebagian pengungsi yang
merasa tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah memilih kembali ke daerah
bahaya dari pada mati kelaparan dan mengemis di pengungsian. Sementara itu
status AWAS masih tetap dipertahankan karena memang demikianlah kenyataan
ilmiahnya.
Pembuatan trowongan air
G. Kelud ternyata telah membikin pusing semua orang sejak zaman penjajahan
Belanda. Gunung ini mempunyai danau kawah yang dalamnya lebih dari 600 meteran
dan menyimpan air sampai 40 juta m3. Mempertimbangkan bahayanya kalau sampai 40
juta m3 air tersebut terbawa oleh letusan dahsyat, maka pada tahun 1907
pemerintah Belanda membuat sistem trowongan dan berhasil mengurangi air danau
kawah sebanyak 4,3 juta m3. Pada tahun 1923, menyusul runtuhnya dinding
trowongan , maka dibuatkan lagi 7 trowongan yang berhasil mengurangi jumlah air
sampai menjadi 1,8 juta m3.
Pada tahun 1951, akibat letusan dahsyat, diameter danau kawah melebar dari 500
meter menjadi 700 meter dan ke 7 trowongan runtuh total. Cadangan air danau
meningkat tajam menjadi 23,1 juta m3. Sistem terowongan baru yang dibuat sejak
tahun 1953 ternyata tidak berfungsi baik dan pada letusan tahun 1966, sebanyak
21,6 juta m3 dimuntahkan bersama dengan batuan kawah. Terowongan Ampera
kemudian dibuat pada tahun itu juga dan berhasil mengurangi cadangan air danau
kawah menjadi 4,3 juta m3 ( 4,3 milyar liter !!! ).
Hebatnya letusan G. Kelud
Sejarah letusan G.Kelud ternyata telah tercatat sejak tahun 1000 an. Hampir
dapat dipastikan bahwa dalam setiap peristiwa letusan yang frekwensinya 10
sampai 40 tahunan ( sejak 600 an tahun yang lalu ), selalu jatuh korban. Pada
letusan tahun 1586 , korbannya 10.000 jiwa dan tahun 1919, 5160 jiwa. Hebatnya
letusan G. Kelud digambarkan setara dengan kekuatan 2,3 x bom atom ( tahun 1901
) .
Pada letusan tahun 1951, batuan ukuran bom ( diameter lebih dari 25,6 cm )
dilontarkan sampai 4 km di utara Blitar, sedangkan hujan abunya sampai ke
Bandung ( dan Pamekasan , Madura ! ). Daerah yang terbakar meliputi radius 6,5
km dari kawah sedangkan korban jiwa berjumlah 7 orang termasuk 3 petugas
volkanologi. Selama letusan tahun 1951 ini, sebanyak 200 juta m3 batuan
dilontarkan bersama dengan 1,8 juta air danau kawah. Dasar kawahnya turun 79
meter.
Letusan G.Kelud tahun 1966 menelan korban jiwa 210 orang dan luka 86 orang.
Sebanyak 90 juta m3 batuan lepas dilontarkan bersama dengan 21,6 juta m3 air
danau kawah, sedangkan daerah yang rusak berat meliputi radius 2 - 5 km dari
kawah.
Dari data dan fakta di atas, tentunya sangat beralasan kalau sampai ada mitos
yang diungkapkan oleh Pak Doddy Suryanto di milis Ikatan Ahli Geologi Indonesia
kemaren bahwa kalau G. Kelud meletus, Blitar dadi latar ( jadi rata ), Kediri
dadi kali ( jadi sungai ), Tulungagung dadi kedung ( jadi bendungan ).
Korbannya bisa luar biasa
Wilayah G. Kelud dibagi atas beberapa daerah yaitu Daerah Terlarang ( radius 5
km dari kawah dengan luas 91 km2 ) dengan ancaman hujan bom dan rempah-rempah
batuan, awan panas, lahar letusan dan lahar hujan. Data tahun 1972 menunjukkan
hunian 50 orang. Kemudian Daerah Bahaya I ( radius 10 km dari kawah dengan luas
223 km2 ) dengan ancaman hujan bom dan rempah-rempah batuan. Daerah ini dihuni
oleh 136.500 orang ( data tahun 1972 ). Selanjutnya Daerah Bahaya II yang
ancamannya lahar sekunder. Daerah ini meliputi bantaran sungai-sungai lahar
yang luasnya 56 km2 dan dihuni oleh 178.000 orang.
Mempertimbangkan besarnya jumlah penduduk yang menempati Daerah Bahaya I
(136.500 orang , data tahun 1972 !!! ), maka bisa dibayangkan betapa sulitnya
PVMBG dalam mengambil keputusan tentang status G. Kelud. Taruhannya sungguh
berat , di satu sisi menyangkut begitu banyaknya keselamatan jiwa manusia dan
di sisi lain menyangkut juga biaya evakuasi yang miliaran rupiah ( kalau
100.000 orang saja yang diungsikan dan perlu biaya Rp 10.000 / hari maka
diperlukan dana minimal Rp 1 milyar/ hari !!! ) . Kita tentunya yakin bahwa apa
yang telah diputuskan oleh para pakar di PVMBG pastilah merupakan keputusan
terbaik karena didasarkan pada kaidah-kaidah ilmiah yang cukup akurat .
Walaupun demikian, sebagai umat beragama, kita tentunya percaya bahwa apapun
keputusan kita, Tuhan jualah yang akhirnya menentukan.
Pembentukan Rotary Club di Madiun
Dalam kepengurusan Rotary 2006-2007, rekan-rekan di Surabaya sangat optimis
akan terbentuknya Rotary Club di Madiun. Semoga peristiwa G. Kelud ini akan
mengingatkan kembali upaya tersebut, tidak saja untuk kota Madiun tetapi kalau
mungkin juga untuk Kediri dan Blitar ( di kota ini ada seorang committed
Rotarian ex anggota RC Bandung Dago ). Dengan adanya Rotary Club di kota-kota
tersebut, tentunya akan sangat mempermudah penyaluran bantuan kemanusiaan
Rotary ke wilayah sekitar G. Kelud . Dan mengingat ancaman letusan G.Kelud yang
setiap saat bisa terjadi, semoga saja IP Dep.Gov. Yetty Sutan dan para
Assistant Governor di Surabaya dapat memprioritaskan hal ini.
Semoga bermanfaat ,
Salam Rotary Shares,
Miko
Catatan : Data di atas disarikan dari buku : Data Dasar Gunung Api Indonesia
(1979 )
---------------------------------
Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect. Join Yahoo!'s user panel
and lay it on us.