Seorang rekan geologist bertanya tentang stromatolit di pulau kecil Satonda 
utara Sumbawa. Pulau sekecil Satonda yang belum tentu muncul pulaunya atau 
namanya di atlas2 anak sekolah, memiliki arti yang begitu besar sebab langka 
sekali tempat seperti Satonda di Bumi ini - yaitu memiliki stromatolit, terumbu 
paling tua yang telah muncul sejak Archean. Kurang apalagi keistimewaan geologi 
Indonesia ? Semoga berguna.
   
  salam,
  awang
   
  Ribuan-ratusan juta tahun sebelum binatang2 bersel banyak (metazoans) 
pembangun kompleks terumbu muncul, sekelompok organisme marin prokariotik 
(golongan bakteri dan alga biru-hijau dengan sel yang intinya belum jelas 
terpisah di dalam sitoplasma) diketahui telah mampu membangun struktur2 
batugamping terumbu yang masif. Struktur2 masif ini ternyata dapat melewati 
ribuan-ratusan juta tahun masa pelapukan/perusakan , sehingga struktur2 ini 
kini masih dapat ditemui membangun beberapa unsur bentang alam di Amerika 
Utara, Afrika, Asia, dan Australia. Struktur2 terumbu awal ini dikenal sebagai 
Stromatolit, terbentuk dalam suatu lingkungan oseanografik yang memerlukan 
kondisi tertentu.

Stromatolit adalah struktur organo-sedimen (simbiose antara ganggang-sedimen 
gampingan) yang dihasilkan oleh setumpuk besar lembaran2 coccoid cyanobacteria 
(dikenal juga sebagai ganggang biru-hijau, bakteri biru-hijau, myxophyceae atau 
chyanophyta) , melalui pemerangkapan sedimen gampingan, pengikatan, dan/atau 
pengendapan. Proses pembentukan stromatolit ini banyak dibahas di dalam Walter 
(1976 – Stromatolites, Elsevier, Amsterdam; buku sangat tebal hampir 800 
halaman membahas A sampai Z tentang stromatolit) ; Walter (1983 – Archean 
stromatolites : evidence of the Earth’s earliest benthos, dalam buku Earth’s 
Earliest Biosphere, Princeton Univ. Press). Menurut Bates dan Jackson (1987, 
eds. – Glossary of Geology, American Geological Institute), istilah stromatolit 
diusulkan oleh Kalkowsky pada 1908 sebagai stromatolith (kemudian menjadi 
stromatolite/ algal stromatolite; sedangkan stromatolith dipakai Foye 1916 
untuk tubuh intrusi magma retas lempeng –sill yang menjemari
 dengan batuan sedimen)

Stromatolit muncul untuk pertama kalinya pada suatu waktu antara Archean 
tengah-Archean akhir (sekitar 3000 juta tahun yang lalu -Ma atau 3 Ga – giga 
years ago/milyar tahun yang lalu). Menjelang awal Proterozoikum (2,5 Ga) mereka 
berkembang dalam lingkungan yang luas. Fosil stromatolit paling tua ditemukan 
di Zimbabwe baratdaya (2800-3100 Ma –menurut Stokes et al., 1978 – Introduction 
to Geology, Prentice Hall). Tulisan Pellant dan Phillips (1990 - Rocks, 
Minerals, and Fossils of the World – Little, Brown and Co. ) menyebutkan bahwa 
stromatolit dapat berkembang seawal 3800 Ma.

Stromatolit merupakan organisme pembangun terumbu yang dominan selama 
Pra-Kambrium (meliputi Archean dan Proterozoikum) dan berlanjut sampai sekitar 
600 Ma (memasuki Kambrium pada 570 Ma). Sejak itu, terjadi penurunan kelimpahan 
stromatolit. (Fagerstorm, 1987 – The evolution of reef communities, John Willey 
and Sons). Stromatolit masih ditemukan sepanjang Paleozoik, Mesozoik, dan 
Tersier, dengan kelimpahan yang semakin menurun (Fagerstrom, 1987). 

Di samping sebagai pembangun terumbu tingkat awal, stromatolit juga telah 
memainkan peranan penting dalam membentuk komposisi kimiawi atmosfer. 
Cyanobacteria pembentuk stromatolit adalah makhluk yang berfotosintesis. 
Seperti kita tahu, produk fotosintesis adalah oksigen. Maka, pembentukan 
stromatolit dengan sendirinya telah mengoksigenasi atmosfer awal Bumi yang 
miskin oksigen pada Archean dan Proterozoikum menjadi mempunyai oksigen yang 
cukup. Dengan hadirnya oksigen, maka mulailah berkembang fauna2 bersel tunggal 
yang membutuhkan oksigen, diperkirakan itu terjadi pada pertengahan 
Proterozoikum (1500 Ma). Pada ujung Proterozoikum atau memasuki Kambrium, 
tingkat oksigen sudah 10 % daripada tingkatnya sekarang, maka mulailah metazoa 
marin berkembang (Gross, 1990 – Oceanography : a view of the Earth, Prentice 
Hall).

Pada awal Kambrium, dalam evolusi makhluk hidup terjadi apa yang disebut dengan 
Ledakan Kambrium (Cambrian Explosion). Ini adalah ledakan kelimpahan fauna 
metazoan. Kelimpahan metazoan ini menciptakan persaingan, dan fauna prokariotik 
pembangun stromatolit di pihak yang kalah, sehingga telah menurunkan 
perkembangan stromatolit secara signifikan. Namun, Stromatolit adalah bentuk 
yang tahan banting, ia telah ditemukan dapat berkembang sampai sekarang (Resen) 
di beberapa bagian dunia di tempat yang sangat spesifik, yang terkenal adalah 
yang berkembang di Shark Bay (Teluk Hiu) di Australia barat, di utara Perth. 

Karena Indonesia sebagian besar disusun oleh formasi batuan berumur muda, 
stromatolit hampir tidak pernah ditemukan dalam catatan fosil Indonesia. 
Stromatolit dapat melewati masa kepunahan besar (masal) pada ujung Perem dan 
ujung Kapur, tetapi kalau mereka dapat berkembang sampai Resen, maka mereka 
akan membutuhkan lingkungan yang sangat khusus yang secara umum merupakan 
lingkungan yang berbahaya buat makhluk hidup lainnya. Maka, mereka akan hidup 
di lingkungan yang cocok buatnya tetapi tak cocok buat makhluk lain, tanpa 
saingan, tak mengherankan mereka bisa bertahan sampai Resen.

Sedikit sekali di dunia stromatolit Resen dapat berkembang sebab kekhususan 
lingkungan yang menjadi prasyaratnya. Stromatolit Resen terbaik yang banyak 
dipelajari para ahli adalah terumbu stromatolit Hamelin Pool, laguna hipersalin 
(super asin) di Shark Bay, Australia Barat (foto stromatolit ini sering muncul 
di buku2 teks sains kebumian), Lake Van di Anatolia,Turki, yang merupakan danau 
berkadar soda terbesar, dan di sebagian Bahama Banks, perairan Amerika Tengah. 

Bahwa Indonesia ternayata punya stromatolit (Resen) baru diketahui pada tahun 
1984 melalui ekspedisi gabungan Indonesia-Belanda ke Indonesia Timur melalui 
kapal marin Snellius II (Tomascik et al., 1997, The Ecology of the Indonesian 
seas, vol. II, Periplus; dan Monk et al., 1997, The ecology of Nusa Tenggara 
and Maluku, Periplus). Sekelompok ilmuwan dalam ekspedisi tersebut menemukan 
perkembangan stromatolit di sebuah pulau kecil bernama Satonda, sebuah pulau 
kecil bekas gunungapi di sebelah utara Sumbawa. Di gunungapi Satonda (sebut 
saja begitu) terbentuk danau kawah yang disebut Danau Motitoi. Di tepi danau 
ini ditemukan sebaran luas terumbu gampingan stromatolit. Danau Motitoi adalah 
danau kawah berkadar alkalin (soda), dalam maksimumnya 69 meter, luasnya 77 
hektare. Terima kasih atas publikasi dari Kempe dan Kazmierczak (1990 – 
Chemistry and stromatolites of the sea-linked Satonda crater lake, Indonesia : 
a Recent model for the Precambrian sea ?, Chemical Geology 81, p.
 299-310) dan Kempe dan Kazmierczak (1993 – Satonda crater lake, Indonesia : 
hydro-geochemistry and biocarbonates, Facies 28, p. 1-32) sehingga masyarakat 
keilmuan lain di luar Ekspedisi Snellius II dapat mengetahui penemuan penting 
ini. 

Penyelidikan menunjukkan bahwa stromatolit Satonda bermula pada 4000 tahun yang 
lalu dan merupakan stromatolit yang diproduksi oleh cyannobacteria. Pembentukan 
terumbu biogenik yang tidak biasanya ini dimungkinkan oleh kondisi hidrologi 
dan biogeokimia yang unik di danau kawah Motitoi. Secara hidrologi, danau ini 
punya perlapisan massa air yang unik. Terbentuk chemocline (batas oksigen dan 
H2S) yang tegas pada kedalaman 24-26 meter. Terumbu stromatolit Danau Motitoi 
terbentuk melalui interaksi empat organisme pembangun terumbu. Kelompok 
organisme ini merupakan pengendap aragonit (mengandung magnesium seperti 
koral), yaitu coccoid cyanobacteria, ganggang koral merah Lithoporella sp., dan 
sekelmpok foram nubecullinid. Di samping itu, terdapat kelompok spesies yang 
tak berlimpah berupa ganggang merah gampingan mengerak Peyssonnelia sp. yang 
bahan rangkanya terutama terdiri atas kristal-kristal aragonit luar sel yang 
tak terlalu terkompaksi. 

Bakteri biru hijau (cyannobacteria) Danau Motitoi menurut Kazmierczak dan Kempe 
(1990 – Modern cyannobacterial analogs of Paleozoic stromatoporoids, Science 
250, p. 1244-1248) dari kelompok Pleurocapsa, yaitu cyannobacteria yang 
bereproduksi melalui multiple fiission (pembelahan banyak). Tetapi, Pleurocapsa 
ini juga dapat melakukan binary fission (pembelahan ganda) (Delaney, 1990 – 
Cyannobacteria, dalam Clayton dan King, eds, Biology of Marine Plants, Longman 
Cheshire) dan jenis inilah yang merupakan penyusun utama terumbu stromatolit 
Satonda 

Dua ganggang gampingan yang ditemukan di Danau Motitoi merupakan komponen 
struktur sangat penting terumbu stromatolit Satonda (Tomascik et al., 1997). 
Ini tak mengherankan sebab Corallinaceae dan Peyssonneliaceae (Rhodophyta) 
merupakan kelompok pembangun terumbu yang memiliki fungsi utama melakukan 
penyemenan atas sedimen terumbu.

Pembentukan stromatolit terumbu Satonda di Danau Motitoi ditemukan terbatas 
pada lapisan permukaan sampai kedalaman batas oksigen/H2S (24-26 meter). 
Pembentukan terumbu terutama ditemukan dari permukaan sampai kedalaman 12 meter 
di mana bakteri biru-hijau berkembang secara dominan bersama ganggang kerang 
(coralline algae) Lithoporella sp. Dan ganggang dari genus Peyssonnelia yang 
kurang dominan.

Keterdapatan stromatolit Resen di Satonda dalam danau kawah Motitoi yang 
alkalin mendukung hipotesis ”Soda Ocean” (Kempe dan Dagens, 1985 – An early 
soda ocean ? – Chemical Geology 53, p. 95-108; Kempe, 1991 – De oerocean, een 
sodazee, Natuur en Techniek 59, p. 206-215) yang menyatakan bahwa laut 
Pra-Kambrium bersifat alkalin dan sangat dijenuhi oleh mineral karbonat. 
Menurunnya alkalinitas laut dan kejenuhan karbonat dapat menerangkan lenyapnya 
stromatoporoids pada ujung Paleozoikum.

Hal menarik buat kita para ahli geologi adalah pembentukan habitat Satonda yang 
unik, yaitu terdapatnya danau kawah gunungapi (Danau Motitoi) yang diisi air 
laut. Dinding kawah Danau Motitoi curam berupa tebing setinggi 300 meter di 
atas muka laut, terbuat dari lapisan tuf, lapili, dan bom volkanik, dan 
ditemukan beberapa retas tiang (dike intrusion). Depresi kawah Satonda 
diperkirakan terbentuk oleh runtuhan di atas dapur magma gunungapi Satonda 
akibat letusan 10.000 tahun yang lalu sehingga membentuk kawah. Ke arah 
selatan, dinding kawah pada suatu waktu kemudian merosot ke arah laut, sehingga 
tebing kawah di sini hanya setinggi 13 meter di atas muka laut (dari sisi 
inilah Danau Motitoi mudah dicapai). Struktur dinding yang merosot ini 
membentuk sistem pertelukan sehingga laut menjorok memasuki wilayah kawah. Air 
laut masuk ke danau kawah, menggantikan air tawar yang semula ada. Peristiwa 
marine flooding ini terjadi pada 3150 ribu tahun yang lalu, berdasarkan peneraan
 karbon-14 pada lapisan gambut yang luas yang ditemukan di bawah lapisan 
karbonat. Penggalian di tepi danau menemukan lapisan-lapisan moluska dan 
gastropoda serta fauna marin lainnya. Saat laut mundur pada suatu waktu, 
lapisan2 ini menjadi lapisan penghalang dan kemudian menjadi pemisah permanen 
danau kawah Satonda dari laut terbuka. 

Saat ini Danau Motitoi telah kehilangan semua aksesnya ke laut di dekatnya. 
Akibatnya, air asin Satonda memiliki alkalinitas, pH, dan kejenuhan mineral 
karbonat yang lebih tinggi daripada laut di sekitarnya. Kondisi ini telah 
menghilangkan kemungkinan terdapatnya mikrobiota marin pada umumnya, tetapi 
sebaliknya ditemukan secara berlimpah struktur2 seperti terumbu gampingan yang 
disusun oleh ganggang merah, serpulids, foram, dan yang paling menakjubkan 
adalah ditemukannya lembaran-lembaran insitu cyannobacteria yang mengandung 
kalsit. Morfologi dan struktur mikro terumbu Satonda memiliki mikrobialites 
(deposit organo-sedimen gabungan struktur lembaran organik yang 
termineralisasi) yang mirip dengan stromatolit kurun Archean dan Proterozoikum 
atau stromatoporoids Paleozoikum (Kazmierczak dan Kempe, 1992 – Modern 
cyannobacterial counterparts of Paleozoic Wetheredella and related problematic 
fossils, Palaios 7, p. 294-304).

Pulau Satonda dan danau kawahnya oleh karena itu, merupakan laboratorium 
paleo-oseanografik yang sangat menarik yang berkembang pada saat Resen. 
Mikrobialit penyusun stromatolitnya mirip dengan mikrofosil stromatolit 
Pra-Kambrium dan Paleozoikum, yang terjadi pada lingkungan laut hipersalin, 
alkalin, miskin biota, tetapi kaya mikrobialit gampingan. Danau Motitoi 
memiliki ciri-ciri laut Pra-Kambrium dan Paleozoikum ini. Menyelam di Danau 
Motitoi, Pulau Satonda ibarat memasuki mesin atau terowongan waktu yang membawa 
orang dari Resen ke ratusan-ribuan jutaan tahun yang lalu saat Paleozoikum 
bahkan Pra-Kambrium. Maka, pulau sekecil Satonda yang belum tentu muncul atau 
bernama di banyak atlas anak sekolah, ternyata punya status keilmuan yang 
sangat besar.

salam,
awang

  -----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] ps.com [mailto:Geo_ [EMAIL PROTECTED] ps.com] On
Behalf Of heryadi rachmat
Sent: Friday, November 02, 2007 6:11 AM
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Subject: [Geo_unpad] Mohon bantuan kontak kang Awang

Ass. kahatur [EMAIL PROTECTED] <mailto:Geo_ Unpad%40yahoogro ups.com>
ps.com abdi bade nyuhunkeun tulung manawi rekan-rekan tiasa kontak
langsung ka kang Awang bade tumaros mengenai fosil stromatoloite yang
dilaporkan sebagai tumbuhan/hewan sel satu penghasil oksigen yang muncul
sejak Kambrium ? anu aya di Pulau Gunungapi Satonda di Dompu/Sumbawa
dengan stromatoloite anu aya di Australia Barat yang saat ini masih
hidup ?, kumargi abdi nuju aya penelitian tentang stromatoloite tersebut
kaitannya dengan makalah anu bade dipresentasikan di BJC2007 Bali. 
Kujalaran kitu manawi aya anu tiasa ngabantos dalam waktos yang
secepat-cepatnya dan sesingkat-singkatny a, hatur nuhun.


 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke