Chicxulub adalah salah satu contoh yang klasik buat meteor impact di bumi. 
Penemuannya diawali dari pencarian minyak bumi oleh Penfield, geophysicist nya 
PEMEX.

Tetapi ada beberapa tempat di bumi yang masih diperdebatkan sebagai tempat 
meteor impact. Salah satunya ada di offshore North Sea dekatnya UK yaitu 
Silverpit Crater.

Awalnya, Stewart (BP) dan Allen sedang melihat-lihat data seismik untuk mencari 
gas di sekitar Silverpit dan ternyata mereka menemukan struktur lingkaran 
konsentrik yang diyakini sebagai struktur yang terbentuk akibat meteor impact. 
Beberapa peneliti masih mempertanyakan apakah memang meteor impact yang 
membentuk struktur tersebut. Beberapa alasan diantaranya adalah karena 
kurangnya data pendukung seperti hadirnya tektite, mineral kuarsa yang biasanya 
memperlihatkan efek akibat impact, dll. 

Satu daerah lagi yang diperdebatkan sebagai meteor impact adalah Alamo di 
selatan Nevada utaranya Las Vegas. John Warme bersama-sama mahasiswa S2 nya 
dari Colorado School of Mines merintis penelitian ini. Beberapa muridnya (Alan 
Chamberlain, Brian Ackman, dan termasuk Pak Yarmanto (ini temannya Pak Andang 
waktu di CSM kalo ngga salah ya?)) melakukan field study dan membuat master 
thesisnya di daerah tersebut. Guilmette formation yang tersingkap di Tempiute 
Mountain memperlihatkan ciri-ciri carbonate shelf yang terkena meteor impact 
sehingga membentuk carbonate breccia yang dikenal dgn Alamo breccia. Sayangnya 
data pendukung seperti tektite dan mineral kuarsa yang menunjukkan efek dari 
impact tidak banyak ditemukan seperti di chicxulub. 

Berbeda dengan daerah Chesapeake di east coast of US yang juga lingkungannya 
marine, efek dari meteor impact sangat terlihat bahkan sampe basement rocknya 
terkena efek meteor impact.

Kira-kira kenapa meteor impact yang di North Sea dan Alamo susah diyakinkan 
padahal sama-sama marine lingkungannya? Apakah karena meteor yang menimpa 
Chesapeake terjadinya relatif lebih muda dan mengenai daerah yang sedimentnya 
relative tipis sehingga basement terkena efek dari meteor impact dan akhirnya 
lebih mudah diyakini sebagai produk meteor impact?

 

-doddy-

 

-----Original Message-----
From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Sunday, November 04, 2007 7:18 PM
To: vicki amir; IAGI; Geo Unpad; Eksplorasi BPMIGAS
Subject: [iagi-net-l] Re: biggest meteor impact on earth

 

Saya percaya dengan teori antipodal benturan meteorit/komet. Saya pernah 
menganalisis posisi antipodal beberapa benturan meteorit/komet besar dalam 
sejarah Bumi. Di bawah ini adalah satu di antaranya yang berhubungan dengan 
pertanyaan Sdr. Vicki Amir. Analisis ini pernah saya posting sekitar 4-5 tahun 
yang lalu; belum berubah. Mohon maaf buat yang pernah menerima ulasan ini; 
kebetulan saja ini ada rekan netter yang bertanya.

   

  salam,

  awang

   

  Kepunahan Massa oleh Antipodal Deccan Traps-Chicxulub Impact Crater 

   

  Bukan hal baru yang saya tulis ini, tetapi mencoba memahaminya dengan 
mengingat plume tectonics dan melakukan  revisi rekonstruksi paleo-tektonik, 
rasanya ada nafas baru dalam memandang problema lama. Maaf, agak panjang 
tulisannya tetapi semoga ada gunanya.

   

  Menarik mengkaji ulang peristiwa katastrofik di ujung Kapur dan awal Tersier 
(65 Ma) atau K-T (K=Kreide/Cretaceous & T=Tersier) Boundary. Fakta paleontologi 
menunjukkan 75 % spesies fauna'"tiba-tiba" punah. Teori-teori dikemukakan. 
Perdebatan pasti terjadi. Tulisan ini menghimpun semua perdebatan yang ada, 
memberi interpretasi baru-mencoba mengulas kaitan keberadaan antipode, plume 
tectonics, dan kepunahan massa. Plume tectonics mungkin tidak main-main. 
Kait-mengkaitnya unik dengan awal dan akhir kehidupan. 

   

  Tidak banyak buku geologi, astronomi, natural history membahas masalah 
antipode secara detail. Padahal, di solar system  antipode, yang memenuhi hukum 
aksi-reaksi Newton, benar2  terjadi di beberapa planet dan satelit. Misalnya, 
largest impact basin planet Mars Hellas Plenitia menyebabkan antipode Alba 
Patera, gunungapi Mars yang sekaligus merupakan gunungapi terbesar di Tata 
Surya. Atau, Caloris Basin, impact crater terbesar di sebuah sisi planet 
Merkurius menyebabkan antipode crater di sisi planet yang lain.

   

  Beberapa buku dari Dixon et al (2001) : Atlas of Life on Earth - Barnes & 
Noble; Desonie (1996) : Cosmic Collisions - Henry Holt & Co.; Marshal (2000) : 
Space - Marshal Publishing; dan Luhr et al. (2003) : Earth - Dorling Kindersley 
Ltd. lumayan bagus memberikan beberapa keterangan tentang impact crater dan 
antipode-nya di Bumi pada saat K-T Boundary (Cretaceous-Tertiary Boundary) dan 
hubungannya dengan mass faunal extinction di 65 Ma itu - sebuah kepunahan massa 
paling terkenal di Bumi meskipun bukan yang paling besar. 

   

  Antipode adalah sebuah istilah umum/geografi/astronomi dari bahasa Latin dan 
Yunani untuk menunjukkan posisi sebuah tempat di sisi sebaliknya (180 deg.) 
dari sebuah bola planet relatif terhadap posisi acuan. Misalnya, sisi antipodal 
dari wilayah Indonesia adalah Columbia. Artinya, Columbia tepat di bawah 
Indonesia di sisi planet yang lain dan sebaliknya. Di sebuah globe, tariklah 
garis bujur dari tempat itu ke arah kutub, melaluinya dan teruskan sampai 
sejauh 180 deg, itulah antipodenya. 

   

  Kepunahan fauna secara masal (75 %) di Bumi di perbatasan Kapur-Tersier telah 
menjadi topik menarik sejak puluhan tahun. Banyak teori dikemukakan. Kalau 
dikumpul2kan, bisa digolongkan jadi tiga : (1) katastrofik karena benturan 
komet/meteor, (2) katastrofik karena volkanisme, dan (3) gradualis karena 
perubahan iklim akibat massa lautan yang menyurut. Mana yang benar ? Saya 
pikir, semuanya benar, tetapi ada yang paling dominan dan bisa jadi semuanya 
berkaitan.

   

  Berkat penelitian oil companies di sekitar GOM (Gulf of Mexico) tahun 1980an, 
maka ditemukanlah sebuah kawah sangat besar dengan diameter 180 km di utara 
Tanjung Yucatan Mexico terkubur dalam sedimen setebal 2000 meter. Disebutlah 
kawah itu Chicxulub. Data image gravity dan magnetik dari Luhr et al. (2003) 
sangat spektakular menunjukkan keberadaan kawah itu. Di sekelilingnya sampai ke 
Kuba, Haiti, San Luis, dan Dallas sekarang ditemukan impact wave deposits 
berupa boulder2 dan data petrografik menunjukkan ciri khas shocked quartz 
(coesite Shoemaker) pada deposit itu, suatu indikasi meteorite impact. Bahkan 
di Haiti ditemukan lapisan tektit - deposit hasil meteorite impact setebal ½ 
meter. Semua dating absolut menunjukkan umur 65 Ma untuk deposit2 ini. Dan, di 
banyak tempat di dunia ditemukanlah lapisan tipis kaya mineral iridium menyisip 
di antara lapisan2 K-T Boundary, juga lapisan hitam yang mengindikasi sisa 
jelaga kebakaran skala global. Tidak banyak sumber platina

 iridium di Bumi, sumbernya hanya banyak di meteorit. Bagaimana mengartikan 
semua ini ? Sebuah meteorit yang diyakini berdiameter 10 km telah menghantam 
Bumi pada 65 Ma di sekitar Teluk Meksiko sekarang, mengangakan kawah selebar 
180 km, menyebabkan kebakaran global, dan akhirnya memunahkan 75 % spesies 
fauna saat itu yang sedang didominasi kaum dinosaurus. Penganut teori kepunahan 
K-T Boundary akibat meteorite-impact yang dipelopori ayah-anak Luis Alvarez & 
Walter Alvarez (Luis adalah ahli fisika dan Walter adalah geologist) 
mendapatkan buktinya dan inilah teori yang paling banyak dianut saat ini.

   

  Di sisi planet yang lain, di anak benua India sekarang, terdapatlah sebuah 
plato yang seluruhnya disusun basalt seluas 500.000 km2 (kira-kira hampir 
seluas Kalimantan di luar Sarawak-Sabah). Inilah Deccan Traps atau Deccan 
Plateau. Radiometric dating memberikan umur persis 65 Ma. Geologist berpikir, 
untuk menghasilkan flood basalt sebanyak itu (lebih dari 2 juta km3) tentu 
butuh waktu volkanisme yang lama. Sayangnya, radiometric dating menunjukkan 
bahwa volume sebanyak itu hanya dihasilkan dalam waktu satu juta tahun saja, 
sangat singkat dalam skala waktu geologi. Dalam hitungan volkanologi normal, 
tak mungkin sesingkat itu menghasilkan flood basalt seluas dan sebanyak itu. 
Maka para penganut teori kepunahan massa akibat katastrofik volkanisme 
mendapatkan kartu as-nya. Letusan volkanik di Deccan telah menyebabkan 
perubahan lingkungan global, hujan asam, volcanic winter akibat sun blocking 
(seperti 3 hari gelap saat erupsi Krakatau Agustus 1883), dan efek2 domino 
lainnya

 yang akhirnya menyebabkan kepunahan massa. 

   

  Mana yang benar, meteorite impact 65 Ma atau Deccan flood basalt voluminous 
eruption 65 Ma yang menyebabkan global mass extinction ? Dua-duanya bisa benar 
dan bahkan saling berhubungan sebab-akibat. Maka, sebuah teori elegan tetapi 
sangat kontroversial diajukan : meteorite/comet collision di Chicxulub-Teluk 
Meksiko telah menyebabkan erupsi volkanik skala besar di Deccan-India dalam 
mekanisme antipodal effect. Dan kedua efek katastrofik ini telah mengubah 
lingkungan global yang menyebabkan kepunahan masal di K-T boundary.

  Sebuah problem timbul. India bukan pada posisi antipodal Teluk Meksiko. 
Posisi antipodal Teluk Meksiko sekarang ada di tengah Lautan Hindia di BD 
Indonesia di sekitar Pulau Cocos. Atau, Deccan eruption akan memerlukan impact 
crater yang lain yang bukan dari Teluk Meksiko, tetapi di Lautan Pasifik pada 
tepi timur Lempeng Nazca di offshore barat Bolivia. Tidak ada tanda-tanda 
impact-crater di offshore Bolivia ini. Teori antipode punya problem..., begitu 
kata publikasi yang ada. 

   

  Benarkah punya problem ? Saya rasa tidak. Kembalikan saja ke posisi tektonik 
massa benua dan lautan pada sekitar 65 Ma. Antipodal position 65 Ma mestinya 
tidak diplot pada globe 0 Ma, tetapi pada globe 65 Ma. Maka akan terlihat bahwa 
saat itu India belum di tempatnya sekarang dan belum membentur Eurasia dan 
membentuk suture Cimmerian. India micro-plate saat itu ada di tengah Lautan 
Hindia di selatan di antara Afrika dan Indonesia. Dan Teluk Meksiko pun belum 
pada bentuknya sekarang, North America masih terbelah dari Canada ke Teluk 
Meksiko oleh Cretaceous giant seaway. Antilles Arc belum ada dan South America 
belum menyambung ke North America melalui tanah genting Panama.

   

  Komet/meteorit jatuh di proto-Teluk Meksiko dan menggoncangkan Bumi dengan 
gelombang kejut ke seluruh globe (shock-wave). Gelombang kejut ini telah 
mengganggu kesetimbangan fluida di mantel bahkan outer core Bumi. Maka mantle 
plume bergerak berupa pasangan head dan tail plume menjurus ke posisi antipodal 
impact crater Chicxulub saat itu yaitu ke wilayah Lautan Hindia di antara 
Afrika dan Indonesia. Head plume menyebabkan volkanisme flood basalt dengan 
akar panjang ke dalam mantel di ujung tailnya. Erupsi basalt besar-besaran 
membanjiri kawasan seluas 500.000 km2 yang sekarang berupa Deccan Plateau di 
India, saat itu India microplate tengah terapung di atas kerak samudra Lautan 
Hindia bergerak ke utara. Massa flood basalt sebanyak itu dalam waktu sesingkat 
itu hanya bisa diterangkan dengan plume tectonics, bukan oleh normal 
volcanology. Meteorit impact dan volkanisme skala global pada 65 Ma itu telah 
cukup mengubah lingkungan yang hostile untuk semua makhluk hidup. Sebuah

 implikasi akan muncul dari interpretasi ini. Kalau benar antipodal Chicxulub 
ada di sekitar Cocos Island, artinya India saat 65 Ma ada di sekitar Cocos 
island sekarang, maka India sebelum retak harus bersatu dengan bagian barat 
Australia, bukan dengan bagian timur Afrika seperti kebanyakan rekonstruksi 
sekarang. Saya jadi ingat rekonstruksi Carey (1956), salah satu dari sedikit 
publikasi yang menaruh posisi paleotektonik India ke Australia dan bukan ke 
Afrika.

   

  Lepas dari implikasi itu, Deccan Traps memang antipodal Chicxulub Crater. 
Problem yang ada timbul karena plotting antipodal position tak dilakukan pada 
globe 65 Ma. K-T Boundary Mass Extinction adalah kerja sama berdua antara 
extra-terrestrial astroblem di Chicxulub dan terrestrial volcanism di Deccan 
Traps.

   

  Salam,

  awang

  

 

vicki amir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

          Assalamualaikum wr.wb

 

Pak Awang , terimakasih atas penjelasan bapak dalam email sebelumnya...

saya sempat membaca mengenai email bapak di geounpad yang membahas mengenai 
biggest impact on earth yang terdapat di Wilkes, Antartica, hingga efek 
antipode yg ditimbulkannya (siberian traps flood basalt)...yang ingin saya 
tanyakan adalah, sebelum atau sesudah meteor itu membentur bumi apakah ada 
meteor2 yang lain lagi yg collide dan memberikan efek antipode yang signifikan 
sama dengan Wilkes meteor ini?bagaimana dengan origin dari deccan traps?

 

Wassalam

Regards

Vicki Rezky Amir

 

 

 

  

---------------------------------

  Copy addresses and emails from any email account to Yahoo! Mail - quick, easy 
and free. Do it now...

 

 __________________________________________________

Do You Yahoo!?

Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 

http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke