Saya percaya dengan teori antipodal benturan meteorit/komet. Saya pernah
menganalisis posisi antipodal beberapa benturan meteorit/komet besar dalam
sejarah Bumi. Di bawah ini adalah satu di antaranya yang berhubungan dengan
pertanyaan Sdr. Vicki Amir. Analisis ini pernah saya posting sekitar 4-5 tahun
yang lalu; belum berubah. Mohon maaf buat yang pernah menerima ulasan ini;
kebetulan saja ini ada rekan netter yang bertanya.
salam,
awang
Kepunahan Massa oleh Antipodal Deccan Traps-Chicxulub Impact Crater
Bukan hal baru yang saya tulis ini, tetapi mencoba memahaminya dengan
mengingat plume tectonics dan melakukan revisi rekonstruksi paleo-tektonik,
rasanya ada nafas baru dalam memandang problema lama. Maaf, agak panjang
tulisannya tetapi semoga ada gunanya.
Menarik mengkaji ulang peristiwa katastrofik di ujung Kapur dan awal Tersier
(65 Ma) atau K-T (K=Kreide/Cretaceous & T=Tersier) Boundary. Fakta paleontologi
menunjukkan 75 % spesies faunatiba-tiba punah. Teori-teori dikemukakan.
Perdebatan pasti terjadi. Tulisan ini menghimpun semua perdebatan yang ada,
memberi interpretasi baru-mencoba mengulas kaitan keberadaan antipode, plume
tectonics, dan kepunahan massa. Plume tectonics mungkin tidak main-main.
Kait-mengkaitnya unik dengan awal dan akhir kehidupan.
Tidak banyak buku geologi, astronomi, natural history membahas masalah
antipode secara detail. Padahal, di solar system antipode, yang memenuhi hukum
aksi-reaksi Newton, benar2 terjadi di beberapa planet dan satelit. Misalnya,
largest impact basin planet Mars Hellas Plenitia menyebabkan antipode Alba
Patera, gunungapi Mars yang sekaligus merupakan gunungapi terbesar di Tata
Surya. Atau, Caloris Basin, impact crater terbesar di sebuah sisi planet
Merkurius menyebabkan antipode crater di sisi planet yang lain.
Beberapa buku dari Dixon et al (2001) : Atlas of Life on Earth Barnes &
Noble; Desonie (1996) : Cosmic Collisions Henry Holt & Co.; Marshal (2000) :
Space Marshal Publishing; dan Luhr et al. (2003) : Earth Dorling Kindersley
Ltd. lumayan bagus memberikan beberapa keterangan tentang impact crater dan
antipode-nya di Bumi pada saat K-T Boundary (Cretaceous-Tertiary Boundary) dan
hubungannya dengan mass faunal extinction di 65 Ma itu sebuah kepunahan massa
paling terkenal di Bumi meskipun bukan yang paling besar.
Antipode adalah sebuah istilah umum/geografi/astronomi dari bahasa Latin dan
Yunani untuk menunjukkan posisi sebuah tempat di sisi sebaliknya (180 deg.)
dari sebuah bola planet relatif terhadap posisi acuan. Misalnya, sisi antipodal
dari wilayah Indonesia adalah Columbia. Artinya, Columbia tepat di bawah
Indonesia di sisi planet yang lain dan sebaliknya. Di sebuah globe, tariklah
garis bujur dari tempat itu ke arah kutub, melaluinya dan teruskan sampai
sejauh 180 deg, itulah antipodenya.
Kepunahan fauna secara masal (75 %) di Bumi di perbatasan Kapur-Tersier telah
menjadi topik menarik sejak puluhan tahun. Banyak teori dikemukakan. Kalau
dikumpul2kan, bisa digolongkan jadi tiga : (1) katastrofik karena benturan
komet/meteor, (2) katastrofik karena volkanisme, dan (3) gradualis karena
perubahan iklim akibat massa lautan yang menyurut. Mana yang benar ? Saya
pikir, semuanya benar, tetapi ada yang paling dominan dan bisa jadi semuanya
berkaitan.
Berkat penelitian oil companies di sekitar GOM (Gulf of Mexico) tahun 1980an,
maka ditemukanlah sebuah kawah sangat besar dengan diameter 180 km di utara
Tanjung Yucatan Mexico terkubur dalam sedimen setebal 2000 meter. Disebutlah
kawah itu Chicxulub. Data image gravity dan magnetik dari Luhr et al. (2003)
sangat spektakular menunjukkan keberadaan kawah itu. Di sekelilingnya sampai ke
Kuba, Haiti, San Luis, dan Dallas sekarang ditemukan impact wave deposits
berupa boulder2 dan data petrografik menunjukkan ciri khas shocked quartz
(coesite Shoemaker) pada deposit itu, suatu indikasi meteorite impact. Bahkan
di Haiti ditemukan lapisan tektit deposit hasil meteorite impact setebal ½
meter. Semua dating absolut menunjukkan umur 65 Ma untuk deposit2 ini. Dan, di
banyak tempat di dunia ditemukanlah lapisan tipis kaya mineral iridium menyisip
di antara lapisan2 K-T Boundary, juga lapisan hitam yang mengindikasi sisa
jelaga kebakaran skala global. Tidak banyak sumber platina
iridium di Bumi, sumbernya hanya banyak di meteorit. Bagaimana mengartikan
semua ini ? Sebuah meteorit yang diyakini berdiameter 10 km telah menghantam
Bumi pada 65 Ma di sekitar Teluk Meksiko sekarang, mengangakan kawah selebar
180 km, menyebabkan kebakaran global, dan akhirnya memunahkan 75 % spesies
fauna saat itu yang sedang didominasi kaum dinosaurus. Penganut teori kepunahan
K-T Boundary akibat meteorite-impact yang dipelopori ayah-anak Luis Alvarez &
Walter Alvarez (Luis adalah ahli fisika dan Walter adalah geologist)
mendapatkan buktinya dan inilah teori yang paling banyak dianut saat ini.
Di sisi planet yang lain, di anak benua India sekarang, terdapatlah sebuah
plato yang seluruhnya disusun basalt seluas 500.000 km2 (kira-kira hampir
seluas Kalimantan di luar Sarawak-Sabah). Inilah Deccan Traps atau Deccan
Plateau. Radiometric dating memberikan umur persis 65 Ma. Geologist berpikir,
untuk menghasilkan flood basalt sebanyak itu (lebih dari 2 juta km3) tentu
butuh waktu volkanisme yang lama. Sayangnya, radiometric dating menunjukkan
bahwa volume sebanyak itu hanya dihasilkan dalam waktu satu juta tahun saja,
sangat singkat dalam skala waktu geologi. Dalam hitungan volkanologi normal,
tak mungkin sesingkat itu menghasilkan flood basalt seluas dan sebanyak itu.
Maka para penganut teori kepunahan massa akibat katastrofik volkanisme
mendapatkan kartu as-nya. Letusan volkanik di Deccan telah menyebabkan
perubahan lingkungan global, hujan asam, volcanic winter akibat sun blocking
(seperti 3 hari gelap saat erupsi Krakatau Agustus 1883), dan efek2 domino
lainnya
yang akhirnya menyebabkan kepunahan massa.
Mana yang benar, meteorite impact 65 Ma atau Deccan flood basalt voluminous
eruption 65 Ma yang menyebabkan global mass extinction ? Dua-duanya bisa benar
dan bahkan saling berhubungan sebab-akibat. Maka, sebuah teori elegan tetapi
sangat kontroversial diajukan : meteorite/comet collision di Chicxulub-Teluk
Meksiko telah menyebabkan erupsi volkanik skala besar di Deccan-India dalam
mekanisme antipodal effect. Dan kedua efek katastrofik ini telah mengubah
lingkungan global yang menyebabkan kepunahan masal di K-T boundary.
Sebuah problem timbul. India bukan pada posisi antipodal Teluk Meksiko.
Posisi antipodal Teluk Meksiko sekarang ada di tengah Lautan Hindia di BD
Indonesia di sekitar Pulau Cocos. Atau, Deccan eruption akan memerlukan impact
crater yang lain yang bukan dari Teluk Meksiko, tetapi di Lautan Pasifik pada
tepi timur Lempeng Nazca di offshore barat Bolivia. Tidak ada tanda-tanda
impact-crater di offshore Bolivia ini. Teori antipode punya problem
, begitu
kata publikasi yang ada.
Benarkah punya problem ? Saya rasa tidak. Kembalikan saja ke posisi tektonik
massa benua dan lautan pada sekitar 65 Ma. Antipodal position 65 Ma mestinya
tidak diplot pada globe 0 Ma, tetapi pada globe 65 Ma. Maka akan terlihat bahwa
saat itu India belum di tempatnya sekarang dan belum membentur Eurasia dan
membentuk suture Cimmerian. India micro-plate saat itu ada di tengah Lautan
Hindia di selatan di antara Afrika dan Indonesia. Dan Teluk Meksiko pun belum
pada bentuknya sekarang, North America masih terbelah dari Canada ke Teluk
Meksiko oleh Cretaceous giant seaway. Antilles Arc belum ada dan South America
belum menyambung ke North America melalui tanah genting Panama.
Komet/meteorit jatuh di proto-Teluk Meksiko dan menggoncangkan Bumi dengan
gelombang kejut ke seluruh globe (shock-wave). Gelombang kejut ini telah
mengganggu kesetimbangan fluida di mantel bahkan outer core Bumi. Maka mantle
plume bergerak berupa pasangan head dan tail plume menjurus ke posisi antipodal
impact crater Chicxulub saat itu yaitu ke wilayah Lautan Hindia di antara
Afrika dan Indonesia. Head plume menyebabkan volkanisme flood basalt dengan
akar panjang ke dalam mantel di ujung tailnya. Erupsi basalt besar-besaran
membanjiri kawasan seluas 500.000 km2 yang sekarang berupa Deccan Plateau di
India, saat itu India microplate tengah terapung di atas kerak samudra Lautan
Hindia bergerak ke utara. Massa flood basalt sebanyak itu dalam waktu sesingkat
itu hanya bisa diterangkan dengan plume tectonics, bukan oleh normal
volcanology. Meteorit impact dan volkanisme skala global pada 65 Ma itu telah
cukup mengubah lingkungan yang hostile untuk semua makhluk hidup. Sebuah
implikasi akan muncul dari interpretasi ini. Kalau benar antipodal Chicxulub
ada di sekitar Cocos Island, artinya India saat 65 Ma ada di sekitar Cocos
island sekarang, maka India sebelum retak harus bersatu dengan bagian barat
Australia, bukan dengan bagian timur Afrika seperti kebanyakan rekonstruksi
sekarang. Saya jadi ingat rekonstruksi Carey (1956), salah satu dari sedikit
publikasi yang menaruh posisi paleotektonik India ke Australia dan bukan ke
Afrika.
Lepas dari implikasi itu, Deccan Traps memang antipodal Chicxulub Crater.
Problem yang ada timbul karena plotting antipodal position tak dilakukan pada
globe 65 Ma. K-T Boundary Mass Extinction adalah kerja sama berdua antara
extra-terrestrial astroblem di Chicxulub dan terrestrial volcanism di Deccan
Traps.
Salam,
awang
vicki amir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamualaikum wr.wb
Pak Awang , terimakasih atas penjelasan bapak dalam email sebelumnya...
saya sempat membaca mengenai email bapak di geounpad yang membahas mengenai
biggest impact on earth yang terdapat di Wilkes, Antartica, hingga efek
antipode yg ditimbulkannya (siberian traps flood basalt)...yang ingin saya
tanyakan adalah, sebelum atau sesudah meteor itu membentur bumi apakah ada
meteor2 yang lain lagi yg collide dan memberikan efek antipode yang signifikan
sama dengan Wilkes meteor ini?bagaimana dengan origin dari deccan traps?
Wassalam
Regards
Vicki Rezky Amir
---------------------------------
Copy addresses and emails from any email account to Yahoo! Mail - quick, easy
and free. Do it now...
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com