Kemana aja kang Amir? Lagi di India ya? Kapan ke GoT lagi ? Tambah banyak sekarang wong indo di kantor.
Sangat menarik kalo melihat potensi bangsa Indonesia di kancah international terutama sebagai penghasil tenaga2 ahli G&G. Kalo di Indonesia ada ITB, UGM, Unpad, UPN dan lain-lain bahkan sekarang mulai merambah ke Unibraw dan ITS untuk jurusan G&G nya. Di Malaysia ada UKM, USM, dan UM dimana Pak Djia yg dulu mengenyam pendidikannya di ITB dan sempat mengajar beberapa tahun di ITB sebelum kemudian menjadi salah satu staff pengajar di UKM sampai akhirnya sekarang di Petronas. Perkembangan jurusan G&G di Thailand juga semakin marak. Dimulai dari Chulalongkorn University dan Chiang Mai University sampai akhirnya sekarang ada Kong Kaen, Mahidol dan Suraknaree. Bahkan kabarnya Chulalongkorn University berminat bekerja sama dengan beberapa staf pengajar ex UBD (Chris Morley dan Joe Lambiase yang kebetulan sekarang bekerja di Thailand juga) untuk mencoba membentuk pendidikan semacam UBD di Chulalongkorn University untuk mengisi kekurangan tenaga G&G di Thailand. Tetapi ada beberapa negara yang juga patut diwaspadai sebagai salah satu pencetak G&G di SE Asia selain Malaysia walaupun sekarang jumlahnya belum banyak. Negara-negara itu adalah Vietnam dan Myanmar yang sekarang sedang berusaha mengejar ketinggalannya. Terlebih-lebih dengan banyaknya ditemukan cadangan gas di offshore Myanmar (Yadana & Yetagun). Untuk Vietnam, negara ini termasuk salah satu negara di SE Asia yang mampu bersaing dgn cepat. Salah satu buktinya adalah perkembangan sepak bola di Vietnam yg skrg tdk bisa dipandang sebelah mata :-). Basement reservoir menjadi ciri khas negara Vietnam sehingga banyak G&G mereka yang belajar fracture modeling yang kemungkinan besar sama kasusnya dgn di mid east hanya batuannya karbonat. Bahkan the best presentation untuk HAGI kemarin disabet oleh Nguyen (Landmark KL) yang background nya sendiri sebenarnya adalah hardrock. Sekarang tenaga G&G Vietnam tersebar di Malaysia dan Thailand. Jadi kalo sekarang Indonesia bisa menjadi salah satu penghasil G&G di SE Asia region, ke depannya ada kemungkinan kita juga harus berjuang dgn tenaga2 G&G dari negara lain di SE Asia seperti Vietnam dan Myanmar. Apalagi kalo mereka mau dibayar lebih murah dari tenaga G&G indonesia. Kalo kata mbah saya dulu, untuk kasus memberi atau diberi.....lebih baik tangan diatas dari pada tangan di bawah....tapi kalo demi kemajuan lebih baik kita melihat ke atas daripada melihat ke bawah. -doddy- -----Original Message----- From: Amir Al Amin [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Saturday, December 01, 2007 10:59 PM To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Fwd: Mideast is set to lose 40 per cent of skilled oil workers over next ten years DI Thailand ada dua jurusan geology yang menonjol. Chulalongkorn University (yang di rintis oleh Klompe juga) di Bangkok dan Chiang Mai University di Chiang Mai.. Lulusan Chula, banyak juga yang bekerja di Oil & Gas, PTTEP, Unocal, .... Di Brunei, ada UBD. Entah ada S1/ BSc -nya enggak. Geologist PTTEP-Thailand banyak dikirim S2 program 1 tahun kesana. Di Philipine setahu saya ada dua. Lulusannya banyak di mining. Tetapi ada juga di Oil & Gas jadi Mudlogger, WSG. Di India, banyak universitas buka geology, dan murah meriah. Banyak Mudlogger orang India, MSc geology berhamburan. Mudlogger saja ada yang PhD. Yang geologist sepertinya banyak di Middle East?? Ada juga yang ke Petronas. Soal Kualitas, sepertinya Indonesia masih lebih baik. Ya maklum, karena kita banyak cekungan minyak dari Sabang sampai Merauke. Mudah2 memang data sumur, seismik, outcrop,.... sudah di maksimalkan untuk kemajuan sekolah geology kita. salam,

