> Andang , Awang (akh jago jago A A namanya)

Si Abah
jadi ketari neich .
Asal usul kok ngebor itu pake eksplorasi apa ya
?
Mungkin tahu ? 

Si Abah

_________________________________________________________________


   Kembali ke pertanyaan mas BM: "Bagaimana
asal-usul iodine di Watudakon 
> tersebut"? 
> 
> Selain merujuk ke referensi yg terserak ttg geologi yodium dari
internet, 
> beberapa 
> "fakta" dari yodium di
Watudakon tersebut nampaknya juga bisa dijadikan 
>
"clue" sekaligus "constraint" dari genesanya. 
> 
> 1. Asosiasi-nya dengan "connate-water" yang
punya salinity 20.000 ppm NaCl 
> equivalent menandakan bahwa
initial pore-water dari aquifer Yodium 
> tersebut 
>
berasal dari pengendapan laut (marine - seawater) dengan "sedikit
sekali" 
> (kalaupun ada) encroachment meteoric water. 
> 
> 2. Hal tersebut juga dikuatkan oleh informasi independen
lainnya yang 
> menyatakan bahwa lingkungan pengendapan aquifer
tersebut adalah "bathyal" 
> dan mekanisme
pengendapannya "arus turbid". 
> 
> 3.
Konsentrasi Yodium di air laut terbuka di daerah tropis, normal 
>
rata2nya 
> 0.064 ppm (Turekian, 1968); bahkan di Jepang malah
0.05 ppm 
>
(http://www.gasukai.co.jp/english/iodine/materials.html) . Dengan demikian

> konsentrasi yodium s/d 100 ppm (2000 kali lipat) di Watudakon

> seharusnyalah 
> diakibatkan oleh proses pengayaan, yg
salaha satunya mungkin diakibatkan 
> oleh konsentrasi 
>
berlebihan dari organisme penyerap yodium (ganggang, karang, dsb) 
> 
> 4. Sayangnya,... seperti diungkapkan juga oleh mas BM,
ganggang dan coral 
> yang 
> biasa menyerap yodium
berlebihan itu hidupnya di laut dangkal - photic 
> zone, 
> yang jauh dari batimetri bathyal seperti disyaratkan oleh
interpretasi 
> sedimentologi-biostrat. Dengan demikian
konsentrasi berlebihan akibat 
> akumulasi organisme penyerap
yodium dalam sedimen menjadi tidak mungkin 
> dijadikan
"alasan" konsentrasi yang tinggi tersebut. 
> 
>
5. Kemungkinan lainnya adalah: pengayaan yodium yang diakibatkan oleh 
> pelarutan yodium dari fragmen-fragmen batuan volkanik yang menjadi

> komponen 
> penyusun turbidit. Pelarutan terjadi pada
waktu proses diagenesa 
> penguburan 
> sedimen yang cepat
sehingga masuk ke jendela temperatur dimana kestabilan 
> yodium
dalam mineral terganggu. Bersamaan dengan pemerasan air dalam 
>
sedimen 
> yang diakbatkan kompaksi, maka yodium terlarut itu akan
tertransport 
> bersamaan dengan air asin (air laut yg
terperangkap dalam lempung) 
> kemudian 
> masuk dalam
carrier bed / aquifer batupasir volkanik yang porous dan 
>
meningkatkan konsentrasi yodium di aquifer tersebut. Dengan demikian yang

> perlu ditelisik lebih lanjut adalah: jenis batuan volkanik apa
di Jawa 
> Timur 
> yang punya kandungan yodium agak di
luar anomali? Beberapa literatur 
> menyebutkan: andesit-baslat
tertentu mempunyai kadar yodium yang relatif 
> lebih tinggi dari
volkanik lainnya. Mungkin kawan-kawan volkanologist 
> dapat 
> memberikan enlightment dari titik diskusi ini. (Note: mungkin saja
jenis 
> volkanik di Jawa Timur ini berbeda dengan jenis volkanik
yang ada Jawa 
> Barat, sehingga kita tidak menemukan fenomena
pengayaan yodium yang serupa 
> di Cekungan Bogor). 
> 
> 6. Dengan alur pemikiran spt diungkapkan di nomer 5 di atas, maka
dapat 
> dijelaskan kenapa kita tidak menjumpai anomali yodium di
connate-water di 
> Cekungan Kutai, terutam di bagia hilir: dimana
influx fragmen volkaniknya 
> hampir bisa dikatakan minor,..
komponen pembentuk butir/fragmen sedimennya 
> pada umumnya
recycled quartz. 
> 
> 7. Di daerah mud-diapir Kutai pun
kita tidak mendapatkan kadar yodium yang 
> mencurigakan, walaupun
air formasi yang terkait dengan sedimen2 yang 
> dikeluarkan oleh
diapir tersebut juga asin - air laut (+/- 20.000 ppm 
> NaCl) 
> 
> Salam 
> 
> Andang Bachtiar 
>
GDA Sedimentologist 
> 
> ----- Original Message ----- 
> 
From: "Awang Harun Satyana"
<[EMAIL PROTECTED]> 
> To: <[email protected]> 
> Sent: Monday, January 28, 2008 8:19 AM 
> Subject: RE:
[iagi-net-l] Yodium & mud diapirism 
> 
> 
>
Pak Suratman, guru saya sewaktu di PPT-Migas Cepu (1990), pernah menulis

> soal geologi yodium, khususnya yang di Jawa Timur, di
Proceedings PIT 
> IAGI. 
> Edisi ke berapa, nanti saya
cek lagi. 
> 
> Saat ini 95 % kebutuhan yodium dunia
dipasok oleh Chili, Amerika, Jepang 
> yang mengekstraksi yodium
dari "Chili salt", semacam halit sepertinya, di 
>
Indonesia sulit kelihatannya mendapatkan deposit semacam saltrock seperti

> Chili salt. 
> 
> Yodium kan terdapat juga di
air laut atau ganggang seperti yang Pak 
> Bambang 
>
sebutkan. Kelihatannya dari asal itulah yang diekstraksi di PT Kimia Farma

> Watudakon, Mojokerto. Produksinya 100-120 ton/tahun, bisa
memenuhi pasar 
> domestik. Perusahaan tersebut memproduksi iodium
dari bahan baku air sumur 
> artesis yang digali hingga kedalaman
200 meter untuk sumur dangkal dan 700 
> meter untuk sumur dalam.
Kandungan ion iodida air sumur berkisar antara 
> 60-130 mg/L. 
> 
> Menggenjot produksinya, kiranya bisa dilakukan dengan
dua cara : 
> intensifikasi dan ekstensifikasi (jadi ingat program
peningkatan 
> pangan/padi 
> yang digulirkan oleh alm.
Pak Suharto, presiden RI ke-2). Intensifikasi, 
> ya 
>
membor sumur2 baru di sekitar Watudakon atau memperbaiki sumur2 tua yang

> sudah 200 tahun umurnya itu. Ekstensifikasi, ya mencari deposit
yodium 
> baru, 
> sementara ini ikuti saja jalur
Watudakon ke arah barat, masih sama kok 
> geologinya.
Ekstensifikasi ini terbukti di lapangan2 Cepu. Berdasarkan 
>
hasil 
> survei dan penelitian yang dilakukan sebuah perusahaan
sebenarnya 
> sumur-sumur tersebut mempunyai cadangan deposit
iodium yang potensial. 
> Diantaranya adalah sumur minyak bumi
Lapangan Ledok dan Nglobo, yang 
> dikelola oleh Pertamina-Cepu,
masing-masing mempunyai kapasitas air total 
> sebesar 500 m3/hari
dan 700 m3/hari serta mengandung iodida sebesar 60-170 
> mg/L.

> 
> Sampai saat ini limbah cair itu belum dimanfaatkan
dan dibuang begitu saja 
> ke sungai atau laut. Tidak ada
perbedaan teknologi proses yang digunakan 
> dalam produksi iodium
dari air asosiasi minyak ini, kecuali penambahan 1 
> buah unit
pre-treatment. Unit tersebut berperan memisahkan sisa-sisa 
>
partikel minyak dan dapat dilakukan pemisahan secara mekanis atau adsorbsi

> menggunakan batuan aluminosilikat-seperti kaolin, bentonit atau
zeolit. 
> 
> Pemanfaatan limbah air sumur minyak jelas
banyak gunanya : mengurangi 
> pencemaran, menghasilkan yodium,
menghemat devisa negara untuk impor, dan 
> jelas mengatasi
penyakit2 GAKI (gangguan akibat kekurangan iodium). 
> 
>
Salam, 
> awang 
> 
> -----Original Message-----

> 
From: Bambang Satya Murti [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> Sent: Sunday, January 27, 2008 11:45 C++ 
> To: IAGI NET

> Subject: [iagi-net-l] Yodium & mud diapirism 
> 
> Sharing knowledge saja 
> Yodium merupakan salah satu
komponen vital dalam kehidupan 
> kita...cerita-nya 
>
bisa panjang ditinjau dari segi medis. Njenengan luka, hmm, perlu Iodine

> Providon ("Betadin"), dalam garam dapur, hmm,
mencegah kretinisme 
> ("kerdil")...dst..dst.. 
> Lha di Indonesia, yodium di ekstrak secara komersial di plant
Watudakon, 
> Jombang, dari deep water well yang memproduksi brine
water dari formasi 
> Pucangan - Kalibeng, dengan konsentrasi NaCl
sekitar 20,000 ppm. Tinggi 
> kan? 
> Sementara,
konsentrasi iodine-nya hanya sekitar 100 ppm. 
> Nah, yang
menarik, aquifer dari kedua formasi tersebut di daerah 
>
Watudakon, 
> berdasarkan core dan data biostrat yang pernah
dilakukan, menunjukkan umur 
> Plio-Pleistosen, dan besar
kemungkinan diendapkan dalam lingkungan bathyal 
> dan arus
turbid. 
> Menjadi semakin menarik, karena dalam beberapa
literatur, iodine merupakan 
> hasil dekomposisi red algae, yang
umumnya dijumpai dalam lingkungan laut 
> dangkal yang beriklim
hangat. 
> Sekarang, pertanyaannya, bagaimana asal-usul iodine di
Watudakon tersebut? 
> Jelas, "beliau"-nya bukan
merupakan "mahluk" indigenous di aquifer-nya. 
>
Barangkali lateral migration dari facies lain di formasi yang setara? ATau

> justru migrate dari deepr & older formation, let's say,
setara Ngimbang? 
> Barangkali ada yang pernah
"utak-atik" mengenai hal tersebut? Rekan-rekan 
> di 
> Kaltim barangkali ada yang pernah melakukan extraksi atau analysis
water 
> content dari air yang ter produksi dan melihat keberadaan
unsur I 
> tersebut? 
> Adakah dia-nya
"bersimbiose" dengan let's say, mud diapirism? 
> 
> Salam, 
> Bambang 
> 
> 
> 
> 
>
____________________________________________________________________________________

> Be a better friend, newshound, and 
> know-it-all with
Yahoo! Mobile. Try it now. 
>
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 
> 
> This email was Anti Virus checked by Administrator. 
>
http://www.bpmigas.com 
> 
> 
> 
>
----------------------------------------------------------------------------

> To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id 
> To subscribe, send email to:
iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id 
> Visit IAGI Website:
http://iagi.or.id 
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: 
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta 
> No. Rek: 123
0085005314 
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) 
> Bank BCA KCP. Manara Mulia 
> No. Rekening: 255-1088580 
> A/n: Shinta Damayanti 
> IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ 
> IAGI-net
Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi 
>
--------------------------------------------------------------------- 
> 
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
information 
> posted 
> on its mailing lists, whether
posted by IAGI or others. In no event shall 
> IAGI and its
members be liable for any, including but not limited to 
> direct

> or indirect damages, or damages of any kind whatsoever,
resulting from 
> loss 
> of use, data or profits, arising
out of or in connection with the use of 
> any 
>
information posted on IAGI mailing list. 
> 
>
--------------------------------------------------------------------- 
> 
> 
>
----------------------------------------------------------------------------

> To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id 
> To subscribe, send email to:
iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id 
> Visit IAGI Website:
http://iagi.or.id 
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: 
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta 
> No. Rek: 123
0085005314 
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) 
> Bank BCA KCP. Manara Mulia 
> No. Rekening: 255-1088580 
> A/n: Shinta Damayanti 
> IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ 
> IAGI-net
Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi 
>
--------------------------------------------------------------------- 
> 
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
information 
> posted on its mailing lists, whether posted by IAGI
or others. In no event 
> shall IAGI and its members be liable for
any, including but not limited to 
> direct or indirect damages,
or damages of any kind whatsoever, resulting 
> from loss of use,
data or profits, arising out of or in connection with 
> the use
of any information posted on IAGI mailing list. 
> 
>
--------------------------------------------------------------------- 
> 
> 

Kirim email ke