Sharing knowledge saja
Yodium merupakan salah satu komponen vital dalam kehidupan kita...cerita-nya 
bisa panjang ditinjau dari segi medis. Njenengan luka, hmm, perlu Iodine 
Providon ("Betadin"), dalam garam dapur, hmm, mencegah kretinisme 
("kerdil")...dst..dst..
Lha di Indonesia, yodium di ekstrak secara komersial di plant Watudakon, 
Jombang, dari deep water well yang memproduksi brine water dari formasi 
Pucangan - Kalibeng, dengan konsentrasi NaCl sekitar 20,000 ppm. Tinggi kan? 
Sementara, konsentrasi iodine-nya hanya sekitar 100 ppm.
Nah, yang menarik, aquifer dari kedua formasi tersebut di daerah Watudakon, 
berdasarkan core dan data biostrat yang pernah dilakukan, menunjukkan umur 
Plio-Pleistosen, dan besar kemungkinan diendapkan dalam lingkungan bathyal dan 
arus turbid. 
Menjadi semakin menarik, karena dalam beberapa literatur, iodine merupakan 
hasil dekomposisi red algae, yang umumnya dijumpai dalam lingkungan laut 
dangkal yang beriklim hangat. 
Sekarang, pertanyaannya, bagaimana asal-usul iodine di Watudakon tersebut? 
Jelas, "beliau"-nya bukan merupakan "mahluk" indigenous di aquifer-nya. 
Barangkali lateral migration dari facies lain di formasi yang setara? ATau 
justru migrate dari deepr & older formation, let's say, setara Ngimbang?
Barangkali ada yang pernah "utak-atik" mengenai hal tersebut? Rekan-rekan di 
Kaltim barangkali ada yang pernah melakukan extraksi atau analysis water 
content dari air yang ter produksi dan  melihat keberadaan unsur I tersebut? 
Adakah dia-nya "bersimbiose" dengan let's say, mud diapirism?

Salam,
Bambang




      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

Kirim email ke