Mas, saat ini saya asumsikan bahwa reservoir carbonat non fracture (kalau
fracture lain lagi ceritanya)

untuk planning horisontal well tentu sudah ada data dari well sekitarnya (
baik posisi dari gas cap atau freewater levelnya) sehingga uncertainitynya
juga umumnya sudah tidak besar.
umumnya juga sudah ada study tentang type carbonate ( apakah sistem
carbonate oolithic, reef, karstic ) dan petrophysicnya (pc curve, kr, bubble
point, gas expansion, production history dari well sekitarnya, data dst,
pretest dsb) sehingga pertanyaan tentang moveable waternya ( atau bahkan
jenis drive dari field kita) juga sudah beres

nah setelah semua itu terjawab, baru kita tentukan posisi optimum dari
horisontal well kita .
umumnya kita akan berusaha menghindari gas cap (menjaga supaya pressure
reservoir kita tidak cepat drop) dan juga menghindari water breaktrough yang
terlalu cepat( lost well). Nah sekarang di fieldnya mana drive yang lebih
dominan ( apakah gas expansion atau water drive ?), dari situ baru kita
tentukan posisi well kita yang optimum untuk menghindari hal yang negative.

hati hati dengan oil show di core di bawah owc , bisa jadi itu residual oil
saja pada saat migration atau perubahan posisi woc terhadap waktu ( bisa
karena proses geology atau production). Coba di cek apa memang ada water
rise karena production ?

2008/1/28 Shofiyuddin <[EMAIL PROTECTED]>:

> kartiko,
> Kalo resistivitynya menunjukan adanya invasi profile yang baek, barangkali
> overlay Rt/RXo akan membantu. Nah batuan disini gamping dan hampir semua
> phase resistivity nya rapat. Mud log lebih sulit lagi karena kita belajar
> di
> sumur sebelahnya yang punya core ternyata di bawah OWC pun masih punya
> signifikan oil show.
>
> Saya sedang belajar bagaimana caranya kita membuat landing point di zona
> minyak yang kita perkirakan kemungkinan besar minyak itu dalam kondisi
> transisi.  Ketebalan minyaknya sekitar 50 sampe 60 ft. Dari interpretasi
> log, saya dapatkan bahwa hampir semuanya adalah zona transisi artinya ada
> fase dari movable water. Nah dimana landing pointnya untuk mendapatkan
> hasil
> minyak yang optimum untuk menghindari adanya water coning ataupun gas
> coning?
>
> On 1/26/08, kartiko samodro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > kalau di LFA/OFA gimana ?
> >
> > atau overlaykan saja rt/rxo lognya dan dikombinasikan dengan mudlognya.
> >
> > kalau masalah perforasi, biasanya selalu ngambil di top reservoir kok?
> >
> > 2008/1/24 Shofiyuddin <[EMAIL PROTECTED]>:
> >
> > > Mungkin ada yang share bagaimana caranya menentukan transition zone di
> > > zona
> > > minyak. Saat ini yang sering saya lakukan adalah dengan membuat Kurva
> > > Swirr
> > > dari log NMR yang dioverlay dengan kurva Sw nya. Harga yang sama dari
> > > Swirr
> > > dan Swirr menunjukan kalo reservoar tersebut dalam kondisi Swirr. Sw
> > yang
> > > mulai melengceng dari kurva Swirr merupakan awal dari zona transisi.
> Ini
> > > penting untuk memahami apakah nanti reservoarnya memproduksi air
> > (movable
> > > water) atau tidak (free-water production) selama test produksi.
> > >
> > > Cara kedua adalah dengan membuat Buckle plot yaitu crossplot antara
> Por
> > > (axis x) dan Sw (axis y). Kalo titik titik penyebaran dua harga
> tersebut
> > > mendekati parabolik, berarti menunjukan zona yang dalam kondisi Swirr,
> > > kalo
> > > scattered, berarti airnya dalam kondisi movable.
> > >
> > > Apakah cara diatas reliable atau mungkin ada cara laen untuk
> mengetahui
> > > apakah reservoar dalam kondisi Swirr atau airnya movable?
> > >
> > > Trims sebelumnya
> > >
> > > Shofi
> > >
> >
>
>
>
> --
> Salam hangat
>
> Shofi
>

Kirim email ke