Uranium terbentuk dalam jumlah sangat kecil di kerak Bumi, hanya 0,00016 % dari 
rata-rata batuan kerak benua. Isotopnya yang bisa melakukan fisi (pembelahan) 
dan melepaskan energi, yaitu U-235, hanya 1 % dari setiap 139 atom uranium yang 
ditambang (Press dan Siever, 1998).  Ini untuk menggambarkan bahwa uranium 
sebagai bahan baku PLTN sangat langka, maka perlu teknologi pengayaan uranium. 
   
  Pengayaan uranium adalah proses meningkatkan kapasitas uranium untuk menjadi 
bahan bakar PLTN. Uranium di alam terjadi sebagai dua isotop : U-238 (99.3 %) 
dan U-235 (0.7 %). Kedua atomnya identik kecuali jumlah neutron di intinya 
berbeda. U-238 punya neutron lebih banyak  dan ini yang menyebabkan 
kemampuannya melakukan fisi berkurang. Pengayaan uranium digunakan untuk 
meningkatkan persentase U-235 yang fisil. Reaktor nuklir membutuhkan bahan 
bakar uranium yang diperkaya 3-5 % U-235 (bom atom menggunakan U-235 yang 
diperkaya sampai 90 %). 
   
  WaPres Yusuf Kala pada Agustus 2007 lalu mengatakan bahwa bila PLTN di Muria 
itu jadi didirikan dan menggenerasi listrik mulai tahun 2016, maka Indonesia 
akan membeli uranium-235 hasil pengayaan itu dari Australia. Menambang sendiri 
deposit uranium di Kalimantan itu masih perlu jangka waktu lama dan untuk 
teknologi pengayaannya Indonesia belum memilikinya. Apakah teknologi pengayaan 
uranium melanggar ketentuan non-proliferasi nuklir ? Indonesia adalah penanda 
tangan perjanjian non-proliferasi nuklir. Australia memikirkan hal ini, negara 
ini telah menjual enriched U-235 ke India sebab India bukan penanda tangan 
non-proliferasi nuklir. Menurut seorang staf ahli kepresidenan, tidak masalah, 
selama enriched U digunakan untuk maksud damai seperti PLTN.
   
  Kembali ke e-mail Pak Rovicky. Uranium ditemukan dalam jumlah kecil sebagai 
mineral uranium oksida uraninite (pitchblende) dalam sulfide veins di granit 
atau batuan beku felsic lainnya (mengandung mineral felspar, felspathoid, 
silica) - batuan beku asam. Uranium juga ditemukan dalam batuan sedimen. Di 
bawah kondisi air tanah dekat permukaan, uranium dalam batuan beku dapat 
teroksidasi dan teruraikan, ditransportasi air tanah, kemudian diendapkan 
sebagai uraninit dalam batuan sedimen. Deposit uranium terbesar Amerika 
ditemukan justru di batuan sedimen berumur Trias-Yura di Plato Colorado (Utah, 
Arizona, Wyoming, New Mexico).
   
  Bagaimana di Indonesia ? Kita selama ini memang hanya mengenal Kalimantan 
yang sering disebut sebagai sumber uranium terbesar di Indonesia. Pemetaan 
bersistem sumberdaya mineral radioaktif oleh Sastratenaya dan Tjokrokardono 
(Batan ?) (dipublikasi IAGI, 1985) bisa menjadi acuan awal. Dalam pemetaan itu 
deposit mineral radioaktif di Indonesia (Barat khususnya) dibagi menjadi tiga 
kategori : DSS - daerah sumberdaya spekulatif, DSSb (daerah sumberdaya 
spekulatif berindikasi), DSP (daerah sumberdaya potensial). Urutan tingkat 
keyakinannya adalah : 1. DSP, 2. DSSb, 3. DSS. DSP sudah sampai ke tahap 
pemetaan sebaran mineralisasi permukaan dan atau bawah permukaan sampai 
estimasi cadangan secara geologis. Sementara DSS masih dalam kajian bahan 
pustaka. DSSb di antara keduanya, ada penyelidikan lapangan, tetapi belum 
detail ke tahap mineralisasi dan cadangan. 
   
  Inilah wilayah2 mineral radioaktif Indonesia (Barat) : Aceh Tenggara, 
Tapanuli, Sibolga, Sawahlunto, Muarabungo, Sarko, Lampung Tengah, Tukul, 
Bakumpai, Bulit, Mahakam Hulu (semuanya DSSb), Kembayan (DSS), dan dua area 
dengan DSP : Jalur Timah dan Laur Ella. Tercampur ke dalam wilayah2 ini adalah 
semua mineral radioaktif (thorium, uranium, dll.). 
   
  Saya detailkan yang Laur Ella di Kalimantan yang terkenal sebagai deposit 
uranium. Secara geologi, ini merupakan septa malihan dalam jalur tonalit 
Mesozoic Schwaner. Mineralisasi tipe urat dan stock werk dalam fraktur 
sekistositas dan breksi sesar, umumnya berasosiasi dengan sulfida. Mineralisasi 
seingkapan, bongkah batuan berkadar U tinggi, asosiasi sulfida dan monazit. 
Mineralisasi tidak beraturan, berasosiasi dengan greisen, lamprofir dan 
material granitik, sulfida; kontrol tektonik. Batan pernah melakukan survey 
detail beberapa tahun di wilayah dekat Melawi ini bekerja sama dengan Prancis 
(kerja sama ini berakhir tidak mulus dan ada selentingan bahwa Prancis telah 
mengeruk deposit uranium dari Melawi itu sampai menimbulkan demo masyarakat 
setempat - Prancis menggantungkan 75 % energi listriknya kepada PLTN)
   
  Di Indonesia Timur sebaran mineral radioaktif belum diketahui dengan baik 
karena penelitiannya jauh tertinggal daripada penelitian sejenis di Indonesia 
Barat. Tetapi, telah diindikasi  tujuh daerah di Sulawesi termasuk Banggai Sula 
dan empat daerah di Papua, di wilayah2 yang secara geologi terdapat batuan 
granitik dan felsik lainnya. 
   
  Demikian, silakan ditambahkan oleh rekan2 lain (Pak Daru dan Pak Andri punya 
informasi banyak dan terkini pasti, silakan).
   
  salam,
  awang
   
  

Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Untuk mempersiapkan PLTN tentunya kita perlu supply bahan bakar
pembangkit energinya
Selama ini saya nguprek-nguprek database tentang uranium hanya
tertulis yang ada di Kalimantan Barat saja (DESDM). Bagaimana dengan
daerah lain ?
Adakah potensi uranium di Indonesia Timur ?
Kawan-kawan "hard-rocker" barangkali bisa memebrikan sedikit
pencerahan, bagaimana proses keterdapatan endapan atau jebakan uranium
ini terbentuk. Dimana saja yang berpotensi untuk ditambang ?

Sharing donk

RDP

-- 
http://tempe.wordpress.com/
No one can monopolize the truth !

_______________________________________________
Pertemuan Ilmiah Tahunan HAGI ke-33
_______________________________________________
The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list.
[EMAIL PROTECTED]
www.hagi.or.id


       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke