Teman2
Please calm down...
Kalau anda sendiri menghadiri pemaparannya pasti reaksinya tidak sekeras
ini. Pengertian tentang reserves dan resources sudah disampaikan oleh
para panelis tapi mungkin ditangkap lain oleh wartawan.

Menurut saya ini kan masih play concept jadi memang masih bisa
diperdebatkan dengan kepala dingin.

Mungkin di Indonesia fore-arc basin belum terbukti ada hidrokarbonnya,
tapi setahu saya di Talara Basin (Peru) dan Progresso Basin (Ecuador)
ada lapangan minyak dan gas.

Nah ini ada beberapa kalimat bijak yg saya kutip dari website aapg:
"Everything in geology is more complicated than what you see in a
luncheon talk" (Jim Letourneau, CSPG, EPRD Presentatiion, May 11 2004)
"Prospecting for oil is a dynamic art... The greatest single element in
all prospecting, past, present and future, is the man willing to take a
chance" Everett DeGolyer


-----Original Message-----
From: noor syarifuddin [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Wednesday, February 13, 2008 7:41 AM
To: [email protected]
Subject: [iagi-net-l] Kritisi atas Berita Penemuan "Lapangan2
Super-Raksasa" di Aceh West Offshore (BPPT-BGR)

wah baru sekali ini lho saya membaca pak Awang menulis dengan bahasa
yang agak "keras"....:-)

Tapi saya setuju sekali, ini adalah suatu hal yang masih sangat awal
untuk bisa dibilang sebagai suatu "discovery" dan bisa membingungkan
banyak orang (atau bahkan orang dibuat bingung oleh para politisi
nantinya). 
Seperti pak Awang tuliskan, lha wong untuk disebut sebagai prospect aja
masih susah kok sudah dikatakan sebagai penemuan. Kalau ini seperti
kasus di Cibinong atau tempat lainnya, yang menyebtukan adalah aparat
pemda jadi ya kita maklum adanya lah. Tapi kalau hal ini keluar dari
lembaga yang bergengsi seperti BPPT, wah kok jadi ngeri ya.....


salam,


----- Original Message ----
From: Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; Forum HAGI <[EMAIL PROTECTED]>; Eksplorasi
BPMIGAS <[EMAIL PROTECTED]>; IAGI <[email protected]>
Sent: Tuesday, February 12, 2008 4:50:52 PM
Subject: [iagi-net-l] Kritisi atas Berita Penemuan "Lapangan2
Super-Raksasa" di Aceh West Offshore (BPPT-BGR)

  Harus hati-hati dan kritis menyikapi berita ini.
  
  BPMIGAS tak punya urusan dengan berita ini. Wilayah ini kosong dari
blok perminyakan yang menjadi pengawasan BPMIGAS.
  
  Beberapa hal dari berita itu yang perlu dikritisi.
  
  Yang baru teridentifikasi hanya terumbu2 yang belum diketahui umurnya,
katakanlah terumbu ini berumur Miosen Awal-Miosen Tengah mengacu kepada
terumbu yang menjadi objektif di Cekungan Sibolga sebelah selatan, di
dekat wilayah survey BPPT-BGR ini. Terumbu2 ini pernah dieksplorasi
Union Oil dan Caltex pada tahun 1970-an dan akhir 1980/awal 1990 dan
telah dibor (Suma, Singkel, Ibu Suma) menghasilkan gas biogenik
non-komersil. 
  
  Terumbu2 ini hanya didapat dari survey geomarin yang punya jarak
lintasan 60 km. Prospek/lead apa yang bisa diidentifikasi dengan space
seismik 60 km ? Yang namanya prospek ia harus diidentifikasi oleh jarak
lintasan seismik <5 km.
  
  Mengapa menganggap terumbu2 ini sebagai lapangan minyak ? Keberadaan
terumbu tak mengindikasi keberadaan lapangan minyak. Keberadaan bright
spot pun tak otomatis mengindikasi keberadaan gas column. Banyak
brightspot sebagai akibat kontras impedansi litologi saja, dan telah
banyak perusahaan tertipu oleh hal ini. Sumur terdalam dan terjauh di
Makassar Strait dibor mengejar brightspot semacam ini, ternyata hanya
kontras impedansi litologi akibat lapisan tuf di tengah lempung.
  
  Cara perhitungan sumberdaya/cadangan sangat kasar, hanya mengalikan
BRV (bulk rock volume) dengan porositas; padahal kita tahu bahwa untuk
sampai ke angka sumberdaya si BRV harus dipotong oleh N/G (net to
gross), dipotong lagi oleh porositas, dipotong lagi oleh Sw (saturasi
air) atau Shc (saturasi HC), lalu dibagi oleh FVF (formation volume
factor). Kalau mau menghitung terkurasnya berapa harus banyak dipotong
lagi oleh RF (recovery factor). Kalau hanya menghitung sumberdaya dengan
mengalikan BRV dengan porositas, maka yang dihitung hanyalah ruang pori,
bukan hidrokarbon.
  
  Mengapa mesti minyak ? Sibolga Basin dan semua cekungan muka busur di
Sumatera-Jawa terkenal punya termal yang dingin (HFU <1.5; GG < 2 C/100
feet), kecuali Bengkulu Basin yang sedikit lebih panas; maka wajar saja
kalau Union Oil dan Caltex menemukan gas biogenik saja di terumbu besar
Singkel, Suma, Ibu Suma yang dibornya, padahal terumbu ini umurnya
Miosen Awal. Minyak butuh termal yang lumayan panas.
  
  Tak cocok menganalogikan terumbu2 temuan BPPT-BGR ini ke lapangan2
migas di Arakan atau Mergui Terrace offshore Myanmar. Mereka bukan pada
posisi forearc basin, tetapi berlokasi di passive margin dengan delta
Gangga di teluk Benggala dan Delta Irawadi dengan Andaman Sea Floor
Spreading. Belum ada terbukti lapangan minyak/gas komersil di forearc
basin.
  
  Gempa Aceh Desember 2004 menggeser source rocks sehingga mengeluarkan
panas dan mematangkan minyak adalah pernyataan yang menggelikan. Apakah
kita tahu pasti lapisan source rocks di situ apa, apakah ia tergeser
gempa ? Source rocks tak mengeluarkan panas, yang mengeluarkan panas
adalah heat flow dari mantel dan panas konduktif dari tumpukan sedimen.
Taruhlah gempa membuat sesar yang menghubungkan mantel dengan source
rocks; tetapi harus diingat bahwa heat flow di sini minimal karena di
wilayah barat Sumatera terjadi sel konveksi mantle downwelling yang
membawa subduksi kerak samudera Hindia, jadi terhubung ke mantel yang
dingin percuma saja.
  
  Membandingkannya dengan sumberdaya lapangan2 di Arab sungguh tak
sepadan, membandingkannya bukan "apple to apple" sebab lapangan2 raksasa
di Arab memang sudah dihitung menurut kaidah perhitungan
sumberdaya/cadangan dalam perminyakan, bahkan membandingkannya dengan
lapangan Bayu Urip pun tak sepadan.
  
  Tetapi, tak salah kalau BPPT/BGR mau menindaklanjuti temuan ini.
Tetapi, pikirkanlah aspek2 negatifnya juga; dan sebaiknya
berhati-hatilah mengeluarkan pendapat yang bombastis ini ke publik,
dasar ilmiahnya masih sangat kurang, dan status evaluasinya masih
teramat dini. Kalau sudah terlanjur terlempar ke publik, lalu bagaimana
?
  
  Mimpi boleh, tetapi tak perlu ribut-ribut dulu ke mana2.
  
  Salam,
  awang

Guruh Didi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Selasa, 12 Feb 2008,
Ditemukan, Lapangan Migas Raksasa di Aceh 

BPPT: Lebih Besar dari Milik Arab Saudi 
JAKARTA - Bencana dahsyat tsunami di Aceh 26 Desember 2004 memunculkan
berkah tak terduga empat tahun kemudian. Berawal dari studi pascagempa
tsunami di perairan barat Sumatera, Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi
(BPPT) kemarin (11/2) memublikasikan temuan blok dengan potensi
kandungan
migas raksasa.

Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf
Surahman
mengatakan, Survei BPPT bersama Bundesanspalp fur Geowissnschaften und
Rohftoffe (BGR Jerman) itu menemukan kawasan perairan yang di dalam
buminya
diperkirakan terkandung migas 107,5 hingga 320,79 miliar barel. Lapangan
migas tersebut terletak di daerah cekungan busur muka atau fore arc
basin
perairan timur laut Pulau Simeuleu, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
"Kandungan migas itu luar biasa besar," ujar Yusuf di Kantor BPPT
Jakarta
kemarin (11/2).

Sebagai perbandingan untuk menunjukkan besarnya kandungan migas di Aceh
tersebut, Yusuf menyebutkan, saat ini cadangan terbukti di Arab Saudi
mencapai 264,21 miliar barel atau hanya 80 persen dari kandungan migas
di
Aceh. Sementara itu, cadangan Lapangan Banyu Urip di Cepu diperkirakan
hanya
450 juta barel. Lapangan migas dapat dikategorikan raksasa atau giant
field
jika cadangan terhitungnya lebih dari 500 juta barel.

Menurut Yusuf, angka potensi tersebut didapat dari hitungan porositas 30
persen. Artinya, diasumsikan hanya 30 persen dari volume cekungan batuan
itu
yang mengandung migas. Meski demikian, lanjut dia, belum tentu seluruh
cekungan tersebut diisi hidrokarbon yang merupakan unsur pembentuk
minyak.
"Karena itu, penemuan ini perlu kajian lebih lanjut," katanya.

Dia menyatakan, meski belum diketahui secara pasti, salah satu indikasi
awal
keberadaan migas di cekungan tersebut dapat dilihat dari adanya
carbonate
build ups sebagai reservoir atau penampung minyak serta bright spot yang
merupakan indikasi adanya gas.

Sejauh ini, lanjut Yusuf, Tim BPPT optimistis perairan timur laut Pulau
Simeuleu mengandung migas skala raksasa. Sebab, beberapa daerah yang
memiliki karakteristik sama sudah terbukti mengandung migas. Di
antaranya,
di wilayah Myanmar, Andaman, serta California, AS.

Meski demikian, BPPT akan tetap membuat perhitungan realistis. Menurut
Yusuf, jika porositas diperkecil menjadi 15 persen, artinya diasumsikan
hanya 15 persen dari volume cekungan yang mengandung migas, angka
minimal
cadangannya masih 53,7 miliar barel. "Tetap saja angka itu masih sangat
besar," terangnya.

Penemuan BPPT tersebut mendapat tanggapan positif dari ahli geologi
perminyakan Andang Bachtiar yang kemarin juga hadir di Kantor BPPT.
Chairman
PT Exploration Think Tank Indonesia (ETTI) itu mengatakan, wilayah
perairan
Indonesia memang memiliki banyak cekungan atau basin yang berpotensi
mengandung migas. "Banyak di antaranya yang belum teridentifikasi, "
ujarnya.

Hingga saat ini, kata dia, sudah ada 66 cekungan plus 6 cekungan fore
arc
basin yang teridentifikasi berisi minyak. Pada 2003, lanjut dia, Ikatan
Ahli
Geologi Indonesia (IAGI) berhasil mengidentifikasi hipotesis cadangan
gas
sebesar 26,7 triliun kaki kubik (TCF) yang tersebar di beberapa wilayah.
"Kebanyakan memang berada di sebelah barat Sumatera," terangnya.

Terkait dengan penemuan BPPT itu, Andang menyatakan masih perlu kajian
lebih
lanjut untuk bisa mendekati hitungan berapa besar cadangan terbuktinya.
Menurut dia, lokasi studi seismik 2D yang dilakukan BPPT dengan interval
jarak 60 km masih terlalu longgar. "Harus lebih rapat lagi, paling tidak
intervalnya 20 km," katanya.

Karena itu, lanjut dia, BPPT harus segera berkoordinasi dengan
pemerintah
untuk segera menindaklanjuti temuan tersebut. Sebab, untuk mengkaji
lebih
teliti, dibutuhkan dana cukup besar.Dia menyebut, untuk proses studi
seismik 2D yang lebih rapat, dibutuhkan
dana sekitar USD 7 juta. 

Kemudian, untuk mengetahui angka cadangan migas,
perlu dilakukan minimal 14 pengeboran sumur di 14 titik cekungan. Biaya
pengeboran satu sumur, lanjut alumnus Colorado School of Mines, AS, itu,
sekitar USD 30 juta. Dengan demikian, minimal dibutuhkan dana USD 427
juta.
"Itu baru untuk studi eksplorasi. Untuk pengembangan lapangan, jumlahnya
jauh lebih besar," jelasnya.

Andang menambahkan, yang saat ini harus segera dilakukan BPPT dan
pemerintah
adalah koordinasi. Menurut dia, meskipun lapangan migas tersebut paling
cepat baru dapat dikembangkan dalam waktu tujuh tahun ke depan,
pemerintah
harus bergerak cepat. "Jangan sampai potensi ini salah urus," tegasnya.

Dia mengatakan, karakter lapangan yang berada di laut dalam (kedalaman
lebih
dari 200 meter) jelas membutuhkan dana besar dan teknologi tinggi yang
belum
tentu dimiliki Pertamina selaku perusahaan nasional. Meski demikian,
lanjut
dia, jangan sampai tersebarnya informasi potensi tersebut justru
dimanfaatkan pihak-pihak yang punya modal besar dan teknologi, yakni
perusahaan asing. "Intinya, pemerintah harus berusaha agar potensi ini
bisa
dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan bangsa," jelasnya.

Terkait dengan hal itu, Kepala BPPT Said Jenie menyatakan sudah
melaporkan
penemuan tersebut ke Departemen ESDM. Selain itu, pihaknya sudah
memberikan
tembusan yang ditindaklanjuti Pertamina dengan mengirimkan letter of
intent
kerja sama untuk menindaklanjuti temuan tersebut. "Kami harap semua
pihak
terkait bisa cepat merespons temuan ini. Sehingga bisa segera
ditindaklanjuti, " ujarnya. 

BPPT juga telah menyiapkan satu kapal riset yang dilengkapi alat khusus
seismik untuk meneliti lebih lanjut dan telah meminta kepada pemerintah
untuk mengamankan daerah perairan barat Aceh tersebut. (owi/kim)

__________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

[Non-text portions of this message have been removed]



__._,_.___  Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a
new topic 
  Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members |
Calendar 
  Moderators:
Budhi Setiawan '91 <[EMAIL PROTECTED]>
Edi Suwandi Utoro '92 <[EMAIL PROTECTED]>
Sandiaji '94 <[EMAIL PROTECTED]>
Wanasherpa '97 <[EMAIL PROTECTED]>
Satya '2000 <[EMAIL PROTECTED]>
Andri'2004 <[EMAIL PROTECTED]> 
  
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch
format to Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe 

      Recent Activity
    
      2
  New Members

Visit Your Group 
      Yahoo! Kickstart
  Sign up today!
  Find great recruits
  for your company.

    Y! Messenger
  Group get-together
  Host a free online
  conference on IM.

    Y! Groups blog
  the best source
  for the latest
  scoop on Groups.



  .


__,_._,___                        

      
---------------------------------
Never miss a thing.  Make Yahoo your homepage.


 
________________________________________________________________________
____________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs



----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.

---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke