Sebagai informasi,
Saya pernah field trip ke daerah Padang dan mampir ke danau Singkarak.
Pemandu yang saat itu dari Corelab menyatakan bahwa danau Singkarak
terbentuk karena half graben (?) dimana bidang sesarnya sangat dalam dan
dicirikan oleh adanya kandungan gas Helium di beberapa sampel yang diambil
di sekitar danau.


On 2/14/08, Lambok Parulian <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> Pa Awang,
>
> Selama ini umumnya kita mengenal hydrocarbon gas dan non-hydrocarbon gas
> dalam komposisi gas, apakah metana, etana, C02 dll. Tapi memang jarang
> disampaikan adanya Helium dalam non-hydrocarbon gas, apa memang tidak
> terdeteksi atau memang tidak ada?
>
> Contoh sederhana kalau memang Gas Helium berasosiasi dengan jalur volkanik
> dan punya sesar2 dalam sampai ke batuandasar, ini bisa di trace dari
> keberadaan CO2, kalau kita dapatkan source CO2 dari mantle degassing
> (bukan
> dari karbonat atau material organik) kemungkinan terdapat Helium (?),
> masalahnya kita jarang melakukan isotop 3He dan 4He jd tdk pernah tahu ada
> helium atau tidak dalam komposisi gas tersebut.
>
> Lpm
>
> -----Original Message-----
> From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Thursday, February 14, 2008 11:48 AM
> To: [email protected]
> Subject: [iagi-net-l] Helium Gas : A New Target - Peluangnya di Indonesia
>
> Dalam gas geochemistry, helium yang kadang2 ditemukan bercampur dengan
> natural gas (hydrocarbon gas), disebut sebagai non-hydrocarbon gas
> bersama-sama dengan "polutant" gas yang lain seperti CO2, H2S, atau N2.
> Tetapi karena helium ini jumlahnya sangat kecil dan efeknya tidak negatif
> seperti CO2 dan H2S, maka jarang sekali dilaporkan keberadaannya sebagai
> pencampur di dalam HC gas. Analisis komposisi gas hampir tidak pernah
> melaporkan keberadaan helium ini. Padahal, di lapangan2 gas yang dekat
> dengan jalur volkanik dan punya sesar2 dalam sampai ke batuandasar,
> keberadaan helium cukup signifikan (meskipun jumlahnya tetap sangat
> kecil).
> Beberapa lapangan gas di sebelah selatan Cekungan Jawa Barat (Pertamina
> Jawa
> Barat) seperti Haurgeulis, Sukatani, dan Cikarang punya kandungan helium
> yang lumayan sebagai petunjuk asal CO2 di lapangan2 gas ini.
>
> Majalah AAPG "Explorer" edisi Februari 2008 menurunkan artikel tentang
> eksplorasi dan produksi gas helium yang menjadi target baru di New Mexico,
> USA (ditulis oleh koresponden Explorer David Brown). Saya cantumkan
> hal-hal
> yang pentingnya di bawah ini.
>
> Harga crude helium saat ini adalah US $ 60/Mcf (bukan main, harganya
> sangat
> jauh melebihi harga HC gas yang saat ini sekitar 3 atau 4 US $/MMBTU).
> Harga
> mahal ini karena ia gas mulia dan langka. Helium ditemukan di planet Bumi
> pada tahun 1905. Keberadaan helium di dalam natural gas baru diketahui
> pada
> tahun 1905, kemudian dalam tiga puluh tahun berikutnya banyak ditemukan
> dalam lapangan2 kecil - raksasa di wilayah Kansas, Oklahoma, dan Texas
> dengan kandungan helium dalam natural gas antara 0,5 - 2 %, beberapa
> sampai
> mengandung 7 % helium. Kemudian, gas helium banyak ditemukan sampai
> sebanyak
> 10 % dari natural gas pada lapangan-lapangan gas di Colorado, New Mexico,
> Arizona, dan Wyoming. New Mexico diperkirakan akan menjadi pemasok helium
> terbesar di dunia karena sedimen2 reservoir natural gas di sini mengandung
> uranium yang begitu tingginya sebab helium merupakan produk peluruhan
> radioaktif uranium.
>
> Bila helium ditemukan dalam jumlah yang "besar" dan dapat diproduksikan
> secara ekonomis, maka separation plant-nya akan dibangun di dekat produksi
> lapangan gas itu. Helium dapat dipisahkan melalui pemisahan cryogenic atau
> teknologi bernama "pressure-swing adsorption. Amerika adalah pemasok
> terbesar kebutuhan helium dunia. Pada tahun 2006 negara ini menghasilkan
> 134
> juta meter kubik helium, diikuti Aljazair (22 juta m3), Qatar dan Rusia
> (masing-masing 7 juta m3) dan Polandia (3 juta m3).
>
> Untuk apa helium ? Untuk bahan bakar roket, sebagai bahan supercooling
> dalam
> kedokteran untuk mendinginkan elektromagnet dalam MRI (magnetic resonance
> imaging), digunakan dalam produksi material computer chips, digunakan
> dalam
> pembuatan serat optik, sebagai shielding gas dalam arc welding, sebagai
> gas
> pengisi/gas tracer/pendingin dalam aplikasi2 riset, gas pengisi float
> balloon, gas yang bisa mengubah suara bila dihisap, dll. Helium di Amerika
> disebut sebagai gas strategik, sebagai gas mulia ia bisa dipakai untuk
> pendinginan sampai temperatur sangat rendah. Ia akan membeku pada
> temperatur
> -459.67 F.
>
> Demikian ringkasan dari Brown (2008, AAPG Explorer).
>
> Bagaimana peluang akumulasi helium di lapangan2 gas di Indonesia ? Ini
> bisa
> dikaji dengan mengacu kepada sifat kimianya. Helium memiliki dua isotop :
> 3He dan 4He, kelimpahan relatifnya menunjukkan sumber helium. 4He
> merupakan
> produk peluruhan radioaktif dari batuan sedimen (lihat ulasan saya di
> milis
> ini tentang deposit uranium dua minggu yang lalu). 3He punya mantle
> origin.
> Maka, perbandingan 3He/4He yang rendah menunjukkan sedimentary origin, dan
> rasio 3He/4He yang tinggi menunjukkan mantle origin. Ini bisa didekati
> juga
> dengan menggunakan isotop argon radiogenic (40Ar). Rasio 4He/40Ar yang
> tinggi menunjukkan sedimentary origin, sedangakan kalau rasio itu rendah
> menunjukkan mantle origin. Kata Krouse (1979 : Stable isotope geochemistry
> for non-hydrocarbon constituents of natural gas, 10th World Petroleum
> Congress, Bucharest), rasio associated helium pada natural gases umumnya
> 12-170, menunjukkan sedimentary origin.
>
> Banyak kejadian helium berasosiasi dengan sesar2 yang sampai ke
> batuandasar/
> basement, biasanya berhubungan dengan sistem sesar mendatar. Survey soil
> gas
> di sepanjang sesar mendatar San Andreas menunjukkan kandungan gas sebagai
> berikut : helium (430 ppm), hydrogen (50 ppm), dan metana (3 ppm) (Hunt,
> 1996 -Petroleum Geochemistry and Geology). Tidak dijelaskan lebih jauh
> oleh
> John Hunt jenis gas helium itu, apakah mantle origin atau sedimentary
> origin. John Hunt menggunakan konsentrasi ini untuk menunjukkan bahwa
> metan
> anorganik tak berasosiasi dengan helium, atau bahwa metan anorganik itu
> sangat minimal (perlu diketahui bahwa John Hunt bukan pendukung teori
> abiogenik, itu bisa ditafsirkan dari tulisan2-nya).
>
> Bagaimana peluang gas helium dalam konsentrasi "tinggi" di Indonesia ?
> Kelihatannya akan berhubungan dengan asalnya. Lapangan2 gas yang tak jauh
> dari basement yang granitik, yang asal sedimennya dari basement ini
> diharapkan mengandung mineral radioaktif asal felsic rocks dari granit.
> Lapangan2 gas di cekungan2 back-arc Sumatera bisa dikaji untuk itu, juga
> sedimen2 pengisi Cekungan Melawi dan Ketungau, cekungan2 yang terletak
> paling dekat ke sumber uranium terbesar di Indonesia (Kalimantan Tengah).
> Sub-Cekungan upper Kutei Basin di sektor Mandau-Keriau juga sedimennya
> berpotensi punya elemen2 radioaktif seperti uranium. Sayang, belum ada
> penemuan lapangan gas di Cekungan2 Melawi/ Ketungau/ Mandau/ Keriau.
> Bagaimana dengan helium asal mantel ? Walaupun lebih sedikit, kemungkinan
> itu bisa dikaji di lapangan2 gas yang paling dekat dengan Baribis Fault di
> selatan Cekungan Jawa Barat seperti disebutkan di awal tulisan ini
> (Sukatani, Haurgeulis). Suban gas field, dan semua lapangan gas di
> basement
> (Dayung, Sambar, Sumpal) di wilayah Jambi bisa dikaji kandungan gas
> heliumnya, ini bisa berhubungan dengan mantle origin dan down to basement
> faults. Lapangan2 gas di Indonesia Timur (kompleks Tangguh dan Abadi)
> mungkin tak signifikan secara tectonic setting untuk bisa mengandung
> helium
> sebab reservoir Mesozoic-nya jauh dari kerak granitik.
>
> Demikian, hanya pemikiran yang sangat awal; bisa dikaji lebih jauh bila
> diperlukan; sayang data isotop helium lapangan2 gas di Indonesia hampir
> tidak ada - ini akan menyulitkan evaluasi kemungkinan akumulasi gas helium
> tersebut. Gas geochemistry benar2 bergantung kepada data isotop, meskipun
> unsur renik peranannya sangat besar. Tanpa data isotop, evaluasi akan
> melebar tidak terfokus.
>
> Salam,
> awang
>
>
>
>
>
>
>
>
> ----------------------------------------------------------------------------
>
> CALONKAN DIRI ANDA SEBAGAI KETUA UMUM IAGI 2008-2011  !!!!!
> PENDAFTARAN CALON KETUA 13 FEB S/D 6 JUNI 2008
> PENGHITUNGAN SUARA: PIT IAGI 37 DI BANDUNG
>
>
> -----------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
> posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event
> shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to
> direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting
> from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the
> use of any information posted on IAGI mailing list.
> ---------------------------------------------------------------------
>
>


-- 
Salam hangat

Shofi

Kirim email ke