Dalam gas geochemistry, helium yang kadang2 ditemukan bercampur dengan natural 
gas (hydrocarbon gas), disebut sebagai non-hydrocarbon gas bersama-sama dengan 
"polutant" gas yang lain seperti CO2, H2S, atau N2. Tetapi karena helium ini 
jumlahnya sangat kecil dan efeknya tidak negatif seperti CO2 dan H2S, maka 
jarang sekali dilaporkan keberadaannya sebagai pencampur di dalam HC gas. 
Analisis komposisi gas hampir tidak pernah melaporkan keberadaan helium ini. 
Padahal, di lapangan2 gas yang dekat dengan jalur volkanik dan punya sesar2 
dalam sampai ke batuandasar, keberadaan helium cukup signifikan (meskipun 
jumlahnya tetap sangat kecil). Beberapa lapangan gas di sebelah selatan 
Cekungan Jawa Barat (Pertamina Jawa Barat) seperti Haurgeulis, Sukatani, dan 
Cikarang punya kandungan helium yang lumayan sebagai petunjuk asal CO2 di 
lapangan2 gas ini.

Majalah AAPG "Explorer" edisi Februari 2008 menurunkan artikel tentang 
eksplorasi dan produksi gas helium yang menjadi target baru di New Mexico, USA 
(ditulis oleh koresponden Explorer David Brown). Saya cantumkan hal-hal yang 
pentingnya di bawah ini.

Harga crude helium saat ini adalah US $ 60/Mcf (bukan main, harganya sangat 
jauh melebihi harga HC gas yang saat ini sekitar 3 atau 4 US $/MMBTU). Harga 
mahal ini karena ia gas mulia dan langka. Helium ditemukan di planet Bumi pada 
tahun 1905. Keberadaan helium di dalam natural gas baru diketahui pada tahun 
1905, kemudian dalam tiga puluh tahun berikutnya banyak ditemukan dalam 
lapangan2 kecil - raksasa di wilayah Kansas, Oklahoma, dan Texas dengan 
kandungan helium dalam natural gas antara 0,5 - 2 %, beberapa sampai mengandung 
7 % helium. Kemudian, gas helium banyak ditemukan sampai sebanyak 10 % dari 
natural gas pada lapangan-lapangan gas di Colorado, New Mexico, Arizona, dan 
Wyoming. New Mexico diperkirakan akan menjadi pemasok helium terbesar di dunia 
karena sedimen2 reservoir natural gas di sini mengandung uranium yang begitu 
tingginya sebab helium merupakan produk peluruhan radioaktif uranium.

Bila helium ditemukan dalam jumlah yang "besar" dan dapat diproduksikan secara 
ekonomis, maka separation plant-nya akan dibangun di dekat produksi lapangan 
gas itu. Helium dapat dipisahkan melalui pemisahan cryogenic atau teknologi 
bernama "pressure-swing adsorption. Amerika adalah pemasok terbesar kebutuhan 
helium dunia. Pada tahun 2006 negara ini menghasilkan 134 juta meter kubik 
helium, diikuti Aljazair (22 juta m3), Qatar dan Rusia (masing-masing 7 juta 
m3) dan Polandia (3 juta m3).

Untuk apa helium ? Untuk bahan bakar roket, sebagai bahan supercooling dalam 
kedokteran untuk mendinginkan elektromagnet dalam MRI (magnetic resonance 
imaging), digunakan dalam produksi material computer chips, digunakan dalam 
pembuatan serat optik, sebagai shielding gas dalam arc welding, sebagai gas 
pengisi/gas tracer/pendingin dalam aplikasi2 riset, gas pengisi float balloon, 
gas yang bisa mengubah suara bila dihisap, dll. Helium di Amerika disebut 
sebagai gas strategik, sebagai gas mulia ia bisa dipakai untuk pendinginan 
sampai temperatur sangat rendah. Ia akan membeku pada temperatur -459.67 F.

Demikian ringkasan dari Brown (2008, AAPG Explorer).

Bagaimana peluang akumulasi helium di lapangan2 gas di Indonesia ? Ini bisa 
dikaji dengan mengacu kepada sifat kimianya. Helium memiliki dua isotop : 3He 
dan 4He, kelimpahan relatifnya menunjukkan sumber helium. 4He merupakan produk 
peluruhan radioaktif dari batuan sedimen (lihat ulasan saya di milis ini 
tentang deposit uranium dua minggu yang lalu). 3He punya mantle origin. Maka, 
perbandingan 3He/4He yang rendah menunjukkan sedimentary origin, dan rasio 
3He/4He yang tinggi menunjukkan mantle origin. Ini bisa didekati juga dengan 
menggunakan isotop argon radiogenic (40Ar). Rasio 4He/40Ar yang tinggi 
menunjukkan sedimentary origin, sedangakan kalau rasio itu rendah menunjukkan 
mantle origin. Kata Krouse (1979 : Stable isotope geochemistry for 
non-hydrocarbon constituents of natural gas, 10th World Petroleum Congress, 
Bucharest), rasio associated helium pada natural gases umumnya 12-170, 
menunjukkan sedimentary origin.

Banyak kejadian helium berasosiasi dengan sesar2 yang sampai ke batuandasar/ 
basement, biasanya berhubungan dengan sistem sesar mendatar. Survey soil gas di 
sepanjang sesar mendatar San Andreas menunjukkan kandungan gas sebagai berikut 
: helium (430 ppm), hydrogen (50 ppm), dan metana (3 ppm) (Hunt, 1996 
-Petroleum Geochemistry and Geology). Tidak dijelaskan lebih jauh oleh John 
Hunt jenis gas helium itu, apakah mantle origin atau sedimentary origin. John 
Hunt menggunakan konsentrasi ini untuk menunjukkan bahwa metan anorganik tak 
berasosiasi dengan helium, atau bahwa metan anorganik itu sangat minimal (perlu 
diketahui bahwa John Hunt bukan pendukung teori abiogenik, itu bisa ditafsirkan 
dari tulisan2-nya).

Bagaimana peluang gas helium dalam konsentrasi "tinggi" di Indonesia ? 
Kelihatannya akan berhubungan dengan asalnya. Lapangan2 gas yang tak jauh dari 
basement yang granitik, yang asal sedimennya dari basement ini diharapkan 
mengandung mineral radioaktif asal felsic rocks dari granit. Lapangan2 gas di 
cekungan2 back-arc Sumatera bisa dikaji untuk itu, juga sedimen2 pengisi 
Cekungan Melawi dan Ketungau, cekungan2 yang terletak paling dekat ke sumber 
uranium terbesar di Indonesia (Kalimantan Tengah). Sub-Cekungan upper Kutei 
Basin di sektor Mandau-Keriau juga sedimennya berpotensi punya elemen2 
radioaktif seperti uranium. Sayang, belum ada penemuan lapangan gas di 
Cekungan2 Melawi/ Ketungau/ Mandau/ Keriau. Bagaimana dengan helium asal mantel 
? Walaupun lebih sedikit, kemungkinan itu bisa dikaji di lapangan2 gas yang 
paling dekat dengan Baribis Fault di selatan Cekungan Jawa Barat seperti 
disebutkan di awal tulisan ini (Sukatani, Haurgeulis). Suban gas field, dan 
semua lapangan gas di basement (Dayung, Sambar, Sumpal) di wilayah Jambi bisa 
dikaji kandungan gas heliumnya, ini bisa berhubungan dengan mantle origin dan 
down to basement faults. Lapangan2 gas di Indonesia Timur (kompleks Tangguh dan 
Abadi) mungkin tak signifikan secara tectonic setting untuk bisa mengandung 
helium sebab reservoir Mesozoic-nya jauh dari kerak granitik.

Demikian, hanya pemikiran yang sangat awal; bisa dikaji lebih jauh bila 
diperlukan; sayang data isotop helium lapangan2 gas di Indonesia hampir tidak 
ada - ini akan menyulitkan evaluasi kemungkinan akumulasi gas helium tersebut. 
Gas geochemistry benar2 bergantung kepada data isotop, meskipun unsur renik 
peranannya sangat besar. Tanpa data isotop, evaluasi akan melebar tidak 
terfokus.

Salam,
awang





Kirim email ke