Menggayungsambuti diskusinya Pak Awang, 

Pada permulaan abad ini kalangan saintis dikejutkan oleh publikasi NASA tentang 
adanya material karbonat di planet Mars. Karena kalau kita sudah berbicara 
tentang material karbonat, sependek yang saya tahu, genesanya hanya ada dua. 
Yaitu melalui proses (sebut saja) kimiawi dan bilogi. Proses kimiawi terjadi 
ketika molekul karbon dioksida (CO2) bergabung dengan air dan membentuk ion 
karbonat. Hasil gabungan ini yang kemudian bereaksi dengan kalsium atau 
magnesium dan membentuk zat padat yang lazim kita kenal sebagai material 
karbonat, ambil saja limestone (CaCO3) sebagai salah satu contohnya. Peristiwa 
yang kedua, ‘proses biologi’, terjadi ketika organisme ‘laut’, sebut saja 
namanya Jot Bus, memroduksi karbonat untuk kepentingan cangkang atau 
bagian-bagian keras yang lain pada tubuh  mereka. Ketika si Jot Bus mati maka 
maka cangkang atau bagian yang keras pada tubuhnya itu mengendap untuk kemudian 
terakumulasi membentuk deposit karbonat. 
Kedua asumsi di atas membutuhkan air. Dengan demikian maka dugaan tentang 
pernah adanya air, dan dengan demikian kehidupan, di Planet Merah mulai 
terbentuk. Dugaan ini semakin menguat terutama setelah tahun 1984 ditemukan 
material karbonat dalam meteorit,  yang menurut para saintis NASA nyata berasal 
dari Mars dengan alasan entah apa, di Antartika sekira 13.000 tahun yang lalu. 
Meteorit ini belakangan dikenal sebagai “Allen Hills Meteorite” (AHM). Dalam 
kenampakan mikrospkopis potongan AHM terlihat adanya material karbonat seperti 
yang banyak ditemukan di Planet Biru.
Ketika hipotesis mulai mengerucut, maka pertanyaan berikutnya, yang tentu saja 
tak kalah penting, adalah pada bagian mana Planet Merah itu mengandung material 
karbonat?
Mencoba menjawab pertanyaan penting ini, para ahli NASA melakukan riset yang 
lama. Mereka membuat alat yang mereka namai dengan “Thermal Emission 
Spectrometer” (TES). TES ini bekerja dengan dilandasi pemikiran bahwa hampir 
semua substansi memancarkan radiasi infra merah. Konon radiasi infra merah yang 
dipancarkan oleh material karbonat memiliki penanda tertentu ketika rekamannya 
terlihat di TES. Mereka sangat berharap suatu ketika TES merekam apa yang 
mereka harapkan (radiasi infra merah dari material karbonat dengan penanda 
tertentu itu). Tapi sampai sejauh ini (minimal sampai pada tahun 2001, ketika 
NASA memublikasikan hasil dan program risetnya) mereka belum juga menemukan 
yang mereka cari.   
Tak kenal menyerah dalam pencarian mereka, para ahli NASA kemudian merancang 
alat baru lagi yang lebih canggih dengan kemampuan merekam yang lebih detil 
daripada TES. Alat baru ini mereka namai “Thermal Emission Imaging System” 
(THEMIS). Pada pertengahan 2001 Pesawat ruang angkasa NASA “Mars Odyssey” 
membawa instrumen tersebut menunaikan misinya: mencari karbonat di Mars. Dan 
sampai sekarang, saya belum pernah menjumpai lagi publikasi NASA tentang hasil 
yang mereka dapatkan dengan pemakaian THEMIS ini (mungkin dalam hal ini saya 
yang ‘kurang gaul’).
Dalam salah satu edisinya, masih mengacu kepada hasil-hasil riset NASA, 
National Geographic Magazine/NGM (tentang edisi berapa dan kapan saya sudah 
lupa, dan sudah terlalu malas pula untuk membuka file2 lama, kalau ada yang 
tertarik silahkan lacak sendiri ajalah) malah dengan sangat berani 
memublikasikan sebuah tulisan yang seingat saya menyatakan bahwa di Mars malah 
ditemukan strukstur sedimen silang siur dan mineral geotit (sory..., lagi2 
kalau tak salah, ntar kalo salah paling ada yang teriak). Kehadiran silang siur 
tentunya mau tak mau mengarahkan isi kepala para saintis untuk menarik 
kesimpulan bahwa di Mars pernah terdapat air (dan dengan demikian kemungkinan 
besar kehidupan). Geotit; kayaknya kawan-kawan yang konsen dengan endapan nikel 
laterit mungkin dapat bercerita lebih banyak tentang hal ini. Intinya tulisan 
dalam NGM itu berisi fakta-fakta bahwa pernah terdapat air, dan dengan demikian 
kehidupan, di Planet Merah.
Tetapi ketika membaca ulang tulisan saya ini, saya kok tak bisa berhenti 
berfikir, apa alasan para saintis NASA sehingga begitu yakin bahwa AHM berasal 
dari Mars? Jangan-jangan bukan dari Mars? Atau kalaupun dari Mars, seberapa 
bagus mereka melakukan preparasi sample? Jangan-jangan material itu hanya 
lengket saja berasal dari material bumi yang ditabraknya? Katakanlah, karena 
saking kerasnya benturan ketika AHM mendarat di permukaan bumi. Siapa tau? 
Saya semakin terusik dengan pemikrian seperti ini, sebab saya punya cerita yang 
(kayaknya lucu banget...) tentang peristiwa di Amerika. Ketika terjadi kampanye 
pemilihan presiden di sana, entah presiden siapa yang jadi pemenang dan kapan 
gitu (lupa), tapi biar gampang sebut saja Presiden Bush, maka seperti biasa 
diadakanlah debat antar kandidat. Beberapa hari sesudah acara debat, 
berdasarkan hasil poling lembaga survei, ternyata rating Presiden Bush di mata 
para calon konstituen meningkat drastis. Usut punya usut, ternyata rating yang 
meningkat drastis ini ditengarai bukan karena Presiden Bush sangatlah pintar, 
atau saingannya yang begitu bodohnya dibandingkan dengan beliau, tetapi 
ternyata karena selama acara debat lampu sorot yang dipergunakan oleh 
kamerawati/man televisi terus-menerus mengarah ke muka kandidat saingan 
Presiden Bush. Akibatnya selama debat sang saingan tak bisa berkonsentrasi 
memaparkan argumen2nya, perhatiannya tercuri oleh pengaruh
 lampu kamera yang mengarah ke mukanya. Yeahhhhh.....begitulah. 
Mungkin Pak Awang punya pendapat/referensi/informasi yang lebih perihal 
karbonat di Mars ini?  
     
 
tabik,
bosman batubara 





----- Original Message ----
From: Doddy Suryanto <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, February 22, 2008 4:36:48 PM
Subject: RE: [iagi-net-l] Titan, Saturnus : Lebih Besar dari Semua Cadangan 
Migas dan Batubara di Bumi

Pak Awang,

Waktu membaca berita ini minggu kemarin, saya teringat dengan teorinya
Mendeleev tentang asal usul hydrocarbon yang dibilangnya dari kerak bumi
atau kalo kasarnya dia tidak percaya kalo hidrokarbon berasal dari
organik. Dia percaya kalo di dalam bumi ada karbon deposit dan begitu
keluar ke permukaan serta bereaksi dengan unsur2 kimia lainnya yang ada
dalam perjalanan menuju permukaan bumi bisa menghasilkan hidrokarbon.
Tidak seperti Lomonosov yang bilang bahwa hidrokarbon asalnya dari
organik dan sampai sekarang teorinya masih dipercaya orang karena lebih
mudah dicerna. Tapi ada beberapa tempat di dunia ini yang menunjukkan
bahwa ada kemungkinan hidrokarbon tidak berasal dari organik seperti
halnya di bulan Saturnus ini. Salah satu contohnya ada di plateau basalt
di Syria. Nah kira2 pendapatnya Mendeleev ini masih bisa diterima?
Terlebih-lebih di planet seberang ternyata ada indikasi ini.

-doddy-

-----Original Message-----
From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, 19 February, 2008 12:47 PM
To: [email protected]
Subject: [iagi-net-l] Titan, Saturnus : Lebih Besar dari Semua Cadangan
Migas dan Batubara di Bumi



Judul subyek di atas memang provokatif, tetapi itu yang dikemukakan oleh
sebuah artikel baru yang dimuat di the Geophysical Research Letters
edisi 29 Januari 2008. Artikel ini didasarkan kepada data terbaru yang
dikirimkan dari wahana angkasa luar Cassini (NASA) yang sedang
mengeksplorasi bulan Saturnus berwarna jingga : Titan. Studi atas
penemuan Cassini ini dipimpin oleh Ralph Lorenz dari Johns Hopkins
University Applied Physics Laboratory.



"Permukaan Titan ditutupi oleh materi karbon, mirip pabrik zat kimia
organik berukuran raksasa", ujar Lorenz. "Cadangan karbon yang luar
biasa ini merupakan jendela yang penting untuk menatap ke sejarah
geologi dan iklim Titan."



Pada temperatur -179 C, Titan merupakan bulan raksasa yang sangat
dingin. Daripada air, hidrokarbon cair dalam bentuk metana dan etana
hadir di permukaan satelit Saturnus ini, dan zat bernama "tholin"
menyusun "bukit-bukit pasir" (dunes)-nya. Istilah "tholin" digunakan
oleh almarhum Carl Sagan, astronom terkenal, untuk menyebut molekul
organik kompleks pada kimia pre-biotik (asal mula kehidupan)



Wahana angkasa luar Cassini telah memetakan sekitar 20 % permukaan Titan
menggunakan radar. Beberapa ratus danau dan laut telah teramati, bukan
berisi air tetapi berisi hidrokarbon cair yang kalau dijumlahkan
cadangannya melebihi semua cadangan lapangan-lapangan migas di Bumi.
Bukit-bukit pasirnya yang berwarna gelap dan tersebar sepanjang equator
Titan mengandung volume zat organik yang kalau dihitung jumlahnya
ratusan kali lebih besar daripada cadangan batubara di Bumi.



Ada lusinan danau metana dan etana di Titan yang masing-masing mempunyai
volume yang sama dengan seluruh cadangan terbukti gas alam di Bumi (130
milyar ton).  Semua danau yang teramati ini didasarkan kepada data di
wilayah kutub utara Titan. Bagaimana wilayah kutub selatannya belum
diketahui dengan pasti sebab Cassini baru melintasinya sekali dan hanya
nampak dua danau kecil.



Para ilmuwan memperkirakan kedalaman danau dengan membuat beberapa
asumsi umum berdasarkan danau2 di Bumi. Mereka menggunakan luas dan
kedalaman rata-rata danau di Bumi sambil memperhitungkan topografi di
sekitarnya seperti pegunungan. Di Bumi, kedalaman danau seringkali 10
kali lebih kurang daripada ketinggian topografi di sekitarnya. Di citra
radar Cassini itu, semakin gelap warna danau semakin dalam.



Tetapi, bila semua cairan yang teramati di Titan ini adalah metana, maka
ia juga akan menyebabkan greenhouse effect yang hebat. Para ilmuwan
memperkirakan bahwa keberadaan danau metana di Titan ini hanya akan
bertahan beberapa juta tahun karena ketika metana menguap ke atmosfer
Titan, ia akan segera terurai, lalu lepas ke luar angkasa Titan. Bila
metana ini telah habis, maka Titan akan menjadi jauh lebih dingin. Para
ilmuwan percaya bahwa metana ini masuk ke atmosfer melalui mekanisme
methane venting cryovolcanic eruptions - sebuah letusan volkanisme dalam
temperatur di bawah titik beku di Bumi yang tentu saja tidak pernah
terjadi di Bumi.



Misi Cassini berrikutnya adalah terbang mendekati Titan pada 22 Februari
Jumat ini, instrumen radarnya akan mengamati dengan detail calon tempat
pendaratan Huygens probe yang akan berjalan2 di permukaan Titan
mengamati dengan detail satelit ini sambil melakukan ground-check atas
citra radar yang telah diperolehnya.



Misi Cassini-Huygens merupakan proyek kerja sama antara NASA, ESA
(Lembaga Antariksa Eropa) dan Lembaga Antariksa Italia. JPL -Jet
Propulsion Laboratory, yang merupakan sebuah divisi di California
Institute of Technology di Pasadena, melakukan pengelolaan dan
pemantauan misi ini untuk Direktorat Misi Keilmuan NASA di Washington.
Wahana pengorbit Cassini dirancang, dikembangkan, dan dibuat di JPL.
Instrumen radarnya dibangun oleh JPL dan Lembaga Antariksa Italia,
bekerja sama dengan banyak anggota tim dari negara2 Amerika Serikat dan
Eropa.



Demikian sekilas informasi terbaru.



Salam,

awang


      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

Kirim email ke