Mas Doddy dan rekans Mungkin itu yang dimaksud dari 0.5ppg adalah perbedaan Kick Tolerance yang biasanya dibandingkan dengan berat lumpur (MW) yang lagi dipakai. Mengenai satuan Kick Tolerance dalam 'drilling practice' umumnya dipakai ppg atau SG .Satuan ini bisa juga dikonversi ke barrel dengan memasukkan berat jenis dan tingginya dari 'influx' itu sendiri.
Tentang data2 drilling: Setelah melihat sendiri data2 tsb, data2 > yang dipakai Pak Rudi SESUAI dengan fakta yang ada. Justru data2 yang > dipakai / dilaporlkan oleh Lapindo lah yang perlu dipertanyakan. Misalnya: > data casing pressure maximum yang 1054psi, cuma dilaporkan 450psi. Juga > tekanan rekah yang dilaporkan = 16.4ppg EMW, sementara di drilling report > nya PT. Medici (kontraktor pengeborannya) tekanan rekah dilaporkan cuma > 15.7ppg EMW (atau MASP = 277psi). Lalu yang mana yang benar? ini agak aneh kelihatannya ,kenapa ya data ini tidak bisa diklarifikasi secepatnya dari 'raw data' di Rig ?apa kah sudah hilang? atau tak tercatat dengan bagus? nampaknya kalau datanya beda tentu saja terdapat perbedaan interpretasi. Melihat ada dua kubu yang berbeda,apa tidak sebaiknya BP Migas memfasilitasi pertemuan seterusnya dengan memakai pihak ketiga yang independent seperti Akamigas atau lembaga yang mengeluarkan sertifikat 'well control' untuk mereview data dan perhitungan yang ada On 3/7/08, Doddy Suryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > * Casing design dibuat dengan menggunakan Landmark software dengan > > > kick tolerance = 0.5ppg --> jadi tetap aman dengan 6000ft open hole > section > > > tanpa memasang casing 9-5/8". Padahal program asli mengatakan bahwa > casing > > > 9-5/8" harus di pasang di kedalaman 8500ft. > > ________________________________________________________________________ > ___________ > > > > Saya agak kurang paham mengenai ini. Sependek pengetahuan saya, kick > tolerance diberikan dalam bentuk barrel bukan ppg. > > Kalo kick intensity baru memakai ppg. Jadi manakah yang benar? > > > > > > -----Original Message----- > From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Thursday, 06 March, 2008 1:37 PM > To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; serba-kl > Subject: [iagi-net-l] Re: Adu Argumentasi: "Bencana Alam" vs "Dampak > Operasi Pengeboran" > > > > Wah menarik Mas Harry kunci (dispute) yang anda ungkapkan ada dibawah > sini : > > ----------------------- > > Tentang data2 drilling: Setelah melihat sendiri data2 tsb, data2 > > yang dipakai Pak Rudi SESUAI dengan fakta yang ada. Justru data2 yang > > dipakai / dilaporlkan oleh Lapindo lah yang perlu dipertanyakan. > Misalnya: > > data casing pressure maximum yang 1054psi, cuma dilaporkan 450psi. Juga > > tekanan rekah yang dilaporkan = 16.4ppg EMW, sementara di drilling > report > > nya PT. Medici (kontraktor pengeborannya) tekanan rekah dilaporkan cuma > > 15.7ppg EMW (atau MASP = 277psi). Lalu yang mana yang benar? > > ----------------------- > > Dispute diatas mestinya bisa dicari solusinya Yaitu mencari data > > dasar atau data oengukurannya. Wah ini jadi barangbukti di peradilan. > > Dan seperti dugaan saya, yang lebih tahu semestinya rekan-rekan > > driling engineer, bukan geosceintist > > > > Aku barusaja memasukkan tulisan Pak Bambang Istadi yang "beruntung" > > mendapat pengalaman sangat langka. Dan dengan tegas memperjuangkan > > profesionalismenya. "Bambang Istadi: Profesionalisme Kasus LUSI - > > Lumpur Sidoarjo" > > http://rovicky.wordpress.com/2008/03/05/bambang-istadi-lusi/ > > Pengalaman yang perlu dipakai buat siapa saja dalam menghadapi kasus > > multi dimensi. > > > > Salam > > RDP > > "Mas Harry aku minta ijin untuk masuk di Blog ya" > > > > > >

