>
Rekan
Rekan
Terpaksa Si Abah harus
bicara nich , agar tidak jadi salah faham mengenai forum yang
disebutkan oleh Mang Okim
Mungkin perlu disampaikan
maksd dari forum ini sebagaimana dikatakan oleh penggagas Gio (Giovani Wiyarto
Gl 61).
Pertemuan ini
dimaksudkan sebagai ajang kangen kangenan dari mahasiswa yang
sering kumpul nunggu kuliah , atau bareng
kuliah atau praktikum pada era masa
belajar kl thn 1965 s/d thn 1970-an.
Sama sama mengerjakan proyek juga merupakan ajang dimana para mahasiswa
tersebut menjadi lebih akrab ,
contoh Ekplorasi Pertemina di Sultra 1968/70
melibatkan 16 mahasiwa gl 62
– 65.
Jadi merupakan kumpulan kumpulan mahsiswa/i dari berbagai angkatan yang
merasa AKRAB (
disitu juga ada mahasiswa yang suka
menyendiri dan mungkin akrab dengan mahasiswa yang lain in fakta-nya),
dus tidak ada kaitan bahwa reuni ini merupakan formil reuni
angkatan.
Jadi pada
awalnya forum ini tidak bernama.
Tuan rumah pertemuan terakhir menamakan Reuni Gea 1960 - 1965
Kumpulan mahasiswa ini sangat beragam dari yang
sangat pintar sepertiAdjat Sydrajat 60 ,Sudjatmiko 60 , Zanial
Achmad 63 , sampai yang rajin rajin seperti Toto Santosa
63, Supardiono 62 , yang lambat seperti
si Abah 63 , Maruhum Hutabarat 57 menjadi akrab dalam stuasi tahun
1965-1967 dimana kegiatan kurikuler sering diselingi olah
aksi mahasiswa , jaga kampus/piket dsb.
Berhubung berbeda “kepandai-an” , tak
heran selesai dari ITB –pun menjadi tidak sama pula ,
ada yang cepet ada yang sedeng ada yang lambat . Plus
kemudian bekerja dibidang yang sangat berlainan , maka
selama berbakti ( hehehe
jargon-nya) kesempatan untuk
melakukan kntak jarang bahkan ada yg sama sekali tak pernah.
Apalagi bila juga tidak
aktif di perhimpunan seperti IAGI atau
HAGI.
Sebagai contoh
Gio 60 , alm Sumaryono yang berkiprah di PU sangat
jarang dapat kontak dengan Toto 63 , ZA 63 atai Si Abah yang
di Pertamina , juga Hudaya 62 Inco dan Sriwiyanto 62 yang di
LIPI.
Setelah pada pensiun , maka timbul
kekangenan untuk kumpul kumpul sambil heureuy , seuseurian
, minum kopi sambil tanya “apa kabar”
,makan makan , pulang sambil janjian kapan ketemuan
lagi. Dus , hanya itu sama sekali tidak ada serius-ya
.
Tidak formil sama
sekali.
Pada pelaksanaan pertemuan ada
“kesepakatan” , bahwa tuan rumah bisa
mengundang rekan rekan lain yang akrab dengan tuan rumah ,
sehingga reuni menjadi lebih besar dan rame , tapi akibat
lainnya adalah biaya-nya bisa menjadi lebih
besar.
Oleh karena itu rasanya nama nama yang
diusulkan pak Dardji dan nama yang saya sebutkan
diatas kok sangat berat ya, bagaimana kalau
dinamakan Reuni Gea 6065 Genk , agar lebih
ngetrend dan bernuansa sangat tidak
formil.
Si
Abah
(yang
nggak ngerti mengapa reuni-an seperti ini kok begitu
pentingnya sampai masuk di iagi webbsite
?
Rekan
Rekan
Terpaksa
Si Abah harus bicara nich , agar tidak jadi salah
faham mengenai forum yang disebutkan oleh Mang Okim
Mungkin
perlu disampaikan maksd dari forum ini sebagaimana
dikatakan oleh penggagas
Gio (Giovani Wiyarto Gl
61).
Pertemuan ini dimaksudkan sebagai
ajang kangen kangenan dari mahasiswa yang sering
kumpul nunggu kuliah ,
atau bareng kuliah atau praktikum pada era masa belajar kl
thn 1965 s/d thn 1970-an.
Sama sama
mengerjakan proyek juga merupakan ajang
dimana para mahasiswa
tersebut menjadi lebih akrab , contoh Ekplorasi
Pertemina di Sultra 1968/70
melibatkan 16 mahasiwa
gl 62 – 65.
Jadi merupakan
kumpulan kumpulan mahsiswa/i
dari berbagai angkatan yang merasa AKRAB (
disitu juga ada
mahasiswa yang suka menyendiri dan mungkin akrab
dengan mahasiswa yang lain in fakta-nya), dus
tidak ada kaitan bahwa reuni ini merupakan formil
reuni angkatan.
Jadi pada awalnya forum ini tidak
bernama.
Tuan rumah
pertemuan terakhir menamakan Reuni Gea 1960 -
1965
Kumpulan mahasiswa ini
sangat beragam dari yang sangat
pintar sepertiAdjat Sydrajat 60
,Sudjatmiko 60 , Zanial Achmad 63 ,
sampai yang rajin rajin seperti Toto
Santosa 63, Supardiono 62 , yang
lambat seperti si Abah 63 ,
Maruhum Hutabarat 57 menjadi
akrab dalam stuasi tahun 1965-1967 dimana
kegiatan kurikuler sering diselingi
olah aksi mahasiswa , jaga kampus/piket
dsb.
Berhubung berbeda
“kepandai-an” , tak heran
selesai dari ITB –pun menjadi tidak
sama pula , ada yang cepet ada yang
sedeng ada yang lambat . Plus kemudian
bekerja dibidang yang sangat
berlainan , maka selama berbakti ( hehehe
jargon-nya)
kesempatan untuk melakukan
kntak jarang bahkan ada yg sama sekali tak
pernah. Apalagi bila juga tidak
aktif di perhimpunan seperti IAGI
atau HAGI.
Sebagai
contoh Gio 60
, alm Sumaryono yang berkiprah di PU
sangat jarang dapat kontak dengan Toto 63
, ZA 63 atai Si Abah yang di Pertamina ,
juga Hudaya 62 Inco dan Sriwiyanto 62 yang
di LIPI.
Setelah pada
pensiun , maka timbul kekangenan
untuk kumpul kumpul sambil heureuy ,
seuseurian , minum kopi sambil
tanya “apa kabar” ,makan
makan , pulang sambil janjian kapan
ketemuan lagi. Dus , hanya itu sama
sekali tidak ada serius-ya
.
Tidak formil sama
sekali.
Pada pelaksanaan
pertemuan ada
“kesepakatan” , bahwa tuan
rumah bisa mengundang rekan rekan lain
yang akrab dengan tuan rumah ,
sehingga reuni menjadi lebih besar dan
rame , tapi akibat lainnya adalah
biaya-nya bisa menjadi lebih
besar.
Oleh karena itu rasanya
nama nama yang diusulkan pak
Dardji dan nama yang saya sebutkan
diatas kok sangat berat ya,
bagaimana kalau dinamakan Reuni
Gea 6065 Genk , agar lebih
ngetrend dan bernuansa sangat
tidak
formil.
Si
Abah
(yang nggak
ngerti mengapa reuni-an seperti
ini kok begitu pentingnya sampai
masuk di iagi webbsite
?
Rekan
Rekan
Terpaksa Si
Abah harus bicara nich , agar
tidak jadi salah faham mengenai
forum
yang
disebutkan oleh Mang Okim
Mungkin perlu
disampaikan maksd dari forum ini
sebagaimana dikatakan oleh
penggagas
Gio (Giovani Wiyarto Gl
61).
Pertemuan ini
dimaksudkan sebagai ajang
kangen kangenan dari mahasiswa
yang sering kumpul nunggu
kuliah , atau bareng kuliah
atau praktikum pada
era masa belajar kl thn
1965 s/d thn
1970-an.
Sama sama mengerjakan
proyek juga merupakan ajang
dimana
para mahasiswa tersebut
menjadi lebih akrab , contoh
Ekplorasi Pertemina di Sultra
1968/70
melibatkan 16
mahasiwa
gl 62 –
65.
Jadi merupakan
kumpulan kumpulan
mahsiswa/i dari
berbagai angkatan yang merasa
AKRAB ( disitu
juga ada mahasiswa yang suka
menyendiri dan mungkin akrab
dengan mahasiswa yang lain in
fakta-nya), dus tidak ada
kaitan bahwa reuni ini
merupakan formil reuni
angkatan.
Jadi pada awalnya
forum ini tidak
bernama.
Tuan rumah
pertemuan terakhir
menamakan
Reuni Gea 1960 -
1965
Kumpulan
mahasiswa ini sangat
beragam dari yang
sangat pintar
sepertiAdjat Sydrajat
60 ,Sudjatmiko 60 ,
Zanial Achmad 63
, sampai yang rajin
rajin seperti Toto
Santosa 63, Supardiono
62 , yang
lambat seperti
si Abah 63 ,
Maruhum Hutabarat
57
menjadi akrab
dalam stuasi tahun
1965-1967 dimana
kegiatan kurikuler
sering diselingi
olah aksi mahasiswa ,
jaga kampus/piket
dsb.
Berhubung
berbeda
“kepandai-an”
, tak heran
selesai dari ITB
–pun menjadi
tidak sama pula , ada
yang cepet ada
yang sedeng ada yang
lambat . Plus kemudian
bekerja dibidang yang
sangat berlainan
, maka selama
berbakti
( hehehe
jargon-nya)
kesempatan
untuk melakukan
kntak jarang bahkan
ada yg sama sekali tak
pernah. Apalagi
bila
juga tidak
aktif di
perhimpunan seperti
IAGI atau
HAGI.
Sebagai
contoh
Gio 60 , alm
Sumaryono yang
berkiprah di PU sangat
jarang dapat kontak
dengan Toto 63 , ZA 63
atai Si Abah yang di
Pertamina , juga
Hudaya 62 Inco dan
Sriwiyanto 62 yang di
LIPI.
Setelah
pada pensiun ,
maka timbul
kekangenan untuk
kumpul kumpul
sambil heureuy ,
seuseurian , minum
kopi sambil
tanya “apa
kabar”
,makan makan ,
pulang sambil
janjian kapan
ketemuan lagi. Dus
, hanya itu sama
sekali tidak ada
serius-ya
.
Tidak
formil sama
sekali.
Pada
pelaksanaan
pertemuan ada
“kesepakatan”
, bahwa tuan rumah
bisa mengundang
rekan rekan lain
yang akrab dengan
tuan rumah ,
sehingga reuni
menjadi lebih
besar dan rame ,
tapi akibat
lainnya adalah
biaya-nya bisa
menjadi lebih
besar.
Oleh
karena itu
rasanya nama
nama yang
diusulkan pak
Dardji dan
nama yang saya
sebutkan
diatas kok
sangat
berat ya,
bagaimana
kalau
dinamakan
Reuni Gea 6065
Genk , agar
lebih
ngetrend dan
bernuansa
sangat tidak
formil.
Si
Abah
(yang
nggak ngerti
mengapa
reuni-an
seperti ini
kok begitu
pentingnya
sampai masuk
di iagi
webbsite
?
Rekan
Rekan
Terpaksa
Si Abah harus
bicara nich ,
agar tidak
jadi salah
faham mengenai
forum
yang
disebutkan
oleh Mang Okim
Mungkin
perlu
disampaikan
maksud dari
forum ini
sebagaimana
dikatakan oleh
penggagas
sdr Gio
(Giovani
Wiyarto Gl
61).
Pertemuan
ini
dimaksudkan
sebagai
ajang
kangen
kangenan
dari
mahasiswa
yang
sering
kumpul
nunggu
kuliah ,
atau
bareng
kuliah
atau
praktikum
pada
era masa
belajar kl
thn
1965 s/d
thn
1970-an.
Sama
sama
mengerjakan
proyek
juga
merupakan
ajang
dimana
para
mahasiswa
tersebut
menjadi
lebih
akrab ,
contoh
Ekplorasi
Pertemina
di Sultra
1969/70
melibatkan
16
mahasiwa
gl
62 –
65.
Jadi
merupakan
kumpulan
kumpulan
mahsiswa/i
dari
berbagai
angkatan
yang
merasa
AKRAB (
disitu
juga ada
mahasiswa
yang suka
menyendiri
dan
mungkin
akrab
dengan
mahasiswa
yang lain
in
fakta-nya),
dus tidak
ada kaitan
bahwa
reuni ini
merupakan
formil
reuni
angkatan.
Jadi
pada
awalnya
forum
ini
tidak
bernama.Tuan
rumah
pertemuan
terakhir
menamakan
Reuni
Gea
1960 -
1965
Kumpulan
mahasiswa
ini
sangat
beragam
dari
yang
sangat
pintar
seperti
Adjat
Sydrajat
60
,Sudjatmiko
60
,
Zanial
Achmad
63
,
sampai
yang
rajin
rajin
seperti
Toto
Santosa
63,
Supardiono
62
,
yang
lambat
seperti
si
Abah
63
,
Maruhum
Hutabarat
57
menjadi
akrab
dalam
stuasi
tahun
1965-1967
dimana
kegiatan
kurikuler
sering
diselingi
olah
aksi
mahasiswa
,
jaga
kampus/piket
dsb.
Berhubung
berbeda
“kepandai-an”
,
tak
heran
selesai
dari
ITB
–pun
menjadi
tidak
sama
pula
,
ada
yang
cepet
ada
yang
sedeng
ada
yang
lambat
.
Plus
kemudian
bekerja
dibidang
yang
sangat
berlainan
,
maka
selama
berbakti
(
hehehe
jargon-nya)
kesempatan
untuk
melakukan
kontak
jarang
bahkan
ada
yg
sama
sekali
tak
pernah.
Apalagi
bila
juga
tidak
aktif
di
perhimpunan
seperti
IAGI
atau
HAGI.
Sebagai
contoh
Gio
60
,
alm
Sumaryono
yang
berkiprah
di
PU
sangat
jarang
dapat
kontak
dengan
Toto
63
,
ZA
63
atai
Si
Abah
yang
di
Pertamina
,
juga
Hudaya
62
Inco
dan
Sriwiyanto
62
yang
di
LIPI.
Setelah
pada
pensiun
,
maka
timbul
kekangenan
untuk
kumpul
kumpul
sambil
heureuy
,
seuseurian
,
minum
kopi
sambil
tanya
“apa
kabar”
,makan
makan
,
lalu
ngeloyor
pulang
sambil
janjian
kapan
ketemuan
lagi.
Dus
,
hanya
itu
sama
sekali
tidak
ada
serius-ya
.
Tidak
formil
sama
sekali.
Pada
pelaksanaan
pertemuan
ada
“kesepakatan”
,
bahwa
tuan
rumah
bisa
mengundang
rekan
rekan
lain
yang
akrab
dengan
tuan
rumah
,
sehingga
reuni
menjadi
lebih
besar
dan
rame
,
tapi
akibat
lainnya
adalah
biaya-nya
bisa
menjadi
lebih
besar.
Ini
yang
sebenarnya
sangat
dihindari
oleh
penggagas.
Oleh
karena
itu
rasanya
nama
nama
yang
diusulkan
pak
Dardji
dan
nama
yang
terakhir
diatas
kok
sangat
berat
ya,
bagaimana
kalau
dinamakan
Reuni
Gea
6065
Genk
,
agar
lebih
ngetrend
dan
bernuansa
sangat
tidak
formil.
Si
Abah
(yang
nggak
ngerti
mengapa
reuni-an
seperti
ini
kok
begitu
pentingnya
sampai
masuk
di
iagi
webbsite
?
>
Rekan-rekan
IAGI
yang
budiman,
>
>
Kembali
ke
alam
dalam
suasana
religius
!
Itulah
tema
yang
diberikan
oleh
>
MC
handal
kita,
Pak
Tjahya
Hadi
,
untuk
Reuni
Alumni
GEA
ITB
1960
-
1965
>
yang
dilaksanakan
di
Pasir
Luhur
Bandung
pada
hari
Minggu
2
Maret
2008
.
>
Tak
kurang
dari
34
Alumni
yang
hadir,
lebih
separuhnya
membawa
pasangan.
>
Reuni
ini
terasa
istimewa
karena
dihadiri
juga
oleh
3
senior
kita
yaitu
>
Prof.
Soejono
Martodjojo
dan
mbak
Wiwik,
Prof.
Koesoemadinata
dan
ceu
>
Itje,
dan
Kang
Atik
Suardy
dan
ceu
Yus.
Prof.
Sampurno
dan
Prof
.Sukendar
>
Asikin
yang
confirmed
hadir
ternyata
tidak
bisa
datang
karena
ada
>
keperluan
penting
lainnya
yang
sangat
mendadak.
Sementara
itu
Prof.
Djoko
>
Santoso,
Rektor
ITB,
berhalangan
hadir
karena
waktunya
yang
bertepatan
>
dengan
acara
Dies
Natalis
ITB,
demikian
juga
Prof.
Emmy
Suparka,
Wakil
>
Rektor
ITB,
yang
sehari
sebelumnya
berangkat
ke
Kyoto.
Prof.
Katili
yang
>
ingin
juga
hadir
ternyata
kesehatannya
terganggu.
>
>
Mengawali
acara,
seluruh
hadirin
diminta
untuk
berdiri
dan
bersama-sama
>
menyanyikan
lagu
Taubatan
Nasuha
dengan
iringan
musik
keyboard.
Inti
lagu
>
tersebut
sekedar
mengingatkan
tentang
hidup
di
dunia
yang
sangat
singkat
>
dan
untuk
tidak
mengejar
kehidupan
dunia
semata
karena
hal
itu
akan
>
menimbulkan
keletihan
dan
kesengsaraan.
Di
bait
terakhir,
kita
diingatkan
>
untuk
banyak
bertaubat
karena
ajal
yang
kian
mendekat.
Usai
bertaubatan
>
nasuha,
seluruh
hadirin
mendoakan
para
alumni
yang
sakit
atau
telah
>
meninggal
dunia
antara
lain
Prof.
Rubini,
Prof.
Iwan
Tachyudin,
Ir.
H.
>
Sumaryono,
dan
lain-lain,
serta
doa
untuk
keselamatan
kita
semua.
>
>
Back
to
Nature
>
>
Usai
acara
sambutan
dan
penyerahan
cenderamata
kepada
Prof.
Koesoemadinata
>
dan
Prof.
Soejono
beserta
Mbak
Wiwik
dan
Ceu
Itje
(
dasi
country
dan
>
kalung
batumulia
yang
membuat
beliau-beliau
tampak
lebih
muda
dan
lebih
>
energik
),
seluruh
hadirin
diajak
meninjau
kawasan
workshop
yang
luasnya
>
6000
m2
dan
penuh
dengan
ribuan
ton
bahan
batumulia
dari
seluruh
pelosok
>
tanah
air.
Fosil-fosil
kayu
dari
Banten
dan
Garut
yang
panjangnya
ada
yang
>
sampai
14
meteran
dipajang
di
kawasan
ini,
demikian
juga
kecubung
Sumbar,
>
krisopras
Sultra,
bintal
akik
Ponorogo
dan
Banten,
kristal
kuarsa
Banten,
>
geoda
Pacitan
dan
Banten,
giok
Jawa,
panca
warna
Tasik
dan
Garut,
dll.
>
Demo
kerajinan
batumulia
diperagakan
juga
oleh
para
pengrajin
trampil.
>
Mereka
menyiapkan
dasi
country
dan
kalung
wanita
yang
khusus
dibuat
untuk
>
pasangan
para
Alumni
yang
hadir.
>
>
Di
sela-sela
peninjauan
kawasan,
seluruh
Alumni
dibuat
terkesima
>
menyaksikan
Prof.
Koesoemadinata
yang
ternyata
masih
mampu
menuruni
dan
>
menaiki
100
tangga
yang
kemiringannya
sekitar
30
derajat
(
dari
halaman
>
atas
sampai
ke
lembah
sungai
yang
membatasi
kawasan
).
Alhamdulilah,
para
>
Alumni
mengaku
seolah
kembali
ke
alam
,
kali
ini
bukan
untuk
meneliti
>
beragam
batuan
beku,
metamorf,
dan
sedimen,
melainkan
menikmati
keindahan
>
batumulia
yang
walaupun
wujud
bahannya
seperti
batu
biasa
tetapi
menjadi
>
indah
berkilauan
setelah
tersentuh
teknologi.
>
>
Rekan-rekan
IAGI
yang
budiman,
>
>
Reuni
Alumni
GEA
ITB
1960
-
1965
ini
merupakan
kelanjutan
dari
reuni
yang
>
dilaksanakan
setahun
sebelumnya
di
rumah
Bapak
Surachman
Suari
di
Bandung
>
(
25
Maret
2007
).
Kali
ini
dan
seperti
sebelum-sebelumnya,
seksi
>
sibuknya
siapa
lagi
kalau
bukan
Pak
Tjahya
Hadi
(
tiba
di
Pasir
Luhur
>
lebih
dari
sejam
sebelum
acara
),
Pak
Surachman
Suari,
Pak
Supardiyono
>
Sobirin,
Pak
Giovani
Wiyarto,
Bu
Etty
Nuay
(
langsung
terbang
dari
Bukit
>
Tinggi
bersama
Uda
Nuay
),
dll.
Di
barisan
penyumbang
lagu,
selain
Prof.
>
Soejono
(
sampai
terlambat
lunch
)
,
Pak
Tjahya
Hadi
,
Pak
Supardiyono,
>
dan
Bu
Etty
Nuay,
ternyata
Prof
Koesoemadinata
menyumbangkan
juga
beberapa
>
lagu
antara
lain
Monalisa
dan
Too
Young
(
beliau
masih
mendambakan
lagu
>
Hawaian
Wedding
Song
,
sayang
catatannya
tak
tersedia
).
Di
seksi
hiburan,
>
Pak
Giovani
mampu
membuat
para
Alumni
terpingkal-pingkal
mendengarkan
>
banyolan
dan
sindiran-sindiran
segarnya.
>
>
Reuni
9-10
Agustus
2008:
Villa
YUSTIK,
Sela
Bintana,
Sukabumi
>
>
Reuni
Pasir
Luhur
ini
alhamdulilah
telah
berhasil
mengetuk
hati
beberapa
>
alumni
lainnya
untuk
menjadi
tuan
/
nyonya
rumah
reuni
selanjutnya
,
>
antara
lain
Pak
Atik
Suardy
dan
Prof.
Koesoemadinata.
Karena
reuni
di
>
Bandung
telah
dilaksanakan
2
kali
berturut-turut,
maka
prioritas
diberikan
>
kepada
Pak
Atik
Suardy
dan
giliran
selanjutnya
insyaallah
Prof.
>
Koesoemadinata
(
diperluas
ke
angkatan
sebelum
1960
).
>
>
Dengan
demikian
maka
reuni
yang
akan
datang
insyaallah
akan
dilaksanakan
>
di
VILLA
YUSTIK
(
singkatan
dari
Ceu
Yus
dan
Kang
Atik
)
,
Sela
Bintana,
>
Sukabumi,
pada
hari
Sabtu
dan
Minggu,
9-10
Agustus
2008
(
sekalian
>
merayakan
Ulang
Tahun
Kang
Atik
,
8
Agustus
2008
).
>
>
Semoga
makna
silaturahmi
kita
semakin
hari
semakin
meningkat
khususnya
>
dalam
mempererat
tali
persahabatan
dan
kesetiakawanan
di
antara
kita.
>
Amiin.
>
>
Salam
hormat,
>
>
Mang
Okim
>
>
KETERANGAN
GAMBAR
:
>
>
Duduk
dari
kanan
ke
kiri
:
Kang
Atik,
Bu
Etty
Nuay,
Prof.
Koesoemadinata,
>
Bu
Djoedjoe,
Prof.
Soejono,
mang
Okim.
>
Berdiri
dari
kanan
ke
kiri
:
Pak
Yaya
Sunarya,
Pak
Runtiarko,
Pak
Tjahya
>
Hadi,
Pak
Amar
Rachmat,
Pak
Sumani
(
1963,
kesehatannya
memprihatinkan
),
>
Pak
Supardiyono
Sobirin,
Pak
Toto
Santoso,
Pak
Mulyadi,
Pak
Nugroho,
Pak
>
Nasrun
Nurdin,
Pak
Suroso,
Pak
Thamrin
Cobrie,
Pak
Zanial
Achmad,
Pak
>
Djumardi,
Pak
Umar
Effendy
Daulay,
Pak
Fahmi
Santosa,
Pak
Darwin
Kadar,
>
Abah
Yanto
Sumantri.
>
Berdiri
di
belakang
dari
kanan
ke
kiri
:
Pak
Surachman
Suari,
Pak
Andoko
>
Wibowo,
Pak
Poernomo
Satriyo,
Pak
Bandono,
Pak
Hudaya,
Pak
Giovani,
Pak
>
Herman,
dan
Pak
Suwiyanto.
>
Catatan
:
Pak
Mulhadiono
dan
Pak
Joel
Pattipeilohy
tidak
ikut
difoto
>
karena
datang
terlambat.
>
>