Andi, Terima kasih atas perhatian dan informasinya. Minggu lalu saya menerimanya juga dari seorang teman yang sedang kuliah di Royal Holloway. Pasti akan merupakan pertemuan yang menarik. Saya minta izin Andi ya untuk meneruskan edaran ini ke milis2, siapa tahu ada rekan2 yang berminat. Saya ada beberapa paper dan penelitian belum dipublikasi yang mungkin berhubungan dengan tema seminar, semoga pada saatnya bisa saya ajukan untuk seminar tersebut. Di bawah ada sedikit ulasan tambahan tentang kontrol geologi kepada keanekaragaman hayati. Di Indonesia-lah tempat terbaik untuk mempelajari dan mengujinya. salam, awang Southeast Asian Gateway Evolution Conference Sebuah pertemuan yang akan menarik dan Indonesia akan merupakan wilayah fokus pembahasan. Tetapi, rupanya kemenarikan Indonesia ini lebih terlihat oleh ilmuwan-ilmuwan di luar Indonesia daripada para ilmuwan nasional. Ini terbukti dari penyelenggara pertemuan ini, yaitu University of London dan Natural History Museum (London). Semoga nanti banyak ilmuwan Indonesia yang hadir dan mempresentasikan hasil penelitiannya. Indonesia cukup mempunyai para spesialis yang berhubungan dengan tema pertemuan ini : Southeast Asian Gateway Evolution Seperti disebutkan di edarannya, pertemuan ini akan bersifat multidisiplin mendiskusikan sejarah geologi dan biologi wilayah sekitar Indonesia Timur, khususnya yang berhubungan dengan stratigrafi, tektonik, oseanografi, iklim, spesiasi (pembentukan spesies dalam teori evolusi) dan biodiversitas (keanekaragaman hayati). Melihat temanya, kiranya masalah posisi Indonesia sebagai gateway (pintu gerbang) di antara dua benua dan dua samudera, yang berakibat kepada karakteristik geologi, oseanografi, iklim, dan biologi akan merupakan diskusi yang menarik. Indonesia memang wilayah penuh benturan atau pertemuan : pertemuan antar lempeng, pertemuan antar massa udara (lihat ulasan saya di milis ini pada awal Maret 2008 berjudul Indonesia : konvergensi meteorologi), pertemuan antar massa air laut dari dua samudera, pertemuan antar dua dunia fauna dan flora. Indonesian Gateway ini sudah lama dikenal para ilmuwan, mengemuka terutama ketika Alfred Russel Wallace, naturalis Inggris pengelana Indonesia (1854-1862), mengemukakan garis pembatas dua dunia fauna di Indonesia : Wallace Line (1863). Ulasan saya tentang garis biogeografi ini pernah dipublikasi di Berita IAGI edisi Juni 2005 : Indonesia : Bagaimana Geologi Mengendalikan Keanekaragaman Hayati. Barangkali sedikit dari kita yang masih menyimpan copy Berita IAGI, tetapi artikel tersebut pernah saya posting juga di milis ini pada beberapa saat yang lalu. Berikut ini adalah tambahan keterangan tentang arti geologi Wallace Line, mungkin berhubungan dengan tema pertemuan September 2009 itu. Wallace Line dipelajari dalam biologi saat membicarakan biogeografi, tetapi posisi garis ini seluruhnya bergantung kepada geologi dan dikendalikan oleh gerakan tektonik lempeng. Wallace menaruh garisnya pertama kali (1863) di Selat Lombok ke atas melalui Selat Makassar dan berbelok ke timur sepanjang Laut Sulawesi di bawah Filipina, 47 tahun kemudian (1910, dua tahun sebelum Wallace wafat) ia mengubah garisnya dari Selat Lombok berbelok ke timur sepanjang Laut Flores kemudian berbelok ke utara di sebelah kanan Buton, Kepulauan Sula, dan Laut Maluku lalu menuju Samudera Pasifik. Revisi garis ini lebih sesuai dengan sejarah tektonik lempeng di Indonesia. Benturan mikro-kontinen dari Australia/New Guinea terhadap Asia pada 15-5 Ma terjadi di garis Wallace 1910. Tulis Audley-Charles et al. (1981), The collision brought two originally separate faunas and floras into direct contact, ultimately giving rise to the present-day distribution of plants and animals Paling tidak, ada tiga peristiwa geologi yang bisa berkonsekuensi penting kepada biogeografi (Tomascik et al., 1997) : (1) longitudinal displacement, (2) land connections and sea barriers, dan (3) sea level history and speciation. Longitudinal Displacement. Perpindahan fauna terjadi berhubungan dengan perpindahan mikrokontinen yang memisahkan diri dari Gondwana bagian timur dan kini membentuk Asia Tenggara, atau melalui perpindahan sejumlah terrane yang sekarang menyusun bagian utara New Guinea (Pandolfi, 1993; Metcalfe, 1996; Hall, 2002; Satyana, 2003). Mikrokontinen2 penyusun Asia Tenggara berperan penting dalam biogeografi sebab mereka telah memindahkan fauna saat sejumlah mikrokontinen ini bergerak ke utara dan ke barat dari Australia dan New Guinea menuju Asia Tenggara. McKenna (1973) memperkenalkan istilahNoahs Arks untuk fauna2 yang telah pindah secara pasif ini di atas lempeng2 geotektonik (bayangkan binatang2 yang ditampung bahtera Nabi Nuh pada Kitab Kejadian lalu bahtera itu mengembara terapung di atas air bah). Land Connections and Sea Barriers. Suatu penghalang daratan (land barriers) mempengaruhi biogeografi dalam dua cara. Pertama, penghalang ini menghentikan penyebaran marine taxa dan planktonic larvae. Kedua, penghalang ini mendorong terjadinya spesiasi (pembentukan spesies baru) melalui mekanisme isolasi populasi marine taxa (Pandolfi, 1993). Di lain pihak, jembatan daratan ini menjadi sarana untuk migrasi biota daratan (Audley-Charles, 1981). Misalnya, benturan mikrokontinen Banggai-Sula dengan Sulawesi pada Mio-Pliosen yang membentuk land connection yang sebelumnya tidak ada. Land connection ini telah menjadi sarana migrasi terrestrial biota, tetapi ia menjadi sea barrier yang memisahkan marine biota di utara dan selatan Banggai-Sula. Sea Level History and Speciation. Sebagian besar mikrokontinen penyusun Asia Tenggara (Tibet selatan, Burma, Thai-Malaya, Sumatra) tersingkap selama peristiwa rifting pada zaman Yura. Ketika muka laut naik secara global pada Kapur akhir, sebagian mikrokontinen ini tenggelam meskipun tidak cukup dalam, lalu tersingkap lagi ketika muka laut turun memasuki awal Tersier. Naik-turun muka laut ini berpengaruh kepada spesiasi. Pada saat tersingkap, sejumlah mikrokontinen ini dapat menjadi land connection sekaligus sea barrier. Pada saat tenggelam, laut saling berhubungan lagi membuka peluang migrasi marine-taxa. Naik turun muka laut ini seperti kita tahu masing-masing berhubungan dengan deglasiasi dan glasiasi. Sundaland dan Sahul-land menunjukkan contoh yang baik untuk hal ini. Selama susut laut kala Plistosen, ada land connection antara Asia dan Australia. Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Malaysia. Kalimantan dan Sulawesi pun di beberapa tempat bersatu melalui jembatan daratan. Persatuan daratan ini telah menjadi sarana migrasi fauna darat dan barier bagi fauna laut. Baik migrasi maupun barier akan menciptakan spesies baru, masing-masing melalui percampuran dan isolasi. Meskipun geologi mengontrol biogeografi, mengurai hubungan ini tidaklah sederhana (Hall, 1998). Kontrol itu sering tidak terlihat sebab tak langsung. Geologi dan tektonik mempengaruhi variabel-variabel muka laut, elevasi daratan, jenis tanah, angin dan gerakan air, juga iklim. Lalu, variabel-variabel ini berpengaruh kepada biogeografi. Pemahaman yang lebih baik antara geologi dan biogeografi diharapkan dapat diperoleh bila terjadi sinergi antara ahli-ahli dari kedua disiplin ilmu ini. Para ahli geologi bisa mengkontribusikan peta-peta detail tentang penyebaran daratan dan laut, paleo-topografi, garis pantai, batas paparan, informasi tentang umur dan litofasies, pengangkatan dan penenggelaman, peristiwa magmatik, rekonstruksi tektonik. Para ahli biogeografi dapat mengkontribusikan informasi tentang distribusi fosil-fosil tanaman untuk mengetahui paleo-temperatur dan lingkungan, flora dan fauna khas untuk setiap satuan geologi, kecepatan spesiasi dan penyebaran fauna, studi DNA untuk mengetahui skala waktu perkembangan biologi, atau simulasi matematika variabel-variabel biologi untuk menguji pola prediksi biogeografi terhadap pola sebenarnya. Adalah bukan hal yang mustahil bila geotektonik sampai mengontrol pola sejarah penyebaran jangkrik di suatu wilayah di New Guinea dan Pasifik Barat, paling tidak itu kesimpulan menurut Boer dan Duffels (1996) dalam makalah mereka,Historical biogeography of the cicadas of Wallacea, New Guinea and the West Pacific : a geotectonic explanation (dalam jurnal Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology 124, hal. 153-177). Demikian sedikit tentang kontrol geologi kepada biogeografi. Indonesia memiliki tempat-tempat terbaik untuk menyelidiki dan menguji hubungan geologi dan biogeografi. I believe the western part to be a separated portion of continental Asia, the eastern the fragmentary prolongation of a former Pacific continent. (Alfred Russel Wallace dalam sebuah surat kepada Henry Bates, 1858; dalam van Oosterzee, 1997, Where Worlds Collide the Wallace Line, Cornel University Press, hal. 21). salam, awang
"Salahuddin, Andi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Pak Awang ysh: Maaf sebelumnya via japri atau kalau bapak sudah pernah menerima email/info yang sama. Saya menerima email ini karena kebetulan termasuk dalam miling-list circularnya. Setelah membaca dan mem-browsing link yang ada di bawah, saya jadi teringat pak Awang yang sangat aktif dengan penelitian dan penulisan yang berhubungan dengan evolusi Indonesia/SE Asia baik dari sisi geologi, iklim, bahkan sejarah manusia yang mendiaminya. Mungkin bapak tertarik untuk berpartisipasi dalam konferensi ini? Mudah-mudahan bermanfaat. Wassalam, Andi -----Original Message----- From: SAGE2009 [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, March 11, 2008 7:57 AM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: SAGE2009 - Southeast Asian Gateway Evolution Conference SAGE2009 - Southeast Asian Gateway Evolution Conference 14-17 September 2009: Royal Holloway University of London In September 2009 we are holding an international meeting at Royal Holloway that will focus on the Indonesian Gateway, the current connection between the Pacific and Indian Oceans. The meeting is aimed to bring together Life and Earth Scientists to discuss the history, development and current state of the region. We shall run SAGE2009 meeting as two parallel scientific meetings, with several plenary sessions and keynote speakers who will be encouraged to explain their subject and give overviews that can be useful to all scientists who attend. We welcome contributions on all aspects of the geology, oceanography, climate, biology and development of this region, particularly those that cross discipline boundaries, and can explain the relevance of their work to other scientists including non-specialists in the field. Please download the 1st Circular at http://sage2009.rhul.ac.uk To register your interest in attending this meeting, please click on the following link http://sage2009.rhul.ac.uk/interest/express_interest_form.html or mail your name and contact details to SAGE2009 SE Asia Research Group Royal Holloway University of London Egham, Surrey TW200EX, UK --------------------------------- Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

