Pak Bosman,
   
  Winchester selalu detail dalam bercerita dan memikat. Membaca Krakatoa-nya 
benar2 mengasyikkan, pikiran kita terputar ke 150-125 tahun yang lalu dengan 
berbagai detail itu, membayangkan lampu2 gas di pinggiran jalan Batavia yang 
meledak tiba2 karena tekanan udara yang tidak biasanya menjelang Krakatau mau 
meletus, membayangkan gajah sirkus yang gelisah menjelang Krakatau mau meletus, 
dll. Winchester dua kali mengunjungi Krakatau dan pergi ke Banten-Anyer dan 
Jakarta dalam rangka penulisan bukunya itu. Saya membeli buku Krakatoa 
Winchester yang hard cover, hanya gara-gara kertasnya kuning seperti berjerami, 
menarik ingatan saya ke masa lalu saat zaman kertas masih sulit. Winchester 
sengaja menggunakan kertas semacam itu sebab ini buku sejarah (hm..).
   
  Nalarnya mengapa beberapa jenis binatang bisa peka sebelum kejadian bencana 
alam adalah mereka mempunyai kemampuan mendria (to sense) perubahan-perubahan 
frekuensi suara dan tekanan udara di luar kapasitas indra manusia. Saat sebelum 
gempa, sebelum pematahan batuan terjadi di hiposentrum, deformasi yang makin 
memuncak akan menggeser-geser konfigurasi batuan di sekitarnya. Perubahan 
geometri batuan itu mau tidak mau akan menimbulkan bunyi yang pastinya 
infrasonik, jauh di luar batas kapasitas mendria manusia. Luput dari manusia, 
tetapi generasi bunyi dari Bumi yang tak biasa ini bisa didria oleh binatang, 
dan mereka lari sesuai nalurinya menghadapi bahaya. Perubahan tekanan udara 
begitu juga, beberapa binatang punya kemampuan indra peraba yang luar biasa 
yang bisa mendeteksi suatu bencana alam yang akan tiba. Itulah kebijaksananaan 
yang ditanamkan Tuhan kepada mereka. Sebuah buku berjudul "Supersense Animals" 
terbitan BBC kaya sekali mengupas hal-hal seperti ini. Boleh
 kapan-kapan kita diskusikan lebih detail.
   
  Manusia kan dilengkapi dengan kemampuan inteligensia yang luar biasa. 
Meskipun nampaknya saat ini kita belum berdaya memprediksi dengan tepat kapan 
gempa kan datang, tokh kita makin mendekatinya, semoga kelak kita bisa makin 
mendekatinya. Tetapi kalau mau menangkap saripati alam (seperti yang barangkali 
dilakukan Mbah Maridjan)mencari kedigdayaan aji linuwih bersatu resonansi 
frekuensi dengan indra binatang mungkin boleh2 saja dan telah dilakukan juga 
oleh manusia sepanjang sejarah manusia ada. Misalnya, aliran2 silat di Cina pun 
baik Shaolin Pay, Kun Lun Pay, Bu Tong Pay, dll. mengenal jurus2 yang ditiru 
dari gerakan-gerakan dan sifat binatang seperti coa (ular), hauw (harimau), 
atau leung (naga). Pencak Silat Indonesia pun kaya akan hal ini misalnya 
Pamonyet (kera), Pamaung (harimau), dsb. Termasuk geraman harimau yang bisa 
meluluhlantakkan mental itu, mungkin masih ingat cerita tersohor "Manusia 
Harimau" (SB Chandra) yang pernah difilmkan Ratno Timoer?
   
  Geologi Kuarter, saat proses-proses geologi bersentuhan dengan manusia yang 
bersejarah, termasuk bencana alam yang pernah terjadi, menarik untuk diteliti 
lebih jauh, apakah benar mereka saling berkaitan. Erupsi gununglumpur pada 
zaman Jenggala, Majapahit di Depresi Kendeng dan Delta Brantas, bahkan seawal 
Ratu Shima pada abad ke-8 di wilayah Purwodadi sekarang menarik buat saya untuk 
mengetahuinya lebih jauh. 
   
  Sekarang saya sedang mengalihkan perhatian ke erupsi gununglumpur sejarah di 
Kubah Sangiran, dalam pandangan saya ia mungkin berhubungan dengan terhentinya 
evolusi dan migrasi Homo erectus erectus di Kubah Sangiran. Rekonstruksi 
geologi dan pentarikhan radiometri sementara ini menunjukkan keterkaitan yang 
kuat di antara dua fenomena geologi dan paleo-antropologi ini.
   
  A Crack in the Edge of the World, cerita Simon Winchester (2005) tentang 
gempa San Francisco 1906 dan Sesar San Andreas saya punya bukunya (soft cover), 
itu cerita geologi Winchester terbaru.
   
  salam,
  awang
   
  bosman batubara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Pak Awang yang baik, buku Krakatoa Winchester itu emank keren banggets... 
Saya suka detil-detilnya. Juga perspektif yang dia bangun dalam melakukan 
pendekatan kepada semua fenomena sejarah. Semua data yang ada dimainkan. Bukan 
hanya data geologi an sich, tetapi juga lukisan, gajah yang mengamuk pada malam 
sirkus, dan seterusnya. geologist Oxford emank keren.
Tetapi satu hal yang sangat menarik perhatian saya adalah tentang gajah sirkus 
di Batavia yang mengamuk sesaat sebelum Krakatoa meletus. Diceritakan oleh 
Winchester bahwa sesaat sebelum Krakatoa meletus, dalam rekonstruksi waktu 
penulisnya tentu saja, gajah yang tergabung dalam tim sirkus gelisah, mengamuk, 
dan memecahkan barang-barang. Ini fenomena pertama bahwa binatang ditengarai 
memiliki indra yang sensitif terhadap gejala alam seperti gunung api meletus. 
Hasil riset pakdhe Winchester ini berikutnya adalah fenomena di seputaran San 
Andreas Fault. Ternyata ada peningkatan laporan orang yang kehilangan binatang 
peliharaan sesaat sebelum terjadinya gempa yang dipicu oleh patahan itu. 
Lagi-lagi, hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa binatang memiliki indra yang 
sensitif terhadap fenomena alam (dan kali ini gempa bumi yang dipicu patahan).
Kemudian yang ketiga, ini diluar buku Pakdhe Winchester, tetapi masih berkaitan 
dengan hubungan antara binatang dan kejadian alam tadi. Beberapa bulan yang 
lalu, saya menemukan sebuah tulisan singkat di KOMPAS (saya masih punya 
klipingnya), bahwa di daratan Cina sekarang sedang dikembangkan metode 
pendeteksian gempa bumi dengan menggunakan binatang sebagai detektornya. 
Binatang yang mereka gunakan adalah ular. Praduganya persis sama dengan logika 
Pakdhe Winchester itu, bahwa binatang (dalam kasus kolega kita di Cina daratan 
ini ular) memiliki indra yang sensitif terhadap fenomena alam seperti letusan 
gunungapi dan gempabumi. Dalam tulisan singkat itu diceritakan bahwa ular-ular 
akan keluar dari sarangnya di dalam tanah kalau terjadi perubahan entah apa di 
sana sesaat sebelum terjadinya gempabumi. Kelakuan ular itulah yang diamati dan 
dicatat oleh para ahli, dan tentu saja kelak akan diformulasikan, guna menyari 
hubungan antara perilaku ular dan gempabumi
ini.
Perihal-perihal itulah yang kadang selalu saja mengusik saya. Apa benar 
binatang memiliki sensor2 itu? Bagaimana rasionalisasi sains-nya? Dan untuk 
konteks Indonesia, saya curiga, jangan-jangan Mbah Marijan di Yogya juga 
memiliki ilmu itu. Peradaban kita yang pendek ini pernah punya sejarah manusia 
yang bisa berbicara dengan binatang lewat Nabi Sulaeman. Terserah percaya atau 
tidak, tetapi ada kitab yang menyeritakan itu. Jangan-jangan Mbah Marijan di 
Jogja bisa berkomunikasi dengan binatang, entah melalui kegiatan spritual 
seperti apa gitu. Dan dengan kemampuannya berkomunikasi dengan binatang itu 
Mbah Marijan kemudian mempelajari ilmu-ilmu binatang, dan endingnya, bisa 
memperkirakan dengan tepat bahwa Gunung Merapi tidak akan meletus. Sehingga dia 
tak mau dievakuasi pada saat banyak orang dievakuasi dan pada saat para 
geosaintis menyarankan evakuasi. Sekali lagi, sains (dalam hal ini vukanologi) 
mengaku salah di hadapan si Mbah. 
Dan kecurigaan saya ini lama-kelamaan berkembang menjadi semacam rasa percaya, 
mesti saya sendiri sampai sekarang belum bisa menjelaskannya. Tapi percaya 
bahwa si Mbah punya "ilmu lain" yang tak dimiliki oleh para vulkanolog. Dan 
saya, lagi-lagi semakin percaya, bahwa sejarah adalah milik para pemenang. 
Andaikata yang memenangkan kontestasi sejarah adalah kaumnya Mbah Marijan 
(untuk menggampangkan penyebutan sebut saja 'kaum
tradisional', meski kita masih dapat diskusi soal ini), maka saya percaya bahwa 
di almamater saya, Teknik Geologi UGM, tidak akan diajarkan vulkanologi, tetapi 
akan diajarkan bagaimana caranya biar punya ilmu seperti Mbah Marijan. 
Kasarannya mungkin akan diajarkan bagaimana caranya memeroleh wangsit, nur, 
pulung, atau juga telobodro. Mungkin kampusnya tak akan seperti sekarang dengan 
gedung yang wah berlantai tiga, tetapi akan berupa padepokan dengan dengan 
suara air yang mengalir di sekelilingnya. Dan soal epistemologi, sistematisasi, 
dan seterusnya, saya juga masih yakin bahwa itu hanyalah masalah teknis. 
Artinya ilmu yang dimiliki oleh si Mbah pun bisa dibuat sillabusnya, dijadikan 
per (semacam) SKS, dan bahkan lebih canggih lagi: dirumuskan metode-metodenya. 
Wah... tambah mumet!!! pecas ndahe.
Dan di sini saya diskusi, menyari pendapat dari para sepuh. Karena biasanya 
para sepuh punya ilmu yang khas. Seperti misalnya ketika Pak Awang menulis 
makalah Lusi yang sangat memikat dengan bahan-bahan antara lain dari 
dongeng-dongeng dan kitab-kitab kuno: korpus yang selama ini luput kita sentuh. 
Bagaimana Pak Awang? btw, Pak Awang punya "A Creck in the Edge of the World"? 



tabik,
bosman batubara 






----- Original Message ----
From: Awang Satyana 
To: [EMAIL PROTECTED]; Forum HAGI ; IAGI 
Sent: Sunday, April 6, 2008 11:39:34 PM
Subject: [iagi-net-l] Re: [Geo_unpad] Re: FW: SAGE2009 - Southeast Asian 
Gateway Evolution Conference

Membaca “Krakatoa” Winchester (2003) sangat mengasyikkan, pengetahuan kita 
diperkaya oleh detail geologi dan detail sejarah Banten dan Batavia. Tulisan 
Winchester tentang geologi selalu detail, seperti dua buku lainnya tentang 
William Smith (The Map that Changed the World, 2001) dan tentang gempa San 
Francisco dan San Andreas Fault (A Crack in the Edge of the World, 2005). 
Semoga kelak muncul geologist Indonesia yang bisa bercerita seperti Simon 
Winchester, memperkenalkan geologi kepada masyarakat dalam kemasan cerita.

Indonesia adalah dunia perbenturan, semuanya di sini berbentur, termasuk 
mineralisasinya. Ini telah diketahui sejak lama, disintesis pertama kali oleh 
Westerveld (1952) yang menulis “Phases of mountain building and mineral 
provinces in the East Indies” dan mempresentasikannya dalam suatu kongres 
geologi internasional di Inggris pada tahun 1948. Tahun 1974, Katili merevisi 
publikasi jalur mineralisasi Westerveld ini menggunakan teori tektonik lempeng, 
dan mempublikasikannya dalam tulisan “Geological environment of the Indonesian 
mineral deposits – a plate tectonic approach (Publikasi Teknik Direktorat 
Geologi-Seri Geologi Ekonomi no. 7).

Bisa dibaca pada kedua publikasi penting di atas bahwa terjadi mineralisasi 
yang menyolok antara Indonesia Timur dan Indonesia Barat, batas keduanya lebih 
kurang pada Wallace Line.

Westerveld memperkenalkan bahwa ada kaitan erat antara fase pelipatan, gaya 
tektonik, dan umur mineralisasi. Ia memperkenalkan empat jalur orogen. Orogen 
Malaya Yura Akhir yang menghubungkan lipatan2 di Sundaland dan Semenanjung 
Malaya dan membawa deposit kasiterit, emas dan bauksit. Orogen Sumatra Kapur 
melalui Sumatra, Jawa Tengah, dan Kalimantan Tenggara membawa besi piro-somatik 
dan deposit logam dasar emas-perak, laterit besi, dan plaser intan dan emas. 
Orogen Sunda Miosen Tengah yang melalui busur kepulauan dalam Sumatra dan Jawa, 
Nusa Tenggara dan Sulawesi bagian barat membawa bijih manggan dan emas-perak 
epitermal. Orogen Maluku Kapur Akhir-Miosen tengah yang melalui busur kepulauan 
luar Sumatra-Timor-Banda-Sulawesi bagian timur yang membawa nikel-silikat, 
bijih besi laterit yang berasosiasi dengan peridotit. 

Katili menyimpulkan bahwa mineralisasi Tersier di Sulawesi, Halmahera, dan 
Irian Jaya lebih penting dibandingkan di Jawa, Sumatra dan Nusa Tenggara. Ini 
mungkin berhubungan dengan unsur-unsur kerak yang digenerasikan di pusat 
pemekaran Pasifik yang kelihatannya lebih kaya akan logam dibandingkan yang 
digenerasikan di Samudra Hndia, ini bisa dibuktikan dengan banyaknya nodul 
polimetalik di beberapa bagian Pasifik.

Deposit nikel lateritik di Sulawesi, Gebe, Gag, dan Pegunungan Cycloops di 
Irian Jaya berasal dari batuan ultrabasa yang dihasilkan oleh subduksi dan 
collision yang berasal dari pusat pemekaran di Samudra Pasifik. Saya pernah 
mengeksplorasi deposit laterit nikel Cycloops, Jayapura ini, pemandangannya 
begitu menakjubkan – sebuah plato yang ke utara terbuka ke laut lepas Pasifik. 

Lingkungan geologi nikel lateritik di wilayah ini menunjuk kepada fakta bahwa 
lingkungannya berupa busur kepulauan samudra yang terbuka yang dicirikan oleh 
lapisan tipis sedimen pelagis yang terdeformasi kuat dan melibatkan bagian 
mantel. Area ini juga berhubungan dengan zone benturan Sulawesi dan Maluku, 
wilayah dengan kerak oseanik dan mantel tersesarsungkupkan di atas busur 
kepulauan. 

Kejadian tembaga porfiri di Sulawesi tengah dan utara dan Irian Jaya 
menunjukkan bahwa busur kepulauan volkano-plutonik asal Pasifik juga kaya akan 
mineralisasi tembaga. Langkanya deposit tembaga di Sumatra dan Jawa mungkin 
disebabkan beberapa faktor antara lain : tutupan volkanik Resen, penetrasi 
magma berbagai umur pada jalur-jalur orogen yang tumpang tindih, dan mungkin 
sedikitnya kandungan mineral logam pada kerak samudra Hindia yang menunjam di 
bawah kerak benua Asia yang tebal dan tua.

Maka, perbedaan komposisi mantel di bawah pusat pemekaran Samudra Hindia dan 
Samudra Pasifik bertanggung jawab bagi perbedaan mineralisasi di Indonesia 
Barat dan Indonesia Timur. Lingkungan geologi sistem palung-busur yang berbeda, 
perubahan temporal lokasi dan arah kemiringan zone Benioff juga bertanggung 
jawab bagi komplikasi dan keragaman geologi dan mineralisasi di dalam sistem 
palung-busur yang sama.

Karena Indonesia Barat datang dari Asia dengan mineralisasi yang dipengaruhi 
kerak samudera Hindia dan benua Asia, dan Indonesia Timur datang dari Australia 
dengan mineralisasi yang dipengaruhi kerak samudera Pasifik, maka mineralisasi 
kedua wilayah ini berbeda, dan garis batas keduanya lebih kurang di jalur 
tempat Wallace menarik garis atas namanya.

Salam,
awang 83

awang bowo wrote: Daer all
<!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
Sungguh menarik apa yang diuraikan oleh senior2 di milist ini dari strtigraphy, 
konvergansi geology dan konvergensi meteorology,global climate, wallace line 
sampai dengan james hutton laws. Tidak dipungkiri, sumbangan via milist ini 
sangat membantu membuka wawasan kita, baik untuk akademisi, profesonal maupun 
mahasiswa. 
<!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
Sekedar sharing, bahwasanya explanations mengenai hal diatas adalah saling 
berhubungan seperti benang merah yang saling terkait antara satu dengan yang 
lain. 
<!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
Yang tidak terpikirkan oleh Wallace adalah bahwa mekanisme geologi kelak 
diketahui sebagai gerakan plate tektonik yang mengakibatkan burung2 dan 
binatang itu mengelompok, yang membuat kakaktua begitu dekat sehingga bisa 
dijerat oleh bajing, dan tapir begitu dekat sehingga bisa bertemu dengan 
platypus(binatang menyusui dari Australia)yang berkaki selaput, adalah sama 
persis dengan tabrakan yang memberikan reputasi besar pada Indonesia sebagai 
pusat kendali vulkanik dunia, dengan gunung berapinya yang paling berbahaya, 
KRAKATAU sebagai salah satu bagian klasiknya…
Mungkin bisa jadi satu tambahan untuk bisa lebih dalam memahami apa yang 
disampaikan pak awang..“bagaimana geologi mengendalikan keanekaragaman hayati”
<!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
Adalah Seorang Alfred wegener 1915 dalam bukunya die versciebung der kontinente 
(pergeseran benua) telah melakukan serangkaian ekpedisi ke benua amerika dan 
afrika sampai greenland(sebuah pulau yg sangat rumit dan instruktif)untuk 
mencari pendukung tentang gagasan plate tektonik. Ia mendapatkan bukti bahwa 
pada deretan pegunungan yang ada, deposit2 batubara dan penemuan fosil dikedua 
benua yang dibatasi oleh samudra tersebut, wegener menyadari , 
rangkaian-rangkaian pegunungan dan jalur mineral yang bisa di ekploitasi, serta 
garis amonit, trilobite dan urat2 batuan graptolitic shale itu sendiri 
ditangkupkan, ternyata pas betul, seperti potongan 2 dari teka-teki jigsaw 
raksasa
<!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
Lebih lengkapnya, kita bisa membaca buku “KRAKATAU ketika dunia meledak 
27/8/1883” ditulis oleh Simon Winchester (seorang Geologist lulusan oxford 
university)
Buku ini sangat menarik, mungkin rekan2 sudah ada yang memilikinya..dalam 
bukunya, dia bercerita secara detail,lugas dan mudah dipahami mengenai 
kronologi geology secara general, dan spesifik berbicara tentang krakatau 
berdasarkan fakta. Dan mengetengahkan fenomena letusan krakatau yang begitu 
dahsyat berpengaruh secara fisik, mental, politik social dan kebudayaan yang 
menimpa bangsa Indonesia saat itu sampai sekarang… 
<!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
Kembali ke topic, sekedar untuk bertukar informasi, ada beberapa hal yang ingin 
saya tanyakan, mungkin pak awang maupun dosen atau senior2 lain bisa membantu



kita ketahui bahwa Line Wallace notabene berhubungan dengan biogeografi, tapi 
apakah ada related issue ataupun teori yang bisa menjelaskan antara varietas 
mineral deposit dengan line wallace? Karena ketika saya melakukan ekplorasi di 
berbagai wilayah nusantara,ada perbedaan mineral deposit yg khas antara wilayah 
Indonesia bagian barat dan timur, salah satu contohnya (tolong koreksi klo ada 
yg kurang)endapan nickel tidak banyak ditemukan di sebelah barat line Wallace, 
sedangkan sebelah timur line Wallace banyak kita temukan cebakan2 nickel 
seperti di pulau halmahera,sulawesi (selatan, tenggara) dan irian bagian 
barat(daratan sorong)


trimakasih
salam


awang98

Awang Satyana wrote: Andi,

Terima kasih atas perhatian dan informasinya. Minggu lalu saya menerimanya juga 
dari seorang teman yang sedang kuliah di Royal Holloway. Pasti akan merupakan 
pertemuan yang menarik.

Saya minta izin Andi ya untuk meneruskan edaran ini ke milis2, siapa tahu ada 
rekan2 yang berminat. Saya ada beberapa paper dan penelitian belum dipublikasi 
yang mungkin berhubungan dengan tema seminar, semoga pada saatnya bisa saya 
ajukan untuk seminar tersebut.

Di bawah ada sedikit ulasan tambahan tentang kontrol geologi kepada 
keanekaragaman hayati. Di Indonesia-lah tempat terbaik untuk mempelajari dan 
mengujinya. 

salam,
awang

Southeast Asian Gateway Evolution Conference

Sebuah pertemuan yang akan menarik dan Indonesia akan merupakan wilayah fokus 
pembahasan. Tetapi, rupanya kemenarikan Indonesia ini lebih terlihat oleh 
ilmuwan-ilmuwan di luar Indonesia daripada para ilmuwan nasional. Ini terbukti 
dari penyelenggara pertemuan ini, yaitu University of London dan Natural 
History Museum (London). Semoga nanti banyak ilmuwan Indonesia yang hadir dan 
mempresentasikan hasil penelitiannya. Indonesia cukup mempunyai para spesialis 
yang berhubungan dengan tema pertemuan ini : “Southeast Asian Gateway Evolution”

Seperti disebutkan di edarannya, pertemuan ini akan bersifat multidisiplin 
mendiskusikan sejarah geologi dan biologi wilayah sekitar Indonesia Timur, 
khususnya yang berhubungan dengan stratigrafi, tektonik, oseanografi, iklim, 
spesiasi (pembentukan spesies – dalam teori evolusi) dan biodiversitas 
(keanekaragaman hayati). 

Melihat temanya, kiranya masalah posisi Indonesia sebagai “gateway” (pintu 
gerbang) di antara dua benua dan dua samudera, yang berakibat kepada 
karakteristik geologi, oseanografi, iklim, dan biologi akan merupakan diskusi 
yang menarik. Indonesia memang wilayah penuh benturan atau pertemuan : 
pertemuan antar lempeng, pertemuan antar massa udara (lihat ulasan saya di 
milis ini pada awal Maret 2008 berjudul “Indonesia : konvergensi meteorologi”), 
pertemuan antar massa air laut dari dua samudera, pertemuan antar dua dunia 
fauna dan flora.

Indonesian Gateway ini sudah lama dikenal para ilmuwan, mengemuka terutama 
ketika Alfred Russel Wallace, naturalis Inggris pengelana Indonesia 
(1854-1862), mengemukakan garis pembatas dua dunia fauna di Indonesia : Wallace 
Line (1863). Ulasan saya tentang garis biogeografi ini pernah dipublikasi di 
“Berita IAGI” edisi Juni 2005 : “Indonesia : Bagaimana Geologi Mengendalikan 
Keanekaragaman Hayati”. Barangkali sedikit dari kita yang masih menyimpan copy 
Berita IAGI, tetapi artikel tersebut pernah saya posting juga di milis ini pada 
beberapa saat yang lalu. Berikut ini adalah tambahan keterangan tentang arti 
geologi Wallace Line, mungkin berhubungan dengan tema pertemuan September 2009 
itu.

Wallace Line dipelajari dalam biologi saat membicarakan biogeografi, tetapi 
posisi garis ini seluruhnya bergantung kepada geologi dan dikendalikan oleh 
gerakan tektonik lempeng. Wallace menaruh garisnya pertama kali (1863) di Selat 
Lombok ke atas melalui Selat Makassar dan berbelok ke timur sepanjang Laut 
Sulawesi di bawah Filipina, 47 tahun kemudian (1910, dua tahun sebelum Wallace 
wafat) ia mengubah garisnya dari Selat Lombok berbelok ke timur sepanjang Laut 
Flores kemudian berbelok ke utara di sebelah kanan Buton, Kepulauan Sula, dan 
Laut Maluku lalu menuju Samudera Pasifik. Revisi garis ini lebih sesuai dengan 
sejarah tektonik lempeng di Indonesia. Benturan mikro-kontinen dari 
Australia/New Guinea terhadap Asia pada 15-5 Ma terjadi di garis Wallace 1910.

Tulis Audley-Charles et al. (1981), “The collision brought two originally 
separate faunas and floras into direct contact, ultimately giving rise to the 
present-day distribution of plants and animals”

Paling tidak, ada tiga peristiwa geologi yang bisa berkonsekuensi penting 
kepada biogeografi (Tomascik et al., 1997) : (1) longitudinal displacement, (2) 
land connections and sea barriers, dan (3) sea level history and speciation.

Longitudinal Displacement. Perpindahan fauna terjadi berhubungan dengan 
perpindahan mikrokontinen yang memisahkan diri dari Gondwana bagian timur dan 
kini membentuk Asia Tenggara, atau melalui perpindahan sejumlah terrane yang 
sekarang menyusun bagian utara New Guinea (Pandolfi, 1993; Metcalfe, 1996; 
Hall, 2002; Satyana, 2003). Mikrokontinen2 penyusun Asia Tenggara berperan 
penting dalam biogeografi sebab mereka telah memindahkan fauna saat sejumlah 
mikrokontinen ini bergerak ke utara dan ke barat dari Australia dan New Guinea 
menuju Asia Tenggara. McKenna (1973) memperkenalkan istilah”Noah’s Arks” untuk 
fauna2 yang telah pindah secara pasif ini di atas lempeng2 geotektonik 
(bayangkan binatang2 yang ditampung bahtera Nabi Nuh pada Kitab Kejadian lalu 
bahtera itu mengembara terapung di atas air bah).

Land Connections and Sea Barriers. Suatu penghalang daratan (land barriers) 
mempengaruhi biogeografi dalam dua cara. Pertama, penghalang ini menghentikan 
penyebaran marine taxa dan planktonic larvae. Kedua, penghalang ini mendorong 
terjadinya spesiasi (pembentukan spesies baru) melalui mekanisme isolasi 
populasi marine taxa (Pandolfi, 1993). Di lain pihak, jembatan daratan ini 
menjadi sarana untuk migrasi biota daratan (Audley-Charles, 1981). Misalnya, 
benturan mikrokontinen Banggai-Sula dengan Sulawesi pada Mio-Pliosen yang 
membentuk land connection yang sebelumnya tidak ada. Land connection ini telah 
menjadi sarana migrasi terrestrial biota, tetapi ia menjadi sea barrier yang 
memisahkan marine biota di utara dan selatan Banggai-Sula.

Sea Level History and Speciation. Sebagian besar mikrokontinen penyusun Asia 
Tenggara (Tibet selatan, Burma, Thai-Malaya, Sumatra) tersingkap selama 
peristiwa rifting pada zaman Yura. Ketika muka laut naik secara global pada 
Kapur akhir, sebagian mikrokontinen ini tenggelam meskipun tidak cukup dalam, 
lalu tersingkap lagi ketika muka laut turun memasuki awal Tersier. Naik-turun 
muka laut ini berpengaruh kepada spesiasi. Pada saat tersingkap, sejumlah 
mikrokontinen ini dapat menjadi land connection sekaligus sea barrier. Pada 
saat tenggelam, laut saling berhubungan lagi membuka peluang migrasi 
marine-taxa. Naik turun muka laut ini seperti kita tahu masing-masing 
berhubungan dengan deglasiasi dan glasiasi. Sundaland dan Sahul-land 
menunjukkan contoh yang baik untuk hal ini. Selama susut laut kala Plistosen, 
ada land connection antara Asia dan Australia. Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan 
Malaysia. Kalimantan dan Sulawesi pun di beberapa tempat bersatu melalui

=== message truncated ===

       
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.

Kirim email ke