Pak Sugeng, Terima kasih atas respon dan beberapa ceritanya yang menarik.
Kalau kita membaca puluhan buku tipis untuk anak-anak serial "Alam Terbuka" yang pernah diterbitkan di Indonesia pada tahun 1950 - awal 1970-an, oleh Penerbit Ganaco N.V., Bandung (penerbit ini sangat terkenal pada masanya, tetapi sejak akhir 1970-an tidak ada lagi), kita akan takjub dengan perkembangan2 ilmu pengetahuan dan teknik yang terjadi di Indonesia. Buku2 ini ditulis langsung oleh ahli2 Belanda yang bekerja di Indonesia sebelum Indonesia merdeka, kemudian diterjemahkan oleh Ganaco. Ada hampir 60-an buku yang meliputi berbagai aspek ilmu pengetahuan, teknik, dan kehidupan (termasuk beberapa tentang geologi Indonesia, yang ditulis oleh ahli2 geologi Belanda yang bekerja di Indonesia). Saya dapat mengumpulkan sekitar 40 judul, hasil berburu di tukang loak Bandung, terkumpul satu demi satu di beberapa tukang loak selama bertahun-tahun (bisa dibayangkan betapa senangnya perasaan saya kala satu demi satu buku2 itu terkumpul, rasanya barangkali lebih puas daripada bisa merekonstruksi sebuah lanskap geologi !) Nah, di salah satu seri buku ini ada yang berjudul "Kina", di situ diceritakan tentang sejarah sulitnya mendatangkan kina ke Indonesia dari Amerika Selatan, dari hutan-hutan Peru. Pencariannya penuh dengan liku-liku, penuh dengan petualangan ala Indiana Jones, penuh dengan diplomasi, dll. Bagaimana mengapalkannya ke Indonesia agar tetap utuh pun menjadi masalah besar sebab saat itu tahun 1850-1860-an. Setelah sampai di Indonesia pun menjadi masalah besar bagaimana membudidayakannya. Menarik sekali ceritanya sampai perkebunan kina itu akhirnya subur di perkebunan-perkebunan di Jawa Barat, termasuk Pangalengan, dan daerah2 lain di Indonesia - sampai "Pil Bandung" nan pahit itu menyuplai kebutuhan 97 % dunia (!). Saat di Balikpapan 1990-1995, saya biasa mengonsumsi daun pepaya dalam menu makanan, katanya papaverine-nya punya khasiat mirip-mirip kinine di pil kina, resep ini saya peroleh dari seorang kerabat yang tinggal di teluk Sangatta sejak 1980-an, wilayah di Kalimantan Timur yang saat itu kerap jadi wilayah endemik malaria. Cerita-cerita tentang minyak yang ditambang puluhan orang di lapangan2 kecil penemuan tahun 1890-an mungkin sudah berlalu Pak Sugeng, saya masih melihatnya pada tahun 1990 ditarik puluhan orang yang berlari-lari sekitar lapangan sejauh kedalaman reservoir itu; sekarang sudah menggunakan mesin hasil modifikasi dari mesin mobil. Salam, awang -----Original Message----- From: Sugeng Hartono [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, April 18, 2008 12:08 C++ To: [email protected] Subject: FW: [iagi-net-l] Lagi : Junghuhn di Bukit Jayagiri Pak Awang, Trimakasih, ulasan mengenai tokoh yang legendaris ini sungguh memikat. Pak Awang sangat beruntung masih sempat "nyekar" ke makam beliau di Lembang. Tulisan ini akan menambah wawasan kami semua. Nama Junghuhn saya kenal sejak 50 th yll ketika saya suka membuka-buka buku tebal kakak-2 saya yang sekolah SGB dan SGA: Kementerian P dan K, Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru Bandung Dilarang Mengutip". Dalam salah satu mata pelajaran, dikisahkan sbb.: Di sebuah desa di negara Amerika Selatan, ada seorang kakek yang sakit demam berat (malarira). Karena kehausan, Kakek ini sampai merangkak ke kolam di dekat desanya hanya sekedar untuk minum. Walaupun airnya sangat pahit, Kakek tetap nekad minum sampai kenyang. Esoknya dia sembuh dari sakit. Rupanya ada pohon kina yang tumbang ke kolam, dan yang menyebabkan air kolam ini menjadi pahit sekaligus menjadi obat mujarap untuk malaria. Maka menjadi terkenal-lah bahwa kina untuk obat malaria. Lalu dikisahkan bahwa bibit pohon Kina ini dibawa oleh seorang peneliti bernama Junghuhn, dan dikembangkan di Tanah Priangan yang sejuk dan indah. Sejak itu pil Kinine atau pil Kina (di desa saya disebut pil mBandung) menjadi sangat terkenal. Cuma yha itu, pahitnya minta ampun. Dulu, kalau kami mesti menelan pil ini, haruslah dibantu pisang. Artinya, pisang (mateng) kita kunyah dulu sampai lembut, lalu sebutir pil ditumpangkan di atasnya, dan pisang kita telan sambil memejamkan mata. Sesudahnya kita harus cepat-2 minum teh manis. Esoknya demam malaria akan hilang. Setelah sekolah SR, ketika belajar Ilmu Bumi, kami lebih tahu bahwa perkebunan kina ada di Pangelengan. Kebetulan akhir-2 ini saya dan keluarga sering main ke Cibeureum Pangalengan karena membantu warga setempat dengan menggaduhkan bbrp ekor sapi perah. Na, di sana rupanya juga masih banyak pohon-2 kina. Selain sejuk, Pangelengan mempunyai pemandangannya yang indah dan mempesona. Rupanya para akhli Belanda (Eropa) pada waktu itu hebat-2 yha? Ketika masih di Yogya, saya suka beli majalah Intisari bekas di loakan dekat alun-alun. Saya menemukan artikel bagus, sekaligus mengharukan: Ada peneliti tanaman (Belanda) dari Bandung selatan yang mendatangi sebuah kantor pos pembantu untuk mengirimkan hasil penelitiannya ke negeri Belanda. Tentu saja pada waktu itu dikirim lewat surat, setelah dibubuhi perangko, dan suratnya pun pasti akan diangkut dengan kapal laut. Masalahnya uangnya untuk perangko tidak cukup. Petugas pos pun bersikukuh, kalau perangkonya kurang, surat tidak dapat dikirim semuanya. Suasanya sedikit kaku. Tiba-2 tuan peneliti merogoh saku celananya, dan mengeluarkan sepucuk pistol dan diletakkan di meja loket. Dengan sigap, bapak petugas pos langsung tiarap dan bersembunyi di kolong loket. Mungkin takut kalau di dor. Si tamu pun memanggil-manggil dengan bahasa Sunda yang patah-2, sambil mengatakan bahwa dia hanya bermaksud untuk menggadaikan pistolnya sebagai jaminan uang perangko. Di sinilah keramahan bangsa kita ditunjukkan. Dengan sedikit rasa takut, pak petugas pos pun muncul. Sambil tersenyum, beliau mempersilahkan tuan peneliti agar pistolnya disimpan saja. Semua surat akan dibubuhi perangko yang cukup; nanti kalau akan mengirim surat-2 berikutnya, kekurangan perangko dapat dilunasi. Pak peneliti pun tersenyum gembira, setelah menjabat tangan pak petugas dengan takzim, maka kembalilah beliau ke luar kota tempat dia bekerja. Kapan Pak Awang mengulas cerita lain, misalnya awal penambangan minyak di Wonocolo (utara Cepu) yang sekarang masih diteruskan/diusahakan warga setempat dengan cara yang sangat sederhana. Cairan minyak dan air ditimba dengan pipa yang ditarik beramai-ramai dengan tali yang digantungkan pada menara kayu jati. Salam hangat dari sumur Ruku-1 (sebelah barat Kuala Tungkal) Sugeng ________________________________ From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Sel 15/04/2008 13:03 To: IAGI; Geo Unpad; Forum HAGI Subject: [iagi-net-l] Lagi : Junghuhn di Bukit Jayagiri Hampir tiga tahun yang lalu saya mem-posting tulisan tentang Junghuhn, seperti di bawah. Kamis 10 April minggu kemarin saya mengunjungi cagar alam yang dinamai menurut namanya, sekaligus tempat ia dimakamkan : Taman Junghuhn, di Desa Jayagiri, Lembang. Kamis itu ada acara diskusi dengan undangan terbatas diselenggarakan oleh Badan Geologi yang mengambil tempat di Hotel Putri Gunung di jalan raya Lembang-Tangkuban Perahu. Diskusi dimulai pukul 13.00 (dan ternyata berlangsung sampai Jumat 11 April dini hari pukul 01.00) - sebuah diskusi yang seru tanpa seorang pun mengantuk. Saya sudah datang ke hotel itu pukul 11.00. Karena masih lama dari mulai, saya balik lagi ke Lembang dan membelokkan mobil ke sebuah jalan sempit di tengah Desa Jayagiri tak jauh dari Pasar Lembang. Dari jalan sempit itu lalu berbelok lagi masuk ke jalan yang lebih sempit tak beraspal. Walaupun sedikit "off road" saya masukkan saja mobil sampai tak bisa masuk lagi dan diparkir di halaman kosong berumput di samping rumah-rumah penduduk Jayagiri. Sisa perjalanan adalah sekitar 50 meter dan berujung di sebuah cagar alam kecil seluas 2,5 hektar. Pintu masuk ke taman itu terkunci dengan gembok, tutup ..? Dari jauh saya melihat batu nisan tempat Junghuhn hampir 150 tahun yang lalu dibaringkan untuk selamanya. Seorang nenek berlalu di dekat saya. Dalam bahasa Sunda saya menanyainya apakah ada jalan masuk ke makam Junghuhn. Nenek yang baik ini menunjukkan jalan gang di antara rumah-rumah yang bisa membawa saya masuk ke taman tersebut. Akhirnya saya dapat berdiri di depan makam Junghuhn, batu nisannya dibentuk tugu, dikelilingi rantai. Kondisinya cukup bagus, terlihat baru dicat ulang. Daun-daun kina kering berguguran berserakan di pelataran makam. Hm, pendekar kina ini terbaring dikelilingi tanaman kina yang pernah dirintisnya bersama Dr. Hasskarl kawannya dari Kebun Raya Bogor, tanaman yang pernah membawa Indonesia sebagai penghasil pil kina ("pil Bandung") nomor satu di dunia. Di nisannya tertulis : Dr. Franz Wilhelm Junghuhn : lahir (dalam gambar bintang) Mansfeld/Magdeburg 26 Oktober 1809, meninggal (dalam tanda salib) Lembang 24 April 1864. Saya berkeliling di taman atau cagar alam tersebut, ke arah baratlaut dari jauh terlihat gunung Tangkuban Perahu, Sunda, dan Burangrang. Hampir 75 % taman ini ditumbuhi pohon-pohon kina yang sudah tinggi dan tua - puluhan tahun. Di sebuah papan nama di dekat pintu masuk tertulis bahwa Cagar Alam Junghuhn ini sekaligus merupakan tempat habitat plasma nutfah kina. Di tempat inilah bibit asli kina yang dibawa dari Amerika Selatan mulai dibudidayakan. Cagar alam ini ditetapkan sejak tahun 1919 dan kini ada di dalam pengawasan Balai Konservasi Sumberdaya Alam Jawa Barat, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan. Kini, cagar alam ini sudah dikepung rumah-rumah penduduk Desa Jayagiri. Dulu, saat Junghuhn tinggal di sini menjelang tahun-tahun terakhirnya dalam keadaan sakit, ia masih bisa melihat panorama gunung-gunung yang dicintainya itu dengan jelas. Kini tentu sangat sulit, terhalang rumah-rumah penduduk. Menjelang pulang, saya melihat banyak penduduk desa masuk ke taman ini, tetapi bukan untuk melihat makam Junghuhn, ke mana mereka ? Saya mengikutinya ke arah utara taman. O, rupanya persis di sebelah taman ini ada pemakaman umum Desa Jayagiri. Rombongan penduduk desa yang saya ikuti rupanya hendak mengikuti prosesi pemakaman seorang penduduk yang kebetulan tengah dimakamkan di tempat itu. Begitulah kunjungan singkat saya Kamis kemarin ke makam seorang tokoh naturalis besar yang pernah meneliti Jawa dan Sumatra, seorang tokoh yang lebih dari seorang perintis pembudidayaan kina di Indonesia, tetapi juga seorang tokoh perintis penelitian botani, topografi, geologi, dan vulkanologi Jawa. Meskipun ia berdarah Jerman dan berkarier dengan bangsa Belanda, dokter dan peneliti yang berkiprah di Jawa bersama teman-temannya yang kita kenal sebagai penjajah; Junghuhn tetap berbeda dari kolonialis-kolonialis tulen seperti Daendels, JP Coen, atau van den Bosch. Meskipun ia tak sepeka Multatuli atau Groneman; ia patut kita hargai atas karya-karya penyelidikannya. Konsistensinya mencintai alam patut diacungi dua jempol, meskipun mungkin tanpa bantuan bangsa kita sebagai pembantu2 lapangannya Junghuhn barangkali tak bisa berbuat sebanyak itu. Penduduk Jawa selalu ramah memberi tumpangan kepadanya saat melakukan penyelidikan Jawa selama sembilan tahun itu. Sikap Junghuhn yang bersemangat luar biasa, daya kerja yang sangat besar, disiplin, individu yang keras, dan berwawasan luas adalah mengagumkan. Buku pertamanya tentang Jawa : "Topograpische und Naturwissenschaftliche Reisen durch Java" (1845) menjadi buku pertama tentang penyelidikan geologi dan biologi pegunungan di Jawa. Buku adikaryanya yang terkenal "Java, Zijne Gedaante, Zijn Plantentooi, en Inwendige Bouw" (judul ini suka berlainan dikutip para penulis sesudah Junghuhn) yang ditulis dalam empat volume merupakan karya komprehensif pertama tentang penelitian alam Jawa (topografi, geologi, klimatologi, biologi). Setiap peneliti alam Jawa semoga mendapatkan spirit setinggi seperti pernah ditunjukkan Junghuhn. Ada hal-hal ekstrem yang harus dimiliki seseorang untuk mencintai profesinya dan bisa mengemuka. Ilmu pengetahuan menjadi maju berkat segolongan orang-orang ekstrem ini, dan Junghuhn adalah salah satu daripadanya. Semoga kelak dari penduduk Jayagiri akan muncul ilmuwan nasional sekelas Junghuhn. "Kebahagiaanmu, hiburanmu, harapan dan kepercayaanmu hendaklah berakar semata-mata dalam alam raya..." (Junghuhn, 1835) salam, awang LAMPIRAN [iagi-net-l] Junghuhn : Bukan Hanya Karena Kina Awang Satyana Sun, 08 May 2005 23:03:46 -0700 Bagaimana kita mengenal Junghuhn ? Orang pertama yang membawa dan menanam kina (di Lembang) ? Sungguh lebih dari itu. Junghuhn adalah sepenting Verbeek, Fennema, dan van Bemmelen dalam perkembangan pengetahuan geologi Indonesia. Kalau sempat ke Bandung dan mampir ke perpustakaan P3G di Jl. Diponegoro, ada dua buku kuno sangat tebal tentang Jawa. Yang satu tulisan Franz Junghuhn (1848), "Java : Deszelfs Gedaante, Bekleeding en Inwendige Structuur" dan yang lain tulisan Verbeek dan Fennema (1896), "Geologische Beschrijving van Java en Madoera". Saya membuka2 buku2 itu hampir 17 tahun yang lalu, saat mengumpulkan keterangan tentang Ciletuh. Semoga sekarang masih terjaga dengan baik. Junghuhn, adalah peneliti dan penulis pertama geologi Jawa. Datang ke Indonesia tahun 1835 sebagai seorang dokter tentara dengan sikap hidup penuh kekecewaan dan penderitaan akibat perang di Jerman dan Prancis. "Hiduplah dengan dirimu sendiri. Jangan bergaul dengan seorang pun. Jangan mencari kepuasan hati pada orang-orang lain, jangan mencari kebahagiaan di luar dirimu, jangan mendewa-dewakan sesuatu selain alam raya" Begitulah sumpah dan "pengakuan iman" Junghuhn saat ia memasuki pelabuhan Pasar Ikan, Batavia 12 Oktober 1835. Junghuhn lahir di Jerman tahun 1809, dididik dengan sangat keras oleh ayahnya, masuk ke kedokteran, dipaksa keluar untuk berdinas di ketentaraan Prusia (Jerman). Dijatuhi hukuman 10 tahun akibat pelanggaran disiplin. Meringkuk 20 bulan di penjara kuno, lari ke Prancis. Mendaftar sebagai tenaga sukarela tentara Prancis. Bertugas di Afrika. Dikirim pulang ke Prancis karena sakit. Lari ke Belanda, mendaftar sebagai tentara dan dikirim ke Oost Indies (Indonesia). Di Indonesia, Junghuhn hanya bertugas tiga tahun tujuh bulan sebagai dokter di Batavia, Bogor, Semarang, Yogyakarta. Dia menghabiskan waktu bujangannya dengan berkelana SEMBILAN tahun dari Ujung Kulon ke Banyuwangi, dari pantai Laut Jawa ke pantai Samudera Hindia. Mendaki semua gunung di Jawa, berjalan bersama para kulinya meneliti batuan, flora, fauna, mengambil sampel, tidur di gubuk-gubuk penduduk atau berkemah di tengah hutan. Tentu dia kini bahagia sebab mendapatkan panggilan hidupnya. Tahun 1848, Junghuhn kembali ke Belanda sebagai cuti sakit. Kali ini dia tidak lari lagi, tetapi menggunakan waktu cuti sakitnya untuk menulis semua hasil penelitian sembilan tahunnya, maka keluarlah bukunya yang terkenal itu dalam empat volume. Kalau mau berapa tebalnya bukunya itu kalau ditumpuk, silakan main ke P3G Bandung, moga-moga masih ada... Tahun 1855, Junghuhn kembali ke Indonesia membawa dua hal : kina dan seorang istri. Dengan pengetahuannya yang komprehensif tentang Jawa, dia tahu bahwa di Lembang lah kina paling baik harus ditanam. Nah, atas jasa Junghuhn lah kalau Indonesia pernah menjadi produsen pil kina nomor 1 di dunia. Setelah punya isteri dan anak-anak, Junghuhn tak berkelana lagi. Tak ada tempat di Jawa yang tak pernah didatanginya. Dia memilih tinggal di lereng Gunung Tangkuban Perahu, yang dia sebut sebagai "batin manusia yang aman tenteram". Tahun 1864, Junghuhn menghembuskan nafasnya yang terakhir di sebuah kamar dengan jendela terbuka ke arah gunung-gunung dan hutan-hutan di Priangan. "Aku ingin berpamitan dengan gunung-gunung dan hutan-hutanku tercinta" Itulah kata-kata terakhir yang diingat dr. Groneman sahabat yang menemani saat2 terakhirnya. Begitulah yang tertulis dalam buku Rob Nieuwenhuys "Oost Indische Spiegel" (1972), sebuah buku bagus yang memuat ulasan2 tentang 30 buku penting yang diterbitkan dari pertengahan 1800an sampai pertengahan 1900an. Di pedagang buku bekas, tak jarang kita akan menemukan buku2 bagus dan penting... "Kebahagiaanmu, hiburanmu, harapan dan kepercayaanmu hendaklah berakar semata-mata dalam alam raya yang secara diam-diam, namun tetap abadi bergerak di dalam makhluk-makhlukNya" (Franz Wilhelm Junghuhn, 1835). salam, awang between 0000-00-00 and 9999-99-99 This email was Anti Virus checked by Administrator. http://www.bpmigas.com -------------------------------------------------------------------------------- PIT IAGI KE-37 (BANDUNG) * acara utama: 27-28 Agustus 2008 * penerimaan abstrak: kemarin2 s/d 30 April 2008 * pengumuman penerimaan abstrak: 15 Mei 2008 * batas akhir penerimaan makalah lengkap: 15 Juli 2008 * abstrak / makalah dikirimkan ke: www.grdc.esdm.go.id/aplod username: iagi2008 password: masukdanaplod -------------------------------------------------------------------------------- PEMILU KETUA UMUM IAGI 2008-2011: * pendaftaran calon ketua: 13 Pebruari - 6 Juni 2008 * penghitungan suara: waktu PIT IAGI Ke-37 di Bandung AYO, CALONKAN DIRI ANDA SEKARANG JUGA!!! ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

