Hampir tiga tahun yang lalu saya mem-posting tulisan tentang Junghuhn, seperti 
di bawah. Kamis 10 April minggu kemarin saya mengunjungi cagar alam yang 
dinamai menurut namanya, sekaligus tempat ia dimakamkan : Taman Junghuhn, di 
Desa Jayagiri, Lembang.
   
  Kamis itu ada acara diskusi dengan undangan terbatas diselenggarakan oleh 
Badan Geologi yang mengambil tempat di Hotel Putri Gunung di jalan raya 
Lembang-Tangkuban Perahu. Diskusi dimulai pukul 13.00 (dan ternyata berlangsung 
sampai Jumat 11 April dini hari pukul 01.00) – sebuah diskusi yang seru tanpa 
seorang pun mengantuk.
   
  Saya sudah datang ke hotel itu pukul 11.00. Karena masih lama dari mulai, 
saya balik lagi ke Lembang dan membelokkan mobil ke sebuah jalan sempit di 
tengah Desa Jayagiri tak jauh dari Pasar Lembang. Dari jalan sempit itu lalu 
berbelok lagi masuk ke jalan yang lebih sempit tak beraspal. Walaupun sedikit 
”off road” saya masukkan saja mobil sampai tak bisa masuk lagi dan diparkir di 
halaman kosong berumput di samping rumah-rumah penduduk Jayagiri. 
   
  Sisa perjalanan adalah sekitar 50 meter dan berujung di sebuah cagar alam 
kecil seluas 2,5 hektar. Pintu masuk ke taman itu terkunci dengan gembok, tutup 
..? Dari jauh saya melihat batu nisan tempat Junghuhn hampir 150 tahun yang 
lalu dibaringkan untuk selamanya. Seorang nenek berlalu di dekat saya. Dalam 
bahasa Sunda saya menanyainya apakah ada jalan masuk ke makam Junghuhn. Nenek 
yang baik ini menunjukkan jalan gang di antara rumah-rumah yang bisa membawa 
saya masuk ke taman tersebut.
   
  Akhirnya saya dapat berdiri di depan makam Junghuhn, batu nisannya dibentuk 
tugu, dikelilingi rantai.  Kondisinya cukup bagus, terlihat baru dicat ulang. 
Daun-daun kina kering berguguran berserakan di pelataran makam. Hm, pendekar 
kina ini terbaring dikelilingi tanaman kina yang pernah dirintisnya bersama Dr. 
Hasskarl kawannya dari Kebun Raya Bogor, tanaman yang pernah membawa Indonesia 
sebagai penghasil pil kina ("pil Bandung") nomor satu  di dunia. Di nisannya 
tertulis : Dr. Franz Wilhelm Junghuhn : lahir (dalam gambar bintang)  
Mansfeld/Magdeburg 26 Oktober 1809, meninggal (dalam tanda salib) Lembang 24 
April 1864.
   
  Saya berkeliling di taman atau cagar alam tersebut, ke arah baratlaut dari 
jauh terlihat gunung Tangkuban Perahu, Sunda, dan Burangrang. Hampir 75 % taman 
ini ditumbuhi pohon-pohon kina yang sudah tinggi dan tua – puluhan tahun. Di 
sebuah papan nama di dekat pintu masuk  tertulis bahwa Cagar Alam Junghuhn ini 
sekaligus merupakan tempat habitat plasma nutfah kina. Di tempat inilah bibit 
asli kina yang dibawa dari Amerika Selatan mulai dibudidayakan. Cagar alam ini 
ditetapkan sejak tahun 1919 dan kini ada di dalam pengawasan Balai Konservasi 
Sumberdaya Alam Jawa Barat, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan 
Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.
   
  Kini, cagar alam ini sudah dikepung rumah-rumah penduduk Desa Jayagiri. Dulu, 
saat Junghuhn tinggal di sini menjelang tahun-tahun terakhirnya dalam keadaan 
sakit, ia masih bisa melihat panorama gunung-gunung yang dicintainya itu dengan 
jelas. Kini tentu sangat sulit, terhalang rumah-rumah penduduk.
   
  Menjelang pulang, saya melihat banyak penduduk desa masuk ke taman ini, 
tetapi bukan untuk melihat makam Junghuhn, ke mana mereka ? Saya mengikutinya 
ke arah utara taman. O, rupanya persis di sebelah taman ini ada pemakaman umum 
Desa Jayagiri. Rombongan penduduk desa yang saya ikuti rupanya hendak mengikuti 
prosesi pemakaman seorang penduduk yang kebetulan tengah dimakamkan di tempat 
itu. 
   
  Begitulah kunjungan singkat saya Kamis kemarin ke makam seorang tokoh 
naturalis besar yang pernah meneliti Jawa dan Sumatra, seorang tokoh yang lebih 
dari seorang perintis pembudidayaan kina di Indonesia, tetapi juga seorang 
tokoh perintis penelitian botani, topografi, geologi, dan vulkanologi Jawa. 
   
  Meskipun ia berdarah Jerman dan berkarier dengan bangsa Belanda, dokter dan 
peneliti yang  berkiprah di Jawa bersama teman-temannya yang kita kenal sebagai 
penjajah; Junghuhn tetap berbeda dari kolonialis-kolonialis tulen seperti 
Daendels, JP Coen, atau van den Bosch. Meskipun ia tak sepeka Multatuli atau 
Groneman; ia patut kita hargai atas karya-karya penyelidikannya. Konsistensinya 
mencintai alam patut diacungi dua jempol, meskipun mungkin tanpa bantuan bangsa 
kita sebagai pembantu2 lapangannya Junghuhn barangkali tak bisa berbuat 
sebanyak itu. Penduduk Jawa selalu ramah memberi tumpangan kepadanya saat 
melakukan penyelidikan Jawa selama sembilan tahun itu.  Sikap Junghuhn yang 
bersemangat luar biasa, daya kerja yang sangat besar, disiplin, individu yang 
keras, dan berwawasan luas adalah mengagumkan.
   
  Buku pertamanya tentang Jawa : ”Topograpische und Naturwissenschaftliche 
Reisen durch Java“ (1845) menjadi buku pertama tentang penyelidikan geologi dan 
biologi pegunungan di Jawa. Buku adikaryanya yang terkenal ”Java, Zijne 
Gedaante, Zijn Plantentooi, en Inwendige Bouw” (judul ini suka berlainan 
dikutip para penulis sesudah Junghuhn) yang ditulis dalam empat volume 
merupakan karya komprehensif pertama tentang penelitian alam Jawa (topografi, 
geologi, klimatologi, biologi). 
   
  Setiap peneliti alam Jawa semoga mendapatkan spirit setinggi seperti pernah 
ditunjukkan Junghuhn. Ada hal-hal ekstrem yang harus dimiliki seseorang untuk 
mencintai profesinya dan bisa mengemuka. Ilmu pengetahuan menjadi maju berkat 
segolongan orang-orang ekstrem ini, dan Junghuhn adalah salah satu daripadanya. 
Semoga kelak  dari penduduk Jayagiri akan muncul ilmuwan nasional sekelas 
Junghuhn.
   
  "Kebahagiaanmu, hiburanmu, harapan dan kepercayaanmu hendaklah berakar 
  semata-mata dalam alam raya...” (Junghuhn, 1835)
   
  salam,
  awang
   
  LAMPIRAN 
   
  [iagi-net-l] Junghuhn : Bukan Hanya Karena Kina
  Awang Satyana
  Sun, 08 May 2005 23:03:46 -0700
   
  Bagaimana kita mengenal Junghuhn ? Orang pertama yang membawa dan menanam 
kina 
  (di Lembang) ? Sungguh lebih dari itu. Junghuhn adalah sepenting Verbeek, 
  Fennema, dan van Bemmelen dalam perkembangan pengetahuan geologi Indonesia. 
   
  Kalau sempat ke Bandung dan mampir ke perpustakaan P3G di Jl. Diponegoro, ada 
  dua buku kuno sangat tebal tentang Jawa. Yang satu tulisan Franz Junghuhn 
  (1848), "Java : Deszelfs Gedaante, Bekleeding en Inwendige Structuur" dan 
yang 
  lain tulisan Verbeek dan Fennema (1896), "Geologische Beschrijving van Java 
en 
  Madoera". Saya membuka2 buku2 itu hampir 17 tahun yang lalu, saat 
mengumpulkan 
  keterangan tentang Ciletuh. Semoga sekarang masih terjaga dengan baik.
   
  Junghuhn, adalah peneliti dan penulis pertama geologi Jawa. Datang ke 
Indonesia 
  tahun 1835 sebagai seorang dokter tentara dengan sikap hidup penuh kekecewaan 
  dan penderitaan akibat perang di Jerman dan Prancis. "Hiduplah dengan dirimu 
  sendiri. Jangan bergaul dengan seorang pun. Jangan mencari kepuasan hati pada 
  orang-orang lain, jangan mencari kebahagiaan di luar dirimu, jangan 
  mendewa-dewakan sesuatu selain alam raya" Begitulah sumpah dan "pengakuan 
iman" 
  Junghuhn saat ia memasuki pelabuhan Pasar Ikan, Batavia 12 Oktober 1835. 
   
  Junghuhn lahir di Jerman tahun 1809, dididik dengan sangat keras oleh 
ayahnya, 
  masuk ke kedokteran, dipaksa keluar untuk berdinas di ketentaraan Prusia 
  (Jerman). Dijatuhi hukuman 10 tahun akibat pelanggaran disiplin. Meringkuk 20 
  bulan di penjara kuno, lari ke Prancis. Mendaftar sebagai tenaga sukarela 
  tentara Prancis. Bertugas di Afrika. Dikirim pulang ke Prancis karena sakit. 
  Lari ke Belanda, mendaftar sebagai tentara dan dikirim ke Oost Indies 
  (Indonesia). 
   
  Di Indonesia, Junghuhn hanya bertugas tiga tahun tujuh bulan sebagai dokter 
di 
  Batavia, Bogor, Semarang, Yogyakarta. Dia menghabiskan waktu bujangannya 
dengan 
  berkelana SEMBILAN tahun dari Ujung Kulon ke Banyuwangi, dari pantai Laut 
Jawa 
  ke pantai Samudera Hindia. Mendaki semua gunung di Jawa, berjalan bersama 
para 
  kulinya meneliti batuan, flora, fauna, mengambil sampel, tidur di gubuk-gubuk 
  penduduk atau berkemah di tengah hutan. 
  Tentu dia kini bahagia sebab mendapatkan panggilan hidupnya.
   
  Tahun 1848, Junghuhn kembali ke Belanda sebagai cuti sakit. Kali ini dia 
tidak 
  lari lagi, tetapi menggunakan waktu cuti sakitnya untuk menulis semua hasil 
  penelitian sembilan tahunnya, maka keluarlah bukunya yang terkenal itu dalam 
  empat volume. Kalau mau berapa tebalnya bukunya itu kalau ditumpuk, silakan 
  main ke P3G Bandung, moga-moga masih ada...
   
  Tahun 1855, Junghuhn kembali ke Indonesia membawa dua hal : kina dan seorang 
  istri. Dengan pengetahuannya yang komprehensif tentang Jawa, dia tahu bahwa 
di 
  Lembang lah kina paling baik harus ditanam. Nah, atas jasa Junghuhn lah kalau 
  Indonesia pernah menjadi produsen pil kina nomor 1 di dunia. 
   
  Setelah punya isteri dan anak-anak, Junghuhn tak berkelana lagi. Tak ada 
tempat 
  di Jawa yang tak pernah didatanginya. Dia memilih tinggal di lereng Gunung 
  Tangkuban Perahu, yang dia sebut sebagai "batin manusia yang aman tenteram". 
  Tahun 1864, Junghuhn menghembuskan nafasnya yang terakhir di sebuah kamar 
  dengan jendela terbuka ke arah gunung-gunung dan hutan-hutan di Priangan. 
"Aku 
  ingin berpamitan dengan gunung-gunung dan hutan-hutanku tercinta" Itulah 
  kata-kata terakhir yang diingat dr. Groneman sahabat yang menemani saat2 
  terakhirnya.
   
  Begitulah yang tertulis dalam buku Rob Nieuwenhuys "Oost Indische Spiegel" 
  (1972), sebuah buku bagus yang memuat ulasan2 tentang 30 buku penting yang 
  diterbitkan dari pertengahan 1800an sampai pertengahan 1900an. Di pedagang 
buku 
  bekas, tak jarang kita akan menemukan buku2 bagus dan penting...
   
  "Kebahagiaanmu, hiburanmu, harapan dan kepercayaanmu hendaklah berakar 
  semata-mata dalam alam raya yang secara diam-diam, namun tetap abadi bergerak 
  di dalam makhluk-makhlukNya" (Franz Wilhelm Junghuhn, 1835).
   
  salam,
  awang

 between 0000-00-00 and 9999-99-99        

Kirim email ke