Rekan-rekan Gem-Lovers yang budiman,

Kemaren, Rabu 23 April 2008, mang Okim menerima beberapa contoh batuan dari 
kawasan  Tasikmalaya Selatan . Walaupun koleksi mang Okim sudah lumayan lengkap 
dari daerah ini  seperti  jasperized limestone, silicified corals, badar besi 
atau magnetite, agate nodules , kuarsa  dan lain-lain, contoh yang mang Okim 
terima kali ini rasanya belum pernah mang Okim lihat. Selain  mineral galena 
dan pirit beragam bentuk dan genesa, ada mineral berwarna coklat kemerahan yang 
tadinya mang Okim kira sebagai mineral kalsit atau dolomit.

Di luar dugaan mang Okim, ketika larutan HCl pekat diteteskan ke permukaan 
mineral tersebut, ternyata adem ayem saja alias tidak bereaksi. Yang aneh lagi, 
mineral tersebut sungguh lunak, bisa digores dengan kuku jari. Kesimpulannya, 
mineral tersebut punya kekerasan sekitar 1 saja dan tentu bukan kalsit atau 
karbonat yang selain kekerasannya 3, bereaksi keras dengan larutan HCL. Wah 
kalau demikian mineral apa ya ? Mang Okim tak ingat lagi apakah sewaktu 
praktikum mineralogi di ITB 45 tahunan yang lalu mineral semacam ini termasuk 
yang mang Okim dan teman-teman pelajari. 

Kalau kita perhatikan sifat lain dari mineral ini, selain tembus cahaya atau 
translusen, kilapnya seperti lemak atau sabun. Kesimpulan sementara tentulah 
menjurus ke mineral Talc yang pasti dikenal oleh kita semua karena merupakan 
mineral nomer 1 yang selalu tercantum kalau kita bicara tentang tingkat 
kekerasan batuan dengan skala Mohs.

Rekan-rekan Gem-Lovers yang budiman,

Sifat lain yang ingin mang Okim ketahui adalah indek refraksi dan berat 
jenisnya. Untuk mengukur indek refraksi,  salah satu contoh mineral dipotong 
untuk dibuatkan batu cincin. Mineral yang punya kekerasan hanya 1 skala Mohs 
ini ternyata bisa juga dibuat batu cincin walaupun tentu saja tidak akan awet. 
Dengan demikian pemeriksaan indek refraksinya relatif mudah dan menghasilkan 
nilai 1,512. Hasil pemeriksaan berat jenisnya ternyata jauh lebih kecil dari 
mineral kalsit yaitu 2,30. Dengan tambahan 2 parameter ini maka mang Okim dapat 
menyimpulkan bahwa mineral yang mang Okim periksa adalah soapstone variasi  
saponite ( sejenis mineral Talc yang massive, lihat buku Gemstones karangan 
Herbert Smith edisi 1972 / edisi pertamanya tahun 1912 ! ).

Lebih sepuluh tahun yang lalu mang Okim pernah mendapatkan order batu sabun 
atau soapstone dari negeri Cina . Konon, batu / mineral soapstone ini banyak 
dimanfaatkan untuk kerajinan patung . Alasannya, selain sangat mudah diukir, 
warnanya beragam dan ada yang mirip dengan warna batu giok ( disebut jade 
substitute ). Pada saat itu mang Okim kebingungan juga mencari sumbernya 
sehingga order dari negeri Cina tersebut didrop saja. Kali inipun  contoh yang 
mang Okim terima hanya beberapa bongkah kecil saja. Menurut pemasoknya memang 
jumlahnya hanya sedikit  di lapangan. Insyaallah kalau nanti ada waktu senggang 
akan mang Okim eksplorasi, siapa tahu ada deposit yang menjanjikan.

Bagaimana ya  dengan institusi pendidikan seperti UNPAD, ITB, UGM, TRISAKTI, 
UNISBA, UNHAS, UNSUD, dan lain-lain yang punya jurusan ilmu kebumian yang 
mengajarkan mineralogi ? Sudah sejauh manakah mereka mengoleksi mineral asli 
Indonesia ? Mang Okim curious saja karena seingat mang Okim, mineral yang 
banyak dipelajari oleh mahasiswa pada umumnya adalah mineral yang berasal dari 
luar negeri, itupun koleksi puluhan tahun lalu ( mudah-mudahan mang Okim keliru 
). Dan bagaimana pula dengan koleksi mineral di museum-museum  kita ? Sudah 
sejauh manakah keseriusan mereka untuk melengkapi koleksinya dengan 
mineral-mineral Indonesia  temuan baru ?

Sekian dulu ya, semoga tulisan di atas bermanfaat untuk sekedar nambah wawasan .

Salam batumulia,
Mang Okim

Keterangan gambar :
Contoh 3 bongkah kecil batuan / mineral soapstone variasi saponite yang 
ditemukan di daerah  Tasikmalaya Selatan ( oleh Pak Endang dkk ).


<<DSC05550.jpg-RESIZED APRIL 24.jpg>>

Kirim email ke