Kang Heryadi, berikut cerita ringkasnya, semoga bermanfaat.
   
  Evolusi setiap pulau di Nusa Tenggara cukup kompleks dan suka diperdebatkan. 
Sebagai contoh, dalam menyiapkan makalah untuk PIT IAGI-HAGI tahun 2003 
(Satyana, 2003 : Accretion and Dispersion of Southeast Sundaland : the Growing 
and Slivering of a Continent), saya sempat mempelajari banyak makalah tentang 
asal Sumba, dan secara kasar dapat saya sebutkan bahwa dari belasan makalah 
yang ada tentang Sumba 80 % berpendapat bahwa Sumba dari Sundaland, 20 % 
berpendapat bahwa Sumba asal Australia.
   
  Mempelajari pulau2 di Nusa Tenggara harus dibedakan antara pulau2 oseanik dan 
pulau2 kontinental. Pulau2 oseanik artinya pulau2 yang muncul dari kerak 
samudra yang terisolasi dari kerak benua sebagai hasil subduksi oseanik ke 
oseanik. Pulau2 oseanik ini di Nusa Tenggara membentuk baik busur dalam yang 
volkanik maupun busur luar yang non-volkanik. Semua pulau oseanik ini umurnya 
lebih muda daripada mid-Miosen (15 Ma). Pulau2 seperti ini misalnya 
Lombok-Sumbawa-Flores-Alor-Wetar-Damar-dst.di Busur Banda. Pulau2 kontinental 
masih merupakan bagian dari massa benua, masih berposisi di paparan benua, 
hanya dipisahkan oleh laut zaman deglasiasi, misalnya Bali, keraknya bisa benua 
bisa transisi. Termasuk ke dalam jenis ini adalah pulau berkerak benua, tetapi 
sudah terpisah dari massa benuanya akibat peristiwa tektonik pada zaman 
Paleogen. Contoh pulau seperti ini adalah Sumba. Ini kita sebut fragmen benua, 
mikro-kontinen, atau island raft.
   
  Lombok dan Sumbawa adalah busur kepulauan sebelah dalam  yang bersifat 
volkanik (inner volcanic island arc). Semua pulau busur dalam ini secara 
struktur adalah yang paling sederhana di Nusa Tenggara, merupakan pulau2 
oseanik volkanik muda (< 15 Ma), seringkali ditumbuhi terumbu karang di 
pinggirnya atau material sediment yang berasal dari erosi bagian utama pulau 
dan terlonggok (terakumulasi) di antara lidah-lidah lava dan material ekstrusi 
volkanik lainnya.
   
  Lombok dan Sumbawa merupakan bagian paling timur Busur Sunda. Setelah 
Sumbawa, pulau2 volkanik ke sebelah timurnya kita sebut Busur Banda. Batas 
antara Busur Sunda dan Busur Banda ini oleh Audley-Charles (1975) pernah 
disebut sebagai Sumba Fracture, bahkan ia menyebutkan bahwa batas ini sebagai 
batas struktur antara Indonesia Barat dan Timur. Dalam makalah saya itu 
(Satyana, 2003), saya menyambungkan Sumba Fracture ini ke suatu diskontinuitas 
di Laut Flores, lalu masuk ke Lengan Sulawesi Selatan dan menyambungkannya ke 
Walanae Fault – sebuah lembah sangat dalam di lengan Sulawesi dan menggunakan 
diskontinuitas besar ini sebagai jalan untuk island raft Sumba berpindah dari 
tepi tenggara Sundaland ke tempatnya sekarang pada Paleogen sebelum Busur Banda 
menghalanginya (dalam suatu proses bernama slivering of the continent).
   
  Lombok dan Sumbawa pun karena posisinya paling barat sebagai pulau2 volkanik 
di Nusa Tenggara mereka paling tua umurnya sebab dari Busur Sunda ke Busur 
Banda cenderung material penyusunnya semakin muda bergerak ke timur. Bila kita 
urutkan dari kala tua ke kala muda, Pulau Lombok dan Sumbawa mempunyai sejarah 
sebagai berikut : 
   
  -         sebelum Miosen : tak ada kedua pulau ini
  -         base of pre-Miocene marine rocks (belum teridentifikasi, bisa ada 
bisa tidak)
  -         Miocene : southern volcanoes form (submarine volcanoes)
  -         Mio-Pliocene : sub-aerial volcanoes (makin bergerak ke utara)
  -         Pleistocene : coral reefs form and are uplifted; 0.2 Ma northern 
volcanoes form
  -         0.04 Ma : Tambora’s first caldera formed 
  -         Holocene : Central plain infills
   
  Dapat kita lihat bahwa di kedua pulau ini (juga hampir semua pulau di busur 
dalam Nusa Tenggara) terdapat dua mountain land (southern dan northern) yang 
terbentuk : gunungapi2 Mio-Pliosen yang sekarang tererosi tahap tua membentuk 
pematang-pematang sempit tertoreh dalam, dan gunungapi2 aktif Kuarter muda yang 
bentuknya masih kerucut. Ini mencerminkan perkembangan busur volkanik bagian 
dalam seiring dengan bergeraknya zone subduksi ke utara. Di Lombok dan Sumbawa 
jalur volkanik tua ada di sebelah selatan. Sisa-sisa gunungapi tua 
andesitik-basaltik ini misalnya Gunung Mareje (716 m) di dekat Mataram Lombok 
atau Gunung Sepakat dan Gunung Dinding di Sumbawa selatan. Di sekitar gunung 
ini dapat dipelajari dengan baik bagaimana asal dan sekuen gunung ini dalam 
hubungannya dengan batuan sediment yang tersingkap di sekitarnya, apakah 
intrusi magmatik yang menerobos batuan sediment lebih tua, apakah gunungapi tua 
yang di pinggirnya ditumbuhi terumbu karang, dsb.
   
  Pengangkatan Resen terjadi sangat kuat di sebelah selatan Lombok-Sumbawa. 
Batugamping dan konglomerat dari gunungapi2 tua terangkat membentuk tebing 
pantai, misalnya di dekat Kuta dan Blongas di Lombok selatan (bandingkan dengan 
pantai Uluwatu, Bali selatan – hal yang sama juga). Dataran tinggi sebelah 
selatan Taliwang (barangkali ingat ayam Taliwang ? he2..) di Sumbawa baratdaya, 
juga merupakan uplifted coral limestones yang dulunya tumbuh menumpu (onlap) 
gunungapi andesitik ke sebelah selatan dan tenggaranya. 
   
  Maka, di Lombok dan Sumbawa sebenarnya ada dua massif volkanik, di sebelah 
selatan yang lebih tua (Miosen-Pliosen), dan di sebelah utara yang lebih muda 
(Pleistosen-Holosen). Kedua masiff ini dipisahkan di bagian tengahnya oleh 
sebuah jalur laut dangkal yang kemudian terisi oleh endapan volkanik dari kedua 
gunungapi berbeda generasi ini, dan saat ini telah menjadi lembah di tengah 
kedua pulau ini yang subur dan menjadi lahan pertanian (di Sumbawa tak 
kelihatan lembah Central Plain ini karena massif gunungapi tua-nya “tebal” dan 
berkembang lebih intensif). Gunungapi terkenal Rinjani (3726 m) di Lombok dan 
Tambora (2850 m) di Sumbawa adalah produk gunungapi generasi ke dua yang 
bergerak ke utara di kedua pulau ini. 
   
  Maka, bisa disimpulkan bahwa Lombok dan Sumbawa merupakan dua pulau oseanik 
penyusun busur volkanik dalam di sistem Busur Sunda paling timur yang berasal 
dari subduksi antara kerak oseanik Hindia dengan kerak oseanik yang membatasi 
Sundaland di sebelah tenggara – maka kedua pulau ini adalah a proper island arc 
(bukan seperti Sumatra-Jawa-Bali yang merupakan produk subduksi kerak oseanik 
di bawah tepi kerak benua-transisi Eurasia –continental margin arc).
   
  Batas antara kerak kontinental-transisi Eurasia dengan kerak oseanik yang 
membatasi Sundaland di sebelah tenggaranya adalah Selat Lombok – sebuah selat 
sangat dalam tempat Alfred Russel Wallace menaruh garis demarkasi zoogeografi 
pada tahun 1869.  Maka cerita tentang rumpang keanekargaman hayati antara Bali 
dan Lombok, yang duduk sebelah-menyebelas terhadap garis demarkasi ini akan 
sama menariknya dengan cerita tentang diskontinuitas geologi kedua pulau ini 
yang duduk di dua massa kerak yang berlainan.
   
  Flores akan punya cerita tektonik yang lebih seru lagi sebab di selatan ia 
dihalangi oleh fragmen benua Sumba, di utara ia berhadapan dengan Flores 
megathrust – yang sebenarnya sebuah subduksi kerak oseanik West Banda. Cerita 
biogeografinya juga lebih seru dengan hadirnya sekian banyak makhluk endemic di 
pulau ini, dari komodo sampai Homo floresiansis. Jelas kita harus memikirkan 
Flores lain daripada yang lain.
   
  Salam,
  awang


heryadi rachmat <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                   
Kang Awang mohon analisis untuk genesa pembentukan pulau di Nusa Tenggara Barat 
yang terdiri dari pulau  lombok dan sumbawa serta pulau-pulau kecil di 
sekitarnya  yang berdasarkan hasil pemetaan  umurnya paling tua Miosen ?
terima kasih heryadi rachmat NTB 



--- On Mon, 28/4/08, Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  From: Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Geo_unpad] Kendali Geologi atas Biogeografi Sumatra
To: "IAGI" <[email protected]>, "Geo Unpad" <[EMAIL PROTECTED]>, "Forum HAGI" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "Eksplorasi BPMIGAS" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Monday, 28 April, 2008, 10:49 PM

      
  Dalam beberapa tulisan terdahulu, saya pernah mengulas kontrol geologi atas 
biogeografi. Berikut ini saya akan mengulas bagaimana Pulau Sumatra dan seluruh 
pulau  busur luarnya (Simeulue-Enggano) dan pulau-pulau di sebelah timurnya 
(Riau Kepulauan, Bangka, Belitung, Anambas-Natuna) memenuhi dengan ideal apa 
yang disebut dengan “teori biogeografi pulau” (theory of island 
biogeography) . Data dan interpretasi didasarkan kepada publikasi2 di dalam 
bidang geologi, biologi, botani, zoologi, dan klimatologi.
   
  Teori Biogeografi Pulau mengatakan bahwa pulau2 kecil dan jauh mendukung 
lebih sedikit spesies (jenis) daripada pulau2 besar yang dekat dengan daratan 
utama. Penghunian pulau akan merupakan kesetimbangan dari dua hal : kolonisasi 
pulau oleh spesies imigran dan punahnya spesies di pulau itu. Tingkat 
kolonisasi akan tinggi bila pulau terletak dekat daratan utama. Sebaliknya, 
tingkat kepunahan akan lebih besar di pulau yang jauh dan kecil karena 
populasinya terbatas sehingga sekali kena penyakit yang pandemik peluang 
kepunahannya besar. Maka, pulau besar dan dekat akan semakin kaya jenis, pulau 
kecil dan jauh akan semakin miskin jenis.
   
  Yang mengontrol pulau besar-dekat atau pulau kecil-jauh adalah geologi. Yang 
mengontrol pulau terhubung dengan daratan utama atau terisolasi adalah geologi. 
Yang mengontrol perkembangan pulau-pulau dari waktu ke waktu dalam sejarah alam 
adalah geologi. Maka, memahami dengan baik evolusi geologi sebuah wilayah 
kepulauan akan memampukan kita membuat prediksi keragaman jenis wilayah itu.
   
  Hubungan antara ukuran pulau dan jumlah jenis/spesies adalah linier dan 
relatif konstan untuk sekelompok hewan dan tanaman. Whitten et al. (2000) 
membuktikan hal ini. Mereka mempublikasikan penelitian jumlah jenis burung 
darat dan air tawar 23 pulau terpilih di Indonesia dan sekitarnya, dan 
menemukan bahwa jumlah jenis terendah ada di Pulau Christmas (sekitar 10 jenis) 
dan jumlah jenis terbanyak dimiliki Papua (Indonesia dan PNG) sekitar 800 
jenis. Tiga besar pemegang jumlah jenis terbanyak adalah : Papua, Kalimantan, 
Sumatra – sesuai dengan pemegang predikat tiga ukuran pulau terbesar. 
Umumnya, bila sebuah pulau berkurang ukurannya 10 x, maka jumlah jenisnya 
berkurang setengahnya.
   
  Ukuran pulau pun berhubungan dengan ukuran jenis yang ada. Binatang besar 
yang ada di pulau kecil akan punah terlebih dahulu sebab berbagai faktor dalam 
seleksi alam. Menariknya, binatang-binatang kecil yang ada di pulau kecil bisa 
menjadi lebih besar ukurannya dibandingkan dengan saudara sejenisnya yang hidup 
di pulau besar (tentang ini pernah saya ulas mengapa Homo floresiansis menjadi 
kerdil di Flores - sementara tikus2nya menjadi berukuran raksasa –lihat 
lampiran di bawah; theory of island dwarfism). Maka, bila kita melakukan 
pekerjaan geologi lapangan ke pulau-pulau di sebelah barat Sumatra tidak perlu 
kuatir akan berjumpa dengan harimau, macan tutul, gajah, banteng, atau badak 
Sumatra.
   
  Sekarang kita lihat kasus Sumatra. Sumatra merupakan salah satu pulau terkaya 
akan jenis binatang. Jenis mamalia terbanyak di Indonesia ada di Sumatra, jenis 
burungnya terbanyak kedua setelah Papua. Kekayaan jenis ini karena ukuran 
pulaunya yang besar, variasi habitatnya, dan hubungan masa lampaunya dengan 
daratan utama Asia. Ada 23 spesies endemik (khas, hanya ada di tempat itu di 
dunia) di Sumatra, 14 di antaranya ada di Kepulauan Mentawai (Corbert dan Hill, 
1992; Ruedi dan Fumagalli, 1996). 
   
  Sementara itu, Pulau Simeulue di posisi paling utara rangkaian kepulauan 
busur luar ini, dan Pulau Enggano di posisi paling selatan; sangat miskin akan 
kekayaan spesies. Mengapa Kepulauan Mentawai memiliki kontras tersendiri ? 
Sejarah geologi perkembangan pulau-pulau ini akan menjadi kunci ke arah 
jawaban. 
   
  Sejarah geologi dan perkembangan pulau-pulau ini relatif terhadap daratan 
utama Sumatra paling tidak sejak 1 juta tahun yang lalu sampai saat ini 
menunjukkan bahwa bagian paling utara (Simeulue) dan bagian paling selatan 
(Enggano) busur luar ini tidak pernah bersatu dengan Sumatra, sementara bagian 
tengahnya (Mentawai) bersatu dari 1 – 0.5 Ma (juta tahun yang lalu) dan 
terpisah dari Sumatra sejak 500 ribu tahun yang lalu. 
   
  Antara 1-0.5 Ma, Kepulauan Mentawai mengalami kolonisasi oleh spesies2 yang 
bermigrasi dari daratan utama Sumatra, sementara Simeulue dan Enggano tidak 
karena mereka selamanya terisolasi. Kemudian, pada 0.5 Ma hubungan 
Mentawai-Sumatra terputus, sejak itu Mentawai mengalami isolasi. Bentuk-bentuk 
primitif spesies yang mengkolonisasi Mentawai berkembang sendiri melalui 
mekanisme spesiasi dalam evolusi. Spesies2 awal Indo-Malaya yang 
”terperangkap” di Mentawai kemudian berkembang sendiri dan menjadi endemik 
saat ini, jauh lebih endemik daripada hewan2 di daratan Sumatra yang pernah 
menjadi sumber aliran gen-nya. 
   
  Pulau-pulau di sebelah timur Sumatra (Riau Kepulauan, Bangka-Belitung) hampir 
selalu bersatu secara geologi dengan Sumatra; maka dapat diprediksi bahwa 
variasi spesiesnya tak akan jauh berbeda dengan Sumatra, spesies endemiknya 
akan minimal. Benar, pulau2 Riau dan Lingga serta Anambas/Natuna tak punya 
jenis yang endemik (meskipun dalam tingkat sub-jenis ada juga yang endemik). 
Mamalianya lebih mirip Sumatra atau Kalimantan daripada Mentawai. Menurut data 
van der Zon (1979), jumlah jenis di kepulauan Riau-Lingga- Bangka-Belitung- 
Anambas-Natuna 45-58 % mirip jenis-jenis Sumatra dan Kalimantan; sedangkan 
jumlah jenis di kepulauan Mentawai hanya 26 % mirip jumlah jenis di Sumatra dan 
Kalimantan. Sebuah kontras bio/zoogeografi; tetapi kita bisa memahaminya sebab 
terdapat kontras geologi yang signifikan antara Mentawai dengan Sumatra-Riau- 
Bangka-Belitung- Natuna.
   
  Di dalam Pulau Sumatra sendiri terdapat juga kontras biogeografi yang juga 
dikendalikan oleh geologi. Barier terhadap biogeografi di daratan Sumatra 
berupa sungai-sungai yang terlalu lebar dan pegunungan yang terlalu tinggi 
untuk diseberangi. Sebuah minor boundary  zone biogeografi ditaruh para ahli 
biogeografi tepat di sepanjang Sesar Sumatra. Apakah sesar ini menjadi garis 
demarkasi yang gagal dilewati para hewan ? Tidak, garis demarkasinya adalah 
Pegunungan Bukit Barisan yang tinggi yang memang duduk di sepanjang Sesar 
Sumatra. Minor boundary ini membatasi aliran pertukaran gen dan memisahkan 
subspesies.
   
  Sebuah major boundary menarik yang memisahkan seluruh spesies ditaruh para 
ahli memanjang BD-TL dari timurlaut Pulau Nias ke arah timurlaut memotong Danau 
Toba sampai ke sekitar Medan. Garis demarkasi besar ini di sekitar Pulau Nias 
berimpit dengan barier besar geologi Sesar Batee yang memisahkan platelet Aceh 
dari sisa plate Eurasia yang diduduki Sumatra; tetapi makin ke timur laut ia 
menyimpang dari jalur Sesar Batee. Jumlah jenis di sebelah utara dan selatan 
major boundary ini lumayan kontras. Beberapa spekulasi dikemukakan, berhubungan 
dengan sebaran tuf erupsi Toba 75.000 tahun yang lalu yang lebih banyak di 
sebelah utara batas biogeografi, atau berhubungan dengan tiupan angin kering 
tipe Fohn  dari Padang Lawas-Padang Sidempuan yang akan mengeringkan cuaca dan 
menghentikan migrasi hewan dari selatan yang mencoba melalui garis demarkasi 
ini (Oldeman et al., 1970). Aliran migrasi yang berhenti akan menghentikan 
aliran gen untuk spesiasi, sehingga variasi spesies dua
 wilayah akan kontras.
   
  Demikian tinjauan sederhana bagaimana geologi mengendalikan keanekaragaman 
hayati sebuah wilayah. Di Indonesia, persada kita tercinta, sejarah alam telah 
mengawetkannya dan kini memperlihatkannya kepada kita. Semoga kita sadar dan 
menghargai kekayaan sejarah alam ini.
   
  salam,
  awang
   
  LAMPIRAN
   
  Date: Sun, 31 Oct 2004 18:13:20 -0800 (PST) 
  From: " Awang Satyana " <awangsatyana@ yahoo.com>  Add to Address Book 
  Subject: Re: [iagi-net-l] Manusia Hobbit Homo floresiensis 
  To: [EMAIL PROTECTED] or.id , [EMAIL PROTECTED] ps.com 
      
  Laporan Rowland (1992) : Timor : including islands of Roti and Ndao – World 
Bibliographical Series V. 142, Oxford Press (bisa dibaca di Kathryn Monk et 
al., 1997 : The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku – Periplus Editions, 
Singapore ) ternyata sudah menyebut2 keberadaan semacam “hobbit” ini di 
Flores bahkan di beberapa pulau lainnya di Nusa Tenggara. Disebutnya bahwa di 
Upper Paleolithic (40.000-6000 BP), Nusa Tenggara dan sekitarnya dihuni oleh 
manusia moderen Homo sapiens yang merupakan golongan pemburu dan pengumpul 
(hunter-gatherers) Australoid pygmy yang bermigrasi dari barat. Mereka 
diperkirakan datang dari daratan utama Asia melalui Filipina. Kehadirannya juga 
ditandai dengan alat2 batu yang besar dan punahnya beberapa fauna (stegodon, 
kadal raksasa, dan penyu daratan) di Sulawesi, Flores, dan Timor . Orang2 
kerdil ini kata Rowland (1992) tinggal di dalam gua2 atau rumah batu yang 
digali di bukit2 atau di dekat pantai. Penghuni2 kerdil di Timor ini bisa
 jadi yang bermigrasi ke Australia.
   
  Pendapat Rowland ini berarti tidak sejalan dengan pendapat bahwa aborigin 
Australia berasal dari manusia Ngandong yang bermigrasi dari Jawa melalui Nusa 
Tenggara. Di Nusa Tenggara banyak artefak industri Pacitanian atau Sangiranian 
yang diperkirakan pembuatnya adalah manusia Ngandong (van den Bergh et al., 
1996 : Did Homo erectus reach the island of Flores ? – BIPPA / Bull. of the 
Indo-Pacific Prehistory Association, v. 14, p. 27-36). 
   
  Jacob (1967) : “Some Problems Pertaining to the Racial History of the 
Indonesian Region“ pernah menemukan rangka manusia perempuan dewasa bersosok 
kecil di sebuah gua bernama Liang Toge di Flores dengan umur 2000 SM. Sisa 
rangka dari beberapa situs di Flores semuanya diduga bertarikh Holosen dan 
termasuk ke para leluhur populasi Australo-Melanesia yang sekarang mendiami 
pulau Flores.
   
  Saya pikir “hobbit” di Flores itu hanya menunjukkan suatu ras dalam Homo 
sapiens, bukan hominid.  Memang benar bahwa semua populasi mengalami seleksi 
alamiah dan genetic drift yang akan berakibat menimbulkan kelompok ras tertentu 
melalui polimorfisme, tetapi kurun waktu yang singkat menyulitkan untuk 
menerima bahwa suatu evolusi lokal telah terjadi di sini. Dan sangat mungkin 
pula bahwa “hobbit” di Flores itu juga merupakan sisa ras lama yang 
terawetkan saat ekspansi migrasi ras Mongoloid Selatan terjadi ke seluruh 
dunia. Sebagian besar penduduk kawasan Indo-Malaysia sekarang termasuk ke 
fenotipe Mongoloid Selatan. Tetapi di wilayah2 ini juga ada populasi2 lain yang 
walaupun kecil jumlahnya tetapi penting dalam sejarah, yaitu ras Negrito 
(Australoid/ Austro-Melanesia ) yang masih tinggal di Malaysia dan Filipina 
yang bertubuh kecil. Tubuh pendek ini juga memang bisa terjadi sebagai adaptasi 
terhadap lingkungan, walaupun ini tak selalu benar sebab penelitian
 terhadap orang pygmy di Afrika (Merimee et al., 1981) : “Dwarfism in the 
Pygmy” – New England Journal of Medicine vol.305, no. 17  menemukan bahwa 
mereka ternyata kekurangan hormon IGF-I, yaitu hormon mirip insulin yang 
dibutuhkan untuk pertumbuhan.
   
   
  Salam,
  awang
  
  
---------------------------------
  Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it 
now.   



Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

__._,_.___   Messages in this topic (2) Reply (via web post) | Start a new 
topic 
  Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members | Calendar 
  Moderators:
Budhi Setiawan '91 <[EMAIL PROTECTED]>
Edi Suwandi Utoro '92 <[EMAIL PROTECTED]>
Sandiaji '94 <[EMAIL PROTECTED]>
Wanasherpa '97 <[EMAIL PROTECTED]>
Satya '2000 <[EMAIL PROTECTED]>
Andri'2004 <[EMAIL PROTECTED]> 
   
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe 

    
    Recent Activity
    
      5
  New Members
  
      2
  New Links

Visit Your Group 
      Y! Groups blog
  the best source
  for the latest
  scoop on Groups.

    Yahoo! Groups
  w/ John McEnroe
  Join the All-Bran
  Day 10 Club.

    Moderator Central
  Yahoo! Groups
  Get the latest news
  from the team.



  .

 
__,_._,___                           

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke