Just Curious
Apakah Pak Awang percaya bahwa Banjir Nabi Nuh (Noah) ini sebagai
kejadian fisis ataukah hanya mithology ?
Aku sendiri sampai sekarang hanya mempercayai sebagai sebuah mithology
yang di adopt dalam kitab-kitab agama. Kejadian mitos-mitos itu memang
menympan makna-makna adanya sisi ilmiah. Apakah kejadian fisis ? Terus
terang aku skeptics. "Sejarah" soal nab-nabi yang diklaim sebagai
bagian saintific (archeologic) discoveries setahu saya hanya sampai
jaman Ibrahim (abraham). Itu saja masih kontra diksi dengan Ibrahim
versi Brahmanya dari India.
Sepertinya ada kemiripan dengan mitologi Benua Atlantis. Yang juga
berkembang menjadi meta-scientific debate.
Saintific juga bukan berarti ada tidaknya referensi. Banyak
refrensi-refrensi ditulis bukan dari sebuah scientific research.
Sulitnya social research ini mirip-mirip dengan scientific research.
Baik pendekatan, cara maupun metode analisanya.
RDP
2008/6/23 Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>:
> Minggu lalu, seorang mahasiswa bertanya kepada saya apakah ada penjelasan
> geologi atas banjir Nabi Nuh. Saya meyakini bahwa untuk apa pun kejadian
> bencana atau kejadian adikodrati yang melibatkan unsur-unsur Bumi yang
> dituliskan di Kitab Suci selalu ada penjelasan geologi/ilmiahnya. Mungkin
> kita tak menemukan penjelasannya sekarang, tetapi kelak kemajuan ilmu
> pengetahuan akan menyingkapkannya.
>
> Kejadian 7 : 10, 11 "Setelah tujuh hari datanglah air bah meliputi bumi. Pada
> waktu umur Nuh enam ratus tahun, pada bulan yang kedua, pada hari yang
> ketujuh belas bulan itu, pada hari itulah terbelah segala mata air samudera
> raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit."
>
> Dalam beberapa kejadian yang dapat dijelaskan, saya percaya bahwa TUHAN
> menggunakan geologi untuk melaksanakan kehendakNya. Dalam kasus kiamat di
> Sodom dan Gomora, misalnya, saya pernah menulis di milis ini bahwa TUHAN
> menggerakkan sesar mendatar yang memotong Laut Mati yang membentang sejak
> Lembah Retakan Besar Afrika Timur-Laut Merah-Teluk Aqaba-Laut Mati-Lembah
> Yordan-Danau Galilea, memerintahkan gempa menggoyang ujung selatan Laut Mati,
> meletuskan gunung-gununglumpur di wilayah itu melemparkan lumpur, gas, garam
> dan belerang berapi, menghabisi Sodom dan Gomora –dua tempat di ujung
> selatan Laut Mati yang penuh dengan dosa. Contoh lain, TUHAN pun pernah
> meletuskan gunungapi Thera-Santorini di Laut Tengah dan meniupkan abunya
> menutupi Matahari di atas Mesir dan menggelapkannya saat Musa hendak membawa
> bangsanya. Gerald Friedman, ahli sedimentologi terkenal itu, pernah
> menuliskan artikel khusus tentang ini di sebuah jurnal riset Alkitab.
>
> TUHAN yang Mahakuasa itu adalah TUHAN atas segala Alam Semesta, yang
> Mahabesar, yang dengan mudah menggerakkan semua elemen Bumi sesuai
> kehendakNya, tetapi juga TUHAN yang Mahakasih, yang tak membiarkan seekor
> burung sekecil pipit pun jatuh ke Bumi tanpa kehendakNya (Matius 10 : 29).
> Apalagi kepada manusia yang jauh lebih berharga daripada burung pipit,
> bilangan helai rambutnya pun Ia ketahui (Matius 10 : 30).
>
> Banjir besar pada zaman Nabi Nuh (terjadi sekitar 2900 BC menurut carbon
> dating endapan banjir tersebut) adalah kisah yang sangat terkenal di dalam
> Alkitab. Kisah ini bukan dongeng, tetapi kenyataan yang pernah terjadi. Para
> ahli geologi awal abad ke-19 pun sangat terinspirasi oleh kisah itu. Ini
> terbukti dari digunakannya istilah "diluvium" untuk menamai endapan bekas
> banjir besar hasil proses katastrofik itu. Istilah ini pun pernah digunakan
> di benua Eropa pada periode tersebut untuk menamai satu periode Kuarter Tua
> atau Pleistosen, untuk membedakannya dengan "aluvium"- endapan masa kini
> (lihat Bates dan Jackson, 1987 : Glossary of Geology).
>
> Bagaimana geologi menjelaskan kejadian banjir besar Nabi Nuh itu ? Mitchell,
> seorang ahli dari Department of Western Asiatic Antiquities, British Museum,
> dalam artikel tentang Banjir Nabi Nuh di The New Bible New Dictionary
> (Inter-Varsity Press, 1988) menulis bahwa tak ada gunanya mencari penjelasan
> geologi atas kejadian banjir itu sekalipun Kejadian 7 : 11 jelas-jelas
> menyebutkan "terbelah segala mata air samudera raya" (ini proses geologi yang
> gamblang). Mitchell (1988) menganggap bahwa kata-kata di dalam Kejadian 7 :
> 11 adalah sekedar kata kiasan, jadi tak perlu mencari penjelasan geologi
> atasnya.
>
> Benarkah anggapan Mitchell (1988) ? Kita tinjau buku tua tulisan Henry Halley
> (1927) "Halley's Bible Handbook" yang pada tahun 1965 diterbitkan edisi
> ke-24-nya. Halley (1965) menyebutkan bahwa banjir Nabi Nuh terjadi di suatu
> wilayah yang disebutnya "Tanah Genting Eufrat" (Euphrat Isthmus) yaitu suatu
> wilayah Mesopotamia (sebagian Irak, Siria dan Turki sekarang) dan Babel
> (sekarang Irak), tempat mengalirnya dua sungai besar Eufrat dan Tigris. Tanah
> Genting ini hampir seluruhnya dikelilingi oleh laut-laut Laut Tengah, Laut
> Hitam, Laut Kaspia, dan Teluk Persia. Sungai besar Eufrat dan Tigris dan
> seluruh anak sungainya merupakan penghubung laut-laut itu. Tanah Genting
> Eufrat terbentuk oleh masuknya Teluk Persia ke arah daratan menuju bagian
> timur Laut Tengah (sejajar dengan Laut Merah yang masuk menuju Laut Tengah –
> tanah genting Suez, kemudian digali menjadi Terusan Suez). Nuh dan
> keluarganya tinggal di kota Babel di tepi Sungai Eufrat
> (Rowley, 1988, "Atlas Alkitab").
>
> Halley (1965) menafsirkan Kejadian 7 : 11 "... pada hari itulah terbelah
> segala mata air samudera raya yang dahsyat..." sebagai : "cataclysmic
> subsidence" Tanah Genting Eufrat. Tanah Genting Eufrat tenggelam, dan lautan
> di sekelilingnya memenuhi Mesopotamia-Babel melalui Eufrat dan Tigris yang
> juga akhirnya ditenggelamkan air laut. Di samping itu, hujan dari langit
> turun tak ada hentinya selama 40 hari 40 malam yang makin meninggikan banjir.
> Demikian tulis Halley (1965).
>
> Interpretasi Halley (1965) menarik dalam pemahaman geologi moderen melalui
> analisis tektonik lempeng.
>
> Peta tektonik lempeng dari Skinner dkk. (2004) dalam bukunya "Dynamic Earth"
> (John Wiley and Sons, New York) menunjukkan bahwa Tanah Genting Eufrat yang
> dimaksud Halley (1965) disebelah barat dibatasi oleh batas sesar transform
> sinistral Laut Mati-Siria, di sebelah utara dan timur oleh suture (tempat
> pertemuan/benturan dua lempeng) Biltis-Zagros yang merupakan wilah benturan
> antara Lempeng Arab dan Eurasia. Suture Zagros berimpit juga dengan sesar
> besar dekstral sepanjang suture-nya (menurut Versfelt, 2001 – Major HC
> potential in Iran, AAPG Memoir 74). Suture Biltis-Zagros ini diduduki oleh
> gunung-gunung di sebelah selatan Turki dan Armenia di sekitar Laut Hitam dan
> Laut Kaspia, menerus menuju gunung-gunung lipatan Pegunungan Zagros di
> antara Irak dan Iran. Gunung Ararat, Armenia, tempat bahtera Nuh kandas,
> adalah sebuah gunung di ujung baratlaut suture Zagros.
>
> Teluk Persia adalah sisa Tethys Sea yang tidak ikut tertutup pada saat
> benturan antara Lempeng Arab dan Eurasia terjadi sejak Miosen akhir
> (Versfelt, 2001). Gerakan konvergensi Arab ke Eurasia ini terjadi terus
> sampai sekarang. Di bawah Sungai Eufrat dan Tigris atau di wilayah Tanah
> Genting Eufrat terdapat retakan-retakan pinggir benua sisa tepi pasif Lempeng
> Arab sebelum membentur Eurasia. Keberadaan sesar mendatar dekstral sejajar
> suture Zagros dan retakan benua passive margin di bawah Eufrat dan Tigris
> adalah elemen-elemen tektonik penting yang akan tereaktivasi ulang bila
> "cataclysmic subsidence" terjadi.
>
> Berdasarkan hal di atas, maka bisa dipastikan bahwa wilayah di mana pernah
> terjadi banjir besar Nabi Nuh adalah wilayah tepi-tepi lempeng yang
> menunjukkan gejala konvergensi, divergensi, dan strike-slip faulting. Wilayah
> ini dikelilingi oleh laut-laut besar Laut Tengah, Laut Hitam, Laut Kaspia,
> Teluk Persia, Teluk Oman, Samudera Hindia, dan Laut Merah. Maka bila terjadi
> "cataclysmic subsidence", semua laut di sekeliling Tanah Genting akan
> membanjirinya seperti laut transgresi atas wilayah yang tenggelam.
>
> Apakah memang terjadi penenggelaman Mesopotamia-Babel sehingga menyebabkan
> banjir besar ? Mari kita periksa Kejadian 7-8 dalam bahasa aslinya
> (Aram-Ibrani). Kejadian 7 : 10 " Setelah tujuh hari datanglah air bah
> meliputi bumi." ("Wayhiy lshib`at hayamiym uwmey hamabuwl hayuw
> `al-ha'arets.."). Kata yang dipakai untuk menerangkan peristiwa banjir besar
> Nabi Nuh adalah "mabbul" (hamabuwl). Kata inidipakai juga di dalam Mazmur 29
> : 10. Arti harafiah mabbul adalah : air meluap secara besar-besaran. Menarik
> sekali bahwa kata ini dalam kitab Septuaginta (Perjanjian Lama dalam bahasa
> Yunani) diterjemahkan sebagai "kataklysmos" (bandingkan dengan
> "cataclysmic"). Kata kataklysmos sebagai banjir besar dipakai juga di dalam
> Matius 24 : 38-39, Lukas 17 : 27, dan 2 Petrus 2 : 5). Dalam geologi,
> cataclysmic adalah peristiwa katastrofik.
>
> Kejadian 10 : 11 " Pada waktu umur Nuh enam ratus tahun, pada bulan yang
> kedua, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, pada hari itulah terbelah
> segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di
> langit." ("Bishnat shesh- me'owt shanah lchayey-Noach bachodesh hasheniy
> bshib`ah- `asar yowm lachodeshbayowm hazeh nibq`uw kal- ma`ynot thowm rabah
> wa'rubothashamayim niptachuw."). Perhatikan kata "tehom" (thowm), artinya
> adalah air samudra yang naik dari bawah.
>
> Berdasarkan geologi wilayah ini dan kata-kata dalam bahasa asli Kitab
> Kejadian baik bahasa Aram maupun Yunani (Septuaginta), saya percaya bahwa
> Tanah Genting Eufrat tenggelam dan semua laut di sekelilingnya meluapinya
> menyebabkan banjir besar Nabi Nuh, di samping itu hujan besar 40 hari 40
> malam menyebabkan air makin tinggi di atas Bumi (Kejadian 1 : 17).
>
> Bagaimana bisa Tanah Genting Eufrat tenggelam? Apa sulitnya untuk TUHAN bila
> Ia me-reaktivasi retakan-retakan passive margin di bawah Eufrat dan Tigris.
> Dulu pada Masa Paleozoikum dan Mesozoikum pun, wilayah ini adalah wilayah
> yang tenggelam di tepi kontinen Arab akibat adanya sistem retakan passive
> margin (Versfelt, 2001). Apa susahnya buat TUHAN kalau Ia mau
> menenggelamkannya lagi pada kala Holosen 2900 BC ?
>
> Apakah ada bukti geologi atau arkeologi endapan sisa banjir Nabi Nuh ? Jelas
> ada, dan itu telah ditemukan di sepanjang Mesopotamia dan Babel sejak tahun
> 1920-an. Yang terkenal, adalah yang ditemukan dalam ekskavasi di kota Ur,
> kota asal Abraham, oleh ahli arkeologi Dr. C.L. Woolley (1929) setebal 8 kaki
> berupa endapan "solid water-laid clay". Urutan endapan menyaksikan kehidupan
> pra-banjir yang penuh dengan artefak, saat banjir (solid water-laid clay)
> yang tak ada artefaknya, dan endapan sesudah banjir yang juga penuh dengan
> artefak yang makin maju tingkat perkembangannya. Lalu, penggalian arkeologi
> di Kish, masih di tepi Sungai Eufrat oleh Dr. Stephen Langdon (1928-1929)
> menemukan endapan yang sama setebal 5 kaki. Juga, tahun 1931 ditemukan
> endapan banjir Nabi Nuh di Fara berupa clean water-laid clay, dekat tempat
> Taman Eden, oleh Dr.Eric Schmidt. Tentu menarik sekali kalau kita mau
> meneliti palinologi dan beberapa isotop (oksigen 18/16, karbon
> 13/12 misalnya) endapan-endapan banjir ini. Dari analisis ini kita bisa
> mengetahui banyak hal tentang lingkungan saat itu. Umur lapisan-lapisan ini
> berdasarkan penelitian carbon dating adalah sekitar 2900-2700 BC, tetapi
> endapan banjir di Ur setua 3500 BC.
>
> Bahtera Nabi Nuh kandas di Gunung Ararat (Kejadian 8 : 4). Gunung ini ada dan
> ketinggiannya 17.000 kaki (5182 meter), sekarang masuk ke dalam wilayah Turki
> sebelah tenggara. Gunung ini merupakan gunung lipatan dalam jalur suture
> Zagros. Gunung ini terletak sekitar 800 km di sebelah utara Babel, kota asal
> Nuh, berarti bahtera Nabi Nuh terapung 800 km ke arah utara saat banjir besar
> terjadi (bahtera ini hanya terapung bukan dikemudikan menuju utara) (Halley,
> 1965). Para penerbang Rusia mengaku pada awal abad ke-20 telah menemukan sisa
> bahtera ini tertanam di gletsyer Gunung Ararat. Laporan resmi telah
> disampaikan kepada Tsar Rusia. Sayang, dengan bergulirnya Revolusi Bolsyewik
> yang ateis, laporan-laporan ini tidak pernah dipublikasikan ke umum apalagi
> ditindaklanjuti
>
> Pertanyaan tersisa, seberapa luas banjir besar Nabi Nuh itu ? Apakah seluas
> dunia, menutupi seluruh permukaan Bumi yang luasnya 510 juta km2 itu ? Saya
> tidak yakin. Ada hal menarik berdasarkan bahasa asli Alkitab dan cerita
> tentang banjir besar itu dari berbagai bangsa, dari epik Gilgamesh di
> Babilonia sampai cerita Indian Inca di Peru.
>
> Kata-kata Ibrani yang digunakan untuk "meliputi bumi" dipakai tiga jenis kata
> : "erets" (Wayhiy lshib`at hayamiym uwmey hamabuwl hayuw `al-ha'arets)
> (Kejadian 7 : 11, 17, 23); "syamayim" (Wayhiy hamabuwl 'arba`iym yowm `al-
> ha'arets wayirbuwhamayim wayis'uw 'et- hatebah wataram me`al ha'arets)
> (Kejadian 7 : 17); dan "adama" (Kiy lyamiym `owd shib`ah 'anokiy mamTiyr
> `al-ha'arets 'arba`iym yowm w'arba`iym laylah uwmachiytiy 'et-kal- hayquwm
> 'sher `asiytiy me`al pney ha'damah) (Kejadian 7 : 4, 23). Perhatikan, bahwa
> "erets", "syamayim", dan "adama", semuanya diterjemahkan sebagai "bumi".
> Tetapi, masing-masing kata ini mempunyai arti juga sebagai tanah (erets,
> misalnya Kejadian 10 : 10), bagian yang kelihatan dari langit (syamayim,
> misalnya 1 Raja-Raja 18 : 45) dan luas muka bumi di tanah yang terlihat dari
> langit (adama). Maka, tak ada kata-kata yang langsung menunjukkan bahwa
> banjir besar itu terjadi seluas bola Bumi. Saya
> percaya bahwa banjir besar hanya terjadi di seluruh Cekungan Eufrat.
>
> Geografi zaman Nuh tentu berbeda dengan geografi masa kini. Perlu
> diperhatikan bahwa dari Adam sampai Nuh hanya ada 10 generasi. Itulah
> keseluruhan ras manusia saat itu, yang tinggal tak jauh dari asal manusia
> sendiri, yaitu di Taman Eden, di wilayah antara Sungai Eufrat dan Sungai
> Tigris (Irak sekarang). Cekungan Eufrat adalah "seluas bumi" pada zaman
> Adam-Nuh.
>
> Pertanyaan lanjutan, kalau banjir besar itu hanya seluas Cekungan Eufrat,
> bagaimana cerita tentang banjir besar itu ditemukan dalam tradisi
> bangsa-bangsa India, Cina, Inggris, Meksiko, Greenland, dan Peru ? Bukankah
> itu menggambarkan bahwa banjir besar itu terjadi ke mana-mana ? Tidak,
> seluruh jumlah manusia sebelum banjir besar hanya 10 generasi (dari Adam ke
> Nuh) dan mereka hidup tak jauh dari tempat asalnya di Taman Eden. India,
> Cina, sampai Amerika telah ada tetapi belum dihuni manusia (moderen).
>
> Setelah banjir besar usai, baru manusia-manusia turunan Sem, Ham, dan Yafet
> –anak-anak Nabi Nuh, bersama para isterinya menurunkan bangsa-bangsa moderen
> penghuni Bumi sekarang. Yafet menurunkan bangsa-bangsa di Eropa dan Asia. Sem
> menurunkan bangsa-bangsa Yahudi, Asiria, Siria. Ham menurunkan bangsa-bangsa
> Arab, Mesir, dan pantai timur Afrika.
>
> Melalui peristiwa kekacauan bahasa Menara Babel manusia diserakkan ke seluruh
> muka Bumi (Kejadian 11 : 9 "..., karena dari situlah dikacaubalaukan TUHAN
> bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh
> bumi."). Kekacauan bahasa di Babel itu terjadi 101 tahun setelah banjir Nabi
> Nuh. Dan setiap bangsa mempunyai tradisi banjir Nabi Nuh sebab mereka berasal
> dari anak-anak Nuh, yang mengalami banjir, suatu kisah yang diceritakan
> sebagai tradisi dari generasi ke generasi.
>
> Perhatikan kata-kata "diserakkan TUHAN ke seluruh bumi" (hepiytsam Yahweh
> `al- pney kal- ha'arets), ini baru berarti ke seluruh bola dunia. Kata-kata "
> `al- pney kal- ha'arets" tak pernah dipakai sebelumnya untuk menunjukkan luas
> banjir Nabi Nuh. Suatu indikasi kuat bahwa banjir Nuh hanya terjadi seluas
> bumi yang diketahui saat itu, yaitu : Cekungan Eufrat.
>
> Demikian, semoga bermanfaat. Ilmu pengetahuan menyaksikan kebenaran Firman
> TUHAN.
>
> Salam,
> awang
>
>
>
--
http://tempe.wordpress.com/
Telling the truth is important
Telling the positive is better !!!
--------------------------------------------------------------------------------
PIT IAGI KE-37 (BANDUNG)
* acara utama: 27-28 Agustus 2008
* penerimaan abstrak: kemarin2 s/d 30 April 2008
* pengumuman penerimaan abstrak: 15 Mei 2008
* batas akhir penerimaan makalah lengkap: 15 Juli 2008
* abstrak / makalah dikirimkan ke:
www.grdc.esdm.go.id/aplod
username: iagi2008
password: masukdanaplod
--------------------------------------------------------------------------------
PEMILU KETUA UMUM IAGI 2008-2011:
* pendaftaran calon ketua: 13 Pebruari - 6 Juni 2008
* penghitungan suara: waktu PIT IAGI Ke-37 di Bandung
AYO, CALONKAN DIRI ANDA SEKARANG JUGA!!!
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------