Nabi Nuh dan Banjir dalam Al
Quran

 

Banjir Nuh
disebutkan dalam banyak ayat di dalam Al Quran. Di bawah ini bisa dilihat
ayat-ayat yang disusun berdasarkan urut-urutan peristiwa banjir tersebut:

 

Ajakan Nabi
Nuh atas Kaumnya kepada Agama Kebenaran

 

"Sesungguhnya
Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: 'Wahai kaumku,
sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya
(kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari
yang besar (kiamat)'." (QS. Al A'raaf, 7: 59) !

 

"Sesungguhnya
aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah
kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah 
kepadamu atas
ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka
ber-takwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." (QS. Asy-Syu'araa', 26:
107-110) !

 

"Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu ia berkata "Hai
kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu
selain Dia. Maka mengapa ka-mu tidak bertakwa (kepada-Nya)?" (QS. Al
Mu'minuun, 23: 23) !

 

Peringatan
Nabi Nuh kepada Kaumnya 

akan
Hukuman dari Allah

 

"Sesungguhnya
Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): "Berilah
kaummu peringatan sebelum datang ke-padanya azab yang pedih." (QS. Nuh,
71: 1) !

 

"Kelak
kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan
yang akan ditimpa azab yang kekal." (QS. Huud, 11: 39) !

 

Agar kamu
tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku kha-watir kamu akan ditimpa azab
(pada) hari yang sangat menyedih-kan. (QS. Huud, 11: 26) !

 

Pembangkangan Kaum Nabi Nuh

 

"Pemuka-pemuka
dari kaumnya berkata: 'Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan
yang nyata'." (QS. Al A'raaf, 7: 60) !

 

"Mereka
berkata: 'Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah de-ngan kami, dan kamu
telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami
azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang
benar'." (QS. Huud, 11: 32) !

 

"Dan
mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin ka-umnya berjalan
melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkata Nuh: 'Jika kamu mengejek kami, maka
sesungguhnya kami (pun) menge-jekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek
(kami)'." (QS. Huud, 11: 38) !

 

"Maka
pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya men-jawab: 'Orang ini tidak
lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang
lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus
beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan (seruan yang
seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. Ia tidak lain hanyalah
seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya
sampai suatu waktu'." (QS. Al Mu'minuun, 23: 24-25) !"

 

"Sebelum
mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh, maka mere-ka mendustakan hamba Kami
(Nuh) dan mengatakan: 'Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi
ancaman'." (QS. Al Qamar, 54: 9) !

 

Penghinaan terhadap Para Pengikut
Nabi Nuh

 

"Maka
berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: 'Kami tidak melihat kamu,
melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak
melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina
di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memi-liki
sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bah-wa kamu adalah
orang-orang yang dusta'." (QS. Huud, 11: 27) !

 

"Mereka
berkata: "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu
ialah orang-orang yang hina?" Nuh menja-wab: "Bagaimana aku mengetahui
apa yang telah mereka kerjakan?" Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak
lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak
akan mengusir orang-orang yang beriman. Aku (ini) tidak lain melainkan pemberi
peringatan yang menjelaskan." (QS. Asy-Syu'araa', 26: 111-115) !

 

Peringatan Allah agar Nabi Nuh
Tidak Bersedih

 

"Dan
diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara
kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu 
bersedih
hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. Huud, 11: 36) !

 

Doa Nabi Nuh

 

"Maka
itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku
dan orang-orang yang mukmin besertaku." (QS. Asy-Syu'araa', 26: 118) !

 

"Maka
dia mengadu kepada Tuhannya: 'Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan,
oleh sebab itu tolonglah (aku)'." (QS. Al Qamar, 54: 10) !

 

"Nuh
berkata: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang. 
Maka
seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'." (QS. Nuh,
71: 5-6) !

 

"Nuh
berdoa: 'Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendusta-kan aku'." (QS.
Al Mu'minuun, 23: 26) !

 

"Sesungguhnya
Nuh telah menyeru Kami: Maka sesungguhnya seba-ik-baik yang memperkenankan 
(adalah
Kami)." (QS. Ash-Shaaffaat: 75) !

 

Pembuatan Bahtera

 

"Dan
buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah
kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang zalim itu, sesungguhnya mereka
itu akan ditenggelamkan." (QS. Huud, 11: 37) !

 

Penghancuran Umat Nabi Nuh dengan
Cara Ditenggelamkan

 

"Maka
mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang
bersamanya di dalam bahtera, dan Kami teng-gelamkan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami. Sesung-guhnya mereka adalah kaum yang buta (mata
hatinya)." (QS. Al A'raaf, 7: 64) !

 

"Kemudian
sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal." (QS.
Asy-Syu'araa', 26: 120) !

 

"Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara
mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar,
dan mereka adalah orang-orang yang zalim." (QS. Al Ankabuut, 29: 14) !

 

Dibinasakannya Putra Nabi Nuh

Sehubungan
dengan dialog antara Nabi Nuh dan putranya, pada permulaan banjir, Al Quran
mengungkapkan: 

 

"Dan
bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang lak-sana gunung, dan Nuh
memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat jauh terpencil: "Hai
anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama
orang-orang yang kafir." Anaknya menjawab: "Aku akan mencari
perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata:
"Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja)
Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara ke-duanya;
maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang diteng-gelamkan." (QS.
Huud, 11: 42-43) !

 





Diselamatkannya
Orang-Orang yang Beriman dari Banjir

 

"Maka
Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh
muatan." (QS. Asy-Syu'araa', 26: 119) !

 

"Maka
kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan kami jadikan
peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia." (QS. Al Ankabuut, 29:
15) !

 

Bentuk
Fisik dari Banjir yang Terjadi

 

"Maka
Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami
jadikan bumi memancarkan mata-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu
urusan yang sungguh te-lah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera)
yang terbuat dari papan dan paku." (QS. Al Qamar, 54: 11-13) !

 

"Hingga
apabila perintah Kami datang dan 'dapur' (permukaan bu-mi yang memancarkan air
hingga menyebabkan timbulnya taufan) telah memancarkan air, Kami berfirman:
"Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang
(jantan dan betina), dan keluargamu, kecuali orang yang telah terdahulu
kete-tapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." 

Dan tidak
beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. Dan Nuh berkata: "Naiklah
kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan
berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang". 

Dan bahtera
itu berlayar membawa mereka dalam gelombang lak-sana gunung, dan Nuh memanggil
anaknya sedang anak itu berada di tempat jauh terpencil: "Hai anakku,
naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang
yang kafir." (QS. Huud, 11: 40-42) !

 

"Lalu
Kami wahyukan kepadanya: "Buatlah bahtera di bawah peni-likan dan petunjuk
Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan 'tannur' telah memancarkan
air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan
(juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan
ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang
orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan
ditenggelamkan." (QS. Al Mu'minuun, 23: 27) !

 

Terdamparnya
Perahu di Tempat yang Tinggi

 

"Dan
difirmankan: "Hai bumi tahanlah airmu, dan hai langit (hujan)
berhentilah," dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan
bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: 'Binasa-lah
orang-orang yang zalim'." (QS. Huud, 11: 44) !

 

Pelajaran
dari Peristiwa Banjir

 

"Sesungguhnya
Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung), Kami bawa (nenek moyang) kamu
ke dalam bahtera, agar Kami jadi-kan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan
agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar." (QS. Al Haaqqah,
69:11-12) !

 

Pujian
Allah terhadap Nabi Nuh

 

"Kesejahteraan
dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam". Sesungguh-nya demikianlah Kami
memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Ash-Shaaffaat,
37: 79-81) !

 

 

Apakah Banjir itu Bencana Lokal
atau Global ?

 

Mereka yang menolak
terjadinya Banjir Nuh mendukung pendirian mereka dengan menyatakan bahwa banjir
atas seluruh dunia adalah mus-tahil. Namun, penyangkalan mereka atas banjir apa
pun juga ditujukan untuk menyerang Al Quran. Menurut mereka, semua kitab yang
diwah-yukan, termasuk Al Quran, sepertinya mempertahankan terjadinya banjir
global dan karenanya keliru.

Namun,
penolakan terhadap Al Quran ini tidak benar. Al Quran di-wahyukan oleh Allah,
dan merupakan satu-satunya kitab suci yang tidak terubah. Al Quran memandang 
Banjir
dengan sudut pandang yang sangat berbeda dibandingkan Pentateuch dan
legenda-legenda lain tentang banjir yang diriwayatkan dalam berbagai
kebudayaan. Penta-teuch, yakni lima kitab pertama dalam Perjanjian Lama,
menyatakan bahwa banjir tersebut bersifat global; menutupi seluruh bumi. Namun,
Al Quran tidak memberikan keterangan seperti itu, sebaliknya ayat-ayat tentang
peristiwa ini membawa pada kesimpulan bahwa banjir itu bersi-fat regional dan
tidak menutupi seluruh bumi, namun hanya meneng-gelamkan umat Nabi Nuh saja
yang telah diberi peringatan, lalu dihu-kum.

Ketika
riwayat-riwayat tentang Banjir dalam Perjanjian Lama dan Al Quran diuji,
perbedaannya sederhana saja. Perjanjian Lama, yang telah mengalami banyak
perubahan dalam penambahan sepanjang sejarah-nya, sehingga tidak dapat dinilai
sebagai wahyu yang orisinil, menggam-barkan bagaimana banjir berawal dalam
uraian berikut:

 

Dan Tuhan
melihat bahwa kejahatan manusia di bumi adalah besar, dan bahwa setiap
imajinasi dari pikiran-pikiran dalam hatinya hanya selalu perbuatan jahat. Dan
ini menjadikan Allah menyesali bahwa Dia telah menciptakan manusia di bumi, dan
ini menyedih-kan hati-Nya. Dan Tuhan berkata, "Aku akan membinasakan
manu-sia yang telah kuciptakan dari permukaan bumi; kedua jenis yang ada,
manusia dan binatang, dan segala yang merayap, dan unggas-unggas di udara, yang
karena telah mengecewakan-Ku yang telah menciptakan mereka. Akan tetapi, (Nabi) 
Nuh
mendapatkan kasih sayang di mata Tuhan. (Kejadian, 6: 5-8)

 

Namun, dalam Al Quran, jelas ditunjukkan bahwa tidak seluruh du-nia, tetapi
hanya umat Nabi Nuh yang dihancurkan. Sebagaimana Nabi Hud diutus hanya untuk
kaum 'Ad (QS. Huud, 11:50), Nabi Shalih diutus untuk kaum Tsamud (QS. Huud,
11:61), serta seluruh nabi sebelum Mu-hammad hanya diutus untuk umat mereka
saja, Nabi Nuh hanya diutus kepada umatnya dan banjir tersebut hanya
memusnahkan umat Nabi Nuh:

 

"Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata):
"Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar
kamu tidak menyembah selain Allah. Sesung-guhnya aku khawatir kamu akan ditimpa
azab (pada) hari yang sangat menyedihkan." (QS. Huud, 11: 25-26) !

 

Mereka yang
dimusnahkan adalah orang-orang yang sepenuhnya menolak pernyataan kerasulan Nuh
dan berkeras menentang. Ayat-ayat yang senada cukup gamblang:

 

"Maka
mereka mendustakan Nuh, kemudian kami selamatkan dia dan orang-orang yang
bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan
ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)."
(QS. Al A'raaf, 7: 64) !

 

Di samping
itu, dalam Al Quran, Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan menghancurkan suatu
umat kecuali telah diutus seorang rasul kepada mereka. Penghancuran hanya
terjadi jika seorang pemberi per-ingatan telah sampai kepada suatu kaum, dan ia
didustakan. Allah me-nyatakan dalam Surat Al Qashash:

 

"Dan
tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota
itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak
pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan
melakukan keza-liman." (QS. Al Qashash, 28: 59) !

 

Allah tidak
akan menghancurkan suatu kaum sebelum menurunkan rasul kepada mereka. Sebagai
pemberi peringatan, Nuh hanya diutus untuk kaumnya. Karena itu, Allah tidak
menghancurkan kaum-kaum yang belum diutus rasul, hanya umat Nabi Nuh.

Dari
pernyataan-pernyataan dalam Al Quran, kita bisa memastikan bahwa banjir Nuh
adalah bencana regional, bukan global. Penggalian-penggalian pada daerah-daerah
arkeologis yang diperkirakan sebagai lo-kasi terjadinya banjir yang akan kita
bahas berikutnya menunjukkan bah-wa banjir tersebut bukanlah sebuah peristiwa
global yang mempengaruhi seluruh bumi, akan tetapi merupakan sebuah bencana yang
sangat luas yang mempengaruhi bagian tertentu dari wilayah Mesopotamia.

 

Apakah Seluruh Binatang Dinaikkan
ke atas Perahu?

Para penafsir Bibel yakin bahwa Nabi Nuh memasukkan seluruh spesies
binatang di muka bumi ke atas perahu dan binatang-binatang itu bisa selamat
dari kepunahan berkat Nabi Nuh. Menurut keyakinan ini, sepasang dari tiap
spesies penghuni daratan dibawa bersama ke atas pe-rahu.

Mereka yang
mempertahankan pernyataan ini sudah tentu harus menghadapi banyak kejanggalan
serius dalam berbagai hal. Pertanyaan tentang bagaimana binatang yang diangkut
itu diberi makan, bagaimana mereka ditempatkan di dalam perahu itu, atau
bagaimana mereka di-

Pisahkan satu sama lain mustahil dapat terjawab. Lagi pula, masih ada
pertanyaan: Bagaimana binatang-binatang dari berbagai benua yang berbeda dapat
dibawa bersamaan – berbagai mamalia di kutub, kanguru dari Australia, atau
bison yang ada di Amerika? Juga, lebih banyak lagi pertanyaan menyusul, seperti
bagaimana binatang yang sangat berba-haya – yang berbisa seperti ular,
kalajengking, dan binatang-binatang buas bisa ditangkap, serta bagaimana mereka
dapat bertahan terpisah dari habitat alamiahnya hingga banjir itu surut?

Inilah
berbagai pertanyaan yang dihadapi Perjanjian Lama. Dalam Al Quran, tidak ada
pernyataan yang mengindikasikan bahwa seluruh spe-sies binatang di muka bumi
dinaikkan ke atas perahu. Dan sebagaimana telah ditegaskan sebelumnya, banjir
tersebut hanya terjadi pada suatu wi-layah tertentu, sehingga binatang yang
dinaikkan ke perahu pun hanya-lah yang hidup di wilayah umat Nabi Nuh tinggal. 

Meski
demikian, jelas mustahil sekalipun hanya untuk mengumpul-kan seluruh jenis
binatang yang hidup di wilayah tersebut. Sukar mem-bayangkan bahwa Nabi Nuh
beserta sejumlah kecil orang-orang beriman yang menyertainya (QS. Huud, 11: 40)
menyebar ke segala penjuru untuk mengumpulkan masing-masing dua ekor dari
ratusan spesies binatang di sekitar mereka. Bahkan, lebih mustahil lagi bagi
mereka untuk mengumpulkan berbagai tipe serangga yang hidup di wilayah mereka,
apatah lagi untuk memisahkan antara yang jantan dan betina! Inilah alasan
mengapa lebih memungkinkan jika yang dikumpulkan itu hanya binatang yang mudah
ditangkap dan dipelihara, dan karenanya, merupa-kan binatang ternak yang secara
khusus berguna bagi manusia. Nabi Nuh agaknya menaikkan ke atas perahu binatang
sejenis itu, seperti sapi, biri-biri, kuda, unggas, unta, dan sejenisnya,
karena inilah binatang-binatang yang dibutuhkan untuk menyangga kehidupan baru
di wilayah yang telah kehilangan sejumlah besar prasarana hidup karena Banjir
tersebut.

Poin penting
di sini adalah bahwa kebijaksanaan ilahiah dalam pe-rintah Allah kepada Nabi
Nuh untuk mengumpulkan berbagai binatang adalah untuk menunjang kehidupan baru
setelah banjir berakhir, bukan untuk kepentingan mempertahankan genus berbagai
binatang. Selama banjir itu bersifat regional, maka kepunahan berbagai jenis
binatang tidak akan mungkin terjadi. Besar kemungkinan, setelah banjir,
berbagai binatang dari wilayah-wilayah lain perlahan-lahan akan bermigrasi ke
wilayah tersebut dan kembali memadati daerah itu sebagaimana sebe-lumnya. Yang
penting adalah kehidupan yang akan dirintis kembali begi-tu banjir berakhir,
dan binatang-binatang yang dikumpulkan dimaksud-kan untuk tujuan ini.

 

Berapa Tinggikah Banjir Tersebut?

Perdebatan
lain di seputar Banjir itu adalah, apakah ketinggian air cukup untuk
menenggelamkan gunung? Sebagaimana diketahui, Al Quran menginformasikan kepada
kita bahwa perahu Nabi Nuh itu terdampar di "Al Judi" seusai banjir. Umumnya,
kata "Judi" dirujuk sebagai lokasi gunung tertentu, sementara kata
itu berarti "tempat yang tinggi atau bukit" dalam bahasa Arab. Karenanya,
jangan dilupakan bahwa dalam Al Quran, "Judi" bisa jadi tidak
digunakan sebagai nama gunung tertentu, akan tetapi untuk mengisyaratkan bahwa
perahu Nuh telah terdampar pada suatu ketinggian. Di samping itu, makna kata
"judi" yang disebutkan di atas mungkin juga menunjukkan bahwa air bah
itu mencapai ketinggian tertentu, tetapi tidak mencapai ketinggian pun-cak
gunung. Dengan kata lain bahwa banjir itu kemungkinan besar tidak
menenggelamkan seluruh bumi dan semua gunung-gunung sebagai-mana digambarkan
dalam Perjanjian Lama, tetapi hanya menggenangi wilayah tertentu.

 

Lokasi Banjir Nuh

Daratan
Mesopotamia diduga kuat sebagai lokasi Banjir Nuh. Di sini terdapat peradaban
tertua yang dikenal sejarah. Lagi pula, karena berada di antara sungai Tigris
dan Eufrat, secara geografis tempat ini sangat memungkinkan terjadinya sebuah
banjir besar. Di antara faktor penyebab terjadinya banjir besar kemungkinan
karena kedua sungai ini meluap dan membanjiri wilayah tersebut.

Alasan kedua,
daerah tersebut diduga kuat sebagai tempat terjadinya banjir bersifat historis.
Dalam catatan sejarah berbagai peradaban manu-sia di wilayah tersebut, banyak
dokumen yang ditemukan merujuk pada sebuah banjir yang terjadi dalam periode
yang sama. Setelah menyak-sikan kebinasaan kaum Nabi Nuh, peradaban-peradaban
tersebut agak-nya merasa perlu mencatat dalam sejarah mereka, bagaimana bencana
itu terjadi, serta akibat-akibat yang ditimbulkannya. Diketahui pula bahwa
mayoritas legenda tentang banjir tersebut berasal dari Mesopotamia. Lebih
penting lagi bagi kita adalah temuan-temuan arkeologis. Temuan-temuan tersebut
membenarkan terjadinya sebuah banjir besar di wilayah ini. Sebagaimana akan
kita bahas secara rinci pada halaman-halaman be-rikut, banjir ini telah
menyebabkan tertundanya peradaban selama perio-de tertentu. Dalam
penggalian-penggalian yang dilakukan, tersingkap jejak-jejak nyata sebuah
bencana dahsyat.

Penggalian-penggalian
di wilayah Mesopotamia mengungkap bah-wa berkali-kali dalam sejarah, wilayah
ini diserang berbagai bencana sebagai akibat dari banjir dan meluapnya Sungai
Eufrat dan Tigris. Misal-nya, pada alaf kedua Sebelum Masehi (SM), pada masa
Ibbisin, penguasa negeri Ur yang luas, yang berlokasi di sebelah selatan
Mesopotamia, sebuah tahun tertentu ditandai dengan "pasca Banjir yang
melenyapkan garis batas antara langit dan bumi".1 Sekitar 1700 SM, pada
masa kekua-saan Hamurabi dari Babilonia, sebuah tahun ditandai dengan
terjadinya peristiwa "kehancuran kota Eshnunna oleh air bah". 

Pada abad
ke-10 SM, pada masa pemerintahan Nabu-mukin-apal, sebuah banjir terjadi di kota
Babilon.2 Setelah zaman Nabi Isa (Jesus) pada abad ke-7, ke-8, ke-10, ke-11,
dan ke-12, banjir-banjir yang bersejarah terjadi di wilayah tersebut. Dalam
abad ke-20, kejadian serupa terjadi pa-da tahun 1925, 1930, dan 1954.3 Jelaslah
bahwa wilayah ini telah senantiasa diserang bencana banjir, dan sebagaimana
ditunjukkan dalam Al Quran, sangat mungkin suatu banjir besar-besaran telah
membinasa-kan suatu komunitas secara keseluruhan.

 

Bukti-Bukti
Arkeologis tentang Banjir

Bukanlah suatu
kebetulan bila sekarang ini kita menemukan jejak-jejak dari kebanyakan kaum
yang menurut Al Quran telah dibinasakan. Bukti-bukti arkeologis menyajikan
fakta, bahwa semakin mendadak ke-hancuran suatu kaum, semakin memungkinkan bagi
kita untuk men-dapati sebagian bekasnya.

Jika sebuah
peradaban hancur secara tiba-tiba, yang dapat terjadi ka-rena bencana alam,
emigrasi yang mendadak, atau perang, jejak-jejak peradaban ini sering dapat
lebih terpelihara. Rumah-rumah yang pernah mereka huni, peralatan-peralatan
yang pernah mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari, segera akan terkubur. 
Maka,
semua itu dapat terpelihara dalam waktu yang lama tanpa tersentuh tangan
manusia, dan menjadi bukti penting tentang masa lampau bila dikeluarkan.

Jadi begitulah
hingga banyak bukti tentang Banjir Nabi Nuh ter-ungkap saat ini. Diperkirakan
terjadi sekitar alaf ke-3 SM, Banjir itu telah mengakhiri suatu peradaban
seluruhnya dengan seketika, dan selanjut-nya menyebabkan lahirnya sebuah
peradaban baru sebagai gantinya. Jadi, bukti-bukti nyata tentang Banjir ini
telah terpelihara selama ribuan tahun agar kita bisa mengambil pelajaran
darinya.

Banyak
penggalian telah dilakukan untuk menyelidiki banjir yang telah menenggelamkan
daratan-daratan Mesopotamia. Dalam berbagai penggalian di wilayah tersebut, di
empat kota utama ditemukan jejak-je-jak yang menunjukkan terjadinya sebuah
banjir besar. Kota-kota tersebut ada-lah kota-kota penting di Mesopotamia; Ur,
Erech, Kish, dan Shuruppak.

Penggalian-penggalian
di kota-kota ini mengungkap bahwa keempat kota ini telah dilanda sebuah banjir
sekitar alaf ke-3 SM.

Pertama, mari kita lihat penggalian-penggalian yang dilakukan di kota Ur.

Sisa-sisa
tertua dari sebuah peradaban yang tersingkap dari peng-galian terdapat di kota
Ur, yang kini telah berganti nama menjadi "Tell al Muqayyar", berusia
7000 tahun SM. Sebagai situs dari salah satu per-adaban tertua, kota Ur telah
menjadi wilayah hunian tempat silih ber-gantinya berbagai kebudayaan.

Temuan
arkeologis dari kota Ur memperlihatkan bahwa di sini per-adaban pernah terputus
setelah terjadinya sebuah banjir dahsyat, dan kemudian peradaban-peradaban baru
tampil. R. H. Hall dari British Mu-seum melakukan penggalian pertama di tempat
ini. Leonard Woolley yang melakukan penggalian setelah Hall, menjadi pengawas
penggalian yang secara kolektif dikelola oleh the British Museum dan University
of Pennsylvania. Penggalian-penggalian yang dipimpin Woolley, yang ber-pengaruh
di seluruh dunia, berlangsung dari 1922 sampai 1934.

Penggalian-penggalian
oleh Sir Woolley dilakukan di tengah padang pasir antara Baghdad dan Teluk
Persia. Pendiri pertama kota Ur adalah kaum yang datang dari Mesopotamia Utara
dan menyebut diri mereka "bangsa Ubaid." Pada awalnya, penggalian itu
dilakukan untuk meng-himpun informasi tentang mereka. Penggalian yang dilakukan
Woolley digambarkan oleh seorang arkeolog Jerman, Werner Keller, sebagai
berikut:

"Kuburan
Raja-Raja Ur" begitu Woolley, dalam kegembiraan atas penemu-annya,
menamakan makam para bangsawan Sumeria tersebut. Kehebatan kekuasaan mereka
terungkap saat sekop para arkeolog mengenai sebuah tanggul sepanjang 50 kaki di
sebelah selatan candi dan mengungkap deretan panjang pekuburan yang tertimbun. 
Kuburan-kuburan
batu yang ditemu-kan benar-benar merupakan tempat penyimpanan harta, karena
dipenuhi piala-piala mahal, beraneka kendi dan vas yang indah, barang becah
belah dari perunggu, kepingan-kepingan mutiara, lapis lazuli, dan perak yang
mengelilingi jasad-jasad yang telah menjadi debu. Harpa dan lira tersandar di
dinding-dinding. "Hampir seketika" dia kemudian menulis dalam buku
hariannya, "Penemuan-penemuan menegaskan kecurigaan-kecurigaan kami. Tepat
di bawah lantai dari salah satu lubang kubur para raja, di bawah lapisan abu
kayu, kami menemukan tablet-tablet tanah liat, yang dipenuhi huruf yang jauh
lebih tua daripada tulisan pada kuburan. Melihat sifat dari tulisan,
tablet-tablet tersebut kemungkinan dibuat sekitar tahun 3.000 SM. Berarti,
mereka dua atau tiga abad lebih awal dari makam tersebut."

Lubang itu
bertambah dalam. Tingkatan yang baru, dengan pecahan-pecah-an kendi, pot, dan
mangkuk terus muncul. Para ahli memperhatikan bahwa sisa tembikar itu secara
mengejutkan tidak terlalu berubah; tampak serupa dengan yang ditemukan di
pekuburan para raja. Karena itulah, sepertinya selama berabad-abad peradaban
Sumeria tidak mengalami perubahan yang radikal. Mereka tentunya, menurut
kesimpulan, telah mencapai tingkat perkembangan yang tinggi jauh lebih awal
lagi.

Ketika
beberapa hari kemudian, para pekerja berteriak, "Kita sampai di ting-kat
dasar." Woolley sendiri turun ke lantai lubang galian untuk memuaskan
dirinya. Pikiran Woolley pertama kali, "Inilah dia akhirnya". Lantai
itu berupa pasir, jenis pasir murni yang hanya bisa didepositkan oleh air.

Mereka memutuskan untuk terus menggali dan membuat lubang itu lebih dalam
lagi. Sekop menggali semakin dalam dan semakin dalam: tiga kaki, enam kaki
masih berupa lumpur murni. Tiba-tiba, pada kedalaman sepuluh kaki, lapisan
lumpur terhenti sama mendadak dengan bermulanya. Di bawah deposit tanah liat
setebal kurang lebih sepuluh kaki, mereka dikejutkan oleh bukti-bukti baru dari
hunian manusia. Wujud dan kualitas dari tembikar tampak sangat berubah. Di
sini, barang-barang tersebut dibuat dengan tangan. Sisa-sisa logam tak 
ditemukan di
mana-mana. Peralatan primitif yang muncul terbuat dari pengerjaan dengan batu
api. Ini mesti berasal dari Zaman Batu!

Banjir itulah penjelasan satu-satunya bagi besarnya deposit tanah liat di
bawah bukit di kota Ur, yang dengan cukup jelas memisahkan dua masa kehidupan. 
Laut
telah meninggalkan jejak-jejak yang tidak terpungkiri dalam bentuk sisa-sisa
organisme laut kecil yang tersimpan dalam lumpur.4

Analisis
mikroskopis mengungkapkan bahwa deposit tanah liat yang besar di bawah bukit di
kota Ur telah terakumulasi sebagai akibat dari ba-njir teramat besar yang
laksana melenyapkan peradaban Sumeria kuno. Epik tentang Gilgamesh dan cerita
tentang Nuh tersatukan dengan lu-bang galian yang jauh di bawah gurun
Mesopotamia.

Max Mallowan
menuturkan pikiran-pikiran Leonard Woolley, yang menyatakan bahwa endapan masif
sebesar itu dan terbentuk dalam suatu periode waktu hanya bisa terjadi karena
bencana banjir yang sangat besar. Woolley juga menguraikan bahwa lapisan banjir
yang memisahkan kota Sumeria di kota Ur dengan kota Al Ubaid yang penduduknya
mengguna-kan tembikar yang dicat, sebagai sisa dari Banjir tersebut.5 

Ini semua
menunjukkan bahwa kota Ur adalah salah satu dari ber-bagai daerah yang terkena
Banjir Nuh. Digambarkan oleh Werner Keller bahwa arti penting penggalian
arkeologis di Mesopotamia adalah bahwa sisa-sisa kota di bawah lapisan
berlumpur tersebut membuktikan pernah terjadinya banjir di tempat ini pada
dahulu kala.6

Kota lain di
Mesopotamia yang juga menyimpan jejak-jejak Banjir Nuh adalah kota Kish di
Sumeria, yang saat ini dikenal sebagai "Tall Al Uhaimer". Menurut
sumber-sumber Sumeria kuno, kota ini merupakan "kedudukan dari dinasti
'pascadiluvian' yang pertama".7

Kota Shuruppak
di sebelah selatan Mesopotamia, yang saat ini ber-nama "Tall Far'ah"
pun menyimpan jejak-jejak nyata dari banjir tersebut. Studi arkeologis yang
dilakukan di kota ini dipimpin oleh Erich Schmidt dari Universitas Pennsylvania
antara tahun 1922-1930. Penggalian-peng-galian ini mengungkapkan tiga lapisan
hunian manusia dalam rentang waktu sejak masa prasejarah hingga dinasti Ur
ketiga (2112-2004 SM). Temuan paling istimewa adalah reruntuhan rumah-rumah
yang dibangun dengan baik, sekaligus dengan tablet-tablet bertulisan paku
(cuneiform) tentang catatan administratif dan daftar kata-kata, yang
mengindikasikan keberadaan suatu masyarakat yang telah maju pada akhir alaf ke-4
SM.8

Poin
terpenting adalah dimengerti bahwa sebuah banjir besar telah terjadi di kota
ini sekitar tahun 2900-3000 SM. Menurut catatan Mallo-wan, 4-5 meter di bawah
tanah, Schmidt telah mencapai lapisan tanah kuning (dibentuk oleh banjir) yang
berupa campuran tanah liat dan pasir. Lapisan ini lebih dekat ke lapisan datar
daripada profil tumulus dan dapat teramati di seputar tumulus.… Schmidt
memastikan bahwa lapisan yang terbentuk dari campuran tanah liat dan pasir ini,
yang tersisa dari masa kerajaan kuno Cemdet Nasr, sebagai "pasir yang
berasal dari dalam sungai" dan ini menghubungkannya dengan Banjir Nuh.9

Pada
penggalian yang dilakukan di kota Shuruppak, ditemukan sisa-sisa banjir yang
terjadi kurang lebih tahun 2900-3000 SM. Mungkin, kota Shuruppak terkena imbas 
dari banjir
sebesar kota-kota lain.10

Tempat
terakhir yang menunjukkan terjadinya banjir adalah kota Erech di selatan kota
Shuruppak yang kini dinamai "Tall al-Warka". Di kota ini, sebagaimana di
kota-kota yang lainnya, ditemukan lapisan ban-jir. Lapisan ini berjangka waktu
antara 2900-3000 SM seperti yang lain.11

Sebagaimana diketahui, sungai Eufrat dan Tigris melintasi Mesopo-tamia dari
ujung ke ujung. Tampaknya selama peristiwa itu, kedua sungai ini meluap,
begitupun banyak sumber mata air lainnya, besar maupun kecil, dan ketika
bersatu dengan air hujan, telah menyebabkan sebuah banjir yang dahsyat. 
Peristiwa
itu digambarkan dalam Al Quran:

 

"Maka
Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami
jadikan bumi memancarkan mata-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu
urusan yang sungguh telah ditetapkan." (QS. Al Qamar, 54:11-12) !

 

Jika faktor-faktor penyebab banjir itu dibahas satu per satu, tampak-lah
bahwa kesemuanya itu merupakan fenomena yang sangat alami. Adapun yang
menjadikan peristiwa itu penuh mukjizat adalah karena kejadiannya bersamaan dan
peringatan Nabi Nuh kepada kaumnya ten-tang bencana seperti itu terlebih
dahulu.

Pengujian
terhadap bukti yang didapat dari kajian lengkap meng-ungkapkan bahwa daerah
banjir membentang sekitar 160 km (lebar) dari timur ke barat, dan 600 km
(panjang) dari utara ke selatan. Ini menunjuk-kan bahwa banjir tersebut
menutupi seluruh daratan Mesopotamia. Jika kita uji urutan kota-kota Ur, Erech,
Shuruppak, dan Kish yang menunjuk-kan jejak-jejak banjir Nuh, tampaklah bahwa
kota-kota ini berada dalam satu garis sepanjang rute tersebut. Oleh karena itu,
banjir tersebut pastilah telah melanda keempat kota ini dan daerah-daerah
sekitarnya. Di sam-ping itu, harus dicatat bahwa pada sekitar 3.000 tahun SM,
struktur geografis daratan Mesopotamia berbeda dengan kondisi sekarang. Pada
masa itu, posisi sungai Eufrat terletak lebih ke timur dibandingkan de-ngan
posisi saat ini; garis arus sungai itu sesuai dengan garis yang mele-wati kota
Ur, Erech, Shuruppak, dan Kish. Dengan terbukanya "mata air di bumi dan di
surga", agaknya sungai Eufrat meluap menyebar sehingga merusak empat kota
di atas.

 

Agama dan Kebudayaan yang
Menyebutkan Banjir Nuh

Peristiwa
Banjir Nuh tersebut disebarluaskan ke hampir semua ma-nusia melalui lisan para
nabi yang menyampaikan agama yang hak, tetapi akhirnya menjadi legenda oleh
berbagai kaum, dan kisah itu mengalami berbagai penambahan dan pengurangan
dalam periwayatannya.

Allah telah
menyampaikan kisah tentang Banjir Nuh kepada manu-sia melalui para rasul dan
kitab-kitab yang Dia turunkan kepada berbagai masyarakat agar hal itu menjadi
peringatan atau permisalan. Namun, tiap masa kitab-kitab tersebut telah dirubah
dari aslinya, dan penggambaran Banjir Nuh juga telah ditambahi unsur-unsur
mitologis. Hanya Al Quran satu-satunya sumber yang secara mendasar sesuai
dengan temuan-temu-an dan observasi empiris. Hal ini tidak lain karena Allah
telah menjaga Al Quran dari perubahan, meski sebuah perubahan kecil sekalipun,
maupun pengurangan. Sesuai isyarat Al Quran "Kami telah dengan tanpa
keragu-an menurunkan risalah, dan Kami dengan pasti akan menjaganya (dari
pengurangan)" (QS. Al-Hijr, 15: 9), Al Quran berada di bawah pengawas-an
khusus Allah.

Pada bagian
akhir bab ini, kita akan melihat, bagaimana peristiwa Banjir Nuh digambarkan
meski telah sangat berubah dalam berbagai ke-budayaan, serta dalam Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru.

 

Banjir Nabi Nuh dalam Perjanjian
Lama

Kitab yang sebenarnya diwahyukan kepada Nabi Musa adalah Tau-rat. Nyaris
tidak ada dari wahyu ini tersisa, dan kitab Injil "Pentateuch" (lima
buku pertama dari kitab Perjanjian Lama), seiring perjalanan waktu, telah
kehilangan hubungannya dengan wahyu yang asli. Bahkan kemudi-an sebagian besar
isinya telah diubah oleh para rabbi Yahudi. Begitu pula, wahyu-wahyu yang
dibawa nabi-nabi lain yang diutus kepada Bani Israil setelah Nabi Musa,
mendapat perlakuan serupa dan sangat banyak per-ubahan. Kondisi inilah yang
membuat kita menyebutnya sebagai "Penta-teuch yang Diubah" karena
telah kehilangan hubungan dengan wahyu aslinya, dan menganggapnya sebagai karya
manusia yang berupaya men-catat sejarah suku bangsanya, bukan sebagai sebuah
kitab suci. Tidaklah mengherankan jika keadaan Pentateuch yang Diubah itu dan
berbagai kontradiksi yang dikandungnya sangat tampak pada pemaparannya ten-tang
kisah Nabi Nuh, meskipun mempunyai kesamaan dengan Al Quran dalam beberapa
bagian.

Menurut
Perjanjian Lama, Tuhan berfirman kepada Nuh bahwa semua orang, kecuali mereka
yang beriman, akan dihancurkan karena bumi telah penuh dengan berbagai
kejahatan. Untuk menghadapi ini, Tuhan memerintahkan Nuh membuat bahtera dan
mengajarkan dengan rinci bagaimana mengerjakannya. Tuhan juga menyuruhnya
membawa keluarganya, tiga orang anaknya, istri-istri mereka, sepasang dari
setiap makhluk hidup, dan persediaan bahan pangan.

Tujuh hari
kemudian, ketika tiba waktunya Banjir, semua sumber air dalam tanah memancar,
pintu-pintu langit terbuka, dan sebuah banjir be-sar menenggelamkan segala
sesuatu. Hal ini berlangsung selama empat puluh hari dan empat puluh malam. 
Bahtera
Nuh melayari air yang menutupi semua pegunungan dan dataran tinggi. Mereka yang
bersama Nuh selamat, sedang sisanya terseret air bah dan mati tenggelam. Hujan
berhenti setelah terjadi banjir, yang berlangsung selama empat puluh hari empat
puluh malam, dan air mulai surut 150 hari kemudian.

Kemudian, pada hari ketujuh belas pada bulan ketujuh, kapal ter-sebut
terdampar di pegunungan Ararat (Agri). Nuh mengirim seekor merpati untuk
melihat apakah air telah benar-benar surut, dan ketika akhirnya merpati
tersebut tidak kembali lagi, Nuh menyadari bahwa air telah surut seluruhnya.. 
Tuhan
memerintahkan mereka meninggalkan kapal dan menyebar ke seluruh penjuru bumi.

Salah satu
kontradiksi pada kisah dalam Perjanjian Lama adalah: Se-telah uraian ini, dalam
versi "Yahudi", disebutkan bahwa Tuhan meme-rintahkan Nuh untuk
membawa tujuh jantan dan betina dari setiap jenis hewan-hewan tersebut, yang
disebut-Nya "bersih" dan hanya sepasang dari setiap jenis hewan-hewan
tersebut yang disebut-Nya "tidak bersih".

 Ini jelas bertentangan
dengan teks di atas. Di samping itu, dalam Per-janjian Lama jangka waktu
terjadinya banjir juga berbeda. Menurut versi Yahudi juga, peristiwa naiknya
air terjadi selama empat puluh hari, se-dangkan berdasarkan orang-orang awam,
dikatakan terjadi selama 150 hari.

Sebagian dari
Perjanjian Lama yang menceritakan tentang banjir Nuh adalah sebagai berikut:

 

Berfirmanlah
Allah kepada Nuh, "Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup sebagian
makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka; jadi Aku akan
memusnahkan mereka bersa-ma-sama dengan bumi. Buatlah bagimu perahu dari kayu
gofir; ....

Sebab
sesungguhnya, Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan
segala yang hidup dan bernyawa di kolong la-ngit; segala yang ada di bumi akan
mati binasa. Tetapi dengan eng-kau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan
engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anakmu, dan
istrimu, dan istri-istri anak-anakmu. Dan dari segala yang hidup, dari segala
makhluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang dalam bahtera itu, .....

…Lalu Nuh
melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintah-kan Allah
kepadanya." (Kejadian, 6: 13-22)

 

Dalam bulan
ketujuh, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, ter-kandaslah bahtera pada
pegunungan Ararat. (Kejadian, 8:4)

 

Dari segala
binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pa-sang, jantan dan
betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya;
juga dari burung-burung di udara tujuh pasang, jantan dan betina, supaya
terpelihara hidup keturun-annya di seluruh bumi. (Kejadian, 7: 2-3)

 

Maka
Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang
akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak ada lagi air bah untuk
memusnahkan bumi." (Kejadian, 9: 11)

 

Menurut
Perjanjian Lama, sesuai dengan pernyataan bahwa "semua makhluk di dunia
akan mati" dalam sebuah banjir yang menggenangi seluruh permukaan bumi,
maka seluruh manusia dihukum, dan yang selamat hanya mereka yang menaiki
bahtera bersama Nuh.

 

Banjir Nuh dalam Perjanjian Baru

Perjanjian
Baru yang kita dapati saat ini juga bukan sebuah kitab suci dalam arti kata
yang sebenarnya. Perjanjian Baru yang terdiri dari perka-taan dan perbuatan
dari Isa (Jesus), dimulai dengan empat "Injil" yang ditulis satu abad
setelah keberadaan Isa, oleh orang-orang yang belum pernah melihat atau bertemu
dengannya; yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Johanes. Terdapat berbagai
kontradiksi yang sangat gamblang di-

antara keempat
gospel ini. Khususnya, Injil Johanes sangat berbeda dengan tiga injil yang lain
(Injil Sinoptik), yang hingga beberapa derajat, tapi tidak sepenuhnya, saling
mendukung sesamanya. Buku-buku lain dari Perjanjian Baru terdiri dari
surat-surat yang ditulis oleh para murid dan Saul dari Tarsus (kemudian disebut
Santo Paulus) yang menye-butkan perbuatan para murid setelah kematian Isa. 

Jadi,
Perjanjian Baru yang terdapat saat ini bukanlah naskah suci, namun lebih
merupakan buku semi-sejarah.

Dalam
Perjanjian Baru, Banjir Nuh disebutkan secara singkat sebagai berikut; Nuh
diutus sebagai utusan kepada sebuah masyarakat yang tidak patuh dan menyimpang,
namun kaumnya tidak mau mengikutinya dan meneruskan kesesatan mereka. Oleh
karena itu, Allah menimpakan banjir kepada mereka yang menolak beriman dan
menyelamatkan Nuh dan para pengikutnya dengan menempatkan mereka ke dalam
bahtera. Beberapa bab dari Perjanjian Baru yang berkaitan dengan hal ini adalah
sebagai berikut:

 

Sebab
sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan
Anak manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan
minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan
mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan
mereka semua, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak manusia." (Matius,
24: 37-39)

 

"Dan
jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi harus menyelamatkan Nuh,
pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air
bah atas dunia orang-orang fasik." (Petrus Kedua, 2: 5)

 

"Dan
sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah kelak halnya Anak manusia
pada hari kedatangan-Nya: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan,
sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan
mem-binasakan mereka semua." (Lukas, 17: 26-27)

 

"…mereka
yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti
dengan sabar waktu Nuh sedang memper-siapkan bahteranya, di mana hanya sedikit,
yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu." (Petrus Pertama,
3: 20)

 

"Mereka
sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit te-lah ada sejak dahulu,
dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, dan bahwa oleh air itu, bumi
yang dahulu telah binasa, di-musnahkan oleh air bah." (Petrus Kedua,
3:5-6) 

 

Penyebutan Peristiwa Banjir dalam
Kebudayaan Lain

Kebudayaan
Sumeria: Dewa yang bernama Enlil memberi tahu orang-orang bahwa dewa-dewa yang
lain ingin menghancurkan umat manusia, namun ia berkenan untuk meyelamatkan
mereka. Pahlawan dalam kisah ini adalah Ziusudra, raja yang taat dari negeri
Sippur. Dewa Enlil memberi tahu Ziusudra apa yang harus dilakukan agar selamat
dari Banjir. Teks yang menceritakan pembuatan kapal tersebut hilang, namun
fakta bahwa bagian ini pernah ada terungkap dalam bagian-bagian yang
menyebutkan bagaimana Ziusudra diselamatkan. Begitupun berdasar-kan versi
Babilonia tentang banjir, dapat disimpulkan bahwa dalam versi Sumeria yang
lengkap tentulah terdapat rincian yang lebih menyeluruh tentang penyebab
kejadian tersebut dan bagaimana perahu dibuat.

Kebudayaan
Babilonia: Ut-Napishtim adalah padanan bangsa Babi-lonia terhadap Ziusudra, 
pahlawan
Sumeria dalam peristiwa banjir. To-koh penting yang lain adalah Gilgamesh.
Menurut legenda, Gilga-mesh memutuskan untuk mencari dan menemukan para
leluhurnya untuk mendapatkan rahasia kehidupan abadi. Ia diperingatkan akan
berbagai bahaya dan kesulitan dalam perjalanan itu. Ia diberi tahu bahwa ia
harus melakukan perjalanan melewati "pegunungan Mashu dan perairan
maut"; dan perjalanan seperti itu hanya pernah diselesaikan oleh dewa
ma-tahari Shamash. Namun Gilgamesh menghadapi semua bahaya perjalan-an dan
akhirnya berhasil mencapai Ut-Napishtim.

Naskah ini
terpotong pada bagian yang menceritakan pertemuan antara Gilgamesh dan
Ut-Napishtim; dan selanjutnya ketika teks dapat terbaca, Ut-Napishtim
menceritakan kepada Gilgamesh bahwa "para dewa menyimpan rahasia kematian
dan kehidupan bagi diri mereka sendiri" (mereka tidak akan memberikannya
kepada manusia). Atas jawaban ini, Gilgamesh bertanya bagaimana Ut-Napishtim
dapat mem-peroleh keabadian; dan Ut-Napishtim menceritakan kepadanya kisah
banjir sebagai jawaban atas pertanyaan ini. Banjir tersebut juga dicerita-kan
dalam kisah "dua belas meja " yang terkenal dalam epik tentang
Gilgamesh.

Ut-Napishtim
memulai dengan mengatakan bahwa kisah yang akan diceritakan kepada Gilgamesh
merupakan "sesuatu yang rahasia, sebuah rahasia dari dewa-dewa". Ia
bercerita bahwa ia berasal dari kota Shurup-pak, kota tertua di antara
kota-kota di daratan Akkad. Berdasarkan cerita-nya, dewa "Ea" telah
memanggilnya melalui dinding kayu gubuknya dan menyatakan bahwa para dewa telah
memutuskan untuk menghancurkan semua benih kehidupan dengan sebuah banjir;
namun penyebab kepu-tusan mereka tidak diterangkan dalam cerita banjir
Babilonia sebagai-mana halnya dalam kisah banjir Sumeria. Ut-Napishtim
menceritakan bahwa Ea telah menyuruhnya membuat sebuah perahu dan ia harus
membawa serta "benih-benih dari semua makhluk hidup"dengan perahu
itu. Ea memberitahunya ukuran dan bentuk kapal itu; berdasarkan hal ini, lebar,
panjang, dan tinggi kapal menjadi sama. Badai besar menjung-kirbalikkan segala
sesuatu selama enam hari dan enam malam. Pada hari ketujuh, badai reda.
Ut-Napishtim melihat bahwa di luar kapal, "semua telah berubah menjadi
lumpur yang lengket". Kapal tersebut terdampar di gunung Nisir.

Menurut
catatan Sumeria-Babilonia, Xisuthros atau Khasisatra dise-lamatkan dari banjir
oleh sebuah kapal yang panjangnya 925 meter, ber-sama keluarganya,
teman-temannya, dan berbagai jenis burung dan bina-tang. Disebutkan bahwa
"air meluap hingga ke langit, lautan menu-tupi pantai, dan sungai meluap
dari tepiannya". Dan kapal itu pun akhirnya terdampar di gunung Corydaean.

Menurut
catatan Asiria-Babilonia, Ubar Tutu atau Khasisatra disela-matkan bersama
keluarga, pembantu, ternaknya, dan binatang-binatang liar dalam sebuah kapal
yang panjangnya 600 kubit, tinggi dan lebarnya 60 kubit. Banjir tersebut
berlangsung selama 6 hari dan 6 malam. Ketika kapal tersebut mencapai gunung
Nizar, merpati yang dilepaskan kem-bali, sedangkan burung gagak tidak kembali.

Berdasarkan
beberapa catatan Sumeria, Asiria dan Babylonia, Ut-Napishtim beserta
keluarganya selamat dari banjir yang terjadi selama 6 hari dan 6 malam. 
Dikatakan "Pada hari
ketujuh Ut-napishtim melihat keluar. Semuanya sangat sepi. Manusia sekali lagi
menjadi lumpur." Ketika kapal terdampar di gunung Nizar, Ut-napishtim
mengirim ma-sing-masing seekor burung merpati, burung gagak dan burung pipit. 
Burung
gagak tinggal memakan bangkai, sedangkan dua burung yang lain tidak kembali..

Kebudayaan
India: Dalam epik Shatapatha Brahmana dan Maha-bharata dari India, seseorang
bernama Manu diselamatkan dari banjir bersama Rishiz. Menurut legenda, seekor
ikan yang ditangkap oleh Manu dan dilepaskannya, tiba-tiba berubah menjadi
besar dan menyuruhnya untuk membuat sebuah perahu dan mengikatkan ke tanduknya.
Ikan ini dianggap penjelmaan dari dewa Wishnu. Ikan tersebut menarik kapal
mengarungi ombak yang besar dan membawanya ke utara, ke gunung Hismavat.

Kebudayaan
Wales: Menurut legenda Wales (dari Wales, wilayah Celtic di Inggris), Dwynwen
dan Dwyfach selamat dari bencana besar dengan sebuah kapal. Ketika bah yang
amat mengerikan yang terjadi akibat meluapnya Llynllion yang dinamai Danau
Gelombang surut, mereka berdua memulai kembali kehidupan di daratan Inggris..

Kebudayaan
Skandinavia: Legenda Nordic Edda mengisahkan tentang Bergalmir dan istrinya
yang selamat dari banjir dengan sebuah kapal besar.

Kebudayaan
Lithuania: Dalam legenda Lithuania, diceritakan bah-wa beberapa pasang manusia
dan binatang diselamatkan dengan berlin-dung di puncak sebuah gunung yang 
tinggi.
Ketika angin dan banjir yang berlangsung selama dua belas hari dan dua belas
malam tersebut mulai mencapai ketinggian gunung yang hampir menenggelamkan
mereka yang ada di sana, Sang Pencipta melemparkan sebuah kulit kacang raksasa
kepada mereka. Mereka yang ada di gunung tersebut selamat dari bencana dengan
berlayar bersama kulit kacang raksasa ini.

Kebudayaan
Cina: Sumber-sumber bangsa Cina mengisahkan ten-tang seseorang yang bernama Yao
bersama tujuh orang lain, atau Fa Li bersama istri dan anak-anaknya, selamat
dari bencana banjir dan gempa bumi dalam sebuah perahu layar. Dikatakan bahwa
"seluruh dunia hancur. Air menyembur dan menenggelamkan semua
tempat". Akhirnya, air pun surut.

Banjir Nuh
dalam Mitologi Yunani: Dewa Zeus memutuskan untuk memusnahkan manusia yang
menjadi semakin sesat, dengan sebuah banjir. Hanya Deucalion dan istrinya
Pyrrha yang selamat dari banjir, karena ayah Deucalion sebelumnya telah
menyarankan anaknya untuk membuat sebuah kapal. Pasangan ini mendarat di gunung
Parnassis sem-bilan hari setelah menaiki kapal.

Semua legenda
ini mengindikasikan sebuah realitas sejarah yang konkret. Dalam sejarah, setiap
masyarakat menerima risalah, setiap insan menerima wahyu suci, sehingga banyak
kaum yang mengetahui peristi-wa Banjir Nuh. Sayangnya, begitu manusia berpaling
dari esensi wahyu suci, catatan tentang peristiwa banjir besar pun mengalami
banyak perubahan dan berubah menjadi legenda dan mitos.

Satu-satunya
sumber bagi kita untuk menemukan kisah sejati tentang Nuh dan kaum yang 
menolaknya
adalah Al Quran, yang merupakan sumber tunggal wahyu suci yang tidak mengalami
perubahan.

Salam, Agus Hendratno 







-- 
http://tempe.wordpress.com/
Telling the truth is important
Telling the positive is better !!!

--------------------------------------------------------------------------------
PIT IAGI KE-37 (BANDUNG)
* acara utama: 27-28 Agustus 2008
* penerimaan abstrak: kemarin2 s/d 30 April 2008
* pengumuman penerimaan abstrak: 15 Mei 2008
* batas akhir penerimaan makalah lengkap: 15 Juli 2008
* abstrak / makalah dikirimkan ke:
www.grdc.esdm.go.id/aplod
username: iagi2008
password: masukdanaplod

--------------------------------------------------------------------------------
PEMILU KETUA UMUM IAGI 2008-2011:
* pendaftaran calon ketua: 13 Pebruari - 6 Juni 2008
* penghitungan suara: waktu PIT IAGI Ke-37 di Bandung
AYO, CALONKAN DIRI ANDA SEKARANG JUGA!!!

-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------


      

Kirim email ke