Beberapa publikasi yang berhubungan dengan Mangkalihat: 1. Sedimentology and diagenesis of Tertiary carbonates on the Mangkalihat Peninsula, Borneo: implications for subsurface reservoir quality Marine and Petroleum Geology, Volume 19, Issue 7, August 2002, Pages 873-900 Moyra E. J. Wilson, Martin J. Evans
2. Cenozoic carbonates in Borneo: case studies from northeast Kalimantan Journal of Asian Earth Sciences, Volume 17, Issues 1-2, February-April 1999, Pages 183-201 M. E. J. Wilson, J. L. C. Chambers, M. J. Evans, S. J. Moss, D. S. Nas 3. Geological implications of new biostratigraphic data from East and West Kalimantan, Indonesia Journal of Asian Earth Sciences, Volume 15, Issue 6, 15 December 1997, Pages 489-506 S. J. Moss, E. M. Finch Mudah-mudahan bermanfaat. Herman -----Original Message----- From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, July 03, 2008 8:21 AM To: Henri Putra Cc: IAGI; Geo Unpad; Forum HAGI; Eksplorasi BPMIGAS Subject: [iagi-net-l] Re: Tinggian Mangkalihat Henri dan rekan milis lainnya, Tinggian Mangkalihat saat ini merupakan pemisah antara Cekungan Kutei dan Cekungan Tarakan. Menjadi pertanyaan, apakah tinggian ini baru efektif sebagai pemisah kedua cekungan pada akhir kala geologi, atau telah efektif sebagai pemisah sejak Paleogen ? Rekonstruksi paleo-tektonik sebelum pra-Tersier oleh Metcalfe (1996) - peneliti yang banyak mempublikasikan rekonstruksi pra-Tersier SE Asia berdasarkan terrane concept (terrane concept = lempeng tersusun atas mikro-lempeng/terrane yang punya kesatuan geologi tertentu yang dulunya saling terpisah kemudian oleh proses akresi saling menyatu beramalgamasi membentuk lempeng) - menyebutkan bahwa Mangkalihat adalah sebuah mikrokontinen asal Australia yang beramalgamasi membentuk Kalimantan bersama mikro-lempeng lainnya dan kerak akresi di antaranya pada awal Tersier. Mikrokontinen Mangkalihat selamanya berdekatan dengan mikrokontinen West Sulawesi. Pada Kapur Akhir, kedua mikrokontinen ini masih di sebelah selatan Equator. Pada Tersier Awal banyak hal terjadi di tepi tenggara dan timur Sundaland. Amalgamasi Sundaland menghalangi sirkulasi mantle plume di bawahnya. Superplume naik di bawah bagian timur dan tenggara Sundaland yang baru beramalgamasi. Naiknya superplume ini merupakan konsekuensi gugurnya massa mantel yang lebih berat hasil amalgamasi oceanic slabs di bawah astenosfer pada kedalaman sekitar 700 km yang pada masa Mesozoics mengantar mikro-kontinen2 beramalgamasi membentuk Sundaland. Sebagian kerak oseanik di antara mikro-kontinen yang berbenturan tertekan menjadi jalur ofiolit seperti Meratus. Sebagian besar lagi masuk ke dalam mantel dan stagnan di kedalaman sekitar 700 km sampai suatu waktu mereka gugur dan menyebabkan sirkulasi mantel superplume. Pola sirkulasi mantel ini kini dapat sangat jelas terbaca dari peneltian mantle tomography dan di wilayah Indonesia banyak dilakukan riset tentang ini. Maka kini penafsiran tektonik sangat punya dukungan geofisika solid earth. Kembali ke Mangkalihat. Superplume naik di dekat tenggara Sundaland. Ia membuat mikrokontinen Sulawesi Barat yang beramalgamasi dengan Paternoster di selatan Makassar Strait (saat ini) mengalami peretakan. Inilah cikal bakal Selat Makassar. Peretakan terus berlanjut sampai awal Neogen dan kemudian terhenti saat mikrokontinen Buton kemudian Banggai membentur Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Timur. Pemekaran ini terjadi dalam tiga lengan aulacogen. Lengan utara-selatan membuka Selat Makassar. Lengan ke tiga menuju pusat Kalimantan di Tinggian Kuching dalam jalur timur-barat. Inilah cikal bakal lengan yang membentuk Kutei. Di mana saat itu terrane Mangkalihat ? Sudah di posisinya sekarang, tetapi agak ke selatan (baik menganggap Kalimanatan non-rotated maupun rotated). Lengan pembentuk Kutei ini diapit dua terrane : di utara ada Mangkalihat, di selatan ada Paternoster. Sebagai sebuah incipient basin (cekungan yang baru berkembang) dan merupakan lengan aulacogen yang akan gagal membuka, bisa diyakini bahwa Mangkalihat telah menjadi pemisah efektif antara Kutei dan Tarakan pada kala itu pun (Eosen). Lagipula, baik di Kutei maupun Tarakan, pada awal Paleogen sedimen didominasi oleh sedimen nonmarin yang masih jauh lokasinya dari Mangkalihat (misalnya Eocene Kiham Haloq di inner Kutei Basin, atau Eocene Sujau di Tarakan). Jadi, tak mungkin Tinggian Mangkalihat sudah ditenggelamkan di Eocene. Pada Eo-Oligosen terjadi beberapa aktivitas volkanisme yang mungkin berhubungan dengan rifting di Kalimantan. Antara lain, terjadi juga di Tinggian Mangkalihat, maka ditutupilah sebagian basement kontinen Mangkalihat oleh Sembulu volcanics. Beberapa sumur yang dibor di wilayah Sangatta utara menembus volkanik ini. Setelah 30 Ma sampai Miosen Awal terjadi genang laut yang menutupi Mangkalihat oleh transgresi Oligo-Miosen yang terkenal terjadi di wilayah SE Asia. Genang laut ini menghasilkan platform carbonate di Mangkalihat yang kita kenal sebagai Tendez Hantu carbonates (ada juga yang menyebutnya Kedango atau Kariorang carbonates). Pada transgresi maksimum terakhir di 10 Ma (ujung Miosen Tengah) Tinggian Mangkalihat menjadi tempat pengendapan karbonat lagi yang sekarang tersingkap dan dikenal sebagai batugamping Sekerat. Coral reef moderen kemudian saat ini berkembang terutama di lereng utara Mangkalihat. Yang pernah naik boat dari Tarakan ke Bontang pasti akan takjub melihat coral reef moderen utara Mangkalihat ini. Demikian, Tinggian Mangkalihat seolah perkasa, ia hanya dapat ditenggelamkan oleh genanglaut maksimum saat Miosen Awal dan ujung Miosen Tengah. Di luar itu, ia sebagai tinggian subaerial yang bisa memasok sedimen baik ke selatan menuju Kutei, maupun ke utara menuju Tarakan. salam, awang --- On Sat, 6/21/08, Henri Putra <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Henri Putra <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Tinggian Mangkalihat To: [EMAIL PROTECTED] Date: Saturday, June 21, 2008, 10:36 PM Salam sejahtera, Pak, saya Henri Putra dari geologi Unpad 2005. Saya pernah mendengar tentang Tinggian Mangkalihat yang ada di Kalimantan di kampus. Namun saya belum begitu paham tentangnya dan membuat saya tertarik. Saya sudah mencari informasinya di beberapa web internet namun belum menemukan hasilnya. Apakah bapak bisa membantu saya? Mungkin dengan beberapa catatan atau pembahasan mengenai tinggian tersebut. Terima kasih, Henri Putra Geo Unpad '05 -------------------------------------------------------------------------------- PIT IAGI KE-37 (BANDUNG) * acara utama: 27-28 Agustus 2008 * penerimaan abstrak: kemarin2 s/d 30 April 2008 * pengumuman penerimaan abstrak: 15 Mei 2008 * batas akhir penerimaan makalah lengkap: 15 Juli 2008 * abstrak / makalah dikirimkan ke: www.grdc.esdm.go.id/aplod username: iagi2008 password: masukdanaplod -------------------------------------------------------------------------------- PEMILU KETUA UMUM IAGI 2008-2011: * pendaftaran calon ketua: 13 Pebruari - 6 Juni 2008 * penghitungan suara: waktu PIT IAGI Ke-37 di Bandung AYO, CALONKAN DIRI ANDA SEKARANG JUGA!!! ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

