Henri dan rekan milis lainnya,
 
Tinggian Mangkalihat saat ini merupakan pemisah antara Cekungan Kutei dan 
Cekungan Tarakan. Menjadi pertanyaan, apakah tinggian ini baru efektif sebagai 
pemisah kedua cekungan pada akhir kala geologi, atau telah efektif sebagai 
pemisah sejak Paleogen ?
 
Rekonstruksi paleo-tektonik sebelum pra-Tersier oleh Metcalfe (1996) - peneliti 
yang banyak mempublikasikan rekonstruksi pra-Tersier SE Asia berdasarkan 
terrane concept (terrane concept = lempeng tersusun atas mikro-lempeng/terrane 
yang punya kesatuan geologi tertentu yang dulunya saling terpisah kemudian oleh 
proses akresi saling menyatu beramalgamasi membentuk lempeng) - menyebutkan 
bahwa Mangkalihat adalah sebuah mikrokontinen asal Australia yang beramalgamasi 
membentuk Kalimantan bersama mikro-lempeng lainnya dan kerak akresi di 
antaranya pada awal Tersier. Mikrokontinen Mangkalihat selamanya berdekatan 
dengan mikrokontinen West Sulawesi. Pada Kapur Akhir, kedua mikrokontinen ini 
masih di sebelah selatan Equator.
 
Pada Tersier Awal banyak hal terjadi di tepi tenggara dan timur Sundaland. 
Amalgamasi Sundaland menghalangi sirkulasi mantle plume di bawahnya. Superplume 
naik di bawah bagian timur dan tenggara Sundaland yang baru beramalgamasi. 
Naiknya superplume ini merupakan konsekuensi gugurnya massa mantel yang lebih 
berat hasil amalgamasi oceanic slabs di bawah astenosfer pada kedalaman sekitar 
700 km yang pada masa Mesozoics mengantar mikro-kontinen2 beramalgamasi 
membentuk Sundaland. Sebagian kerak oseanik di antara mikro-kontinen yang 
berbenturan tertekan menjadi jalur ofiolit seperti Meratus. Sebagian besar lagi 
masuk ke dalam mantel dan stagnan di kedalaman sekitar 700 km sampai suatu 
waktu mereka gugur dan menyebabkan sirkulasi mantel superplume. Pola sirkulasi 
mantel ini kini dapat sangat jelas terbaca dari peneltian mantle tomography dan 
di wilayah Indonesia banyak dilakukan riset tentang ini. Maka kini penafsiran 
tektonik sangat punya dukungan geofisika
 solid earth.
 
Kembali ke Mangkalihat. Superplume naik di dekat tenggara Sundaland. Ia membuat 
mikrokontinen Sulawesi Barat yang beramalgamasi dengan Paternoster di selatan 
Makassar Strait (saat ini) mengalami peretakan. Inilah cikal bakal Selat 
Makassar. Peretakan terus berlanjut sampai awal Neogen dan kemudian terhenti 
saat mikrokontinen Buton kemudian Banggai membentur Sulawesi Tenggara dan 
Sulawesi Timur. 
 
Pemekaran ini terjadi dalam tiga lengan aulacogen. Lengan utara-selatan membuka 
Selat Makassar. Lengan ke tiga menuju pusat Kalimantan di Tinggian Kuching 
dalam jalur timur-barat. Inilah cikal bakal lengan yang membentuk Kutei. Di 
mana saat itu terrane Mangkalihat ? Sudah di posisinya sekarang, tetapi agak ke 
selatan (baik menganggap Kalimanatan non-rotated maupun rotated). Lengan 
pembentuk Kutei ini diapit dua terrane : di utara ada Mangkalihat, di selatan 
ada Paternoster.
 
Sebagai sebuah incipient basin (cekungan yang baru berkembang) dan merupakan 
lengan aulacogen yang akan gagal membuka, bisa diyakini bahwa Mangkalihat telah 
menjadi pemisah efektif antara Kutei dan Tarakan pada kala itu pun (Eosen). 
Lagipula, baik di Kutei maupun Tarakan, pada awal Paleogen sedimen didominasi 
oleh sedimen nonmarin yang masih jauh lokasinya dari Mangkalihat (misalnya 
Eocene Kiham Haloq di inner Kutei Basin, atau Eocene Sujau di Tarakan). Jadi, 
tak mungkin Tinggian Mangkalihat sudah ditenggelamkan di Eocene. 
 
Pada Eo-Oligosen terjadi beberapa aktivitas volkanisme yang mungkin berhubungan 
dengan rifting di Kalimantan. Antara lain, terjadi juga di Tinggian 
Mangkalihat, maka ditutupilah sebagian basement kontinen Mangkalihat oleh 
Sembulu volcanics. Beberapa sumur yang dibor di wilayah Sangatta utara menembus 
volkanik ini. Setelah 30 Ma sampai Miosen Awal terjadi genang laut yang 
menutupi Mangkalihat oleh transgresi Oligo-Miosen yang terkenal terjadi di 
wilayah SE Asia. Genang laut ini menghasilkan platform carbonate di Mangkalihat 
yang kita kenal sebagai Tendez Hantu carbonates (ada juga yang menyebutnya 
Kedango atau Kariorang carbonates). Pada transgresi maksimum terakhir di 10 Ma 
(ujung Miosen Tengah) Tinggian Mangkalihat menjadi tempat pengendapan karbonat 
lagi yang sekarang tersingkap dan dikenal sebagai batugamping Sekerat. Coral 
reef moderen kemudian saat ini berkembang terutama di lereng utara Mangkalihat. 
Yang pernah naik boat dari Tarakan ke Bontang
 pasti akan takjub melihat coral reef moderen utara Mangkalihat ini.
 
Demikian, Tinggian Mangkalihat seolah perkasa, ia hanya dapat ditenggelamkan 
oleh genanglaut maksimum saat Miosen Awal dan ujung Miosen Tengah. Di luar itu, 
ia sebagai tinggian subaerial yang bisa memasok sedimen baik ke selatan menuju 
Kutei, maupun ke utara menuju Tarakan.
 
salam,
awang

--- On Sat, 6/21/08, Henri Putra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Henri Putra <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Tinggian Mangkalihat
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Saturday, June 21, 2008, 10:36 PM






Salam sejahtera,

Pak, saya Henri Putra dari geologi Unpad 2005. Saya pernah mendengar tentang 
Tinggian Mangkalihat yang ada di Kalimantan di kampus. Namun saya belum begitu 
paham tentangnya dan membuat saya tertarik. Saya sudah mencari informasinya di 
beberapa web internet namun belum menemukan hasilnya. Apakah bapak bisa 
membantu saya? Mungkin dengan beberapa catatan atau pembahasan mengenai 
tinggian tersebut.

Terima kasih,
Henri Putra
Geo Unpad '05




      

Kirim email ke