Pak Awang y baik,
Pertama sekali sahaya ucapkan selamat kalau Pak Awang menemukan satu lagi harta 
karun yang sudah sangat lama Bapak impikan. Saya sendiri belum membaca The 
History of Java (THJ), tetapi secara sayup-sayup sudah menemukan 
keterangan tentang buku yang sangat spektakuler itu melalui beberapa buku yang 
lain. Konon THJ memang adalah salah satu studi awal yang komprehensif tentang 
Java. Tetapi kalau Raffles eksis pada abad le-19, maka kelihatannya ada 
beberapa teks lagi sebelum itu yang membicarakan tentang Java, tentu saja masih 
ditulis oleh para pelaut. Nama Tome Pires tampaknya adalah salah satu yang 
layak disebut. Beliau seorang Peranggi. Saya sendiri juga masih belum bisa 
mengakses karyanya secara langsung, tetapi Dee Graaf (sejarawan Belanda itu) 
mengacu banyak sekali kepada Peranggi satu ini dalam karya-karyanya. Salah 
satunya adalah ketika Tome Pires bercerita tentang kondisi di seputaran 
Pati-Juwana-Jepara yang sekarang. Tentang galangan-galangan
 kapal yang sangat besar, tentang Gunung Muria yang masih dipisahkan oleh 
Selat Muria dari Java di sebelah selatannya, dan seterusnya. Dan konon 
kabarnya, bahan-bahan dari Tome Pires inilah yang antara lain digunakan oleh 
almarhun Pram untuk menyusun salah satu epik paling apik yang pernah tercipta: 
"Arus Balik".
Arus Balik juga menceritakan geopolitik di Pantura padda awal abad ke-16, 
terutama kedatangan Peranggi dan bagaimana mereka dapat menguasai selat Malaka 
yang merupakan pintu masuk ke Nusantara. Setting politiknya berupa akhir dari 
kerajaan Majapahit dan awal dari kerajaan Islam pertama di Java: Demak Bintoro. 
Bagaimana para pelarian politik Majapahit lari ke daerah-daerah terpencil dalam 
usahanya menghindari konflik dengan para Musafir dari Demak Bintoro. Begitulah, 
pada masa ini terjadi penghancuran bangunan-bangunan sisa peradaban Hindu-Jawa. 
Bangunan-bangunan yang sebagian besar terbuat dari andesit itu, dihancurkan 
oleh tentara Demak Bintoro, arca-arca ditumbangkan, hingga kita generasi yang 
hidup beberapa abad setelah itu, hanya dapat menikmati sisa-sisa bangunan 
dengan arsitektur yang sangat berkarakter itu. Sisa-sisa yang luput dari 
penghancuran oleh balatentara Demak Bintoro. 
Mendiskusikan Raffles tampaknya, tak bisa tidak, menyebabkan kita menyebut satu 
nama ilmuwan kontemporer: Erdward Said (ES). ES adalah seorang warga Amerika 
kelahiran Palestina. Melalui karyanya, "Orientalism", ES memberikan kontribusi 
yang tak ternilai bagi perkembangan ilmu pengetahuan, bagaimana buku ditulis, 
dan yang tak kalah penting, apa tujuannya. 
Dalam Orientalism ES bercerita bagaiman perkamen-perkamen kuno dari Mesir 
dibawa ke Eropa, dipelajari di sana, ditulis ulang dalam bentuk buku, dan 
kemudian dilemparkan kembali ke Mesir, menjadi bahan bacaan bagi orang-orang 
Mesir. Dengan demikian, Orang Mesir mengenal Mesir dari karya orang Eropa. 
Proses yang kurang lebih sama terjadi dengan THJ. Pada masanya, Yang Mulia 
Raffles membeli sangat banyak perkamen-perkamen dari Java. Mempelajarinya, 
hingga kemudian berkontribusi bagi penulisan THJ. 
Apa implikasi dari model penulisan seperti ini? Tampaknya perlu pula kita 
melihat apa yang dilakukan oleh Snouck Hurgronje terhadap Bangsa Aceh. Versi 
Pak Otto Iskandar Dinata, Snouck adalah seorang antropolog tentang Aceh yang 
tak dapat ditemukan padanannya hingga sekarang. Deskripsinya tentang Aceh yang 
sangat detil, tentang hukum Islam yang berada di dalam masyarakat sana, dan 
seterusnya. Tahun-tahun mahasiswa saya yang bergelora, banyak saya habiskan 
untuk membacai puluhan jilid buku-buku karangan Tuan Snouck Hurgronje tentang 
bangsa Aceh ini di perpustakan UPT II Universitas Gadjah Mada, rasanya tak 
terperikan. 
Tetapi apa sebenarnya tujuan Kolonial mengirimkan antropolognya yang paling 
haibat ke Aceh? Tak lain dan tak bukan adalah: agar mereka memahami orang Aceh. 
Agar mereka faham mengapa orang Aceh kuat berperang bertahun-tahun. Dan 
pengetahuan mereka akan digunakan kembali untuk menaklukkan orang Aceh. Persis 
seperti apa yang sering kita dapati dalam karya-karya Koo Ping Hoo: "Kenalilah 
musuhmu sebelum bertempur". 
Kasus yang sama juga menimpa clan saya di Bakkara, Samosir sana. Sebelas Jilid 
Arsip Bakkara, yang ditulis dalam pustaha (dalam bahasa Batak dan tulisan 
Batak), dibawa oleh Resident Portman ke negerinya. Meski dengan cara itulah 
kemudian Arsip Bakkara itu terselamatkan. 
Begitulah, Dalam konteks ilmu pengetahuan tentu saja terima kasih tetap kita 
tujukan terhadap orang-orang seperti Raffles, Snouck dan Portman. Tetapi apakah 
begitu ilmu pengetahuan di tangan mereka? Entahlah. Saya sendiri merasa akan 
sangat buru-buru kalau sudah berani mengambil kesimpulan. Akan tetapi 
barangkali benar apa yang ditulis oleh ES dalam makalah terakhirnya yang 
berjudu "Return to Philology". Makalah terakhir sebelum ia meninggal dunia.  
Kira-kira maksudnya, sudah saatnya kita membuka kembali semua korpus kita di 
masa lalu, agar kita bisa menghadapi situasi yang sedang terjadi sekarang. Dus, 
memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. "The past is the 
key to the present and the future". Kayak geolog gitu kali???
Mohon maaf kalo ada kesalahan-kesalahan. Semua penulisan, nama-nama, waktu, 
judul buku dan seterusnya, hanyalah berdasarkan pada ingatan belaka. Sementara 
itu, saya sendiri sangat pelupa, :).  
 
tabik,
bosman batubara 




----- Original Message ----
From: Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
To: IAGI <[email protected]>; Forum HAGI <[EMAIL PROTECTED]>; Geo Unpad 
<[EMAIL PROTECTED]>; Eksplorasi BPMIGAS <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, July 8, 2008 8:05:21 AM
Subject: [iagi-net-l] “The History of Java” (Thomas Stamford Raffles, 1817)

Ada satu buku yang sudah lama saya mencarinya. Buku itu saya dengar untuk 
pertama kalinya 30 tahun yang lalu saat duduk di kelas 1 SMP (1977). Buku itu 
adalah “The History of Java” (Thomas Stamford Raffles, 1817).  Ketika saya 
mulai mengumpulkan buku untuk membangun perpustakaan pribadi dua tahun kemudian 
(1979), pada setiap kesempatan ke pasar loak buku di Pasar Cihapit Bandung saya 
selalu mencari buku itu. Tak terpikirkan sama sekali oleh saya saat itu bahwa 
kalau pun ada pun buku itu pasti saya juga tak akan mampu membelinya. Sampai 
lulus kuliah (1989) saya tak menemukan buku itu, kalau pun ada pasti tetap tak 
akan mampu membelinya. Buku tua berangka tahun 1817 bisa dibayangkan berapa 
juta rupiah harganya. 
 
Setelah bekerja sekian belas tahun, pada setiap kesempatan mengunjungi kios 
buku tua/antik yang koleksinya cukup lengkap (Taman Mini, Kuningan, Pasar 
Senen, Jakarta atau toko buku antik yang biasa saya kunjungi kalau kebetulan 
sedang berada di Adelaide, South Australia) buku ini pun tak pernah ada. 
Memesannya kepada pedagangnya pun tak pernah berhasil. Saya hampir 
mendapatkannya di Taman Mini, tetapi terlambat hanya beberapa jam didahului 
oleh seorang pemburu buku tua lainnya. Mencari cetakan ulangnya (Oxford 
University Press, 1965) kalau sedang kebetulan ke Borders Book di Singapura 
atau pernah di London pun tak ada. Mungkin mencari dan memesannya melalui 
Amazon.com bisa berhasil.
 
Lalu, Sabtu minggu lalu saya tiba-tiba diperhadapkan ke buku tebal ini saat 
mengunjungi toko buku Gramedia di Bogor (!). Mencarinya di kios-kios loak di 
Bandung, Jakarta, Yogyakarta, ke toko buku antik di Adelaide dan London, ke 
toko buku besar di Singapura - ternyata akhirnya saya dapatkan tak jauh dari 
rumah saya. Hm…perasaan saya saat itu sukar diperikan dengan kata-kata. Saya 
ingin memiliki dan membaca buku ini sejak 31 tahun yang lalu, saat guru sejarah 
saya yang pintar mendongeng bercerita tentang Thomas Stamford Raffles. 
Barangkali bisa dipahami kalau menjadi sebuah obsesi lebih dari separuh umur 
saya sampai saat ini.
 
Yang saya temui di Gramedia tentu bukan buku aslinya yang bertahun 1817, bukan 
pula cetakan-cetakan ulangnya, tetapi adalah terjemahannya. Saya memang 
menyukai buku-buku kuno, tetapi isi buku buat saya lebih penting. Buku kalau 
tidak dibaca dan dipelajari tak berfungsi sebagai buku yang akan memintarkan 
yang membacanya. Maka, buku terjemahan ini untuk saya sama berharganya dengan 
buku aslinya. Memang nilai keantikannya tidak ada sebab ini buku cetakan baru 
(akhir April 2008), tetapi isinya tetap antik dan seberharga aslinya. Buku 
terjemahan Raffles (1817) ini dicetak dengan jilid keras, kertas HVS 70 gram, 
kualitas cetakan bagus, reproduksi gambar jelas. Tebal buku 904 halaman 
ditambah 36 halaman pengantar. Ukuran buku lebih besar dari rata-rata buku. 
Harga buku : Rp 180.000.
 
Buku Raffles (1817) ini diterjemahkan oleh tiga orang penerjemah dan dua orang 
penyunting. Buku diterbitkan oleh Penerbit Narasi, Yogyakarta. Sepengamatan 
saya, belakangan ini di Yogyakarta banyak bermunculan penerbit-penerbit buku 
baru, belum terkenal namanya, tetapi menerbitkan karya asli maupun terjemahan 
yang baik, mungkin dilatarbelakangi suasana akademik kota Yogyakarta. 
Penerbitan penerjemahan buku Raffles (1817) dalam bahasa Indonesia patut kita 
sambut dengan gembira. Para penikmat sejarah dengan buku ini akan dibawa ke 
masa hampir 200 tahun yang lalu. 
 
Memang, tak diragukan lagi, buku History of Java telah menjadi salah satu 
sumber sejarah paling awal dan paling penting untuk mengetahui kehidupan 
masyarakat Jawa pada masa lalu. Raffles yang sangat terobsesi dengan eksotisme 
dunia Jawa merekam dengan sangat baik dan detail keragaman dan keunikan tanah 
Jawa dan penduduknya serta segala budayanya.
 
Buku asli Raffles (1817) sebenarnya terdiri atas dua volume. Volume pertama 
merupakan uraian inti tentang Jawa secara lengkap. Volume kedua berisi 
informasi tambahan dan lampiran-lampiran. Di dalam terjemahan ini, kedua volume 
telah disatukan menjadi satu buku.
 
Karier awal Raffles (1781-1826) sebagai juru tulis sebuah perusahaan 
Hindia-Timur (1795) memberikan latar belakang ketekunannya sebagai penulis. Di 
samping itu, menurut sebuah biografi, Raffles dikenal sebagai seorang yang 
tekun, rajin belajar, ulet, dan berkemauan keras. Tanpa itu semua mustahil 
mahakarya “The History of Java” akan selesai dikerjakannya. Raffles mempunyai 
semua syarat sebagai penghasil mahakarya (masterpiece).
 
Raffles berada di Jawa pada 1811-1816, pertama kali sebagai Lieutenant Governor 
of Java yang bertanggung jawab kepada Gubernur Jenderal Inggris di India yaitu 
Lord Minto (nama aslinya Sir Gilbert Elliot Murray-Kynynmond). Tahun 1814 Lord 
Minto meninggal dunia dan Raffles menjadi Gubernur Jenderal di Jawa sampai 
1816. Saat Jawa kembali ke tangan Belanda, Raffles tengah menggagas dan 
mengerjakan proyek arkeologi dan botani di Jawa. Kemudian sampai tahun 1823 
Raffles menjadi Gubernur di Bengkulu. Beberapa wilayah di Sumatra (Belitung, 
Bangka dan Bengkulu) memang berdasarkan suatu perjanjian tak diserahkan ke 
tangan Belanda. 
 
Hati Raffles sebenarnya telah tertambat dengan Jawa dan ia benci Belanda 
kembali berkuasa di Jawa. Tahun 1819 Raffles menggagas pusat perdagangan di  
Pulau Singapura dalam kerja sama dengan Tumenggung Sri Maharaja penguasa 
Singapura. Inggris diizinkan mendirikan koloni di Singapura dengan syarat 
Inggris melindungi para pedagang Singapura dari Belanda dan Bugis. Raffles 
bersumpah Singapura akan dijadikan koloni baru yang meskipun kecil, namun akan 
jauh lebih maju dari Tanah Jawa yang dikuasai Belanda. Sumpah Raffles terwujud. 
Singapura menjadi pusat perdagangan paling penting di wilayah Hindia Timur, 
sampai kini.
 
Karena situasi politik, tahun 1823 Raffles meninggalkan Indonesia (Bengkulu) 
dan tiga tahun kemudian meninggal dunia sehari sebelum ulang tahunnya yang 
ke-45. Meskipun ia meninggal dalam usia yang masih tergolong muda, telah banyak 
jejak yang ditinggalkan Raffles terutama dalam karya-karya ilmu pengetahuan 
alam dan sejarah Jawa dan Sumatra. Adalah Raffles yang menggagas pendirian 
Kebun Raya Bogor dan membantu botanist Prof. Reindwardt (Belanda) dengan ahli2 
dari Inggris untuk menyelesaikannya dan meresmikannya pada tahun 1817. Kebun 
Raya dan kebun binatang di Singapura yang terkenal itu juga didirikan oleh 
Raffles. Adalah atas prakarsa Raffles juga warisan budaya Jawa digali dan 
ditemukan : Candi Borobudur (1814), Candi Panataran (1815), Candi Prambanan 
(1815). Begitu besar perhatiannya pada sastra dan budaya setempat membuat 
Raffles mendirikan Museum Etnografi Batavia. Raffles pun sebagai administrator 
pemerintahan di Jawa dan Bengkulu banyak
meninggalkan sistem-sistem pemerintahan seperti pembagian karesidenan, sistem 
pajak, dsb.
 
Semua jejak dan karya Raffles terekam dalam buku History of Java. Buku ini 
adalah referensi komprehensif tanah Jawa. “Buku ini benar-benar 
penting...Kombinasi antara teks yang secara ilmiah begitu orisinal dengan 
sejumlah ilustrasi yang indah,...berkualitas tinggi, sebuah mahakarya...yang 
dihasilkan oleh pengamatan langsung penulisnya terhadap tradisi dan lingkungan 
Jawa”, begitu tulis Bastin dan Brommer (1979) dalam bukunya “Nineteenth Century 
Prints and Illustrated Books of Indonesia” – sebuah buku yang membahas 
buku-buku tentang Indonesia yang terbit pada abad ke-19.
 
Secara garis besar, Raffles membagi bukunya ke dalam 11 Bab, sebagai berikut : 
 
Bab 1 : Kondisi Geografis Pulau Jawa (termasuk di dalamnya keterangan geologi)
Bab 2 : Asal Mula Penduduk Asli-Jawa
Bab 3 : Pertanian di Jawa
Bab 4 : Manufaktur  (Industri) di Jawa
Bab 5 : Perdagangan di Jawa
Bab 6 : Karakter Penduduk di Jawa
Bab 7 : Adat Istiadat Penduduk di Jawa
Bab 8 : Bahasa dan Sastra
Bab 9 : Agama
Bab 10 : Sejarah dari Awal-Munculnya Islam 
Bab 11 : Sejarah dari Munculnya Islam-Kedatangan Inggris
 
Lampiran-lampirannya ada 12 (Lampiran A-M), sebagai berikut :
 
Lampiran A : Kemunduran Batavia
Lampiran B : Perdagangan dengan Jepang
Lampiran C : Terjemahan versi moderen Suria Alem (sebuah karya sastra)
Lampiran D : Hukum pada Pengadilan Propinsi di Jawa 
Lampiran E : Perbandingan kosakata bahasa-bahasa suku di Jawa dan sekitarnya
Lampiran F : Cerita Pulau Sulawesi dan perbandingan kosakata bahasa-bahasa suku
Lampiran G : Angka-angka Candra Sengkala
Lampiran H : Terjemahan Manik Maya 
Lampiran I : Terjemahan huruf prasasti Jawa dan Kawi Kuno
Lampiran J : Pulau Bali
Lampiran K : Instruksi Pajak
Lampiran M : Memorandum tentang berat, ukuran, dll.
 
Dapat dilihat bahwa cakupan pembahasan Raffles komprehensif. 
Keterangan-keterangan dalam teks-nya dilengkapi dengan catatan-catatan kaki 
yang detail. Referensi berhubungan pada zamannya digunakannnya untuk memperkaya 
keterangan. 
 
Sedikit kutipan yang menyangkut geologi saya tuliskan di sini, yaitu tentang 
gununglumpur Bledug Kuwu. Demikian tulis Raffles. ”Beberapa objek yang tidak 
dikenal, yang hanya dapat dilihat dengan penjelasan tertentu, adalah 
ledakan-ledakan lumpur, terletak di antara distrik Grobogan di barat, dan 
distrik Blora serta Jipang di timur. Penduduk lokal menyebutnya Bledeg, dan 
Dr.Horsfield menyebutnya sumur garam. Sumur garam ini menyebar ke seluruh 
distrik dengan aliran seluas beberapa mil, dan dasarnya seperti banyak 
ditemukan di beberapa tempat yang ada aliran air tawar, akan menjadi batu 
kapur...” (keterangannya masih panjang).
 
Raffles juga membahas tentang rembesan-rembesan gas dan minyak (jauh lebih awal 
daripada pemetaan sistematik pertama rembesan minyak dan gas oleh Belanda pada 
tahun 1850), tentang mineral dan bahan tambang.
 
Saat Raffles memerintah di Jawa terjadilah letusan gunungapi dengan energi 
terbesar di dunia dalam masa sejarah manusia : Tambora 1815 di Sumbawa. Dan, 
Raffles sangat detail menggambarkan peristiwa letusannya sampai efek-efek 
kerusakannya. Saya belum pernah menemukan keterangan lain sedetail keterangan 
Raffles tentang saat-saat letusan dahsyat Tambora tersebut. Orang harus mengacu 
kepada buku Raffles untuk mengetahui saat-saat letusan Tambora 1815.
 
Demikianlah sekilas memperkenalkan The History of Java (Raffles, 1817), sebuah 
buku tentang Jawa yang sangat berharga. Walaupun ditulis 191 tahun yang lalu, 
selalu ada hal-hal yang berharga yang bisa dipelajari daripadanya untuk 
kepentingan masa kini. 
 
Saat meninggalkan Jawa dan Sumatra, Raffles menangis meratapi alam dan penduduk 
yang dicintainya, yang dihentikannya dari perbudakan, yang digambarkannya 
sebagai ”orang pribumi yang tenang, sedikit berpetualang, tidak mudah 
terpancing melakukan kekerasan atau pertumpahan darah”.
 
”I believe there is no one possessed of more information respecting Java than 
myself.” (Thomas Stamford Raffles, 1817). 
 
Mari kita cintai bumi tempat kita berpijak, terlebih lagi karena kita adalah 
orang Indonesia. 
 
Salam,
awang


      

Kirim email ke