Ternyata menarik juga ketika mencoba melakukan eksplorasi di
"Perpustakaan Se-Jagad" dibantu sama Oom Google.

Ada sebuah komentar untuk History of Java ini dalam sebuah kajian
thesis ilmiah Natalie A. Mault (Louisiana State University) yang
mengatakan "....This thesis questions Raffles' claim to accuracy based
on arguments derived from the critical debate over Orientalism
triggered by the publication of Edward Said's namesake book in 1978.
While Raffles and Daniell purport to represent the people of Java as
products of Javanese civilization, there is a clearly defined
colonialist agenda looming behind the plates inserted in the History
of Java."

Ternyata ada sebuah "agenda kolonial" dalam penyusunan buku sejarah
jawa oleh Rafles ini. Sepertinya memang buku ini bukan sekedar buku
ilmiah ansich, tetapi dimasukkan juga maksud-maksud tertentu supaya
ada "legitimasi" ketika melakukan kegiatan kolonialisasi Belanda di
Indonesia. Hal ini memang sering dijumpai dalam penulisan sejarah.
Tentunya tidak semuanya tidak betul. Seperti yang ditulis dalam thesis
diatas yang mengakui keakurasian adat, pakaian (costume) dan
etnografi.

Salam

RDP

On Tue, Jul 8, 2008 at 11:51 AM, Rovicky Dwi Putrohari
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pak Awang
> Sakjane banyak buku-buku "antik" seperti yg anda cari-cari itu ada di
> Google Books. Silahkan di googling dulu barangkali bisa menyembuhkan
> "dahaga anda " akan buku-buku antik
>
> Untuk sejarah Java ini sudah bisa didonlod gratis disini :
> The History of Java By Thomas Stamford Raffles,
> http://books.google.com.my/books?id=4w8PAAAAYAAJ
> Kalau mau donlod semua 18 MByte. Tapi ini kok terbitan tahun 1830 ya ?
> Mungkin beda dengan yang Pak Awang cari.
>
> Aku cuman baca sepintas bagian awal buku ini mengatakan Muhamedanism
> (... Religion Introduction of Mahomedanism ...) , mungkin maksudnya
> ajaran Nabi Muhammad, tetapi Umat Islam tidak akan pernah mengatakan
> hal ini. Mereka menyebut Islam.
>
> Btw, aku juga tertarik kalau ada terjemahan bhasa Indonesianya,
> mengingat bahasa yang dipakai mestine bahasa Inggris kuno. Lah wong
> kemampuan bahasa Inggrisku juga pas-pasan :(
>
> Salam antik
>
> RDP
>
> 2008/7/8 bosman batubara <[EMAIL PROTECTED]>:
>> Pak Awang y baik,
>> Pertama sekali sahaya ucapkan selamat kalau Pak Awang menemukan satu lagi 
>> harta karun yang sudah sangat lama Bapak impikan. Saya sendiri belum membaca 
>> The History of Java (THJ), tetapi secara sayup-sayup sudah menemukan 
>> keterangan tentang buku yang sangat spektakuler itu melalui beberapa buku 
>> yang lain. Konon THJ memang adalah salah satu studi awal yang komprehensif 
>> tentang Java. Tetapi kalau Raffles eksis pada abad le-19, maka kelihatannya 
>> ada beberapa teks lagi sebelum itu yang membicarakan tentang Java, tentu 
>> saja masih ditulis oleh para pelaut. Nama Tome Pires tampaknya adalah salah 
>> satu yang layak disebut. Beliau seorang Peranggi. Saya sendiri juga masih 
>> belum bisa mengakses karyanya secara langsung, tetapi Dee Graaf (sejarawan 
>> Belanda itu) mengacu banyak sekali kepada Peranggi satu ini dalam 
>> karya-karyanya. Salah satunya adalah ketika Tome Pires bercerita tentang 
>> kondisi di seputaran Pati-Juwana-Jepara yang sekarang. Tentang 
>> galangan-galangan
>>  kapal yang sangat besar, tentang Gunung Muria yang masih dipisahkan oleh 
>> Selat Muria dari Java di sebelah selatannya, dan seterusnya. Dan konon 
>> kabarnya, bahan-bahan dari Tome Pires inilah yang antara lain digunakan oleh 
>> almarhun Pram untuk menyusun salah satu epik paling apik yang pernah 
>> tercipta: "Arus Balik".
>> Arus Balik juga menceritakan geopolitik di Pantura padda awal abad ke-16, 
>> terutama kedatangan Peranggi dan bagaimana mereka dapat menguasai selat 
>> Malaka yang merupakan pintu masuk ke Nusantara. Setting politiknya berupa 
>> akhir dari kerajaan Majapahit dan awal dari kerajaan Islam pertama di Java: 
>> Demak Bintoro. Bagaimana para pelarian politik Majapahit lari ke 
>> daerah-daerah terpencil dalam usahanya menghindari konflik dengan para 
>> Musafir dari Demak Bintoro. Begitulah, pada masa ini terjadi penghancuran 
>> bangunan-bangunan sisa peradaban Hindu-Jawa. Bangunan-bangunan yang sebagian 
>> besar terbuat dari andesit itu, dihancurkan oleh tentara Demak Bintoro, 
>> arca-arca ditumbangkan, hingga kita generasi yang hidup beberapa abad 
>> setelah itu, hanya dapat menikmati sisa-sisa bangunan dengan arsitektur yang 
>> sangat berkarakter itu. Sisa-sisa yang luput dari penghancuran oleh 
>> balatentara Demak Bintoro.
>> Mendiskusikan Raffles tampaknya, tak bisa tidak, menyebabkan kita menyebut 
>> satu nama ilmuwan kontemporer: Erdward Said (ES). ES adalah seorang warga 
>> Amerika kelahiran Palestina. Melalui karyanya, "Orientalism", ES memberikan 
>> kontribusi yang tak ternilai bagi perkembangan ilmu pengetahuan, bagaimana 
>> buku ditulis, dan yang tak kalah penting, apa tujuannya.
>> Dalam Orientalism ES bercerita bagaiman perkamen-perkamen kuno dari Mesir 
>> dibawa ke Eropa, dipelajari di sana, ditulis ulang dalam bentuk buku, dan 
>> kemudian dilemparkan kembali ke Mesir, menjadi bahan bacaan bagi orang-orang 
>> Mesir. Dengan demikian, Orang Mesir mengenal Mesir dari karya orang Eropa. 
>> Proses yang kurang lebih sama terjadi dengan THJ. Pada masanya, Yang Mulia 
>> Raffles membeli sangat banyak perkamen-perkamen dari Java. Mempelajarinya, 
>> hingga kemudian berkontribusi bagi penulisan THJ.
>> Apa implikasi dari model penulisan seperti ini? Tampaknya perlu pula kita 
>> melihat apa yang dilakukan oleh Snouck Hurgronje terhadap Bangsa Aceh. Versi 
>> Pak Otto Iskandar Dinata, Snouck adalah seorang antropolog tentang Aceh yang 
>> tak dapat ditemukan padanannya hingga sekarang. Deskripsinya tentang Aceh 
>> yang sangat detil, tentang hukum Islam yang berada di dalam masyarakat sana, 
>> dan seterusnya. Tahun-tahun mahasiswa saya yang bergelora, banyak saya 
>> habiskan untuk membacai puluhan jilid buku-buku karangan Tuan Snouck 
>> Hurgronje tentang bangsa Aceh ini di perpustakan UPT II Universitas Gadjah 
>> Mada, rasanya tak terperikan.
>> Tetapi apa sebenarnya tujuan Kolonial mengirimkan antropolognya yang paling 
>> haibat ke Aceh? Tak lain dan tak bukan adalah: agar mereka memahami orang 
>> Aceh. Agar mereka faham mengapa orang Aceh kuat berperang bertahun-tahun. 
>> Dan pengetahuan mereka akan digunakan kembali untuk menaklukkan orang Aceh. 
>> Persis seperti apa yang sering kita dapati dalam karya-karya Koo Ping Hoo: 
>> "Kenalilah musuhmu sebelum bertempur".
>> Kasus yang sama juga menimpa clan saya di Bakkara, Samosir sana. Sebelas 
>> Jilid Arsip Bakkara, yang ditulis dalam pustaha (dalam bahasa Batak dan 
>> tulisan Batak), dibawa oleh Resident Portman ke negerinya. Meski dengan cara 
>> itulah kemudian Arsip Bakkara itu terselamatkan.
>> Begitulah, Dalam konteks ilmu pengetahuan tentu saja terima kasih tetap kita 
>> tujukan terhadap orang-orang seperti Raffles, Snouck dan Portman. Tetapi 
>> apakah begitu ilmu pengetahuan di tangan mereka? Entahlah. Saya sendiri 
>> merasa akan sangat buru-buru kalau sudah berani mengambil kesimpulan. Akan 
>> tetapi barangkali benar apa yang ditulis oleh ES dalam makalah terakhirnya 
>> yang berjudu "Return to Philology". Makalah terakhir sebelum ia meninggal 
>> dunia.  Kira-kira maksudnya, sudah saatnya kita membuka kembali semua korpus 
>> kita di masa lalu, agar kita bisa menghadapi situasi yang sedang terjadi 
>> sekarang. Dus, memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. 
>> "The past is the key to the present and the future". Kayak geolog gitu 
>> kali???
>> Mohon maaf kalo ada kesalahan-kesalahan. Semua penulisan, nama-nama, waktu, 
>> judul buku dan seterusnya, hanyalah berdasarkan pada ingatan belaka. 
>> Sementara itu, saya sendiri sangat pelupa, :).
>>
>> tabik,
>> bosman batubara
>>
>>
>>
>>
>> ----- Original Message ----
>> From: Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
>> To: IAGI <[email protected]>; Forum HAGI <[EMAIL PROTECTED]>; Geo Unpad 
>> <[EMAIL PROTECTED]>; Eksplorasi BPMIGAS <[EMAIL PROTECTED]>
>> Sent: Tuesday, July 8, 2008 8:05:21 AM
>> Subject: [iagi-net-l] "The History of Java" (Thomas Stamford Raffles, 1817)
>>
>> Ada satu buku yang sudah lama saya mencarinya. Buku itu saya dengar untuk 
>> pertama kalinya 30 tahun yang lalu saat duduk di kelas 1 SMP (1977). Buku 
>> itu adalah "The History of Java" (Thomas Stamford Raffles, 1817).  Ketika 
>> saya mulai mengumpulkan buku untuk membangun perpustakaan pribadi dua tahun 
>> kemudian (1979), pada setiap kesempatan ke pasar loak buku di Pasar Cihapit 
>> Bandung saya selalu mencari buku itu. Tak terpikirkan sama sekali oleh saya 
>> saat itu bahwa kalau pun ada pun buku itu pasti saya juga tak akan mampu 
>> membelinya. Sampai lulus kuliah (1989) saya tak menemukan buku itu, kalau 
>> pun ada pasti tetap tak akan mampu membelinya. Buku tua berangka tahun 1817 
>> bisa dibayangkan berapa juta rupiah harganya.
>>
>> Setelah bekerja sekian belas tahun, pada setiap kesempatan mengunjungi kios 
>> buku tua/antik yang koleksinya cukup lengkap (Taman Mini, Kuningan, Pasar 
>> Senen, Jakarta atau toko buku antik yang biasa saya kunjungi kalau kebetulan 
>> sedang berada di Adelaide, South Australia) buku ini pun tak pernah ada. 
>> Memesannya kepada pedagangnya pun tak pernah berhasil. Saya hampir 
>> mendapatkannya di Taman Mini, tetapi terlambat hanya beberapa jam didahului 
>> oleh seorang pemburu buku tua lainnya. Mencari cetakan ulangnya (Oxford 
>> University Press, 1965) kalau sedang kebetulan ke Borders Book di Singapura 
>> atau pernah di London pun tak ada. Mungkin mencari dan memesannya melalui 
>> Amazon.com bisa berhasil.
>>
>> Lalu, Sabtu minggu lalu saya tiba-tiba diperhadapkan ke buku tebal ini saat 
>> mengunjungi toko buku Gramedia di Bogor (!). Mencarinya di kios-kios loak di 
>> Bandung, Jakarta, Yogyakarta, ke toko buku antik di Adelaide dan London, ke 
>> toko buku besar di Singapura - ternyata akhirnya saya dapatkan tak jauh dari 
>> rumah saya. Hm…perasaan saya saat itu sukar diperikan dengan kata-kata. Saya 
>> ingin memiliki dan membaca buku ini sejak 31 tahun yang lalu, saat guru 
>> sejarah saya yang pintar mendongeng bercerita tentang Thomas Stamford 
>> Raffles. Barangkali bisa dipahami kalau menjadi sebuah obsesi lebih dari 
>> separuh umur saya sampai saat ini.
>>
>> Yang saya temui di Gramedia tentu bukan buku aslinya yang bertahun 1817, 
>> bukan pula cetakan-cetakan ulangnya, tetapi adalah terjemahannya. Saya 
>> memang menyukai buku-buku kuno, tetapi isi buku buat saya lebih penting. 
>> Buku kalau tidak dibaca dan dipelajari tak berfungsi sebagai buku yang akan 
>> memintarkan yang membacanya. Maka, buku terjemahan ini untuk saya sama 
>> berharganya dengan buku aslinya. Memang nilai keantikannya tidak ada sebab 
>> ini buku cetakan baru (akhir April 2008), tetapi isinya tetap antik dan 
>> seberharga aslinya. Buku terjemahan Raffles (1817) ini dicetak dengan jilid 
>> keras, kertas HVS 70 gram, kualitas cetakan bagus, reproduksi gambar jelas. 
>> Tebal buku 904 halaman ditambah 36 halaman pengantar. Ukuran buku lebih 
>> besar dari rata-rata buku. Harga buku : Rp 180.000.
>>
>> Buku Raffles (1817) ini diterjemahkan oleh tiga orang penerjemah dan dua 
>> orang penyunting. Buku diterbitkan oleh Penerbit Narasi, Yogyakarta. 
>> Sepengamatan saya, belakangan ini di Yogyakarta banyak bermunculan 
>> penerbit-penerbit buku baru, belum terkenal namanya, tetapi menerbitkan 
>> karya asli maupun terjemahan yang baik, mungkin dilatarbelakangi suasana 
>> akademik kota Yogyakarta. Penerbitan penerjemahan buku Raffles (1817) dalam 
>> bahasa Indonesia patut kita sambut dengan gembira. Para penikmat sejarah 
>> dengan buku ini akan dibawa ke masa hampir 200 tahun yang lalu.
>>
>> Memang, tak diragukan lagi, buku History of Java telah menjadi salah satu 
>> sumber sejarah paling awal dan paling penting untuk mengetahui kehidupan 
>> masyarakat Jawa pada masa lalu. Raffles yang sangat terobsesi dengan 
>> eksotisme dunia Jawa merekam dengan sangat baik dan detail keragaman dan 
>> keunikan tanah Jawa dan penduduknya serta segala budayanya.
>>
>> Buku asli Raffles (1817) sebenarnya terdiri atas dua volume. Volume pertama 
>> merupakan uraian inti tentang Jawa secara lengkap. Volume kedua berisi 
>> informasi tambahan dan lampiran-lampiran. Di dalam terjemahan ini, kedua 
>> volume telah disatukan menjadi satu buku.
>>
>> Karier awal Raffles (1781-1826) sebagai juru tulis sebuah perusahaan 
>> Hindia-Timur (1795) memberikan latar belakang ketekunannya sebagai penulis. 
>> Di samping itu, menurut sebuah biografi, Raffles dikenal sebagai seorang 
>> yang tekun, rajin belajar, ulet, dan berkemauan keras. Tanpa itu semua 
>> mustahil mahakarya "The History of Java" akan selesai dikerjakannya. Raffles 
>> mempunyai semua syarat sebagai penghasil mahakarya (masterpiece).
>>
>> Raffles berada di Jawa pada 1811-1816, pertama kali sebagai Lieutenant 
>> Governor of Java yang bertanggung jawab kepada Gubernur Jenderal Inggris di 
>> India yaitu Lord Minto (nama aslinya Sir Gilbert Elliot Murray-Kynynmond). 
>> Tahun 1814 Lord Minto meninggal dunia dan Raffles menjadi Gubernur Jenderal 
>> di Jawa sampai 1816. Saat Jawa kembali ke tangan Belanda, Raffles tengah 
>> menggagas dan mengerjakan proyek arkeologi dan botani di Jawa. Kemudian 
>> sampai tahun 1823 Raffles menjadi Gubernur di Bengkulu. Beberapa wilayah di 
>> Sumatra (Belitung, Bangka dan Bengkulu) memang berdasarkan suatu perjanjian 
>> tak diserahkan ke tangan Belanda.
>>
>> Hati Raffles sebenarnya telah tertambat dengan Jawa dan ia benci Belanda 
>> kembali berkuasa di Jawa. Tahun 1819 Raffles menggagas pusat perdagangan di  
>> Pulau Singapura dalam kerja sama dengan Tumenggung Sri Maharaja penguasa 
>> Singapura. Inggris diizinkan mendirikan koloni di Singapura dengan syarat 
>> Inggris melindungi para pedagang Singapura dari Belanda dan Bugis. Raffles 
>> bersumpah Singapura akan dijadikan koloni baru yang meskipun kecil, namun 
>> akan jauh lebih maju dari Tanah Jawa yang dikuasai Belanda. Sumpah Raffles 
>> terwujud. Singapura menjadi pusat perdagangan paling penting di wilayah 
>> Hindia Timur, sampai kini.
>>
>> Karena situasi politik, tahun 1823 Raffles meninggalkan Indonesia (Bengkulu) 
>> dan tiga tahun kemudian meninggal dunia sehari sebelum ulang tahunnya yang 
>> ke-45. Meskipun ia meninggal dalam usia yang masih tergolong muda, telah 
>> banyak jejak yang ditinggalkan Raffles terutama dalam karya-karya ilmu 
>> pengetahuan alam dan sejarah Jawa dan Sumatra. Adalah Raffles yang menggagas 
>> pendirian Kebun Raya Bogor dan membantu botanist Prof. Reindwardt (Belanda) 
>> dengan ahli2 dari Inggris untuk menyelesaikannya dan meresmikannya pada 
>> tahun 1817. Kebun Raya dan kebun binatang di Singapura yang terkenal itu 
>> juga didirikan oleh Raffles. Adalah atas prakarsa Raffles juga warisan 
>> budaya Jawa digali dan ditemukan : Candi Borobudur (1814), Candi Panataran 
>> (1815), Candi Prambanan (1815). Begitu besar perhatiannya pada sastra dan 
>> budaya setempat membuat Raffles mendirikan Museum Etnografi Batavia. Raffles 
>> pun sebagai administrator pemerintahan di Jawa dan Bengkulu banyak
>> meninggalkan sistem-sistem pemerintahan seperti pembagian karesidenan, 
>> sistem pajak, dsb.
>>
>> Semua jejak dan karya Raffles terekam dalam buku History of Java. Buku ini 
>> adalah referensi komprehensif tanah Jawa. "Buku ini benar-benar 
>> penting...Kombinasi antara teks yang secara ilmiah begitu orisinal dengan 
>> sejumlah ilustrasi yang indah,...berkualitas tinggi, sebuah mahakarya...yang 
>> dihasilkan oleh pengamatan langsung penulisnya terhadap tradisi dan 
>> lingkungan Jawa", begitu tulis Bastin dan Brommer (1979) dalam bukunya 
>> "Nineteenth Century Prints and Illustrated Books of Indonesia" – sebuah buku 
>> yang membahas buku-buku tentang Indonesia yang terbit pada abad ke-19.
>>
>> Secara garis besar, Raffles membagi bukunya ke dalam 11 Bab, sebagai berikut 
>> :
>>
>> Bab 1 : Kondisi Geografis Pulau Jawa (termasuk di dalamnya keterangan 
>> geologi)
>> Bab 2 : Asal Mula Penduduk Asli-Jawa
>> Bab 3 : Pertanian di Jawa
>> Bab 4 : Manufaktur  (Industri) di Jawa
>> Bab 5 : Perdagangan di Jawa
>> Bab 6 : Karakter Penduduk di Jawa
>> Bab 7 : Adat Istiadat Penduduk di Jawa
>> Bab 8 : Bahasa dan Sastra
>> Bab 9 : Agama
>> Bab 10 : Sejarah dari Awal-Munculnya Islam
>> Bab 11 : Sejarah dari Munculnya Islam-Kedatangan Inggris
>>
>> Lampiran-lampirannya ada 12 (Lampiran A-M), sebagai berikut :
>>
>> Lampiran A : Kemunduran Batavia
>> Lampiran B : Perdagangan dengan Jepang
>> Lampiran C : Terjemahan versi moderen Suria Alem (sebuah karya sastra)
>> Lampiran D : Hukum pada Pengadilan Propinsi di Jawa
>> Lampiran E : Perbandingan kosakata bahasa-bahasa suku di Jawa dan sekitarnya
>> Lampiran F : Cerita Pulau Sulawesi dan perbandingan kosakata bahasa-bahasa 
>> suku
>> Lampiran G : Angka-angka Candra Sengkala
>> Lampiran H : Terjemahan Manik Maya
>> Lampiran I : Terjemahan huruf prasasti Jawa dan Kawi Kuno
>> Lampiran J : Pulau Bali
>> Lampiran K : Instruksi Pajak
>> Lampiran M : Memorandum tentang berat, ukuran, dll.
>>
>> Dapat dilihat bahwa cakupan pembahasan Raffles komprehensif. 
>> Keterangan-keterangan dalam teks-nya dilengkapi dengan catatan-catatan kaki 
>> yang detail. Referensi berhubungan pada zamannya digunakannnya untuk 
>> memperkaya keterangan.
>>
>> Sedikit kutipan yang menyangkut geologi saya tuliskan di sini, yaitu tentang 
>> gununglumpur Bledug Kuwu. Demikian tulis Raffles. "Beberapa objek yang tidak 
>> dikenal, yang hanya dapat dilihat dengan penjelasan tertentu, adalah 
>> ledakan-ledakan lumpur, terletak di antara distrik Grobogan di barat, dan 
>> distrik Blora serta Jipang di timur. Penduduk lokal menyebutnya Bledeg, dan 
>> Dr.Horsfield menyebutnya sumur garam. Sumur garam ini menyebar ke seluruh 
>> distrik dengan aliran seluas beberapa mil, dan dasarnya seperti banyak 
>> ditemukan di beberapa tempat yang ada aliran air tawar, akan menjadi batu 
>> kapur..." (keterangannya masih panjang).
>>
>> Raffles juga membahas tentang rembesan-rembesan gas dan minyak (jauh lebih 
>> awal daripada pemetaan sistematik pertama rembesan minyak dan gas oleh 
>> Belanda pada tahun 1850), tentang mineral dan bahan tambang.
>>
>> Saat Raffles memerintah di Jawa terjadilah letusan gunungapi dengan energi 
>> terbesar di dunia dalam masa sejarah manusia : Tambora 1815 di Sumbawa. Dan, 
>> Raffles sangat detail menggambarkan peristiwa letusannya sampai efek-efek 
>> kerusakannya. Saya belum pernah menemukan keterangan lain sedetail 
>> keterangan Raffles tentang saat-saat letusan dahsyat Tambora tersebut. Orang 
>> harus mengacu kepada buku Raffles untuk mengetahui saat-saat letusan Tambora 
>> 1815.
>>
>> Demikianlah sekilas memperkenalkan The History of Java (Raffles, 1817), 
>> sebuah buku tentang Jawa yang sangat berharga. Walaupun ditulis 191 tahun 
>> yang lalu, selalu ada hal-hal yang berharga yang bisa dipelajari daripadanya 
>> untuk kepentingan masa kini.
>>
>> Saat meninggalkan Jawa dan Sumatra, Raffles menangis meratapi alam dan 
>> penduduk yang dicintainya, yang dihentikannya dari perbudakan, yang 
>> digambarkannya sebagai "orang pribumi yang tenang, sedikit berpetualang, 
>> tidak mudah terpancing melakukan kekerasan atau pertumpahan darah".
>>
>> "I believe there is no one possessed of more information respecting Java 
>> than myself." (Thomas Stamford Raffles, 1817).
>>
>> Mari kita cintai bumi tempat kita berpijak, terlebih lagi karena kita adalah 
>> orang Indonesia.
>>
>> Salam,
>> awang
>>
>>
>>
>
>
>
> --
> http://tempe.wordpress.com/
> Telling the truth is important
> Telling the positive is better !!!
>



-- 
http://tempe.wordpress.com/
Telling the truth is important
Telling the positive is better !!!

--------------------------------------------------------------------------------
PIT IAGI KE-37 (BANDUNG)
* acara utama: 27-28 Agustus 2008
* penerimaan abstrak: kemarin2 s/d 30 April 2008
* pengumuman penerimaan abstrak: 15 Mei 2008
* batas akhir penerimaan makalah lengkap: 15 Juli 2008
* abstrak / makalah dikirimkan ke:
www.grdc.esdm.go.id/aplod
username: iagi2008
password: masukdanaplod

--------------------------------------------------------------------------------
PEMILU KETUA UMUM IAGI 2008-2011:
* pendaftaran calon ketua: 13 Pebruari - 6 Juni 2008
* penghitungan suara: waktu PIT IAGI Ke-37 di Bandung
AYO, CALONKAN DIRI ANDA SEKARANG JUGA!!!

-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke