Pak Zaim, Terima kasih atas infonya. Kalau ada makalah lengkapnya, apakah saya dapat memperoleh copy-nya ? Terima kasih. Palembang memang secara tradisional telah dianggap sebagai pusat Sriwijaya. Coedes telah menyatakan itu dalam karangannya yang terkenal "Le royaume de Crivijaya" tahun 1919. Tetapi, sejarah menunjukkan bahwa banyak sanggahan demi sanggahan telah diajukan atas pendapat Palembang sebagai pusat Sriwijaya. Pertemuan semacam seperti yang Pak Zaim ceritakan juga bukan sekali dua kali diadakan, tetapi telah diadakan beberapa kali secara internasional. Misalnya, Stutterheim (1935) menyebut pusat Sriwijaya di muara Indragiri, bukan di muara Musi. Moens (1937) menyebut pusat Sriwijaya di Muara Takus. Nilakanta dan Quaritch-Wales (1935) menyebut pusat di Ch’aiya di dekat sebuah bukit bernama Sivic’ai. Obdeyn, Sukmono, Sartono dan Verstappen menyebut Jambi sebagai pusat Sriwijaya. Penelitian geomorfologi untuk membantu memecahkan masalah ini juga telah dilakukan sejak tahun 1954 oleh Dinas Purbakala (Sukmono). Penyelidikan di darat dan udara ini bekerja sama dengan JanTop AD (jawatan topografi Angkatan Darat) dengan menugaskan seorang ahli geomorfologi terkenal pada zaman itu : Dr. H. Th.Verstappen. Hasil penelitian geomorfologi ini seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya, yaitu bahwa Jambi lebih mungkin sebagai pusat Sriwijaya dibandingkan Palembang. Pendapat ini selaras dengan perkembangan pantai Sumatra timur antara Jambi dan Palembang seperti tertulis dalam van Bemmelen (1949). Kalau sekarang Pak Zaim dan Pak Aswan menemukan bahwa berdasarkan studi geomorfologi benar adanya bahwa pusat Sriwijaya ada di Palembang dan bukan di Jambi, maka ini menjadi sangat menarik sebab justru berbalik dengan pendapat Sukmono dan Verstappen (1958) juga Sartono yang berdasarkan studi geomorfologi pusat Sriwijaya ada di Jambi dan bukan di Palembang. Meskipun pendapat Sukmono ini pendapat 50 tahun yang lalu, saya pikir sampai sekarang pun masih penting untuk dicermati –terbukti bahwa di mana pusat Sriwijaya masih mampu memicu perdebatan di antara para ahli. Di dalam argumennya, Sukmono mengajukan juga keberatan2 arkeologis mengapa Palembang bukan pusat Sriwijaya, a.l sedikit sekali prasasti Sriwijaya ditemukan di Palembang, kalau pun ada isi prasasti itu adalah kutukan-kutukan (prasasti kutukan tak mungkin berada di pusat kerajaan) Buku sejarah tulisan Prof. Slamet Muljana "Sriwijaya" (1960,cetak ulang 2006) dengan detail membahas silang sengketa pusat Sriwijaya ini berdasarkan geomorfologi, geografi, arkeologi, dan filologi (naskah kuno). Menarik juga menyimak pendapat Bronson dan Wisseman (1978) "Palembang as Srivijaya" –Asian Perspectives 19,p. 220-239. Mereka berpendapat bahwa tak mengherankan pusat Sriwijaya ini membingungkan para ahli sebab sesungguhnya Sriwijaya bukanlah kerajaan yang mementingkan territorial, mereka lebih mementingkan perdagangan, dan pusatnya adalah bersifat habitation atau di mana mereka melakukan perdagangan. Salah satu yang Bronson dan Wisseman ajukan adalah Kota Cina, yaitu kota dagang terbesar di Asia Tenggara pada masa Sriwijaya, yang berlokasi antara Belawan dan Medan. Salam, awang -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, August 19, 2008 3:45 C++ To: [email protected] Cc: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: [iagi-net-l] Di Mana Pusat Sriwijaya : Argumen Geomorfologi Pak Awang dan Rekans. Tanggal 16 - 19 Juli lalu saya berkesempatan mengikuti dan mempresentasikan makalah (berdua dengan Dr. Aswan)dalam Seminar Internasional berjudul Peradaban Sriwijaya: Kebangkitan Sebuah Kerajaan Maritim, yang diselenggarakan di Palembang.Hadir dalam seminar tersebut para pakar sejarah dan arkeologi dari berbagai bidang disiplin dari Amerika,Thailand, Belanda, Malaysia, Singapura, Australia,Cina,Scotlandia, Inggris dan tentunya Indonesia, sedangkan dari ilmu kebumian saya dan Dr. Aswan dari ITB serta Ir. M. Fadhlan dari Puslit Arkenas-Jakarta. Dari paparan para pakar sejarah dan arkeologi, semua "masih"sependapat bahwa pusat Kerajaan Srivijaya adalah di Palembang. Paper kami berangkat dari data geologi (Kuarter) yang kami kumpulkan dari lapangan pada tahun 1982 dan 1998,telah membuktikan dan mematahkan pendapat Obdeyn (1940an - 1944) yang kemudian dianut oleh Soekmono (1954 dan 1978) dan Sartono (1978 dan 1982) serta Tjia dkk.(1968)yang menyatakan bahwa pertambahan/perkembangan garis pantai di pantai timur Sumatera rata2 pertahunnya berkisar 75 - 100 m/tahun,terutama disungai2 besar seperti Sungai Musi di Palembang dan Sungai Batanghari di Jambi.Namun dari studi kami di lapangan, ternyata tidak mendapatkan adanya bukti2 dari Obdeyn tersebut, dan hasil penelitian kami disupport oleh Mc Kinnon dari Scotlandia. Menarik sekali seminar Srivijaya Juli 2008 yang lalu, karena geologi dapat berkontribusi memberikan data dan pemikiran untuk bidang2 non geologis. Salam, Yahdi Zaim KK Geologi, Prodi Teknik Geologi - FITB --- On Wed, 8/13/08, Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Di Mana Pusat Sriwijaya : Argumen Geomorfologi To: "IAGI" <[email protected]>, "Geo Unpad" <[EMAIL PROTECTED]>, "Forum HAGI" <[EMAIL PROTECTED]>, "Eksplorasi BPMIGAS" <[EMAIL PROTECTED]> Date: Wednesday, August 13, 2008, 7:46 AM Kerajaan Sriwijaya (683-1377 M) adalah kerajaan maritim tertua di Indonesia dan merupakan kerajaan pertama di Nusantara yang menguasai banyak wilayah : seluruh Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku dan Mindanao. Karena wilayah kekuasaannya itu, Sriwijaya di dalam literatur sejarah suka disebut sebagai Negara Nusantara I. Dalam hal keberadaannya, Sriwijaya punya periode kekuasaan tiga kali lebih panjang daripada Majapahit, meskipun Majapahit juga yang menaklukkan Sriwijaya. Para ahli sejarah, arkeologi dan ilmu-ilmu yang terkait (termasuk geologi), pernah bersilang pendapat soal pusat kerajaan besar ini. Literatur-literatur sejarah pernah menyebut pusat-pusat kerajaan ini di : Palembang, Jambi, Malaya, Thailand, bahkan Jawa. Adalah I-Tsing (Yi-Jing), musafir Cina yang belajar agama Budha di Sriwijaya yang menyebutkan bahwa pusat/kota Sriwijaya terletak di daerah khatulistiwa. I-tsing mendeskripsikan tempat itu sebagai : “apabila orang berdiri tepat pada tengah hari, maka tidak akan kelihatan bayangannya”. Coedes, ilmuwan Prancis sejak awal abad ke-20 mengajukan argumen bahwa pusat Sriwijaya terletak di sekitar kota Palembang sekarang (dalam Robequain, 1964, “Malaya, Indonesia, Borneo, and the Philippines”, Longman) Sukmono, arkeolog Indonesia pada suatu Kongres Ilmiah Pasifik tahun 1957 (dipublikasi dalam “Geomorphology and the location of Criwijaya”, Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia, April 1963) menantang argumen/hipotesis Coedes dan menyatakan bahwa pusat Sriwijaya di Jambi. Ini didasarkannya kepada analisis geomorfologi yang didukung foto udara. Sukmono diinspirasi oleh ahli geomorfologi Belanda Obdeyn yang pada tahun 1941-1944 mempublikasi seri paper tentang perkembangan geomorfologi Sumatra Selatan (dalam Tijdschrift. Kon. Ned. Aardr. Gen no 59-61 – hasil penelitian ini digunakan juga oleh Bemmelen (1949) dalam adikaryanya “The Geology of Indonesia”. Tahun 1954, Sukmono dibantu Angkatan Udara RI merekonstruksi pantai timur Sumatra di sekitar Palembang dan Jambi melalui telaah fotogrametri. Sukmono menemukan kesimpulan menarik : semua situs peninggalan Sriwijaya baik yang di sekitar Palembang maupun Jambi berlokasi bukan di tanah aluvial, tetapi di tanah perbukitan berbatuan sedimen Neogen. Penelitian ini pun menemukan bahwa Jambi dulunya berlokasi di suatu teluk pada muara Sungai Batanghari. Teluk tersebut menjorok masuk ke daratan sampai wilayah Muaratembesi sekarang. Sementara itu, Palembang justru terletak di sebuah ujung jazirah yang memanjang ke laut berpangkal dari Sekayu sekarang. Baik Jambi maupun Palembang saat ini berjarak 75 km dari laut di sebelah timurnya. Sukmono berkesimpulan, sebagai kerajaan maritim yang besar, Sriwijaya sebgai bandar besar lebih mungkin terletak di tepi sebuah teluk yang besar daripada di ujung jazirah yang sempit. Sukmono juga mengajukan argumen-argumen arkeologi di samping argumen geomorfologi. Pendapat Sukmono mendapat dukungan dari Sartono, geolog dan arkeolog ITB, juga Slametmuljana, ahli sejarah (dalam Slametmuljana, 1981 “Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi”, Yayasan Idayu). Sartono berpendapat bahwa teluk di sekitar Jambi saat zaman Sriwijaya begitu besarnya sehingga orang mengira bahwa itu merupakan perbatasan antara Swarnadwipa (Jambi ke utara) dan Jawadwipa (Palembang, Lampung dan Jawa). Selat Sunda belum diketahui adanya atau mungkin belum seluas sekarang, hanya teluk besar saja bukan selat (lihat tulisan saya terdahulu soal “para pendahulu Tarumanegara” di milis ini). Harrison (1954) “Zuid-Oost Azie : en beknopte geschiedenis” berpendapat bahwa Selat Sunda terbentuk akibat tenggelamnya wilayah ini akibat volkanisme dan gempa-gempa Krakatau sepanjang masa. Masih menurut Sartono, di sekitar Jambi pada zaman Sriwijaya terdapat sebuah teluk purba yang dibatasi oleh Pegunungan Tigapuluh. Ini memanjang ke arah tenggara dan menjadi perbukitan Bukit Bakar dan Bukit Tutuhan serta Teluk Sirih. Ke arah barat, teluk tersebut berhenti di Pegunungan Barisan dan bercabang menjadi dua teluk kecil yaitu Teluk Tebo dan Teluk Tembesi. Di antaranya, terjepitlah Bukit Duabelas. Di Teluk Tebo bermuara Batang Tembesi dan anak-anak sungainya. Adapun kota Palembang menempati suatu ujung jazirah sempit yang berupa bukit setinggi 26 meter di atas permukaan laut. Inilah yang dinamakan Bukit Seguntang (”guntang” dalam bahasa Melayu Kuno berarti terapung). Memang, ujung jazirah ini seolah-olah terapung diapit dua teluk sempit. Maka berdasarkan analisis paleogeografi (paleogeomorfologi), Sukmono dan Sartono berpendapat bahwa kota Sriwijaya yang besar tak mungkin berlokasi di suatu wilayah tanah genting berupa ujung jazirah sempit seperti Palembang, tetapi di kota Jambi yang terletak di tepi teluk yang besar (bandingkan dengan kota Jakarta yang berlokasi di tepi Teluk Jakarta). Namun, pendapat Sukmono dan Sartono bukan merupakan pendapat final sekalipun cukup meyakinkan. Tahun 1982 diadakan kongres internasional khusus mendiskusikan lokasi pusat Sriwijaya (Daldjoeni, 1992 ”Geografi Kesejarahan, Alumni). Kongres dihadiri para ahli dari Indonesia, Prancis, Belanda dan Thailand. Para ahli bersepakat bahwa pusat Kerajaan Sriwijaya pada masa awal berlokasi di Palembang kemudian pindah ke Jambi. Kapan masa awal itu ? Antara abad ke-7 sampai abad ke-9, kata Casparis ahli dari Prancis. Casparis pun berpendapat mungkin saja kedua kota itu bersama-sama jadi ibukota Sriwijaya. Palembang wajar jadi ibukota kerajaan, di samping diapit dua teluk, terdapat Pulau Bangka di depannya yang merupakan jalur memutar dari Malaka menuju Cina (dulu belum ada jalan laut di antara pulau-pulau Kepulauan Riau). Ini posisi strategis sebagai bandar. Manguin, arkeolog Prancis mendukung pendapat itu sebab banyak prasasti menyebut Palembang, juga ada catatan-catatan dari para pelaut Portugis. Namun reruntuhan pusat kerajaan belum ditemukan di Palembang. Mengapa Sriwijaya mundur ? Robequain (1964) berpendapat bahwa kemunduran terjadi akibat pendangkalan pantai-pantai timur Sumatra dan sedimentasi muara-muara sungainya. van Bemmelen (1949) menulis bahwa garis pantai di muara Batanghari telah maju setahun rata-rata 75 meter, sedangkan garis pantai di muara Musi telah maju setahun rata-rata 125 meter. Sedimentasi Musi lebih tinggi dibandingkan Batanghari, mungkin itu pula yang membuat Sriwijaya memindahkan ibukotanya ke Jambi. Tahun 1377, Raja Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan pasukannya ke Sumatra dan tunduklah beberapa kerajaan di Sumatra termasuk Sriwijaya. Itu adalah babak terakhir Sriwijaya, sebenarnya Sriwijaya telah lemah sejak abad ke-10 saat Dharmawangsa menyerangnya pada tahun 990 M. Perdagangan laut yang mundur seiring lajunya sedimentasi Batanghari dan Musi menjadi pencetus melemahnya Sriwijaya. Sebuah bukti lagi bahwa alam memainkan peranannya dalam bangun dan jatuhnya kerajaan-kerajaan di Nusantara. Sesungguhnya sampai sekarang pun kita terus-menerus dipengaruhi alam. Bagaimana menjinakkan semburan LUSI ? Bagaimana mengantisipasi penenggelaman pantai utara Jakarta oleh land subsidence dan transgresi ? Bagaimana hidup berdampingan secara aman di negeri dengan ratusan gunungapi ? Berapa banyak nyawa dan korban harta benda telah direnggut gempa dan tsunami ? Alam punya siklus dan tanda-tanda tertentu yang bisa manusia pelajari. Semoga bijak kita sikapi. Masa lalu tetap berguna untuk masa kini. Salam, awang

