Pak Agung,
 
Berlimpahnya unsur iridium, suatu unsur anggota keluarga platina dengan nomor 
atom 77, di lapisan berumur 65 Ma dipakai para pendukung benturan meteorit 
sebagai pemunah dinosaurus pada 65 Ma. Iridium memang banyak ditemukan di 
meteorit, tetapi iridium tak selalu berasal dari angkasa luar sebab di kerak 
Bumi pun ditemukan iridium meskipun dalam jumlah sangat kecil. Tetapi bisa jadi 
bahwa yang ada di kerak Bumi pun dulunya dari angkasa luar juga. Karena 
meteorit punya komposisi yang mirip inti Bumi, maka diperkirakan bahwa inti 
Bumi kaya iridium. Lapisan iridium 65 Ma itu didebat ahli lain bukan dari 
benturan meteorit, tetapi dari letusan volkanik. Sebenarnya, berasal dari 
dua-duanya sebab mengikuti teori antipodal, pada 65 Ma itu terjadi baik 
benturan meteorit/komet, maupun volkanisme yang masif.
 
Sebenarnya tak ada ruang kosong di permukaan globe sebab litosfer sekeliling 
globe itu disusun baik oleh lempeng benua maupun lempeng samudera. Berdasarkan 
seismic tomography terbaru,yaitu metode seismik yang memanfaatkan kecepatan 
gelombang material mantel, terlihat bahwa kerak-kerak samudera itu sesudah 
ditekuk dalam suatu penunjaman terkubur di kedalaman sekitar 600-700 km untuk 
sekitar puluhan-ratusan juta tahun sebelum kemudian jatuh ke kedalaman sekitar 
2000 km untuk kemudian tersirkulasi lagi sebagai plume materials. Lempeng2 ini 
harus mengikuti siklus Wilson, jadi ia tak kemana-mana, tetap di Bumi.
 
Akan halnya asal Bulan, teori fision, yang dikemukakan George Darwin (anak 
Charles Darwin) bahwa Bulan berasal dari material Bumi yang terlempar akibat 
Bumi berputar begitu cepat pada masa awalnya dan meninggalkan luka sebagai 
Samudra Pasifik; telah lama ditinggalkan orang sebab tak bisa menerangkan 
beberapa hal seperti komposisi Bulan dan orbit Bulan yang tak berposisi di 
bidang ekliptika Bumi serta momentum sudutnya (angular momentum) tak memenuhi 
perhitungan andai ia merupakan material lemparan saat Bumi berputar dengan 
sangat cepat. 
 
Teori sekarang tentang asal Bulan adalah giant-impact hypothesis. Sebuah benda 
langit sebesar Mars bernama Theia diyakini telah membentur proto-Bumi, 
melemparkan sebagian material Bumi ke sekeliling Bumi dan membentuk Bulan 
melalui akresi. Simulasi komputer menunjukkan bahwa momentum sudut sistem 
Bumi-Bulan melalui giant-impact hypothesis ini sesuai yang diperhitungkan.
 
salam,
awang


--- On Sun, 8/31/08, Agung Mulyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Agung Mulyo <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [Geo_unpad] NEO - NEMESIS - ANTIPODAL - MASS EXTINCTION
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Sunday, August 31, 2008, 5:36 PM











Betul pak Awang, peristiwa astronomis apapun kalau itu melibatkan Bumi (maksd 
saya menubruk Bumi), maka akan menjadi peristiwa geologi. Gaya geologi kan ada 
dua yaitu endogen dan eksogen. Jadi peristiwa impact adalah bagian dari eksogen.
 
Adanya katastrophisma dengan perioda tertentu dan melimpahnya iridium, bukankah 
itu menandakan bahwa peristiwa-peristiwa geologi dahsyat selalu dipicu dari 
luar ?Bergeraknya lempeng-lempeng adalah disebabkan adanya ruang kosong di 
permukaan Bumi yang tidak terisi oleh lempeng (litosfera). Kemanakah gerangan 
lempeng yang hilang tersebut, ambles ke astenosfera akibat "remek" dihantam 
NEO, atau "mencelat" ke luar menjadi Bulan dan benda lainnya akibat tertarik 
mahabintang yang mendekat Bumi ? Andaikan ini benar, maka keonaran memang 
selalu dipicu dari luar !

--- On Sun, 8/31/08, Awang Satyana <awangsatyana@ yahoo.com> wrote:

From: Awang Satyana <awangsatyana@ yahoo.com>
Subject: Re: [Geo_unpad] NEO - NEMESIS - ANTIPODAL - MASS EXTINCTION
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Cc: "IAGI" <[EMAIL PROTECTED] or.id>, "Forum HAGI" <[EMAIL PROTECTED] id>, 
"Eksplorasi BPMIGAS" <eksplorasi_bpmigas@ yahoogroups. com>
Date: Sunday, August 31, 2008, 4:12 PM









Tabrakan di Alam Semesta : Lumrah 
  
Setiap tema katastrofisme selalu menarik, apalagi yang melibatkan penyebab yang 
extra-terrestrial (di luar Bumi) seperti benturan Bumi dengan komet/meteorit/ 
asteroid/ atau near-earth object (NEO) lainnya seperti tulis Pak Agung. 
  
Karena Bumi tidak melayang sendirian di ruang hampa, tetapi bersama benda-benda 
pengisi Jagat Raya lainnya yang tak terhitung banyaknya dan begitu rumitnya, 
maka wajar saja kalau benda-benda Jagat Raya ini bertabrakan. Bahkan, 
benda-benda tersebut sesungguhnya kebanyakan terbentuk oleh tabrakan-tabrakan 
massa yang lebih kecil lalu berakresi membentuk benda  yang lebih besar. 
  
Tetangga langit kita terdekat, Bulan atau Mars, yang permukaannya sudah 
terpetakan dengan baik, punya banyak kawah di permukaannya yang diakibatkan 
oleh tabrakan dengan komet/meteorit/ asteroid. Apakah Bumi akan terbebas dari 
tabrakan itu ? Tidak. Sejarah menunjukkan  tidak. Memang semua kejadian 
benturan itu terjadi sebelum manusia menghuni Bumi. Kita tahu bahwa itu pernah 
terjadi berdasarkan catatan-catatan sejarah Bumi yang terekam dalam batuan. 
Maka sekalipun kejadian tabrakan adalah peristiwa astronomi, buktinya tersimpan 
secara geologi. 
  
Apakah pada zaman manusia menghuni Bumi, yaitu sekarang, Bumi bisa dibentur 
lagi oleh benda langit ? Tentu bisa, mengapa tidak ? Seperti ditulis Pak Agung, 
tahun 1994 kita menyaksikan saat-saat Yupiter dibentur komet Shoemaker-Levy 
bukan ? Hal yang sama bisa terjadi dengan Bumi andai Dia, Sang Maha Pencipta, 
mengizinkannya. Seluruh Alam Semesta ke segala sudutnya penuh dengan 
uniformisme – apa yang terjadi sekarang pernah terjadi juga dulu dan akan 
terjadi juga nanti. Kejadian benturannya memang katastrofik, tetapi 
kecenderungannya uniformik. 
  
Teori Nemesis 
  
Sekarang kita buka “Nemesis” yang dijadikan pertanyaan buat kita oleh Pak 
Agung. 
  
Nemesis adalah Dewi Keadilan dan Pembalas Dendam dalam mitologi Yunani, anak 
Erebus dan Nyx, atau versi lainnya menyebutkanya sebagai anak Oceanus atau 
Zeus. Nemesis mengejar orang-orang yang mencederai hak orang lain dan 
orang-orang yang penuh kesombongan. Di kedua tangannya dipegang cambuk, kekang, 
dan pedang, juga penimbang penentu baik atau buruk. Dalam mitologi, Nemesis 
dijuluki,”She whom none can escape” Nah, semua yang berbuat kejahatan akan 
dikejarnya dan tak seorang pun akan lepas daripadanya! Begitulah kata dongeng 
para dewa-dewi Yunani. 
  
Lalu apa hubungan Nemesis dengan kepunahan masal ? Nama “Nemesis” dipakai oleh 
para ahli astronomi untuk menamai bintang (tak terlihat) saudara kembar 
Matahari. Nemesis ini mengorbit Matahari pada jarak 3 tahun cahaya dan 
menyelesaikan satu putarannya dalam waktu 26 juta tahun. Memang beberapa ahli 
astronomi percaya bahwa Matahri kita merupakan bintang sistem biner, punya 
saudara kembar. Itu didasarkan pada gangguan gravitasi yang dialami Matahari. 
  
Orbit Nemesis secara periodik melalui Awan Oort, suatu wilayah di dekat Tata 
Surya yang diyakini para ahli sebagai rumah para komet. Ketika melintasi rumah 
para komet ini, gravitasi Nemesis menarik para komet, sehingga terjadilah 
serbuan komet ke planet-planet sebelah dalam di Tata Surya. Ini terjadi secara 
periodik dan periode itu katanya tepat sama dengan periode kepunahan masal di 
Bumi yaitu setiap 26-30 juta tahun. 
  
Periode kepunahan setiap 26 juta tahun diajukan oleh Raup dan Sepkoski (1984 : 
"Periodicity of Extinctions in the Geologic Past", Proceedings of the National 
Academy of Sciences 81 (3): 801–805.)  berdasarkan analisis statistik pada 
rekaman fosil vertebrata, avertebrata marin dan protozoa periode 250 juta tahun 
terakhir. Kedua paleontologist ini menyimpulkan bahwa penyebab kepunahan 
periodic ini adalah penyebab extra-terrestrial. Makalah Raup dan Sepkoski 
(1984) ini segera disambut oleh para astronomi, dan keluarlah Teori Nemesis 
seperti di atas  (misalnya publikasi Davis et al. (1984 : "Extinction of 
species by periodic comet showers". Nature 308 (5961): 715–717). Publikasi 
terbaru tentang Teori Nemesis antara lain dari Muller (2002 : “Measurement of 
the lunar impact record for the past 3.5 billion years, and implications for 
the Nemesis theory, Geological Society of America Special Paper 356, pp 
659-665). 
  
Apakah bintang gelap atau bintang mati Nemesis itu benar ada ? Beberapa 
spekulasi pernah diajukan. Ia merupakan bintang katai merah (red dwarf) dengan 
magnitude antara 7-12 (magnitude = ukuran terang bintang), ada pula yang 
menganggapnya sebagai bintang katai coklat (brown dwarf). Di mana posisi 
Nemesis saat ini ? Muller (2002) menafsirkan posisinya saat ini ada di rasi 
Hydra pada jarak 1-1,5 juta tahun cahaya. Itu dihitungnya berdasakan kepunahan 
masal terakhir pada sekitar 5 juta tahun yang lalu (awal Pliosen), lokasi Awan 
Oort, dan posisi apogees (jarak terjauh) Nemesis. 
  
Bila Nemesis memang ada, ia akan terdeteksi dengan mudah oleh rencana 
penelitian astronomi tentang ini dalam WISE mission yang wahana angkasa luarnya 
akan bertolak dari Bumi pada November 2009. Penelitian ini akan membuktikan 
apakah Teori Nemesis terhadap kepunahan masal benar terjadi atau sekedar 
khayalan para astronom. Penelitian ini didorong oleh penemuan BRI (binary 
research institute) yang mengatakan bahwa di dalam Galaksi Bima Sakti banyak 
ditemukan sistem bintang ganda. Untuk Matahari kita, misalnya baru ditemukan 
pada tahun 2006 suatu gerak orbit planetoid Sedna dan Xena (sedikit lebih besar 
dari Pluto) yang aneh dan sangat elips, mengindikasi bahwa Matahari bukan 
satu-satunya pusat gravitasi Tata Surya. 
  
Benturan NEO,Antipodal Deccan Trap, Kepunahan Masal K-T Boundary 
  
Peristiwa katastrofik terjadi di ujung Kapur dan awal Tersier (65 Ma) atau K-T 
(K=Kreide/Cretaceou s & T=Tersier) Boundary yang sering dihubungkan ke 
kepunahan para dinoaurus.  Fakta paleontologi menunjukkan 75 % spesies 
fauna‚“tiba-tiba“ punah. 
  
Kepunahan fauna secara masal (75 %) di Bumi di perbatasan Kapur-Tersier telah 
menjadi topik menarik sejak puluhan tahun. Banyak teori dikemukakan. Kalau 
dikumpul2kan, bisa digolongkan jadi tiga : (1) katastrofik karena benturan 
komet/meteor, (2) katastrofik karena volkanisme, dan (3) gradualis karena 
perubahan iklim akibat massa lautan yang menyurut. 
  
Penelitian oil companies di sekitar GOM (Gulf of Mexico) tahun 1980an, telah 
menemukan sebuah kawah sangat besar dengan diameter 180 km di utara Tanjung 
Yucatan, Mexico terkubur dalam sedimen setebal 2000 meter. Disebutlah kawah itu 
Chicxulub. Data image gravity dan magnetik dari Luhr et al. (2003) –“ The Earth 
“ –Dorling Kindersley,   sangat spektakular, menunjukkan keberadaan kawah itu. 
Di sekelilingnya sampai ke Kuba , Haiti , San Luis, dan Dallas sekarang 
ditemukan impact wave deposits berupa boulder2 dan data petrografik menunjukkan 
ciri khas shocked quartz (coesite Shoemaker) pada deposit itu, suatu indikasi 
meteorite impact. Bahkan di Haiti ditemukan lapisan tektit – deposit hasil 
meteorite impact setebal ½ meter. Semua dating absolut menunjukkan umur 65 Ma 
untuk deposit2 ini. Dan, di banyak tempat di dunia ditemukanlah lapisan tipis 
kaya mineral iridium menyisip di antara lapisan2 K-T Boundary, juga lapisan 
hitam yang mengindikasi
 sisa jelaga kebakaran skala global. 
  
Tidak banyak sumber platina  iridium di Bumi, sumbernya hanya banyak di 
extraterrestrial dan meteorit. Bagaimana mengartikan semua ini ? Sebuah 
meteorit yang diyakini berdiameter 10 km telah menghantam Bumi pada 65 Ma di 
sekitar Teluk Meksiko sekarang, mengangakan kawah selebar 180 km, menyebabkan 
kebakaran global, dan akhirnya memunahkan 75 % spesies fauna saat itu yang 
sedang didominasi kaum dinosaurus. 
  
Apakah NEO hanya membentur di satu sisi Bumi dan tak menyebabkan apa-apa di 
sisi lainnya ? Salah. Semua bagian Bumi menderita karena benturan itu, terutama 
sisi yang terletak tepat di seberangnya. Inilah sisi antopodal. Tidak banyak 
buku geologi, astronomi, natural history membahas masalah antipode secara 
detail. Padahal, di solar system  antipode, yang memenuhi hukum aksi-reaksi 
Newton, benar2  terjadi di beberapa planet dan satelit. Misalnya, largest 
impact basin planet Mars Hellas Plenitia menyebabkan antipode Alba 
Patera-gunungapi Mars yang sekaligus merupakan gunungapi terbesar di Tata 
Surya. Atau, Caloris Basin, impact crater terbesar di sebuah sisi planet 
Merkurius menyebabkan antipodal crater di sisi planet yang lain. Meskipun 
demikian, keberadaan antipodeg masih pro dan kontra. 
  
Komet/meteorit yang jatuh di proto-Teluk Meksiko telah menggoncangkan Bumi 
dengan gelombang kejut ke seluruh globe (shock-wave) . Gelombang kejut ini 
telah mengganggu kesetimbangan fluida di mantel bahkan outer core Bumi. Maka 
mantle plume bergerak berupa pasangan head dan tail plume menjurus ke posisi 
antipodal impact crater Chicxulub saat itu yaitu ke wilayah Lautan Hindia di 
antara Afrika dan Indonesia. Head plume menyebabkan volkanisme flood basalt 
dengan akar panjang ke dalam mantel di ujung tailnya. Erupsi basalt 
besar-besaran membanjiri kawasan seluas 500.000 km2 yang sekarang berupa Deccan 
Plateau di India, saat itu India adalah microplate tengah terapung di atas 
kerak samudra Lautan Hindia bergerak ke utara. Radiometric dating memberikan 
umur persis 65 Ma. Massa flood basalt sebanyak itu dalam waktu sesingkat itu 
hanya bisa diterangkan dengan impact-antipodal plume tectonics, bukan oleh 
normal volcanology. Meteorit impact dan volkanisme skala
 global pada 65 Ma itu telah cukup mengubah lingkungan yang hostile untuk semua 
makhluk hidup. 
  
Meteorite/comet collision di Chicxulub-Teluk Meksiko telah menyebabkan 
erupsi volkanik skala besar di Deccan-India dalam mekanisme antipodal effect. 
Dan 
kedua efek katastrofik ini telah mengubah lingkungan global yang menyebabkan 
kepunahan masal di K-T boundary. K-T Boundary Mass Extinction adalah kerja sama 
antara extra-terrestrial astroblem di Chicxulub dan terrestrial volcanism di 
Deccan Traps. 
  
Benturan NEO, Antipodal Siberian Trap, Kepunahan Masal P-T Boundary  Sekelompok 
ilmuwan pada Juni 2006 mengumumkan penemuan sebuah kawah meteorit selebar 
hampir 500 km di Antarktika sebelah timur. Mereka memperkirakan ukuran meteorit 
ini 4-5 kali lebih besar
 daripada meteorit pemusnah dinosaurus di K-T boundary. Berdasarkan dating, 
meteorit ini membentur Bumi pada batas Paleozoikum- Mesozoikum, 
Permian-Triassic (P-T Boundary). Ini adalah periode kepunahan masal paling 
besar dalam sejarah Bumi, memunahkan 96 % oganisme saat itu. Meteorit ini juga 
kemudian diduga telah mempengaruhi pemisahan Australia dari Gondwana pada  
Yura-Kapur.
  
Meteorit Permian-Triassic sebesar itu, ketika menghantam Bumi tentu telah 
mengganggu seluruh bagian dalam Bumi termasuk mantel dan intinya. Gelombang 
kejut karena benturannya ini akan dipropagasi ke seluruh Globe, mengganggu 
mantle material di seluruh mantle dan outer core, kemudian propagasi berakhir 
di suatu titik yang posisinya persis di seberang titik benturan meteorit 
(seperti di atas, ini adalah posisi antipodal). Propagasi gelombang kejut 
benturan meteorit ini telah mengganggu mantle material, ia akan menggerakkan 
upwelling mantle plume. Dan, ke titik antipode-lah mantle plume akan mengarah. 
Akibatnya, di titik mantle plume akan terjadi volkanisme basa besar-besaran - 
inilah yang selama ini kita sebut sebagai Flood Basalt. 
  
Apakah ada flood basalt Permian-Triassic di posisi antipodal benturan komet 
Antarktika timur itu ? Ada . Buku sejarah geologi Dott and Batten (1971, 1976) 
: Evolution of the Earth (McGraw-Hill) menceritakan bahwa di periode 
Permian-Triassic di Siberia Utara (masuk ke Arctic circle ) ditemukan plato 
lava basal yang sangat ekstensif. Aliran lava ini melalui retakan2 ekstensif. 
Sulit dimengerti saat itu, mengapa di lingkungan kontinen seperti 
Siberia-Arktika ditemukan plato basalt dalam skala yang sangat luas. Tetapi 
sudah diduga bahwa material magma basa ini langsung dibawa dari lower crust 
atau mantle melalui retakan2 di upper crust. Plato ini masih ditemukan sampai 
ke Norwegia. 
   
Buku yang lebih baru (Dixon et al. 2001, eds.) " Atlas of Life on Earth" 
-Barnes and Noble) menyebut plato basalt di Siberia Utara ini sebagai Siberian 
Traps, sebuah plato basalt yang terjadi di utara Pegunungan Ural. Pegunungan 
Ural adalah suture antara dua mikro-kontinen : Laurasia dan Angaraland. Saat 
ini, Siberian Traps bisa dilihat di sebelah barat Kazakhstan. 
   
Plato basalt selebar itu kalau dibandingkan dengan volkanisme normal, berarti 
100 kalinya, tetapi terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Apalagi 
penyebabnya kalau bukan suatu yang katastrofik ? Volkanisme seiintensif itu 
tentu bertanggung jawab bagi perubahan iklim, pelepasan CO2 besar2an ke 
atmosfer, greenhouse effect, dan kepunahan masa di ujung Paleozoic. 
   
Identifikasi Impact Crater : Large Igneous Provinces (LIPs) 
  
Karena setiap benturan komet/asteroid/ NEO yang besar selalu menyebabkan 
volkanisme flood basalt/magmatisme lainnya yang besar (LIPs) di sisi antipodal 
impact crater (kawah benturan), maka bisakah kita memprediksi lokasi impact 
crater dengan mengetahui lokasi LIPs-nya (aturan terbalik dari mengidentifikasi 
LIPs berdasarkan identified impact crater). Jawabannya : bisa saja. 
  
LIPs (Large Igneous Provinces) adalah wilayah-wilayah di kerak Bumi yang 
memiliki sebaran batuan beku di luar kewajaran, begitu luasnya. LIPs yang 
terkenal adalah Siberian Traps di wilayah Siberia, Ontong Java Plateau di 
Samudra Pasifik utara Papua New Guinea, dan Deccan Trap di India. 
  
Para ahli batuan beku dan tektonik mempermasalahkan asal kejadian LIPs ini, 
termasuk membahasnya sebagai antipode (titik seberang) dari suatu titik 
benturan meteorit/komet besar di kerak Bumi dari seberang yang lain. Saat 
meteorit/komet besar menghantam di satu titik di permukaan Bumi, goncangannya 
akan menggetarkan seluruh mantel dan inti Bumi, gelombang kejutnya diteruskan 
ke seberang bola Bumi yang lain, termasuk membawa material mantel melalui 
mekanisme plume tectonics sehingga terekstrusi ke permukaan di titik 
seberangnya. 
  
Mekanisme detail di lokasi antipodal bisa terjadi dengan cara delaminasi 
(Anderson, 2005 : "Elements" vol. 1 p. 271-275). Ketika kerak benua terlalu 
tebal, bagian bawah kerak ini yang disusun oleh eklogit akan terlepas 
(delaminasi) , menyebabkan uplift, asthenospheric upwelling, dan 
pressure-release melting. Proses delaminasi ini akan menyebabkan segmen kerak 
bagian bawah yang punya titik lebur rendah terintroduksi ke mantel; kemudian 
segmen ini terpanaskan, naik, dekompres, dan lebur. Eklogit hasil delaminasi 
akan lebih panas dan kurang padat dibandingkan dengan kerak samudra yang 
tertunjam di zone subduksi. 
  
Beberapa wilayah LIPs juga mungkin diakibatkan passive upwelling astenosfer 
yang tidak homogen ketika fragmen-fragmen benua saling memisah (McHone, 2000 : 
Non-plumemagmatism and rifting during the opening of the central atlantic Ocean 
- Tectonophysics, 316, p. 287-296). Beberapa LIPs yang lain mungkin akibat 
suture zone yang tereaktivasi atau zone2 lemah kerak Bumi, yang berasosiasi 
dengan peleburan mantel di bawahnya (Foulger et al., 2005 : A source for 
Icelandic magmas in remelted Iapetus crust -Journal of Volcanological and 
Geothermal research, v. 141, p. 23-44). Perlu diperhatikan bahwa hal-hal di 
atas adalah mekanisme detailnya, tetapi pencetus globalnya bisa impact crater 
di sisi antipodal. 
  
Demikian, kepunahan masal akibat NEO impact dapat menyebabkan efek berantai di 
Bumi. Impact-àAntipodal Upwelling Plume -à Flood Volcanism -à Extinction. 
Impact-nya sendiri juga telah menyebabkan kepunahan. Memahami Bumi harus secara 
integral, baik sebagai benda langit maupun sebagai planet itu sendiri dan 
makhluk hidup di biosfernya. 
  
salam, 
awang

--- On Sat, 8/30/08, Agung Mulyo <mas_gagoeng@ yahoo.com> wrote:

From: Agung Mulyo <mas_gagoeng@ yahoo.com>
Subject: [Geo_unpad] NEO
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Saturday, August 30, 2008, 3:10 PM










NEO 
Pada bulan Juli 1994 komet Shoemaker-Levy 9 menabrak Yupiter yang mengakibatkan 
terbentuknya kawah-kawah raksasa. Para pakar lantas membuat simulasi komputer 
untuk mengetahui apa yang bakal terjadi andai saja yang tertubruk komet 
tersebut adalah Bumi. Hasilnya terbentuk sebuah kawah seukuran Benua Amerika 
dengan disertai kerusakan total pada mahluk hidup di Bumi (hanya yang sedang 
piknik ke angkasa luar saja yang selamat). 
Semua benda alam di luar angkasa dengan berbagai ukuran yang datang mendekat, 
lewat di orbit Bumi, atau bahkan menghantam Bumi oleh para pakar Astronomi 
diwacanakan sebagai NEO (Near Earth Object). Asteroid, komet dan meteor adalah 
beberapa diantaranya, selain masih lebih banyak lagi yang lainnya yang masuk ke 
orbit Bumi dengan perioda ulang jutaan tahun. 
Sejak doeloe kala dan terus sampai masa mendatang Bumi sudah biasa dan akan 
terus terbiasa terbentur-bentur dalam sistem pergerakan alam semesta. Di Bumi 
kita banyak menjumpai kawah-kawah raksasa dan berbagai lekukan seperti teluk 
dan dasar lautan yang amat dalam. Konon katanya semuanya itu (sebagian besar) 
adalah menggambarkan adanya benturan yang kuat pada masa yang lampau. Bahkan 
bentuk-bentuk muka Bumi seperti itu sebenarnya sudah banyak yang musnah karena 
tidak dapat bertahan lama akibat digerogoti cuaca dan proses denudasi. 
     Kawah Manicougan di Quibec, Kanada yang berdiameter 100 km adalah salah 
satu contoh jejak adanya tumbukan NEO yang konon terjadi pada 214 juta tahun 
yang lalu. Contoh yang lainnya Teluk Chesapeake di Washington yang terbentuk 
akibat dihantam meteor segede 18 km. pada 35 juta tahun yang lampau. Sekitar 70 
juta tahun yang lampau NEO sebesar 10 km yang menghantam Bumi menyebabkan 
terbentuknya kawah berdiameter 22 km di Australia Tengah. Peristiwa ini sering 
dihubungkan dengan punahnya dinosaurus pada 65 juta tahun lalu. 
     Ada kalanya NEO tidak sampai menumbuk Bumi tapi sudah kebelet meledak di 
atmosfer seperti yang pernah terjadi 30 Juni 1908 di Tunguska, Siberia. 
Ledakannya mengakibatkan seluruh Eropah saat itu terang-benderang dan terjadi 
debu berbentuk cendawan yang membumbung ke angkasa hingga 85 km. serta 
terbakarnya hutan seluas 2.000 km persegi. 
  
Masih banyak lagi jejak ulah NEO di Bumi. Lalu … apalagi gerangan dengan 
NEMESIS ? 
  
     Bukti-bukti geologis memperlihatkan bahwa peristiwa katastrophisme di Bumi 
berulang sekitar 26-30 juta tahun. Nah ….. konon katanya menurut dongeng bahwa 
ini ada sangkut pautnya dengan apa yang dijuluki Nemesis. 
  
     Untuk kang Dedi Hilnadi di Kalsel : “Kang, Nemesis teh lain babaturana 
mantega kanggo makan roti. oge lain sabangsana surabi oncom. Bukan … buka.  
beda banget !”. 
     Untuk Ikhwan dan Akhwat “SELAMAT MENJALANKAN IBADAH SAUM”. 
  
  
Gagoeng





__._,_.___ 
Messages in this topic (4) Reply (via web post) | Start a new topic 
Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members | Calendar 
Please Visit Our Website @  http://geounpad.ac.id/ 
and Our Forum            @  http://forum.geounpad.ac.id/


Moderators:
Budhi Setiawan '91 <[EMAIL PROTECTED]>
Edi Suwandi Utoro '92 <[EMAIL PROTECTED]>
Sandiaji '94 <[EMAIL PROTECTED]>
Wanasherpa '97 <[EMAIL PROTECTED]>
Satya '2000 <[EMAIL PROTECTED]>
Andri'2004 <[EMAIL PROTECTED]> 
 
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe 


Visit Your Group 


Give Back
Yahoo! for Good
Get inspired
by a good cause.

Y! Toolbar
Get it Free!
easy 1-click access
to your groups.

Yahoo! Groups
Start a group
in 3 easy steps.
Connect with others.
. 
__,_._,___ 














      

Kirim email ke