Diperkirakan, dari klasifikasi 60 cekungan sedimen yang dimiliki Indonesia, sekitar 30 cekungan di antaranya dinilai prospektif. Dari jumlah ini, 16 sudah terbukti mengandung hidrokarbon dan sebagian besar telah lama berproduksi. Berarti, ada sekitar 14 cekungan lagi yang diharapkan mengandung hidrokarbon dan dapat menambah jumlah cekungan berproduksi. Hanya, sebagian besar dari 14 cekungan itu masih berstatus frontier dan berlokasi di lautdalam pula. Cekungan-cekungan frontier dan lautdalam akan tetap sebagai cekungan-cekungan potensial yang tidak pernah akan terbukti menghasilkan hidrokarbon bila tidak ada realisasi pekerjaan eksplorasi di sana (survey G & G dan pemboran). No drilling no petroleum. Mewujudkan cekungan-cekungan frontier ini sebagai cekungan-cekungan yang prospektif telah diusahakan dalam satu setengah tahun terakhir ini melalui survey-survey yang dilakukan sebuah perusahaan jasa survey seismik atas seizin Direktorat Jenderal Migas. Ditjen Migas berkepentingan mengizinkan survey ini dalam rangka meningkatkan nilai prospektivitas cekungan-cekungan frontier ini. Bagaimana mau mengundang para investor agar bekerja di cekungan frontier kalau datanya saja tidak ada. Maka, dalam rangkaian program survey G & G cekungan-cekungan frontier offshore lautdalam ini, telah dilakukan survey seismik 2D sepanjang 34.000 km, survei rembesan hidrokarbon dengan luas total 400.000 km2, survey gayaberat dan magnetik, pengambilan contoh core sedimen dasar laut sebanyak 1100, dan melakukan analisis geokimia atas lebih dari 3000 sampel. Survey rembesan dilakukan melalui metode high resolution multibeam bathymetry dan backscatter. Survey seluas 400.000 km2 ini merupakan survey multibeam bathymetry terluas di dunia yang pernah dilakukan. Bila dari metode ini terlihat rembesan atau diperkirakan rembesan, maka contoh core akan diambil kemudian dianalisis. Multibeam bathymetry menggunakan multiple bands swath sonar untuk mendapatkan gambaran topografi dasarlaut. Bin size survey ini 25 meter sehingga gununglumpur di lautdalam yang berukuran kecil pun dapat terlihat. Backscatter yang menggunakan teknik intensitas gelombang pantul akan mempertinggi resolusinya. Tanda-tanda rembesan berupa relief-relief dasarlaut yang positif maupun negatif, atau kadang-kadang rembesan tak punya ciri relief apa-apa, tetapi dicirikan oleh hadirnya organisme-organisme pemakan hidrokarbon. Rembesan-rembesan ini punya kontras akustik dibandingkan sekitarnya. Pengambilan contoh sediment core pada rembesan dilakukan melalui piston coring. Pengambilan piston core menggunakan kapal khusus yang dilengkapi navigasi USBL (ultra short base line) pada alat coring dipadukan dengan differential GPS di kapal. Ini akan membuat pengambilan core tepat pada lokasi dan kedalaman yang diinginkan. Transponder yang ditempatkan di piston coring device membuat alat ini dapat berkomunikasi dengan kapal dan menjalankan program-program yang telah diatur. Ketelitian pengambilan core ini plus minus 10 meter di kedalaman air yang lebih dari 2000 meter. Pada setiap core sepanjang enam meter ini akan diambil tiga sampel (atas, tengah, bawah) untuk analisis geokimia yang akan memberitahu sejarah HC charging di tempat core tersebut diambil. Area mana saja yang dilakukan rangkaian survey tersebut ? Ada 13 area : Teluk Cenderawasih, Misool-Seram, Kumawa (sebelah baratlaut Aru), Yamdena (sebelah selatan Tanimbar), Rote, Banggai-Sula, Bone, Gorontalo, North Makassar, South Makassar, Paternoster (perairan sebelah tenggara Kalimantan), Sunda (sebelah selatan dan tenggara Selat Sunda), dan North Sumatra. "AAPG Explorer" edisi Agustus 2008 memuat peta area-area survey ini dan wawancara bersama company yang melakukakannya. Area-area ini tak banyak dilakukan evaluasi mendetail sebelumnya karena kekurangan data seismik dan data G & G lainnya. Dengan bertambahnya data baru, maka wilayah-wilayah ini akan lebih siap untuk dipelajari. Sebagian area ini akan masuk sebagai area yang ditawarkan dalam tender wilayah kerja. Sesudah ada operatornya, area-area ini diharapkan akan mulai dibor pada tahun 2010 atau 2011. Sebagai anggota tim Migas untuk menilai tender wilayah kerja, saya pernah melihat sebagian besar data baru wilayah-wilayah frontier ini bersama evaluasinya. Menarik, baik untuk geosains maupun untuk mencari hidrokarbon - memicu adrenalin eksplorasi : frontier area is “high risk” but “high reward”. Salam, awang

