Dear all, Kalau kita mendengar berita di TV dan membaca surat kabar tentang berita ekonomi akhir-akhir ini, dimulai dengan krisis Subprime Mortgage dimana diperkirakan bahwa financial institution & bank kehilangan sekitar USD 435 billion per 17 Juli 2007 dan diteruskan lagi dengan berita hancurnya lembaga keuangan di US seperti Lehman Brothers, Goldman Sach Wachovia, Freddie Mac, dll serta beberapa negara Eropa yg masuk dalam OECD, sehingga US perlu merencanakan bailout sekitar USD 700 billion (seperti BLBI-nya Indonesia) dan Inggris mengucurkan dana sekitar USD 40 billion, belum lagi Jerman & Perancis untuk menahan lajunya krisis tsb dimana indeks bursa turun sangat drastis dalam seminggu ini (indeks Dow Jones turun hingga 10,500) , maka dapat diperkirakan bahwa negara maju akan mengalami "resesi" bahkan beberapa analis menyebutnya sebagai "great world economic depression".
Mungkin analisa tsb diatas sangat Amerika-Sentris, karena memang Amerika Serikat memainkan peranan penting dan dominan dalam perdagangan dunia. Boleh dikata kalau US sedang "Masuk Angin" maka negara-negara lainnya sudah sakit "Batuk", bahkan beberapa perlu "diinfus"..... Apalagi kalau US sendiri perlu "infus", bagaimana dgn negara lainnya? Beberapa pakar tidak percaya dengan anggapan tersebut diatas karena melihat Jepang, China dan Eropa akan cukup kuat menahan lajunya krisi keuangan dunia. Tetapi sepotong fakta menunjukkan bahwa Jepang merupakan "lender" yg cukup besar untuk Lehman Brothers (sekitar USD 35 billion) sehingga Jepang akan terpengaruh juga, Bank of England telah mengucurkan dana sekitar USD 40 billion dari sekitar USD 2.3 trillion yang berportensi bermasalah dan Jerman bersiap siap untuk melakukan hal yg sama. Uni eropa masih dalam perdebatan apakah akan melakukan pencadangan dana untuk bailout sekitar USD 400 billion. Sedangkan di China sendiri dengan cash reserves sekitar USD 1.8 trillion akan lebih ketat dalam pengelolan uangnya setelah sejak tahun lalu sudah banyak pabrik disekitar pantai selatan yg tutup, terutama yg berhubungan dengan expor ke US. Bagaimana dgn posisi ekonomi negara2x middle east & Arab? Saya tidak tahu persis angka-angkanya, tetapi mungkin Arab lagi yg akan bantu negara US sebagai sekutunya.....? Fakta berdasarkan Federal Reserves, di US sendiri terdapat lebih dari 1475 bank dengan asset sekitar USD 3.6 trillion yang terancam likwiditasnya untuk menanggung "non-performing mortgage", "interest" dan "derivativnya" total sekitar USD 180 trillion. Sehingga bailout sekitar USD 700 billion yg sedang di perdebatkan di parlemen US tidak ada artinya apa-apa dibandingkan dengan potensi krisis dalam negeri itu sendiri. Krisis tsb diakui oleh beberapa pelaku dikarenakan "greedy" nya para pelaku bisnis dimana banyak financial institution melakukan kebohongan publik dengan memberikan informasi future portfolio yg "menina-bobokkan" para investor. Bagaimana dengan Indonesia......... yg dengan dana talangan BLBI official sekitar Rp. 23 trilliun (sekitar Rp. 144 trilliun yg diaudit oleh BPKP) saja sudah bikin keok....? Saya berharap tidak akan terjadi "deep economic pressure" terhadap Indonesia, tetapi melihat besaran krisis tersebut beralasan untuk memprediksi efeknya terhadap Indonesia dan memperkirakan faktor2x positif apa saja yang membuat Indonesia tetap bisa bertahan? Pada kenyataannya dengan menyebut beberapa contoh, bunga KPR sudah naik dari 7% awal tahun lalu menjadi sekitar 12.5-13.5% dalam bulan September 2008, bunga pinjaman lainnya akan menyusul naik juga, dan surat berharga bank serta danareksa tidak cukup laku dijual serta turunnya indeks bursa saham karena sudah "too over priced"? Apakah pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menurun dari 6% menjadi sekitar 3-4% setahun? Sementara harga minyak akan mengalami "balancing" tergantung pertumbuhan ekonomi yg diprediksi oleh Merryl Lynch akan melambat sehingga minyak akan jatuh pada harga sekitar USD 50/barrel. Dengan demikian diprediksi penerimaan negara Indonesia dari sektor minyak & gas juga akan menurun. Analis dari Mitsubishi Corp, Anthony Nunan, mengatakan bahwa keputusan investasi di industri minyak akan sangat terpengaruh akibat dari koreksi harga dan keadaan ekonomi global. Saat ini hampir semua harga saham perusahaan minyak papan tengah mengalami penurunan yg sangat drastis, sebagai gambaran harga saham Hess pernah mencapai USD 134 sekarang sekitar USD 77., saham Salamander sekarang jatuh ke sekitar 170 pound setelah pernah mengalami peak pada angka 356 pound di sekitar bulan Mei-Juni 2008, Medco pernah mencapai sekitar Rp 6100 di Nov 2007, Rp 4800 di Januari 2008 dan sekarang sekitar Rp. 3600.- (silahkan cek untuk harga saham perusahaan lainnya). Sampai kapan krisis ini akan berakhir, no body knows.........be optimistic ..... but the fact is sometimes hurtful. Semoga keadaan bisa membaik. Buat teman-teman ahli/pakar ekonomi, busines, dll , tolong pencerahannya...... hening

