sebuah opini, sbg review saja..
http://majarimagazine.com/2007/12/petronas-versus-pertamina/
Pertamina versus Petronas
By Sesep Bimiwa Sianturi on 13 December 2007 33 Comments Print this article
Email this article
Banyak di antara kita yang berpikir bahwa bekerja di perusahaan migas asing
ialah suatu hal yang amat membanggakan tanpa menyadari bahwa perusahaan asing
tersebut pada dasarnya sedang mengambil keuntungan lebih untuk negaranya
sendiri. Dan sekalipun begitu, kita tetap saja mengikuti proses seleksi kerja
di salah satu perusahaan migas asing yang beroperasi di Indonesia. Termasuk
saya, seorang mahasiswa yang baru saja lulus dan tergiur akan gaji dan
fasilitas sebuah perusahan minyak dan gas.
Mengapa kondisi seperti itu bisa terjadi? Ada apa sebenarnya dengan industri
minyak dan gas nasional kita? Sebagian dari kita menyalahkan perusahaan migas
nasional kita yang kurang kredibel dan bonafit dan sebagian lain beralasan
ingin meniti karir dengan standar internasional. Namun, bukan itu yang hendak
saya bahas dalam artikel ini karena saya ingin mencoba menggali permasalahan
tersebut dari sisi yang lain.
Beberapa hari yang lalu saya sedang mengisi waktu luang saya dengan melihat
berbagai informasi yang tersebar di internet dan saya menemukan potongan
artikel yang sangat menarik. Please enjoy reading this while listening to music
and having a cup of coffee in the morning.. =p
Someone asked:
“Semua orang pasti sudah tahu bahwa Pertamina mempunyai sumber minyak yang
banyaknya gak ketulungan. (halaah.. bahasanya..) Bila kita lihat Petronas,
mereka tidak mempunyai sumber minyak di negaranya dan kalaupun ada, jumlahnya
sangat terbatas jika dibandingkan dengan Indonesia. Dear all.. Do you know why
Petronas grow faster and bigger than Pertamina??“
And the answer was:
“Yang mempunyai sumber minyak banyak adalah Indonesia, bukan Pertamina. Dalam
hal ini, pemerintah memberi wewenang pada BP MIGAS untuk mengurusi pengelolaan
kontrak perusahaan terhadap ladang minyak dan gas.”
Apabila diangkat dari aspek ekonomi politik, permasalahannya adalah karena BP
MIGAS seringkali memberikan hak konsesi kepada pihak asing diluar Pertamina
untuk mengelola suatu ladang minyak yang ada di Indonesia. Banyak alasan yang
dilontarkan BP MIGAS dalam keputusan tersebut, katakanlah dengan alasan
Pertamina korupsi, atau strukturnya yang masih payah, dikatakan tidak mampu
secara teknologi, atau dibilang minim pendanaan. Alasan terakhir ialah alasan
yang dikemukakan Pemerintah kita saat pengelolaan di Blok Cepu diserahkan
kepada ExxonMobil dan bukan sepenuhnya kepada Pertamina.
Pertamina Station
Alasan-alasan tersebut bisa dikatakan logis namun juga agak dibuat-buat. Mari
kita coba untuk meninjau alasan-alasan tersebut satu per satu. Alasan pertama:
katakanlah Pertamina korupsi. Bukankah seharusnya Pemerintah bertanggungjawab
memberantas korupsi yang terjadi di Pertamina? Atau mungkin Pemerintah tidak
mampu memberantas korupsi di Pertamina karena Pemerintah dan DPR juga sedang
sibuk korupsi? Atau mungkin karena adanya solidaritas sesama koruptor??
Entahlah.. hanya mereka yang tahu.
Alasan kedua ialah struktur dan sistem manajemen Pertamina yang belum benar.
Bukankah seharusnya Pemerintah mempunyai tanggungjawab moral untuk mendorong
Pertamina melakukan pembenahan internal? Apabila pengelolaan minyak dan gas
malah diserahkan ke pihak asing, bukankah itu sama saja semakin mematikan
Pertamina? Dan untuk alasan teknologi, Pertamina sudah memiliki teknologi yang
udah diakui oleh Inggris. Sedangkan untuk alasan pendanaan, seharusnya
keuntungan tahunan Pertamina jangan disedot besar-besaran untuk menutupi
defisit anggaran atau malah dimasukkan ke kantong pejabat. Pertamina untung?
Ya, sekalipun dengan adanya subsidi BBM atau apapun itu namanya, Pertamina
masih menghasilkan untung yang sangat besar.
Pada poin pertama tadi, saya bermaksud memberi tahu bahwa Pemerintah kita
kurang mendukung Pertamina sebagai perusahaan migas nasional. Apabila hal itu
terus berlangsung, kapan Pertamina bisa maju? Keadaan benar-benar berbeda
apabila melihat Petronas. Perusahaan minyak dan gas milik Malaysia itu
menjalankan operasi yang didukung penuh oleh Pemerintah Malaysia dengan cara
memberikan sebagian besar hak konsesi khusus ke Petronas dan bahkan mendorong
Petronas untuk melakukan ekspansi ke luar negeri.
Petronas Station
Pada poin kedua, saya ingin meninjau aspek bisnis industri minyak dan gas itu
sendiri. Menurut saya, penyebab kekalahan Pertamina ialah inefisiensi
pengeluaran. Banyak pengeluaran yang seharusnya tidak perlu dilakukan apalagi
ditambah dengan pengeluaran yang kurang jelas juntrungannya. Sebagai contoh
yang dapat kita lihat ialah biaya sewa kapal tanker. Biaya sewa tersebut
sangatlah mahal dan dapat mencapai US$60.000 per HARI untuk SATU kapalnya. Nah,
Pertamina menyewa kapal dengan jumlah lebih dari 140 padahal kapal Pertamina
tidak lebih dari 30 buah. Apabila mau berpikir panjang, seharusnya Pertamina
memutuskan untuk memiliki kapal sendiri sebagai investasi. Beberapa tahun yang
lalu Pertamina sempat memiliki kapal tanker VLCC namun kapal tanker tersebut
dijual oleh Menneg BUMN (Laks. Sukardi) saat Megawati menjabat sebagai
Presiden. Dan apa yang terjadi sekarang? Ternyata penjualan tersebut
dipermasalahkan karena adanya dugaan praktek korupsi dalam
penjualannya.
Apabila diangkat dari aspek ekonomi politik, permasalahannya adalah karena BP
MIGAS seringkali memberikan hak konsesi kepada pihak asing untuk mengelola
suatu ladang minyak yang ada di Indonesia.
Bottomline, apabila ditinjau dari segi ekonomi politik dan bisnis, Pertamina
akan sulit berkembang di masa depan bila kondisinya terus seperti itu.
Sayangnya, kita sebagai warganegara Indonesia tidak bisa mengubah keadaan itu
karena itu semua ialah keputusan petinggi-petinggi negara kita. Tapi
setidaknya, kita dapat membantu Pertamina dengan membeli produk buatan
Pertamina. Beli Produk Pertamina, Kita Untung Bangsa Untung.
Patut teman-teman ketahui bahwa di negara kita Indonesia yang kaya akan minyak
ini, Pertamina hanya memegang 8 persen dari pangsa pasar migas di Indonesia dan
sisanya dipegang Chevron, Total, Exxon, CNOOC, dan perusahaan migas asing
lainnya. Walaupun hanya memiliki 8 persen pasar, Pertamina dapat menghasilkan
keuntungan Rp35 triliun di tahun 2006. Coba bayangkan apabila 100 persen ladang
minyak yang ada di Indonesia dipegang oleh Pertamina.
Di samping itu, 90% keuntungan Pertamina wajib diberikan kepada Pemerintah dan
hanya 10% sisanya yang dapat digunakan Pertamina. Bagaimana dengan Petronas?
Keadaan Petronas berkebalikan dengan Pertamina karena hanya 10% keuntungan
Petronas yang diberikan untuk Pemerintah Malaysia. Itulah penyebab mengapa
Petronas dapat melakukan ekspansi besar-besaran. Mengapa Pertamina sulit
melakukan ekspansi? Keuntungan rata-rata tahunan Pertamina ialah Rp27 triliun
dan hanya Rp2.7 triliun yang tersisa di Pertamina padahal untuk membangun
sebuah kilang baru dibutuhkan dana sekitar Rp 13 triliun.
Referensi:KOMPAS, Yahoo! Answers
Dapatkan nama E-mel keutamaan anda!
Kini anda boleh @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/my/