Sam,

Ini ada berita hangat dari Lamaru......

Semburan lumpur beserta gas saat ngebor air......

 

-doddy-

____________________________________________________

BALIKPAPAN - Warga Jl Mulawarman Kelurahan Lamaru Gang Barokah RT 14
Balikpapan Timur heboh, menyusul terjadinya semburan gas bercampur
lumpur setinggi 8 meter, Rabu (20/11) kemarin. 

Semburan gas itu terjadi saat Surojo, penggali sumur bor berusaha
membuatkan sumber air tepat di samping rumah M Sukadi di Gang Barokat RT
14 No 7 pada pukul 14.00 Wita, Senin (17/11). Setelah mengebor selama
satu setengah hari dengan kedalaman 48 meter, Surojo menemukan sumber
mata air walaupun masih keruh. 

Pengeboran pun dihentikan, namun air tetap saja menyembur walaupun mesin
pompa air telah dimatikan. Dan pada pukul 00.15 Wita kemudian, dari
dalam pipa pengeboran menyembur gas bercampur lumpur setinggi 10 meter.
Sukadi pun bergegas melaporkannya ke Polsekta Balikpapan Timur. 

Polisi lalu mengevakuasi tempat kejadian dengan memberi batas police
line. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, Sukadi yang bekerja
sebagai petani itu mengungsi ke rumah kerabatnya. "Saya sementara
tinggal di rumah keluarga nggak jauh dari rumah," katanya saat ditemui
di depan rumahnya. 

Menurut Kapolsekta Balikpapan Timur Iptu Fitriadi, pihak PT Pertamina
telah memeriksa semburan gas itu, dan dinyatakan terdapat simpanan gas
sebanyak 10 persen. "Menurut pihak Pertamina yang datang diperkirakan
semburan akan terjadi sampai siang, tapi sampai sekarang masih menyembur
walau sudah menurun 2 meter," kata Sukadi. 

Berdasarkan keterangan warga setempat, Fitriadi, salah satu perusahaan
asing pernah berusaha mencari minyak bumi di daerah Lamaru itu pada
tahun 1980an, tapi yang ditemukan hanya gas. 

Sejak penemuan itu, warga diimbau agar tidak melakukan pengeboran sumur
dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan. "Sebenarnya saya sudah
berkali-kali ke PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum), tapi sampai sekarang
belum dilayani juga. Di daerah sini susah sekali cari air bersih,
makanya saya ngebor. Tapi bukan dapat air, malah dapat gas," kata
Sukadi.(fir)

 

-----Original Message-----
From: Andang Bachtiar [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Monday, 17 November, 2008 4:21 PM
To: [email protected]
Subject: [iagi-net-l] dry holes mountain front ==> Re: [iagi-net-l]
Ramai-ramai blok Semai

 

Dari sumur-sumur yang dianggap dry-holes tersebut, kemungkinan ada (bisa


lebih dr separohnya, loh) yang tidak dibor dan atau ditest / dievaluasi 

dengan benar, sehingga menampakkan kesan bahwa faktor geologi-lah yang 

menyebabkan kegagalan Conoco (dan sebagian Caltex di sekitar daerah 

tersebut). Seringkali yang terjadi adalah: pengeboran dilakukan highly 

over-balance, formasinya rusak (formation damage), yang dihasilkan dalam


test bukan air formasi tapi air invasi dari mud-filtrate (tapi tetap 

dianggap air formasi dalam laporannya), alat pengetest tersumbat (tool 

plugging), sand migration yang menurunkan permeability, dan beberapa
masalah 

engineering pemboran dan pengetes-an lainnya. Jadi, dry-holes bagi
Conoco, 

belum tentu dry-holes bagi SPE atau TMP atau POG atau KKE atau TBP atau
BMI 

atau nama-nama perusahaan "nasional" lainnya yang muncul sewindu
terakhir 

ini meramaikan eksplorasi hidrokarbon di daerah Mountain Front yang 

ditinggalkan oleh kumpeni-kumpeni besar sebelumnya. Dengan paradigma
baru, 

mata lebih awas, treshold ekonomi lebih rendah, para eksplorasionis di 

kumpeni2 nasional tersebut mencoba peruntungan mereka dengan melihat
ulang 

sumur-sumur dry holes di daerah Mountain Front (baik di Sumatra, maupun
di 

Kalimantan). Beberapa ada yang berhasil discovery, beberapa masih
berkutat 

studi, yang jelas kebanyakan sekarang ini sedang ketar-ketir dengan 

pendanaan karena krisis keuangan globalnya Amerika (bagaimanapun,
kumpeni2 

ini masih banyak terkait dengan model bisnis pinjam bank dan atau
lembaga 

keuangan, walaupun ada juga sejumlah duit ekuitinya).

 

Soal Mountain Front Sumatra Tengah dan kemungkinannya pernah menjadi 

Fore-land Basin, kebetulan mahasiswa S-1 saya dari ITM (Medan) membuat 

analisis paleo-batimetri dari Telisa outcrop sangat rinci di 3 lokasi
daerah 

Gunung Tua yang kalau dikorelasikan dengan Telisa di sumur-sumur sebelah


timurnya akan menampakkan PENDALAMAN yang signifikan dari timur ke
barat, 

yaitu dari inner-middle shelf (0-100 meter) menjadi sampai sedalam mid 

bathyal (1000-2000 meter). Di daerah belakang busur, salah satu penyebab


paleo-batimetri yang dalam ini adalah cekungan yang turun terus menerus 

dengan rate lebih besar di daerah mountain front dibandingkan dengan
daerah 

hinge-line/paparan, terutama karena selama pengendapan: thrust fault di 

Mountain Front ini sangat aktif sehingga membuat accomodation space
dibagian 

footwall-nya menjadi besar dan paleobatimetrinya jadi dalam. Telisa 

"turbidite" faciespun makin banyak dijumpai di singkapan2 dekat mountain


front dibandingkan dengan singkapan di bagian timurnya atau di sumur2 

pemboran. Dengan demikian, paling tidak selama Miosen Bawah - Tengah, 

sebelum diinversi oleh naiknya Bukit Barisan, daerah Mountain front
tersebut 

kemungkinan pernah menjadi Foreland Basin. Implikasi petroleum systemnya


cukup signifikan.

 

"Mountain Front" di Kutai Barat Laut lebih menarik lagi. Di daerah Wahau
- 

Berau pada umumnya dijumpai rembesan-rembesan minyak yang sangat ringan,


bening, yang didapatkan di jalur-jalur patahan dan reservoir-reservoir 

Beriun yang "breached" (dekat ke permukaan tanah sehingga bocor).
Masalah 

utama mereka pada umumnya sealing dan trap integrity, bukan reservoir,
bukan 

pula kitchen. Discovery di ssalah satu sumur di daerah sebelah barat 

Sangatta tersebut tidak difollow-up oleh kumpeni sebelumnya karena
dianggap 

tidak ekonomis dan reservoirnya ketat (tite). Kumpeni-kumpeni baru dan 

BPMigas tentunya) bisa saja melihatnya dengan sudut pandang yang berbeda


pula; apalgi jika ditelisik lagi bagaimana cara kumpeni-kumpeni besar
Jadul 

itu mengebor dan mengetes reservoir. Air formasi dari endapan fluvial 

deltaic yang mereka dapatkan dan mereka pakai untuk meng'condemn" salah
satu 

reservoir beriun  itu sebagai WET dan tidak ekonomis itu ternyata punya 

salinitas >40.000 ppm yang tidak mungkin didapatkan dari connate water 

fluvial-deltaic deposit. Res-Eng reportnya juga sudah jelas-jelas 

menyatakan: reservoir damage dengan skin faktor yang sangat tinggi. 

Kemungkinan besar air yang mereka keluarkan itu adalah invasi dari
lumpur. 

Sangat menarik. Masih banyak opportunity di Mountain Front kita.

 

Salam

 

ADB

 

 

 

----- Original Message ----- 

From: "Agus Suhirmanto" <[EMAIL PROTECTED]>e)

To: <[email protected]>

Sent: Monday, November 17, 2008 1:40 PM

Subject: Bls: [iagi-net-l] Ramai-ramai blok Semai

 

 

Pak Awang,

Terima kasih atas penjelasannya. Sangat menarik terutama bagi kami yang 

belum genap 10 th berkutat di Eksplorasi Hidrokarbon. Karena ternyata
ada 

pengalaman eksplorasi yang "sangat agresif" di daerah yang padahal cukup


dekat dengan Rokan Block yang kaya akan HC, namun tidak memberikan hasil


seperti yg diharapkan.

 

Salam,

agus

 

 

 

 

________________________________

Dari: Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>

Kepada: IAGI <[email protected]>; Forum HAGI <[EMAIL PROTECTED]>; Geo
Unpad 

<[EMAIL PROTECTED]>; Eksplorasi BPMIGAS 

<[EMAIL PROTECTED]>

Terkirim: Senin, 17 November, 2008 11:27:48

Topik: RE: [iagi-net-l] Ramai-ramai blok Semai

 

Pak Agus,

 

Inilah sumur-sumur yang dibor Conoco di Mahato-Mandian, bahkan semuanya
ada 

12 (setelah saya cek ulang, bukan 11 seperti yang saya tulis kemarin) :

 

BATANG KAYU-1

BINANGA-1

GUNUNG TUA-1

LADAM-1

NENE-1

RUMAMBE-1

SOMBA-1

SOSA-1

SUHAT-1

TAMBUSAI-1

TRONTANG-1

UJUNG BATU-1

 

Sumur Mahato-1 bukan sumur di Blok Mahato-Mandian, tetapi itu sumur di
Blok 

Siak yang dibor Caltex tahun 1971 (kering).

 

Kedua belas sumur itu dibor Conoco hanya dalam waktu dua tahun
(1982-1983). 

Begitu tahu kedua belas sumurnya gagal, maka blok Mahato-Mandian segera 

dikembalikannya. Apa yang terjadi dengan bonus 60 juta USD ? Tentu sudah


masuk kas negara.

 

Kegagalan utama Blok ini adalah tidak adanya reservoir atau buruknya 

kualitas reservoir ekivalen Sihapas Group dan tak adanya sejumlah graben


kitchen sebaik Blok Rokan.

 

Barumun Sub-Basin hanya depresi kecil di sistem Central Sumatra Basin
yang 

besar, bukan di area yang prolific secara petroleum system, terutama
masalah 

charging; sedangkan Blok Mahato Mandian terlalu ke arah marin saat
Sihapas 

diendapkan, sebagian sebagai starved basin - tak cukup mendapat pasir 

Sihapas. Juga a series of kitchen grabens yang berkembang di Rokan tak 

berkembang di Mahato Mandian sebab bukan center of deformation saat 

Paleogen.

 

All prospects look good until drilled.

 

Salam,

awang

 

-----Original Message-----

From: Agus Suhirmanto [mailto:[EMAIL PROTECTED]

Sent: Monday, November 17, 2008 9:31 C++

To: [email protected]

Subject: Bls: [iagi-net-l] Ramai-ramai blok Semai

 

Pak Awang,

Menarik sekali cerita mengenai Blok Mahato Mandian di NW-nya Rokan Blok.


Terus terang, beberapa tahun bekerja di Rokan, belum pernah ada yang
cerita 

mengenai blok ini dan belum sempat mencari tahu. Kecuali memang ada
sumur 

eksplorasi tua, kalau tidak salah Mahato#1 yang kering. Saya hanya ingin


mengetahui mengenai geological plays-nya dan petroleum system di-blok
ini 

yang kemungkinan mirip-mirip dengan Rokan. Dan sebenarnya apa penyebab
dari 

kering-nya sumur-sumur yang di-bor oleh Conoco saat itu?

Saya lihat, lebih ke NW-N-nya Rokan ada Kisaran Blok. Menurut Pak Awang 

bagaimana kaitan secara geologi, Kisaran blok, Mahato mandian blok dan
Rokan 

blok? Apakah Mahato Mandian masih satu sub-basin yang sama dengan
Kisaran di 

Barumun sub-Basin?

 

Terima kasih Pak,

agus

 

 

 
________________________________________________________________________
___

Dapatkan alamat Email baru Anda!

Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!

http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/ 

 

 

------------------------------------------------------------------------
--------

serah-terima pp-iagi: senin sore, 13 oktober 2008

ketua umum: LAMBOK HUTASOIT

sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL

pasukan sedang disusun, hanya satu IAGI...

------------------------------------------------------------------------
--------

ayo, segera pula siapkan utk PIT IAGI ke-38

dg tuan-rumah adalah PENGDA JATENG

* mungkin di semarang

* mungkin pula di solo

* mungkin juga join dg HAGI dll.

------------------------------------------------------------------------
-----

To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id

To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id

Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:

Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta

No. Rek: 123 0085005314

Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia

No. Rekening: 255-1088580

A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/

IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

---------------------------------------------------------------------

DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no
event shall IAGI and its members be liable for any, including but not
limited to direct or indirect damages, or damages of any kind
whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of
or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing
list.

---------------------------------------------------------------------

 

Kirim email ke