Jawaban saya atas pertanyaan seorang mahasiswa, barangkali ada gunanya. Mohon maaf, pemberitahuan melalui jalur umum. Untuk adik2 mahasiswa dan rekan2 anggota milis IAGI, HAGI, Geo-Unpad yang bertanya kepada saya melalui japri, mohon bersabar menunggu jawaban saya. Semua pertanyaan saya kumpulkan dalam folder khusus dan akan dijawab satu per satu. Yang kira2 dapat berguna untuk diketahui umum, dan mungkin menarik untuk jadi diskusi, mohon izin untuk saya teruskan di milis (dengan penghapusan beberapa hal bersifat pribadi). salam, awang Subduksi di bawah Jawa akan selalu terjadi selama pulau ini duduk di tepi aktif lempeng yang saling berkonvergen atau bertemu. Jawa duduk di batas selatan lempeng benua Eurasia dan batas utara lempeng samudra Hindia. Kedua lempeng ini saling bertemu dan lempeng Hindia dalam pertemuan itu menekuk di bawah Jawa. Maka selama kedua lempeng saling berkonvergen dan selama Jawa ada di situ maka subduksi terjadi terus. Subduksi bukan dua kali terjadi tetapi menerus selama sejarah geologi dengan kondisi tektonik yang sama. Dua kali itu adalah umur busur magmatiknya, bukan umur subduksinya. Mengapa waktu Kapur-Middle Eocene subduksi berarah NE-SW dan waktu Eocene-Oligocene berubah jadi berarah E-W ? Ini banyak penyebabnya, saya kemukakan 3 saja. (1) posisi paleotektonik pulau-pulau di Indonesia Barat antara Kapur-Oligocene berbeda-beda, misalnya : Kalimantan pada Kapur lebih "tidur" posisinya dibandingkan pada Neogen sebab pada Neogen ia mengalami rotasi melawan arah jarum jam. Posisi Jawa tidak sedatar sekarang, tetapi sedikit WNW-ESE, sementara Sumatra juga arahnya 300 NE, bukan 330 NE seperti sejak Neogen. Nah, maka kalau mau mengeplot jalur-jalur subduksi pada masa tertentu gunakanlah paleotectonic maps masa tersebut. (2) Subduksi tak akan berhenti sebagai subduksi, tetapi akan diiikuti oleh akresi kerak2 tambahan hasil subduksi yang berjalan terus. Ini menyebabkan tepi benua makin melebar atau benua semakin meluas oleh tambahan kerak baru hasil akresi. Maka, jalur2 subduksi berikutnya pasti akan semakin mundur ke arah lautan. Bagaimana pola akresi time 0, akan mempengaruhi arah subduksi time 1, pola akresi time 1 akan mempengaruhi arah subduksi time 2, dst. (3) arah subduksi time 0, 1, 2, 3, dst bisa berubah-ubah bergantung kepada aktivitas pemekaran di punggung tengah samudra (MOR) yang sejajar dengan jalur subduksi. Bila pemekaran MOR berhenti, maka subduksi di tepi benua di depannya akan berhenti, kemudian ia akan berganti pusat MOR dan subduksi yang baru, dengn cara itu jalur-jalur subduksi berbeda-beda dari zaman ke zaman. Jalur magmatis adalah asosiasi jalur subduksi sebab kerak samudra yang masuk ke mantel di bawah benua akan melebur sebagian volatile materialsnya (material ringan seperti air dsb.), kemudian material leburan ini naik ke kerak benua, bercampur dengannya, akhirnya menghasilkan magma andesitik calk-alkaline yang akan jadi jalur magmatik dan gunung api. Kalau jalur subduksi dari time 0, ke time 1, ke time 2 akan selalu mundur ke arah samudra, maka jalur magmatik belum tentu, ia bisa mundur, bisa maju lagi relatif terhadap samudra. Maju mundur jalur magmatik ini seluruhnya dikendalikan oleh kemiringan sudut tunjaman atau sudut Wadati-Benioff. Di Jawa misalnya jalur magmatik Oligo-Miosen ada di selatan Jawa, waktu Miosen bergerak ke utara, waktu Plistosen sedikit bergerak ke utara lagi, tetapi 20 juta tahun yang akan datang dapat kembali ke selatan lagi. Pelandaian atau pencuraman zone Benioff seluruhnya dikendalikan oleh umur kerak samudra yang menunjam di bawah benua. Kerak samudra dalam satu siklus Wilson (siklus dari MOR ke zone subduksi ke astenosfer) dianggap 50 juta tahun. Saat kerak samudra masih muda <25 juta tahun, ia akan membentuk Benioff yang landai. Karena peleburan kerak samudra mestt terjadi di kedalaman 100-200 km di mantel atas, maka karena landai kedalaman peleburan itu akan tercapai jauh di bawah benua, akibatnya jalur magmatik/volkanik di atasnya akan masuk jauh ke benua. Tetapi semakin tua, mendekati 50 juta tahun, kerak samudra akan semakin berat dan akan semakin membentuk sudut Benioff yang curam di jalur penunjaman. Akibatnya, kedalaman 100-200 km zone peleburan akan tercapai dekat jalur subduksinya, atau jalur magmatik akan kembali mundur ke arah samudra. Aturan ini akan mempengaruhi jarak ATG (arc-trench gap atau rumpang palung busur). Semakin muda umur kerak samudra yang menunjam, semakin lebar jarak ATG. Pola anjakan di Jawa, terutama sejak Paleogen Atas sampai saat ini memang banyaknya ke utara, migrasi jalur anjakan di Jawa Barat ke arah utara semakin muda pernah dibahas oleh Pak Sujono Martodjojo (1982) dan itu benar. Kemudian, pola anjakan di bagian timur Jawa Tengah dan seluruh Jalur Kendeng dari sekitar Cepu sampai Selat Madura memang ke utara juga (lihat paper2 saya di proceedings IAGI 2004, 2005, proceedings IPA 2004, 2007 tentang RMKS, deepwater Jawa, dan tektonik Jawa Tengah). Pola anjakan di Pegunungan Selatan yang dikonsepkan oleh Pak Budianto saya pikir bernalar juga sebab bisa dibilang sekitar 3/4 pola anjakan di Jawa terjadi ke utara, 1/4-nya lagi memang ke selatan dan ini hanya di Zone Rembang. Mengapa sebagian besar ke utara ? Karena, principal stressnya (orde I) memang ke utara yaitu karena subduksi kerak samudra Hindia di selatan Jawa. Subduction roll back adalah gejala terlalu curamnya sudut Benioff jalur penunjaman, sehingga seolah-olah jalur subduksi sebelum roll back dan saat roll back berguling balik (roll back) ke arah samudra (dari landai ke curam, dari time 0 ke time 1) yang menyebabkan kerak transisi di tepi benua ikut retak akibat tarikan ke belakang/gulingan balik jalur penunjaman. Akibatnya retakan ini telah menyebabkan pola2 block faulting di tepi benua, inilah yang kemudian menjadi cekungan akibat roll back. Hubungannya dengan Pegunungan Selatan, harus dicek dulu. Kerak samudra di selatan Jawa yang menyebabkan roll back itu umur berapa ? Kalau seumur atau sedikit lebih tua dari Pegunungan Selatan yang Oligo-Miosen, maka kerak samudra roll back yang curam itu telah menyebabkan jalur magmatik Old Andesite Pegunungan Selatan di dekatnya. Tetapi saya tak yakin itu berhubungan, sebab kerak roll back di selatan Jawa yang diperkirakan adalah yang berumur Eosen, dan itu tak membentuk jalur magmatik. Maka, tak ada hubungan antara roll back subduction di selatan Jawa pada Eosen dengan jalur magmatik Pegunungan Selatan yang Oligo-Miosen - terlalu jauh gap umurnya. Fitri, semoga cukup menjelaskan. salam, awang
--- On Thu, ---deleted-----> wrote: From: ---deleted Subject: southern mountain To: [email protected] Date: Thursday, December 18, 2008, 9:02 PM pak awang, saya mau tanya, kenapa pada jawa terjadi subduksi 2 kali, yang pertama pada NE-SW pada cretaceous-middle eocene, lalu berubah menjadi E-W pada late eocene-oligocene? kemudian mengapa terjadi pergeseran magmatic arc lagi setelahnya sehingga berubah dari southern mountain sekarang menjadi berada di solo zone?mengapa terjadi pelandaian zona benoff?atau di kendeng zone (menurut hellen smyth?) kemudian pak awang, pada jawa barat terdapat thrust-fold belt ke arah utara, sehingga model submarine fan nya ke utara (Matodjojo,93), kemudian di southern mountain di jawa timur juga disebutkan kemungkinan ada pola anjakan-lipatan ke utara (---deleted...hehehe). kenapa hal ini bisa terjadi ya pak, bagaimana hubungannya dengan tatanan tektonik jawa? satu lagi ya pak awang, mohon dijelaskan tentang subductin roll-back, dan apakah ada hubungannya dengan southern mountain? terimakasih pak atas bimbingannya, jangan bosan balas email saya ya pak, saya mau banyak belajar dari bapak.

