Saat sekolah menengah atau kuliah geologi dulu, barangkali kita pernah diajari 
bahwa gempa bisa dibedakan menjadi tiga : (1) gempa tektonik yang berhubungan 
dengan patahan batuan di bawah permukaan, (2) gempa volkanik yang berhubungan 
dengan tekanan magma pada dinding gunungapi yang akan/sedang meletus, dan (3) 
gempa tanah runtuh yang berhubungan dengan runtuhan gua-gua gamping di bawah 
permukaan.
 
Kini, mungkin, kepada ketiga jenis gempa itu dapat ditambahkan jenis gempa ke-4 
: gempa es. Para peneliti dari Washington University, St Louis belum lama ini 
menemukan jenis gempa terbaru tersebut berdasarkan penelitian mereka di 
Antarktika. Kesimpulan penelitian ini dikutip oleh National Geographic (juga NG 
Indonesia) edisi terbaru Januari 2009. 
 
Banyak orang mengira gletser –lapisan es di area kutub yang suka bergerak 
karena gravitasinya - bergerak pelan dan teratur menuju laut atau lembah. 
Ternyata tidak begitu. Penelitian di Antarktika menunjukkan bahwa lapisan 
gletser masif setebal 800 meter, panjang 482 km, lebar 97 km - yang disebut 
Lempeng Es Whillans bergerak tidak mulus ditarik gaya beratnya sendiri. Dalam 
pergerakannya yang lamban, lempeng es ini secara periodik mendapatkan hambatan 
berupa gelombang laut, pasang naik, dan relief batuan dasar yang ditumpanginya. 
Maka, lempeng es ini bergerak terputus-putus sekitar 0,6 meter dua kali sehari.
 
Setelah berjam-jam tak bergerak karena dilawan gelombang dan pasang laut atau 
terjebak dalam relief batuan dasar yang cekung, giliran lempeng es ini maju 
kembali, terutama pada saat permukaan laut surut. Bergeraknya kembali lempeng 
es ini atau terbebaskannya kembali lempeng es ini dari keadaan terkunci, 
menggenerasikan getaran kepada batuan dasar yang ditumpangi lempeng es. Getaran 
ini, menurut Douglas Wiens –pemimpin tim peneliti tersebut, memicu gelombang 
seismik yang setara dengan gempa tektonik berkekuatan 7,0 skala Richter. 
Gelombang gempa ini katanya dapat terdeteksi di Australia yang berjarak sekitar 
4800 km dari lempeng es Whillans.
 
Demikian, informasi singkat.
 
Bila benar begitu, maka kita boleh saja menduga bahwa ini jenis gempa yang 
periodik yang mengikuti siklus pasang naik-surut laut. Tetapi, konfigurasi 
permukaan batuan dasar yang ditumpangi es sangat memegang peranan dalam 
pembangkitan gempa es. Pecahnya ujung-ujung gletser saat memasuki laut, menjadi 
gunung-gunung es, bisa juga membangkitkan gempa.
 
salam,
awang


      

Kirim email ke