Pak Andi,
 
Survey batimetri Selat Makassar menggunakan teknik multibeam dan backscatter  
memberitahukan kepada kita profil water-bottom structure atau struktur dasar 
laut cekungan laut dalam ini. Memang seperti yang Pak Andi tulis terdapat 
varietas kenampakan struktur seperti channel dan mud volcano, secara 
keseluruhan cukup kompleks. 
 
Kompleksitas struktur ini disebabkan arus turbidit yang terjadi di wilayah ini 
dari lereng paparan sampai ke lantai cekungan. Arus longsoran ini akan 
menggerus dan mengerosi serta membentuk alur-alur submarine channel. Selain 
itu, kompleksitas disebabkan oleh dinamika sedimentasi lautdalam yang 
diendapkan dalam waktu relatif cepat dan kurang terkompaksi, sehingga akan 
memicu diapirisme dan mud volcano sampai ke permukaan.
 
Palung-palung kecil, mungkin yang dimaksud adalah alur-alur submarine channel, 
seluruhnya karena proses arus turbidit. Arus turbidit adalah arus pekat yang 
membawa sedimen, bergerak dengan cepat menuruni lereng dasar laut. Arus semacam 
ini sering dipicu oleh slump atau turunnya permukaan tanah akibat stabilitas 
yang kurang, tidak jarang juga disebabkan gempa. Pada saat menuruni lereng atau 
bagian atas lantai cekungan, gaya turbulensi dalam arus ini mengeruk dasar laut 
sehingga membentuk palung-palung kecil atau umum disebut submarine channel.
 
Sedangkan yang Pak Andi tulis sebagai "reef" bisa merupakan deepwater reef, 
bisa juga merupakan morfologi mud volcano. bisa juga submarine volcano. Kalau 
bergerak ke sebelah selatan Makassar Strait dan agak mendekati sisi lepas 
pantai Sulawesi Barat banyak reef-reef tua (Oligo-Miosen) yang tenggelam. Ini 
adalah reef-reef yang terbentuk saat belum ada laut dalam Selat Makassar. 
Reef-reef ini tumbuh di atas tinggian-tinggian "horst" pada saat Selat Makassar 
baru terbentuk melalui retakan antara Kalimantan dan Sulawesi. Reef2 ini 
sezaman dengan karbonat bernama Formasi Berai di Kalimantan Selatan. Kemudian 
dengan semakin terbentuknya Selat Makassar, reef2 ini semakin tenggelam 
tertutup sedimen2 yang lebih muda. Tetapi ada beberapa reef tua ini yang tak 
tertutup sedimen muda dan munculsampai di atas permukaan laut.
 
Kenampakan build-up juga bisa sebagai submarine volcano (berumur tua), yaitu 
gunungapi bawahlaut yang muncul di batas-batas retakan, atau batas-batas 
struktur antara "horst" dan "graben" di tengah Selat Makassar. Gunungapi2 
semacam ini terbentuk karena ada konduit magma antara horst dan graben yang 
terhubung ke litosfer bagian bawah. Beberapa gunungapi tua ini juga sebagian 
tak tertutup sedimen muda, sehingga masih muncul di dasar laut.
 
Kenampakan build-up juga yang paling mungkin adalah sebagai akibat gejala 
diapirisme dan mud volcano yang berumur muda (Pliosen-Kuarter). Dalam suatu 
sedimentasi cepat yang biasa ditemukan di cekungan lautdalam, sedimen 
diendapkan dengan cepat, menindih sedimen yang lebih tua yang belum cukup 
terkompaksi. Pada suatu saat, bila beban sedimen telah cukup berat; sedimen 
lebih tua yang belum terkompaksi baik tadi akan melejit ke atas, menerobos 
semua sedimen muda di atasnya, dan akhirnya muncul sebagai gununglumpur (mud 
volcano) di permukaan. Gejala ini banyak ditemui baik di lautdalam Selat 
Makassar maupun sampai ke Tarakan.
 
Tentang deepwater coral reef sendiri, mungkin ada di Selat Makassar meskipun 
saya jarang mendengarnya. Reef semacam ini lebih sering disebut sebagai 
cold-water corals karena terjadi di lingkungan berair dingin sampai 4 deg C dan 
kedalaman 2000 meter. Coral reef laut dangkal yang kita kenal selama ini 
terjadi di lingkungan yang tak lebih dalam daripada 70 meter dan temperatur 
antara 23-29 deg C. Secara biologi marin, ada tiga orde pembentuk cold water 
corals : Scleractinia ("sepupunya" banyak membentuk shallow water corals), 
Antipatharia, dan Alcyonacea. Perbedaan dengan shallow-water corals adalah 
bahwa deep-cool water corals tak punya "teman" bernama zooxanthellae atau alga 
yang bersimbiose dengan coral dan memberinya makan melalui fotosintesis. 
Tetapi, polip deep-water coral adalah suspension feeders yang baik yang akan 
menangkap rombakan organik dan plankton yang dibawa oleh deep-water current. 
Perbedaan lain dengan coral reef laut dangkal adalah
 deep-water coral tak seberwarna coral laut dangkal sebab zooxanthellae yang 
sebenarnya memberi warna koral. Seperti di laut dangkal, koral2 laut dalam 
tumbuh di tinggian2 juga seperti submarine ridge,
 
Demikian, semoga cukup menjelaskan.
 
salam,
awang
 

 
--- On Tue, 1/13/09, Andi Waluyo <[email protected]> wrote:

From: Andi Waluyo <[email protected]>
Subject: [Forum-HAGI] To Pak Awang, tanya geology Selat Makasar
To: "'Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia'" <[email protected]>
Date: Tuesday, January 13, 2009, 6:11 PM








Pak Awang,
 
Saya sedang menyusun paper tentang seismic laut dalam di Selat Makasar untuk 
IPA nanti.
Kalau boleh tanya, mengapa struktur dasar laut (water-bottom structure) disana 
kompleks, banyak palung-2 kecil dan reef.
 
Terima kasih.
 
 
Salam,
Andi.______________________________________________
The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list.
[email protected]
www.hagi.or.id


      

Kirim email ke